NovelToon NovelToon
Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO / Tamat
Popularitas:201.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.


Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangisan Terakhir dan Lahirnya Anindya

Sinyal telepon terputus, menyisakan sunyi yang berdengung di telinga Naya. Di sekelilingnya, malam kian larut, mengantarkan udara sedingin es yang berembus dari sela-sela bentangan sawah di sisi jalan tol. Kegelapan di KM 26 seolah menjelma menjadi jurang tak berdasar yang siap menelan apa saja yang rapuh.

Dan di sanalah Naya berdiri, sendirian, di batas antara hidup yang baru saja hancur dan masa depan yang masih meraba-raba dalam gelap.

Tiba-tiba, dadanya berguncang.

Pertahanan kokoh yang ia bangun sejak tamparan Reza mendarat di pipinya, sejak caci maki Ningsih merobek harga dirinya, runtuh seketika. Naya jatuh berlutut di atas aspal kasar. Tas lusuh didekapnya erat-erat di dada, seolah benda itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut tersapu angin malam.

Isak tangis yang sejak tadi ia bendung akhirnya pecah. Suaranya parau, tersedak oleh angin dingin dan debu jalanan. Air mata mengalir deras, membasahi pipinya yang bengkak, menghapus sisa kehangatan terakhir yang pernah ia miliki untuk pria bernama Reza.

Namun, ini bukanlah air mata keputusasaan.

Ini adalah air mata duka cita untuk dirinya sendiri—untuk Naya yang naif, yang tiga tahun lalu percaya bahwa cinta tulus sanggup meruntuhkan tembok perbedaan kelas sosial. Ini adalah air mata pemakaman untuk seorang istri penurut yang rela menyembunyikan jemarinya yang lentik di balik sarung tangan karet kasar demi melayani keluarga yang tak pernah menganggapnya manusia.

Setiap bulir air mata yang jatuh ke aspal malam itu membawa pergi bagian dari dirinya yang lemah. Ketika tangisnya perlahan mereda, digantikan oleh napas yang kembali teratur, Naya menyeka wajahnya dengan punggung tangan.

Matanya yang sembap kini tak lagi menyiratkan kepedihan. Sorot matanya berganti menjadi sepasang kristal hitam yang tajam, dingin, dan berkilau di bawah lampu merkuri jalan tol. Angin malam yang menerpa wajahnya tak lagi membuatnya menggigil; angin itu kini terasa seperti usapan pelan yang menguatkan.

"Cukup," bisik Naya pada kegelapan. "Ini yang terakhir."

Ia berdiri tegak. Dihempaskannya tas berisi daster katun usang itu ke dalam semak-semak di balik pagar pembatas tol. Ia tidak lagi membutuhkan serpihan masa lalu yang menghinakan itu.

Sepuluh menit kemudian, sunyi malam di KM 26 terkoyak oleh deru mesin yang halus namun bertenaga besar.

Dari kejauhan, sorot lampu LED putih yang sangat terang membelah kabut malam. Bukan hanya satu, melainkan tiga unit mobil hitam mewah melaju dalam formasi barisan yang rapi. Di barisan paling depan, sebuah sedan Rolls-Royce Ghost hitam legam memimpin, dikawal oleh dua unit Range Rover Sentinel antipeluru di belakangnya.

Lampu hazard ketiga mobil itu berkedip serempak, menciptakan kilatan kuning yang megah di sepanjang bahu jalan tol.

Iring-iringan itu melambat dengan sangat anggun, lalu berhenti tepat di depan tempat Naya berdiri. Pintu-pintu mobil terbuka hampir bersamaan. Dari dua mobil pengawal, enam pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam potong-rapi turun dan langsung membentuk barikade pengamanan, mengamankan area sekitar dengan tatapan waspada.

Dari kursi belakang Rolls-Royce, seorang pria paruh baya berambut beruban rapi melangkah keluar. Ia adalah Baskara, kepala pelayan sekaligus orang kepercayaan keluarga Atmadja selama lebih dari tiga dekade.

Baskara menatap sosok wanita di depannya. Hatinya mencelos melihat Naya hanya mengenakan daster tipis dengan sandal jepit yang kotor oleh debu jalanan, serta lebam merah yang jelas tercetak di pipi kirinya. Kemarahan berkecamuk di dada pria tua itu, namun ia berhasil menekannya di balik profesionalisme yang mutlak.

Baskara melangkah mendekat, lalu membungkuk sangat dalam—penuh dengan rasa hormat yang tak dibuat-buat.

"Nona Muda Anindya," suara Baskara bergetar halus oleh emosi. "Kami terlambat. Mohon ampuni kelalaian kami."

Naya menatap pria tua yang dulu sering menggendongnya saat kecil itu. Sebuah senyuman tipis, penuh wibawa yang selama tiga tahun ini ia sembunyikan, akhirnya kembali menghiasi wajahnya.

"Tidak ada yang terlambat, Paman Baskara. Semuanya terjadi tepat pada waktunya," jawab Naya, suaranya kini terdengar begitu berkelas, jauh dari kesan wanita kampung yang tertindas.

Baskara dengan sigap melepas jubah mantel kasmir hitam miliknya yang tebal dan menyampirkannya ke bahu Naya yang dingin. Sentuhan kain kasmir yang lembut dan hangat itu seolah mengukuhkan kembalinya identitas asli yang sempat ia tanggalkan.

"Tiga tahun ini pasti sangat menyiksa bagi Anda, Nona Muda," bisik Baskara seraya membukakan pintu penumpang belakang Rolls-Royce. "Tuan Besar di surga pasti akan sangat sedih melihat putri tunggalnya diperlakukan seperti ini oleh keluarga rendahan itu."

"Ayah mengajariku untuk memahami dunia dari sudut pandang yang paling bawah, Paman," ujar Naya tenang seraya bersiap masuk ke dalam mobil. "Dan sekarang, aku sudah cukup memahaminya. Aku tahu bagaimana rasanya diinjak, dan aku tahu persis bagaimana cara menginjak kembali."

Naya melirik sandal jepit tipis yang dikenakannya. Dengan gerakan perlahan, ia melepas kedua sandal itu, membiarkan kaki telanjangnya melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang dilapisi karpet bulu domba yang sangat lembut. Sandal jepit itu ditinggalkannya begitu saja di atas aspal tol—sebuah simbol bahwa Naya yang miskin telah mati dan tertinggal di bahu jalan itu.

Pintu mobil ditutup dengan debuman kedap yang mewah.

"Ke mana kita akan pergi, Nona Muda Anindya Naya Atmadja?" tanya Baskara dari kursi kemudi, menatap sang pewaris tunggal Atmadja Group melalui spion tengah.

Naya menyandarkan kepalanya, menatap lampu-lampu kota yang berpendar di kejauhan melalui kaca jendela yang gelap. Atmadja Group adalah raksasa bisnis yang menggurita di negeri ini, pemilik separuh dari gedung pencakar langit di ibu kota, dan penyokong dana utama bagi perusahaan tempat suaminya bekerja.

"Bawa aku ke griya tawang di pusat kota," perintah Naya dingin. "Dan Paman... pastikan besok pagi, seluruh aset atas nama keluarga Adijaya mulai masuk ke dalam daftar hitam. Kita mulai dengan hal-hal kecil yang paling mereka banggakan."

Baskara tersenyum tipis, seulas senyum yang menyimpan badai mengerikan bagi mereka yang telah berani menyakiti putri mahkota Atmadja.

"Sesuai perintah Anda, Nona Muda."

Mobil mewah itu pun melaju membelah malam, meninggalkan KM 26 yang sepi. Di bahu jalan tol itu, hanya tersisa sepasang sandal jepit usang yang perlahan tertutup debu, menjadi saksi bisu bahwa singa betina yang sesungguhnya kini telah kembali ke singgasananya.

1
Khusnul Khotimah
saya sangat suka cerita wanita wanita kuat, selamat kaka ceritanya luar biasa bagus
WD0412
lah kok di rmh mewah lagi, bukannya di kontrakan kumuh????
Tressye Nona Wawolangi
lha aku juga binggung tadinya blg mereka udah di kontrakan kecil koq sekarang masih di rumah mewah ceritanya ini gimana sih?
Jetva
lah..jual aza perhiasan n barang mewah di rumahmu...otak pendek...cuma liat duit di mata..tp otak mati tak bs siajak berpikir...udah terlena dgn harta org...
Dianra Malakut
cerita simple, pendek tp berkesan,, aku puas bacanya Thor.. makasih ya cerita mu keren,, d tunggu karya yg lainnya Thor 👍💐
Nani Krisnawati
rasakan kau reza dan ibunya sombong songong...kena batunya
Nani Krisnawati
bagus bngt ceritanya
Misaza Sumiati
kok ada LG di perumahan mewah bukannya dikontrakan STLH dipecat
Misaza Sumiati
ibunya kan punya perhiasan
Lila
Berarti si Reza ini, sdh kaya dr lahir jg??😁 mknya ga pernah naik bus dan memandang rendah org lain.
Lila
Astaga ga nyaman bgt baca, paman Reza-paman Reza, bukannya anak bibi Ningsih artinya Reza sepupu Andi!!
Lila
Ningsih tantenya Andi, sdh bener disebut bibi, tapi Reza kan anak dari bibi Ningsih (sepupu), dan istrinya Naya harusnya dipanggil Abang dan mba/kakak kan?
niktut ugis
lebih suka novel seperti ini bab sedikit tapi endingnya keren
niktut ugis
nah ini pencuri aslinya yg bertopeng alim
niktut ugis
kenapa nunggu 3thn untung membersihkan aroma menantu yg menurut kamu sial... ningsih mertua otak bodoh
Diny Julianti (Dy)
ko panggil reza paman? emang reza sma Ningsih kk ade? bukan anak sama ibu
Sulati Cus
👍🏻
Cheng Nyo
/Good//Good//Good//Good//Good/
Rehaan Aamir
ANEH BIN AJAIB JLN CRT MU THOR...PDHL UDAH JELAS2 WAKTU MEREKA KELUAR DARI RUMAH YG D MENTENG SI ANDI UDAH KABUR DULUAN...KOQ BISA2 NYA SI ANDI TAU KONTRAKAN REZA&IBUNYA YG SKRG...TRS KOQ TETANGGANYA KENAL SAMA SI ANDI...PDHL SI ANDI GK ADA IKUT SAMA SEKALI WAKTU REZA PINDAH....AMBURADUUUUUUUULLLLL
Rehaan Aamir
Laahhh...Koq Aneh...D Bab Sblm Nya Bukan Nya Mereka Udah Pindah K Kontrakan Kumuh Ya Koq Skrg Ada D Perumahan Mewah Lagi????...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!