NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Kain kanvas tenda yang kasar dan kaku tersibak pelan oleh embusan angin malam.

Ren melangkah keluar ke hamparan pasir kristal putih yang membentang di luar batas perkemahan barak jelata. Di bawah sol sepatu bot usangnya, butiran pasir dingin berderit lirih bagai pecahan kaca halus. Di langit-langit kubah raksasa Lantai 14, sebuah bola perunggu raksasa berputar tanpa suara, memancarkan pendar cahaya keunguan yang membekukan seluruh dataran gurun gersang tersebut.

Di tepian bukit pasir rendah, beberapa puluh langkah dari batas tenda para prajurit garda depan, sesosok tubuh ramping berdiri menatap kegelapan cakrawala.

Sosok itu adalah Lady Elise von Althea. Sang putri bangsawan tidak mengenakan gaun sutra berlapis perak atau zirah seremonial berkilau yang biasa ia kenakan saat berada di samping Julius. Malam ini, ia hanya dibalut mantel wol tebal berwarna kelabu gelap bertudung lebar yang menyamarkan lekuk tubuh serta lambang kebangsawanannya. Helaian rambut peraknya yang panjang menyembul dari balik tepian tudung, melambai pelan diterpa angin gurun yang menusuk tulang.

Mendengar langkah kaki Ren di atas pasir, Elise menoleh perlahan. Sepasang mata peraknya memantulkan pendar ungu langit, memancarkan kegelisahan yang berat dan tertahan.

"Nona Elise," suara Ren terdengar rendah dan tenang tanpa basa-basi seremonial. "Sebuah kejanggalan melihat seorang putri suci dari Wangsa Althea berdiri sendirian di perkemahan prajurit buangan pada larut malam seperti ini."

Elise menurunkan tudung mantelnya perlahan, membiarkan udara malam yang menggigit membelai kulit wajahnya yang pucat.

"Panggil aku Elise saja saat kita hanya berdua, Ren," bisiknya pelan dengan nada suara yang bergetar samar. Matanya melirik sekilas ke arah perkemahan utama para ksatria pengawal Ravensburg yang berjarak ratusan meter di seberang parit pembatas. "Aku datang ke sini secara pribadi, didorong oleh rasa bersalah yang tak tertahankan."

Ren bersandar santai pada sebuah tiang kayu pancang pembatas, menyilangkan kedua lengannya di dada. Matanya yang gelap menatap sang putri bangsawan tanpa ketundukan sedikit pun.

"Jika Anda menyeberangi parit hanya untuk membagikan rasa simpati bangsawan atau meminta maaf atas nama Tuan Muda Julius, Anda hanya membuang waktu istirahat yang berharga, Nona Elise," ucap Ren datar. "Di dalam menara ini, rasa kasihan tidak memiliki bobot. Rasa iba tidak bisa menahan sabetan pedang, membelokkan bilah jebakan, atau menghentikan racun yang merayap ke pembuluh darah."

Elise terdiam kaku selama beberapa detik.

Alih-alih merasa tersinggung oleh ucapan lugas dari seorang prajurit berkasta rendah, bibirnya yang tipis justru menyunggingkan senyuman getir.

"Kau selalu berbicara apa adanya tanpa kepura-puraan," desah Elise lirih, napas hangatnya mengepul membentuk uap putih tipis di udara gurun yang membekukan. "Kau benar. Simpati dari seseorang yang berdiri di atas panggung aman memang terdengar seperti penghinaan bagi mereka yang harus merangkak di dalam lumpur darah."

Gadis itu merogoh saku dalam mantel wolnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil yang terbungkus kain beludru hitam. Ketika kain itu dibuka, tampak sebuah liontin perak berbentuk sayap merpati suci yang mengitari batu permata putih bercahaya lembut.

Elise melangkah mendekat, mengulurkan liontin perak tersebut ke hadapan Ren.

"Bawalah ini," kata Elise dengan nada mendesak. "Ini adalah relik pelindung pusaka keluarga ibuku di Wangsa Althea. Jika pemakainya menerima hantaman fatal yang melampaui batas ketahanan fisik, relik ini akan memicu perisai pembias cahaya murni yang sanggup menahan kehancuran selama tiga tarikan napas."

Ren menatap benda pusaka di telapak tangan sang putri dengan mata menyipit tajam.

Bagi para petualang di kota luar, sebuah relik pertahanan tingkat tinggi seperti itu bernilai setara kastil megah beserta tanah garapan di ibu kota kekaisaran. Namun, Ren tidak pernah menilai sebuah benda dari kilau atau harga pasarnya.

"Mengapa Anda menyerahkan benda sepenting ini kepada prajurit umpan seperti saya?" tanya Ren dingin, tidak terburu-buru menyentuh liontin tersebut.

Elise menghela napas panjang, tatapannya meredup saat memandang benteng batu perunggu yang menjulang di kejauhan.

"Karena besok pagi, Julius akan mengirimmu dan seluruh regu garda depan ke Aula Ilusi Tebasan," suara Elise bergetar oleh amarah yang tertahan. "Aku hadir dalam rapat perwira petang tadi. Julius dengan sengaja menempatkan regu kalian di barisan terdepan agar kalian memicu sembilan puluh sembilan bilah spasial yang tersembunyi di aula itu. Dia berniat menggunakan tubuh kalian untuk memetakan bilah jebakan, lalu mengirim ksatrianya melewati jalur yang telah basah oleh darah kalian. Dia tidak pernah berniat membiarkan kalian keluar hidup-hidup dari Lantai 14."

Ren tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Raut wajahnya tetap datar dan dingin bagaikan permukaan danau beku.

"Aku sudah mengetahui rencana itu sejak kami menginjakkan kaki di perkemahan petang kemarin," sahut Ren tenang.

Mata perak Elise membelalak lebar. "Kau sudah tahu rencana pembantaian itu dan tetap bersikap setenang ini?"

"Di dalam menara, seorang bangsawan yang melenyapkan saksi kejahatannya adalah perkara lumrah," ucap Ren dingin. "Mengetahui niat musuh adalah fakta medan tempur, bukan alasan untuk panik. Itu hanyalah satu lagi variabel yang harus diperhitungkan untuk bertahan hidup."

Elise menatap Ren dengan tatapan yang semakin gamang. Ia melangkah maju satu langkah lagi, menatap lurus ke dalam sepasang pupil hitam Ren yang pekat.

"Sejak pertama kali aku melihatmu menahan terkaman monster berzirah besi di Lantai 10, aku merasakan ada sesuatu yang ganjil pada dirimu, Ren," bisik Elise, suaranya nyaris teredam oleh desau pasir gurun. "Kresta Suci yang mengalir dalam darahku memberiku kepekaan spiritual untuk melihat residu jiwa di sekitar orang-orang yang terluka. Dan di sekeliling tubuhmu..."

Napas Elise tercekat di tenggorokan. Jari-jarinya gemetar halus saat ia menatap ruang kosong di sekitar bahu dan leher Ren.

"...di sekeliling tubuhmu, terdapat puluhan bayangan pekat dari benang kematian yang putus secara paksa. Jejak darah kering, serpihan tulang hancur, dan hawa beku dari puluhan cara mati menyelimutimu bagaikan jubah hantu tak kasat mata. Siapa kau sebenarnya, Ren? Berapa kali kau telah terbunuh di tempat ini?"

Jantung Ren berdegup pelan, namun tidak ada perubahan emosi yang tampak di permukaan wajahnya.

Ia tahu betul bahwa indra spiritual seorang pewaris sihir suci Wangsa Althea memang memiliki kepekaan luar biasa terhadap getaran jiwa. Pengulangan waktu singkat yang ia lakukan puluhan kali telah meninggalkan jejak trauma batin dan bayangan metafisik yang tak bisa dilihat orang biasa, namun ternyata mampu ditangkap oleh mata perak Elise.

Ren perlahan mengulurkan tangan kirinya, mengambil liontin sayap merpati perak itu dari telapak tangan Elise, lalu menyelipkannya ke dalam saku zirah kulitnya.

"Masa lalu saya sama sekali tidak relevan, Nona Elise," suara Ren terdengar berat dan penuh ketegasan. "Yang menentukan adalah apa yang akan Anda lakukan dengan kekuatan sihir suci dan mandat yang Anda pegang."

Elise tertegun, menatap Ren dengan pandangan nanar.

"Anda membenci kekejaman Julius dan muak melihat prajurit jelata dikorbankan demi ambisi pribadi, namun Anda tetap melangkah di belakangnya atas nama kepatuhan aristokrasi," lanjut Ren, kata-katanya menusuk tanpa ampun. "Di dalam menara ini, kebaikan hati tanpa keberanian menentang tirani hanyalah kemunafikan berselubung sutra. Moralitas Anda tidak menyelamatkan prajurit yang tewas di lantai-lantai sebelumnya."

Kata-kata tajam itu menghujam kesadaran Elise dengan telak. Rasa pedih dan malu merayapi pipinya yang pucat, membuatnya tertunduk dalam keheningan panjang di bawah langit ungu.

"Kau benar..." bisik Elise dengan suara parau. "Keluarga Althea selalu berkhotbah tentang kehormatan serta keadilan dewa. Namun di tempat ini, aku membiarkan sekutu bangsawanku menumbalkan orang-orang tak berdaya demi keuntungan politik."

"Jika Anda menolak menjadi penonton bisu," kata Ren seraya membalikkan badan, "siapkan pedang dan sihir pelindung Anda untuk esok hari. Ketika badai pengkhianatan di lantai berikutnya meletus, Anda harus menentukan sikap. Terus tunduk pada tiran yang membakar rekannya sendiri, atau berdiri menghancurkan tirani itu bersama kami."

Ren menyibak tirai kanvas tendanya dan melangkah masuk ke dalam kegelapan, meninggalkan sang putri bangsawan sendirian di tengah dinginnya gurun pasir kristal.

Elise berdiri mematung beberapa saat di bawah pendar ungu langit malam. Angin dingin meniup mantelnya, menyalakan percikan tekad yang dingin dan tak tergoyahkan di balik sepasang mata peraknya.

Fajar perunggu menyingsing di atas cakrawala Lantai 14.

Dengungan terompet perang berbahan kuningan meraung membelah kesunyian perkemahan, membangkitkan para prajurit dan ksatria dari tidur singkat mereka. Deru langkah kaki bersepatu besi dan gemerincing rantai zirah beradu memenuhi udara fajar yang kering.

Batalion ekspedisi mulai berbaris dalam formasi tempur di depan gerbang perunggu raksasa yang menandai pintu masuk menuju koridor terdalam Lantai 14.

Di sayap kiri, ratusan ksatria pengawal Ravensburg berdiri dengan formasi tombak dan perisai baja berat yang berkilauan, memancarkan keangkuhan militer yang dingin. Di sayap kanan, divisi pengawal Althea yang dipimpin oleh Lady Elise bersiaga dalam formasi perisai cahaya, dengan Elise berdiri di garis terdepan mengenakan zirah peraknya, tatapannya lurus ke arah gerbang.

Di tengah-tengah formasi, di depan podium komando yang ditinggikan, berdirilah Julius von Ravensburg.

Sang komandan muda mengenakan zirah lempeng biru safir berukir benang emas, jubah birunya berkibar pelan diterpa angin pagi. Senyum dingin menghiasi wajahnya saat matanya melirik ke arah kelompok prajurit jelata yang berdiri di kaki tangga.

Di sampingnya, Kapten Valerie melangkah maju dengan membawa gulungan perkamen bertinta merah. Suara sang kapten pengawal menggema lantang melalui mantra pengeras suara.

"Prajurit Ren dan seluruh Unit Pelopor Garis Depan!" seru Valerie dengan nada datar tanpa emosi. "Sesuai keputusan Dewan Perwira Tinggi, regu kalian ditugaskan untuk memimpin garis serang pertama! Masuki Aula Ilusi Tebasan dan bersihkan seluruh rintangan spasial sebelum divisi utama melangkah masuk!"

Vargas yang berdiri di samping Ren mengepalkan tangannya kuat-kuat, urat-urat jemarinya mengetat di balik sarung tangan kulit usangnya. Di belakang mereka, belasan prajurit jelata yang tersisa saling berpandangan dengan wajah pias, menyadari bahwa mereka sedang didorong masuk ke dalam perangkap pembantaian.

Ren tidak menoleh ke arah podium komando.

Ia memeriksa kuncian sarung belati taring di pinggang kirinya, memastikan botol-botol ramuan pemulih terpasang kokoh di sabuknya, lalu menatap lurus ke dalam mulut gerbang perunggu yang diselimuti kabut distorsi udara.

"Ayo bergerak," bisik Ren kepada regunya dengan nada yang tenang. "Tetap di belakang langkah kakiku dan jangan menyimpang satu tapak pun dari jejak yang kubuat."

Dengan langkah mantap, Ren memimpin unit pelopor melangkah melintasi batas gerbang perunggu, menyongsong labirin bilah tak kasat mata yang telah menanti di balik kegelapan.

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!