Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Aturan Dunia Bawah
Dua jam berada di kelas Teori Sihir Dasar terasa lebih menyiksa daripada kematian itu sendiri.
Profesor Vance—paman dari si penjilat Cedric—berdiri di depan kelas sambil mengoceh tentang sejarah elemen sihir dengan nada monoton yang bisa menidurkan seekor naga. Sesekali, matanya melirik sinis ke arah mejaku yang berada di barisan paling belakang. Tentu saja dia tahu keponakannya baru saja kuancam di lorong tadi pagi.
"Tuan Arthur Pendelton," panggil Profesor Vance tiba-tiba, suaranya membelah keheningan kelas. Puluhan kepala murid di depanku serempak menoleh ke belakang. Beberapa dari mereka menahan tawa, menantikan tontonan rutin di mana si 'Tuan Muda Sampah' gagal menjawab pertanyaan.
Aku yang sedang menopang dagu sambil menatap ke luar jendela, perlahan menoleh. "Ya, Profesor?"
"Mengingat Anda sepertinya sangat bosan dengan materi saya, mungkin Anda bisa mencerahkan kelas ini. Sebutkan tiga kelemahan mendasar dari Sirkuit Sihir Api tingkat dua, dan bagaimana cara mematahkannya menggunakan elemen angin."
Di dalam novel, ini adalah momen di mana Arthur asli akan tergagap, marah, lalu membanting meja dan keluar kelas, membuat reputasinya semakin hancur.
Tapi aku hanya menghela napas pendek. Di kehidupanku yang dulu, ini ibarat ditanya tentang koding dasar HTML oleh seorang dosen arogan.
Aku tidak repot-repot berdiri. Sambil tetap duduk bersandar, aku menjawab dengan nada datar, "Pertama, Sirkuit Api tingkat dua membutuhkan waktu casting selama 1,5 detik, membuatnya rentan terhadap interupsi fisik. Kedua, titik pusat panasnya selalu berada di dada kiri perapal, membuatnya mudah diprediksi. Ketiga, ia menghabiskan terlalu banyak mana untuk output yang tidak efisien."
Keheningan melanda ruangan. Senyum mengejek di wajah Profesor Vance sedikit luntur.
"Sedangkan untuk mematahkannya dengan elemen angin..." Aku mengetukkan jari telunjukku ke meja berirama. "...itu adalah pertanyaan jebakan yang bodoh. Angin justru akan memperbesar kobaran api. Cara yang paling efisien adalah menggunakan sihir hampa udara—teknik turunan angin—untuk memutus suplai oksigen di radius satu meter dari perapal, membuat sihir apinya padam sebelum sempat tercipta."
Hening. Saking sepinya, kau bisa mendengar suara jarum jatuh di ruangan ini.
Mulut Profesor Vance sedikit terbuka. Murid-murid yang tadi bersiap menertawakanku kini saling berpandangan dengan wajah bingung. Sejak kapan Arthur si pembuat onar tahu tentang teori sihir tingkat lanjut?
"Jika tidak ada pertanyaan bodoh lainnya, saya izin permisi. Saya punya urusan penting sore ini," ucapku seraya bangkit dari kursi, meraih tasku, dan berjalan keluar kelas tanpa menunggu izin dari pria tua yang masih mematung di depan papan tulis itu.
Langkah pertamaku untuk merombak reputasi Arthur sudah dimulai. Tidak perlu terburu-buru menunjukkan kekuatan fisik; menunjukkan bahwa aku tidak lagi bodoh sudah cukup untuk membuat mereka waspada.
Namun, pamer kepintaran tidak akan menyelamatkan leherku dari tiang gantungan. Aku harus segera pergi ke Distrik Bawah Tanah.
Matahari mulai condong ke barat saat aku tiba di Distrik Rook, sebuah kawasan kumuh di pinggiran ibukota Solaria yang tidak pernah tersentuh cahaya kemewahan. Bau karat, limbah, dan anggur murahan menguar kuat di udara. Orang-orang dengan tatapan curiga dan luka codet di wajah berlalu-lalang.
Mengenakan jubah hitam tebal yang menutupi seragam akademiku, aku melangkah menyusuri gang sempit yang becek. Tujuanku adalah sebuah kedai minuman bernama The Blind Crow. Di dalam novel, ini adalah salah satu markas cabang Guild Obsidian.
Aku mendorong pintu kayu kedai yang lapuk. Suara derit engselnya langsung disambut oleh tatapan permusuhan dari belasan pria berwajah sangar yang sedang minum di dalam. Aku mengabaikan mereka dan berjalan lurus menuju meja bar.
Penjaga bar itu adalah seorang pria plontos berbadan besar dengan tato gagak hitam di lehernya. Ia sedang mengelap gelas bir dengan kain kotor.
"Kami tidak melayani anak bangsawan yang tersesat," geram pria itu tanpa menatapku. Instingnya cukup tajam untuk menyadari siapa aku dari postur dan caraku berjalan, meski wajahku tertutup tudung.
Aku mencondongkan tubuh ke meja kayu yang lengket. "Bulan berdarah tidak pernah meneteskan air mata," bisikku.
Itu adalah kata sandi rahasia Guild Obsidian.
Gerakan tangan pria plontos itu terhenti. Ia meletakkan gelasnya perlahan, lalu menatapku dengan mata memicing tajam. "Ikut aku."
Ia membawaku ke ruang belakang yang kedap suara, lalu mengunci pintunya. Ruangan itu hanya diterangi satu lilin redup.
Aku menurunkan tudung jubahku. Mata pria itu sedikit membesar saat mengenali wajahku. "Tuan Muda Pendelton. Klien kami yang paling murah hati... sekaligus paling bodoh. Ada angin apa Anda datang ke sarang tikus ini? Bukankah transaksi kita sudah selesai?"
"Aku ingin membatalkan kontrak pembunuhan atas nama Leon," ucapku langsung ke intinya. "Ambil saja semua uang koin emas yang sudah kubayarkan. Anggap itu sedekah."
Pria plontos itu mendengus, lalu tertawa parau. Tawanya terdengar mengejek. "Membatalkan? Tuan Muda, Anda pikir kami ini apa? Koperasi simpan pinjam? Sekali gagak terbang meninggalkan sarangnya, ia tidak akan kembali tanpa membawa daging."
"Aku kliennya. Aku berhak membatalkannya."
"Dan Anda pikir Anda siapa berani mengubah aturan Obsidian?" Pria itu maju selangkah, mencoba mengintimidasiku dengan tubuh raksasanya. "Kontrak itu sudah disahkan. Uang sudah masuk. Dan lagipula..." Pria itu menyeringai licik. "...bayangan yang kami kirim sudah berangkat satu jam yang lalu. Dia sedang menuju ke Hutan Merah di belakang akademi sihir Anda. Kematian target Anda sudah dipastikan malam ini."
Jantungku berdegup kencang. Sial. Alur ceritanya bergerak lebih cepat dari yang ada di novel.
Dalam novel, pembunuhnya menyerang Leon pada tengah malam. Kenapa sekarang maju beberapa jam? Apakah karena efek kupu-kupu dari perubahanku pagi ini?
"Tarik kembali pembunuh itu. Sekarang," perintahku dengan nada sedingin es.
Pria itu tertawa lagi, kali ini lebih keras. Ia merogoh sabuknya dan mengeluarkan sebilah belati beracun. "Kau bocah sombong. Hanya karena kau dari keluarga Duke, kau pikir kau bisa memerintahku di wilayahku—"
Brak!
Sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya, aku sudah bergerak. Mengandalkan fisik baruku yang telah dibersihkan oleh Elixir, aku melesat maju, mencengkeram wajah pria besar itu dengan tangan kananku, dan menghantamkan kepalanya ke dinding bata di belakangnya.
Suara retakan tulang terdengar mengerikan. Belati di tangannya terjatuh ke lantai.
"A-Argh!" rintihnya, terkejut bukan main melihat kekuatan fisikku.
"Aku tidak datang untuk berdiskusi," bisikku tepat di telinganya. Perlahan, aku mengalirkan mana hitam dari pusaran di pusat jantungku. Gumpalan aura gelap yang pekat menguar dari telapak tanganku, merambat ke kulit wajah pria itu.
Sensasi dingin yang mematikan membuat matanya terbelalak ngeri. Sihir kegelapan? Dari seorang Pendelton?
"S-Sihir apa ini?!" pekiknya panik, merasakan energi kehidupannya seolah disedot paksa.
"Katakan padaku siapa pembunuh yang kalian kirim," tanyaku datar, memperkuat cengkeramanku hingga dinding di belakang kepalanya retak.
"V-Viper! Kami mengirim Viper! Dia spesialis racun!" Pria itu menjerit ketakutan. "Kumohon, lepaskan! Dia tidak membawa alat komunikasi, kami tidak bisa memanggilnya pulang! Begitu dia melihat targetnya, dia akan langsung membunuhnya!"
Aku mendecakkan lidah. Viper. Salah satu pembunuh kelas B di Guild Obsidian. Untuk ukuran Leon yang masih level awal, Viper adalah lawan yang mematikan, tapi Leon akan selamat karena ada seorang guru yang kebetulan lewat dan menolongnya. Itulah yang membuat insiden ini terbongkar.
Aku tidak boleh membiarkan guru itu yang menemukan Leon, apalagi membiarkan Viper tertangkap hidup-hidup dan buka suara.
Aku melepaskan cengkeramanku. Pria besar itu merosot ke lantai, terbatuk-batuk mencari udara seolah baru saja lolos dari maut.
Tanpa membuang waktu, aku menarik kembali tudung jubahku. Hutan Merah di belakang akademi memakan waktu satu jam perjalanan menggunakan kereta kuda. Jika aku memacu kuda dengan kecepatan maksimal, aku mungkin bisa tiba di sana sebelum Leon terkena racun mematikan itu.
Tampaknya, malam ini, aku harus menjadi pahlawan tak diundang demi menyelamatkan leherku sendiri.