NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pembantai Abadi

Takdir Sang Pembantai Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.

Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.

Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.

Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.

Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Markas Pengkhianat dan Ular Perak

Rantai besi berukir rune membelah air danau yang pekat. Cahaya biru dari mata rantai mendesis keras, mengubah air merah di sekitarnya menjadi uap panas yang mendidih. Gelembung udara naik ke permukaan, membawa bau ozon dan amis darah yang semakin kuat.

Lin Tian menahan napas, membiarkan tubuhnya melayang diam di balik bayangan akar pohon raksasa yang tenggelam. Ia tidak langsung menyerang secara membabi buta. Jantungnya berdetak sangat lambat, menghemat oksigen sambil mengamati pola pergerakan rantai tersebut.

Ia menunggu dengan sabar hingga rantai itu melilit akar pohon, hanya berjarak satu lengan dari wajahnya. Qi hitam berurat emas di dantiannya berputar pelan, merespons keberadaan energi murni di dekatnya.

Lin Tian mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram mata rantai terdekat dengan jari-jari yang menegang. Bukan tarikan fisik yang ia gunakan. Melainkan hisapan paksa yang berasal dari inti dantiannya.

Krek! Cahaya biru pada rune itu berkedip liar seolah sedang kesakitan, sebelum akhirnya mati total dimakan oleh energi iblis. Rantai besi yang tadinya memancarkan aura penekan spiritual, kini berubah menjadi logam mati yang dingin dan tidak berguna.

Di atas tebing yang hancur, murid inti yang memegang ujung rantai tiba-tiba memuntahkan darah segar. "Sambungan qi-ku terputus paksa!" teriaknya, wajahnya pucat pasi seperti mayat. "Ada sesuatu di bawah sana yang memakan energi formasi!"

Tetua Emas menyipitkan matanya, menatap permukaan danau yang bergejolak. Aura membunuh di sekelilingnya memekat, membuat batu-batu di tepi tebing retak dan hancur menjadi debu. "Bocah sialan itu ternyata masih hidup," desisnya.

Ia menoleh pada pemuda berjubah perak yang berdiri sopan di sampingnya. "Wang Chen, bawa tim pemburu inti turun ke dasar danau. Potong kedua tangan dan kakinya, tapi pastikan kepalanya tetap bernapas."

Wang Chen mengangguk patuh. Ia menghunus pedang ganda bermotif awan dan langsung menyelam ke dalam danau, diikuti oleh empat murid inti pilihan lainnya.

Di dasar danau yang gelap, Lin Tian merasakan getaran air yang berat dan terarah. Lima sosok melesat turun dengan kecepatan tinggi, membawa obor qi yang menerangi kegelapan air danau yang merah pekat.

Lin Tian melepaskan rantai mati dari tangannya, membiarkannya tenggelam ke dalam lumpur. Fisiknya yang telah ditempa ulang oleh darah jantung naga purba terasa sangat ringan dan lincah di dalam air.

Ia menendang air dengan kedua kakinya, melesat ke atas seperti torpedo hitam yang membelah arus. Murid pertama yang berada di paling depan belum sempat bereaksi atau mengangkat perisai qi-nya.

Pedang hijau bergerigi Lin Tian sudah menembus dari bawah dagunya, langsung menembus tempurung kepala dan otak. Darah merah segar bercampur dengan air danau, menciptakan kabut pekat yang menghalangi pandangan. Mayat itu kejang sesaat sebelum Lin Tian menendangnya menjauh.

"Serang dari segala arah!" teriak Wang Chen melalui transmisi suara qi yang bergetar. Keempat murid lainnya melancarkan tebasan qi secara bersamaan, membentuk jaring cahaya yang mematikan.

Cahaya pedang membelah air, menciptakan gelombang kejut bertekanan tinggi yang menghantam dada Lin Tian. Lin Tian sama sekali tidak menghindar. Ia menyilangkan lengannya di depan dada, membiarkan tebasan qi itu menghantam kulitnya.

Bam! Jubah peraknya robek parah, tetapi kulit di bawahnya hanya meninggalkan goresan putih tipis yang segera memudar. Darah jantung naga telah mengubah daging, otot, dan tulangnya menjadi sekeras baja hitam yang tak tertembus.

Mata Wang Chen membelalak lebar di balik air, tak percaya dengan apa yang ia lihat. "Tidak mungkin! Tubuhnya sekeras artefak! Dia baru tingkat tiga!"

Lin Tian tersenyum dingin, meski air danau yang amis masuk ke dalam mulutnya. Ia melesat menembus kabut darah, mencengkeram wajah murid kedua dengan tangan kirinya yang bercakar qi.

Qi hitam berurat emas meledak dari telapak tangannya, menembus langsung ke dalam tengkorak. Kepala murid itu hancur berantakan, menyebarkan otak dan pecahan tulang ke dalam air.

Wang Chen akhirnya menyadari bahaya nyata di hadapannya. Ia memutar tubuhnya dengan kasar, mencoba berenang kembali ke permukaan secepat mungkin. Kecepatan adalah satu-satunya harapan yang ia miliki saat ini.

Namun, Lin Tian jauh lebih cepat dengan fisik barunya. Ia meraih rantai besi mati yang tadi ia jatuhkan, mengayunkannya ke atas seperti cambuk raksasa. Ujung rantai itu melilit pergelangan kaki Wang Chen dengan erat.

Rantai itu menariknya paksa ke bawah. Wang Chen berputar panik, menebaskan pedang gandanya berulang kali. Tapi rantai itu ditempa dari esensi gunung berapi.

Lin Tian menarik rantai itu dengan satu sentakan keras, mendekatkan jarak mereka dalam sekejap mata. Tinju kanannya yang diselimuti qi hitam pekat menghantam perut Wang Chen tanpa ampun.

Hentakan dahsyat itu meremukkan organ dalam dan menghancurkan dantian pemuda itu menjadi serbuk. Tulang rusuknya patah menusuk paru-paru. Wang Chen memuntahkan darah kental bercampur potongan organ, matanya kehilangan cahaya sebelum tubuhnya lemas dan tenggelam.

Dua murid terakhir yang melihat adegan brutal itu langsung kehilangan nyali dan kewarasan mereka. Mereka berbalik dan berenang panik ke atas. Lin Tian tidak mengejar mereka.

Ia membiarkan mereka lari membawa ketakutan ini. Ia segera menggeledah mayat Wang Chen. Ia menemukan kantong penyimpanan anti-air dan sebuah token giok di pinggang mayat itu.

Token ini memancarkan aura yang sama persis dengan formasi pelindung di alun-alun ujian. Ini adalah token akses khusus untuk masuk ke area internal Sekte Pedang Perak tanpa terdeteksi oleh formasi luar.

Lin Tian memasukkan token itu ke dalam saku dalam pakaiannya. Dua murid yang lolos pasti akan melapor pada Tetua Emas. Waktu yang dimilikinya untuk melarikan diri tidak banyak.

Ia teringat pada peta kulit yang ia temukan dari ghoul di dasar lembah sebelumnya. Tanda silang merah menandai gua tersembunyi di balik air terjun bawah tanah.

Lin Tian berenang menjauhi pusat danau, menuju dinding tebing di sisi utara yang terjal. Di sana terdapat celah sempit yang tertutup lumut tebal dan arus air berputar liar. Ia menyelam masuk tanpa ragu.

Arus air menyeretnya masuk ke dalam terowongan bawah tanah yang gelap gulita. Setelah beberapa menit, tubuh Lin Tian akhirnya terlempar keluar dari air.

Ia mendarat di lantai batu yang dingin dengan posisi berjongkok. Suara gemericik air terjun terdengar sangat dekat, bergema memekakkan telinga. Udara di sini wangi dupa cendana dan obat-obatan herbal.

Lin Tian bangkit perlahan, memeras air dari pakaiannya yang berlumuran darah. Ia menyalakan api kecil di ujung jarinya menggunakan qi. Gua ini ternyata tidak kosong.

Di tengah ruangan terdapat meja batu besar berisi botol pil dan tumpukan batu roh. Di dinding gua digantung puluhan peta wilayah sekte dengan tanda titik lemah formasi.

Ini bukan sekadar tempat persembunyian biasa. Ini adalah markas rahasia pengkhianat tingkat tinggi di dalam Sekte Pedang Perak.

Sebelum Lin Tian sempat melangkah, suara langkah kaki ringan terdengar dari lorong. "Siapa di sana?" sebuah suara wanita yang dingin dan tajam bergema.

Sesosok bayangan melangkah keluar dari kegelapan lorong. Cahaya api di jari Lin Tian menerangi wajah wanita itu dengan jelas. Jantung Lin Tian berdetak kencang.

Wanita itu mengenakan jubah inti Sekte Pedang Perak yang berlumuran darah. Namun yang membuat Lin Tian menyipitkan mata adalah tato ular perak melilit pedang patah di sisi lehernya.

Lin Tian pernah melihat lambang ini di lempengan giok utang darah dari ghoul tadi. Itu adalah tanda rahasia Faksi Ular Berbisa, kelompok pembunuh internal sekte.

Mereka bertugas membersihkan jejak dan membantai murid yang terlalu penasaran atas perintah Tetua Emas. Wanita itu menatap Lin Tian dengan mata yang sepenuhnya hitam tanpa bagian putih, menandakan kultivasi teknik racun tingkat tinggi.

"Kau bukan dari faksi kami," bisik wanita itu, menarik dua belati tipis yang meneteskan racun hijau. "Tapi kau akan mati di sini sebagai pengkhianat."

1
Alia Chans
semangat thor nulisnya💪
Restu Agung Nirwana: hehe.. iya.. makasih dukungannya 👍
total 1 replies
B. Toon
Wah, seru. Suka MC nya, sadis, kejam, tanpa ampun, tapi masih punya batasan. Cuma musuh-musuhnya saja yang di bantai habis, orang yang tidak bersalah aman. Yang baik sama MC di balas 10x lipat kebaikannya, yang jahat sama MC di balas 100x lipat kejahatannya. Lanjut Thor 🔥🔥🔥
Restu Agung Nirwana: Hehehe... makasih bro. Ikuti trs ceritanya, jgn loncat-loncat bab. Biar gak bingung sama alurnya, slmt membaca 🙂🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!