DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Dunia Sekolah dan Ratu Sekolah
Angkot jurusan 05 yang ditumpangi Aira berhenti tepat beberapa meter dari gerbang utama SMA Nusa Bangsa. Suara mesinnya yang menderu dan bau dampal knalpot menyambut Aira begitu kakinya menginjak aspal panas. Ia merapikan rok abu-abunya yang sedikit kusut, lalu berjalan menunduk melewati gerbang sekolah yang megah.
SMA Nusa Bangsa adalah sekolah tempat berkumpulnya anak-anak dari kalangan atas. Bagi mereka, penampilan dan status adalah segalanya. Dan di tempat ini, Aira selalu merasa seperti titik hitam di atas kertas putih—terasing dan tak kasat mata.
Brummm! Brummm!
Raungan mesin mobil sports yang sangat akrab di telinga Aira mendadak membuat langkah kakinya terhenti. Mobil merah milik Vino meluncur mulus memasuki area parkir khusus siswa, memancing perhatian puluhan pasang mata di koridor sekolah.
Pintu mobil terbuka. Vino keluar lebih dulu dengan gaya santainya—tas sekolah dicangklong di satu bahu, kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka, dan rambutnya yang sedikit berantakan mempertegas kesan bad boy yang disukai banyak siswi. Namun, perhatian semua orang tidak berhenti di situ.
Vino melangkah memutar, membukakan pintu penumpang depan dengan gestur perhatian. Dari dalam mobil, Caren keluar dengan senyum penuh kemenangan. Cewek itu langsung menggandeng lengan Vino erat-erat, menyenderkan kepalanya di bahu cowok itu tanpa canggung.
"Makasih ya, Sayang. Jadi makin sayang deh kalau dijemput gini," bisik Caren cukup keras, sengaja agar terdengar oleh beberapa cewek yang berdiri di dekat parkiran.
Vino hanya terkekeh pelan, mengacak rambut Caren singkat. "Lebay lu. Yuk masuk, keburu bel."
Dari jarak beberapa meter, Aira mematung. Matanya menatap pemandangan itu dengan rasa sesak yang aneh. Bukan karena ia mencintai Vino—tentu saja tidak, rasa takut pada Vino terlalu besar untuk itu. Tapi fakta bahwa cowok yang baru saja memperlakukannya seperti pembantu di rumah bisa bersikap begitu manis pada cewek lain di depan umum, tetap saja menggores harga dirinya yang tersisa.
Aira buru-buru memalingkan wajah, mempercepat langkahnya menuju gedung kelas dua belas agar tidak tertangkap mata oleh Vino maupun Caren. Sayangnya, keberuntungan sedang tidak berpihak padanya pagi ini.
"Eh, tunggu deh. Itu bukannya cewek numpang yang tinggal di rumah kamu ya, Vin?"
Suara melengking Caren menghentikan langkah Aira seketika. Tubuh Aira menegang.
Caren melepaskan pegangannya pada lengan Vino, lalu melangkah menghampiri Aira. Langkah chunky sneakers sol tingginya menepuk lantai koridor secara berirama. Vino mengikuti dari belakang dengan wajah datar, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.
"Heh, Aira!" panggil Caren sinis, berhenti tepat di depan Aira. Tangannya bersedekap, matanya menilai penampilan Aira dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Lho, kok naik angkot? Kasihan banget. Tadi di rumah Vino, kamu enggak diajak bareng ya?"
Aira menunduk makin dalam, meremas tali tas punggungnya hingga buku-buku jarinya memutih. "A—aku... aku emang biasa naik angkot..."
"Ya iyalah, Sadar diri dong," sahut Caren seraya tertawa meremehkan. Ia lalu menoleh pada Vino yang berdiri di sampingnya. "Vin, kamu beneran tahan tinggal serumah sama orang kayak gini? Baju aja lusuh gitu, kayak belum disetrika tiga hari."
Beberapa siswa yang lalu-lalang di koridor mulai berhenti, berbisik-bisik sambil memperhatikan Aira yang hanya diam dipojokkan.
Vino melirik Aira dingin. Tidak ada riak rasa kasihan atau niat membela di matanya. Bagi Vino, membiarkan Aira dipermalukan adalah cara paling efektif untuk menegaskan batas di antara mereka.
"Bukan urusan gue," jawab Vino singkat dan malas. Ia lalu menatap Aira dengan nada memerintah yang tak terbantahkan. "Aira, nanti pas jam istirahat, lu bawain tas olahraga gue yang ada di bagasi mobil ke lapangan indoor. Terus beliin minum buat gue sama Caren di kantin. Awas kalau lu lama."
"I—iya, Vin. Nanti aku bawain," bisik Aira pasrah.
Caren tersenyum puas, merasa berada di atas angin. "Dengar kan? Mumpung kamu dikasih tumpangan hidup sama keluarga Vino, rajin-rajin deh melayani. Biar enggak dibuang ke jalanan."
Setelah melemparkan kata-kata pedas itu, Caren kembali menggelayut manja di lengan Vino. "Yuk, Vin, ke kelas. Males ah dekat-dekat sama orang yang bikin suasana mood pagi aku rusak."
Vino tidak menjawab, hanya memutar badannya dan berjalan bersama Caren menuju kelas mereka, meninggalkan Aira yang berdiri sendirian di tengah tatapan kasihan sekaligus ejekan dari murid-murid lain.
Air mata yang sejak tadi ditahan Aira akhirnya menetes satu titik di pipinya. Dengan jemari gemetar, ia menyapu air mata itu cepat-cepat. Ia tidak boleh menangis di sini. Ia harus bertahan.
Jam pelajaran pertama berlalu begitu lambat bagi Aira. Pikiran cewek itu terus terbayang-bayang perintah Vino. Begitu bel istirahat pertama berbunyi, Aira langsung bangkit dari kursinya. Ia tidak sempat memikirkan perutnya sendiri yang belum terisi sarapan sejak pagi.
Ia berjalan menuju garasi parkir sekolah, mengambil kunci mobil yang sempat dilempar Vino padanya saat di koridor tadi, lalu mengangkat tas olahraga Vino yang berat dari bagasi. Dengan langkah tertatih, Aira membawa tas itu menuju lapangan indoor.
Di lapangan, Vino dan beberapa tim basket sekolah sedang latihan ringan. Caren duduk di tribun penonton sambil memainkan ponselnya.
"Vin... ini tasnya," kata Aira terengah-engah begitu sampai di tepi lapangan, meletakkan tas besar itu di lantai.
Vino menghentikan drible bolanya. Ia melihat Aira yang berkeringat di dahi, lalu melirik ke arah kantin. "Minumnya mana?"
"A—aku mau beliin sekarang..." jawab Aira pelan.
"Gimana sih?! Kan gue bilang sekalian!" bentak Vino, membuat beberapa teman tim basketnya menoleh. Vino yang merasa gengsi ditegur di depan teman-temannya makin menaikkan nadanya. "Lu punya otak dipakai dong! Masa hal sepele gini aja harus dipandu terus?!"
Aira menciut, mundur satu langkah karena kaget. "Maaf, Vin... aku—"
"Maaf terus! Lu itu memang—"
"Ada masalah di sini, Vino?"
Sebuah suara tenang, mantap, dan berwibawa mendadak memotong kalimat kasar Vino.
Seluruh orang di lapangan indoor seketika menoleh ke arah sumber suara. Dari pintu masuk lapangan, seorang cowok jangkung berjalan tenang mendekati mereka. Ia mengenakan seragam SMA Nusa Bangsa yang sangat rapi, lengkap dengan dasi yang terikat sempurna. Wajahnya yang tampan dan auranya yang karismatik langsung mencuri perhatian semua orang di ruangan itu.
Mata Aira membelalak kaget. "Kak... Darel?"
Darel tersenyum lembut ke arah Aira, lalu berdiri tepat di samping cewek itu—secara tidak langsung memasang tubuhnya sebagai perisai antara Aira dan Vino.
Vino mengerutkan keningnya rapat-rapat, wajahnya berubah datar dan malas saat melihat sepupunya berdiri di sana. "Darel? Ngapain lu di sini?"
"Gue baru selesai urus administrasi kepindahan di ruang Kepala Sekolah," jawab Darel santai, matanya menatap Vino dengan binar ramah yang nampak sangat alami. "Mulai hari ini gue resmi pindah ke sekolah ini. Satu angkatan sama kalian."
Beberapa siswa di tribun mulai berbisik-bisik heboh melihat kehadiran Darel yang sangat mencolok.
Darel lalu melirik tas olahraga berat di dekat kaki Aira, kemudian menatap telapak tangan Aira yang memerah karena terlalu lama menahan beban tas tersebut. Raut wajah Darel mendadak berubah menjadi prihatin.
"Vino, kamu enggak seharusnya nyuruh Aira bawa tas seberat ini sendirian," ujar Darel dengan nada menegur yang halus namun tegas. "Dia cewek, dan dia calon tunangan kamu. Enggak sepantasnya kamu kasar begini di depan umum."
Vino berdecak, memutar bola matanya malas. Bukannya merasa tersindir atau cemburu, ia justru merasa sepupunya ini terlalu drama dan sok pahlawan.
"Elah, ribet banget sih lu, Rel," cetus Vino cuek sambil kembali memutar-mutar bola basket di jarinya. "Dia di rumah gue juga kerjaannya emang melayani gue. Lagian dia sendiri yang mau bawain."
"Tapi kasihan Aira, mukanya pucat banget begini," potong Darel halus, lalu berbalik menatap Aira dengan pandangan yang sangat lembut. "Aira, kamu pasti belum sarapan, kan? Biar saya aja yang anterin kamu ke kantin."
Vino melirik Darel dan Aira dengan tatapan muak. Di mata Vino, Aira itu cuma benalu penurut yang enggak berguna, jadi kalau Darel mau mengurusnya, Vino malah merasa bebannya berkurang.
"Udah sana, bawa aja!" kata Vino santai dengan nada mengusir. Ia melempar bola basketnya ke arah ring dengan acuh tak acuh. "Bagus deh kalau lu mau repot-repot ngurusin ini cewek. Biar dia enggak ganggu pemandangan gue di sini. Bawa jauh-jauh sana."
Caren di tribun tertawa pelan mendengarkan perkataan Vino, makin merasa Aira sama sekali tidak punya harga diri di mata tunangannya.
Darel hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menyembunyikan kilat kepuasan yang mendalam. Rencana pertamanya berjalan terlalu mudah.
"Yuk, Aira," bisik Darel lembut. Tangannya meraih jemari Aira yang dingin dan menuntunnya keluar dari lapangan indoor.
Aira menurut tanpa bantahan. Saat berjalan di samping Darel, Aira sempat melirik ke belakang sebentar. Terlihat Vino yang sudah kembali tertawa bersama teman-teman tim basketnya, sama sekali tak peduli padanya.
Aira menghela napas panjang. Di satu sisi ia merasa sakit hati atas sikap cuek Vino, tapi di sisi lain, usapan hangat tangan Darel di punggungnya saat berjalan ke kantin membuat Aira merasa benar-benar terlindungi untuk pertama kalinya.