NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

“Bu, ini untuk proses pembayarannya bisa di sini,” ujar sales itu ramah.

Sekar duduk, mencoba fokus. Tangannya sedikit gemetar saat membuka tas, bukan karena ragu… tapi karena perasaan bangga yang terlalu penuh. Ia sedang membangun hidupnya kembali. Dengan tangannya sendiri.

Saat ia sedang menandatangani berkas, tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang, “Sekar?”

Tangan Sekar langsung berhenti. Nama itu… diucapkan dengan cara yang tidak asing. Perlahan, ia menoleh. Dan dunia seperti mundur beberapa tahun ke belakang. “Damar?”

Lelaki itu berdiri beberapa langkah darinya, tersenyum. Tapi bukan senyum yang dulu ia kenal, yang liar, santai, sedikit urakan.

Yang berdiri di hadapannya sekarang… berbeda. Lebih rapi. Lebih tenang. Lebih… dewasa. Rambutnya tertata, kemejanya bersih dan pas di badan, dan ada aura percaya diri yang tidak dibuat-buat.

Sekar bahkan butuh beberapa detik untuk benar-benar memproses. “Kamu… di sini?” tanyanya kaku.

Damar terkekeh pelan. “Harusnya aku yang nanya itu. Ini ... ” ia menggantung pembicaraan, tidak enak menjelaskan kalau ialah pemilik showroom ini. "Hanya usaha kecil-kecilan."

Sekar terdiam.

Lita langsung menoleh cepat ke arah Sekar, lalu ke Damar. Matanya menyipit penuh arti. “Ooh…” gumamnya pelan, seperti menemukan sesuatu yang menarik.

Sekar menelan ludah. “Serius?”

“Iya,” jawab Damar santai. “Udah beberapa tahun.”

Sekar mengangguk pelan, masih agak canggung. Ingatannya langsung kembali ke masa lalu, ke lelaki yang dulu sering menunggunya, mengejarnya dengan cara yang sederhana tapi tulus… lalu ditolak mentah-mentah karena dianggap tidak punya masa depan. Dan sekarang Ia berdiri di sini. Dengan usahanya sendiri. Ironis.

“Kamu beli mobil?” tanya Damar, melirik berkas di tangan Sekar.

“Iya…” jawab Sekar singkat.

Damar tersenyum. “Bagus. Kamu pantas.”

Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa… terasa berbeda. Tidak menghakimi. Tidak juga menyindir masa lalu. Hanya… tulus. Sekar jadi semakin canggung.

Di sampingnya, Lita yang dari tadi mengamati akhirnya maju selangkah. “Hai, aku Lita,” katanya ramah sambil mengulurkan tangan.

“Damar.” Mereka berjabat tangan.

Lita melirik Sekar sekilas, lalu kembali ke Damar dengan senyum yang sedikit… penuh rencana. “Kebetulan banget ketemunya,” ujarnya ringan. “Akhir pekan ini Sekar mau syukuran rumah baru. Kamu datang ya.”

Sekar langsung menoleh cepat. “Lita?”

Tapi Lita sudah lebih dulu melanjutkan. “Sekalian reuni lama juga kan.”

Damar tampak sedikit terkejut, tapi tidak menolak. Ia justru tersenyum. “Boleh,” jawabnya santai. “Kirim alamatnya aja.”

Sekar benar-benar kehabisan kata. Ia hanya bisa menatap Lita dengan tatapan protes yang tertahan.

Lita pura-pura tidak melihat.

Beberapa menit kemudian, proses pembayaran selesai. Sekar berdiri di samping mobil barunya, kunci sudah ada di tangannya. Ia menatap benda itu lama. Perjalanan panjangnya… seperti terwakili dalam satu benda sederhana itu. Dari kehilangan, jatuh, bangkit hingga berdiri lagi seperti sekarang.

“Selamat ya,” suara Damar terdengar lagi dari sampingnya.

Sekar menoleh. “Terima kasih,” jawabnya pelan.

Ada jeda singkat. Damar menatapnya, lalu berkata pelan, “Kamu kelihatan… lebih kuat sekarang.”

Sekar tersenyum tipis. “Dipaksa keadaan,” jawabnya jujur.

Damar mengangguk. “Tapi nggak semua orang berhasil.” Kalimat itu menggantung.

Sekar tidak menjawab. Ia hanya kembali menatap mobilnya… lalu dalam hati berbisik, Sea, tunggu ya, Ibu lagi nyiapin semuanya Biar nanti… kamu pulang, bukan ke tempat yang lama… tapi ke rumah baru kita.

Dan untuk pertama kalinya, di tengah semua luka yang belum sepenuhnya sembuh, Sekar merasakan sesuatu yang lama hilang bukan cinta. Tapi kemungkinan.

***

Mobil itu melaju pelan meninggalkan showroom. Sekar masih menggenggam setirnya dengan hati-hati, sesekali melirik dashboard seperti memastikan ini benar-benar nyata.

Mobil pertamanya. Namun bukannya menikmati momen sepenuhnya, ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Dan itu bukantentang mobil.

Ia melirik Lita di kursi samping. “Kamu tuh ya…” akhirnya Sekar membuka suara, nada suaranya setengah kesal, setengah tidak percaya. “Berani banget ngundang orang.”

Lita menoleh santai. “Orang siapa?”

Sekar mendengus pelan. “Jangan pura-pura. Damar.”

“Oh…” Lita tersenyum tipis, seolah itu hal kecil. “Kenapa? Nggak boleh?”

“Boleh sih…” Sekar menghela napas, lalu melanjutkan, “tapi kita tuh nggak ada acara syukuran. Cuma kumpul keluarga biasa.”

Lita mengangkat bahu. “Ya sudah, sekalian jadi syukuran. Beres kan?”

Sekar melirik tajam, tapi Lita justru tertawa kecil. Mobil kembali hening beberapa detik.

Lita lalu memiringkan tubuh sedikit, menatap Sekar dengan ekspresi penuh selidik. “Kalian dulu apa sih?” tanyanya tiba-tiba.

Sekar langsung mengernyit. “Apaan?”

“Kamu sama Damar,” ulang Lita santai. “Nggak mungkin cuma kenal biasa. Tadi itu kelihatan banget… ada sesuatu.”

Sekar terdiam sejenak. Tangannya masih di setir, tapi pikirannya mulai mundur ke masa yang sudah lama ia simpan rapi. “Itu cuma…” ia berhenti sebentar, mencari kata yang tepat, “…cinta monyet.”

Lita langsung tersenyum lebar. “Nah, kan.”

Sekar menghela napas kecil, lalu akhirnya bercerita pelan, seperti membuka kotak lama yang berdebu. “Dulu dia yang suka sama aku,” katanya. “Lumayan lama juga… dia ngejar terus.”

“Terus?”

“Pas kelas tiga SMA… dia nembak.”

Lita makin tertarik. “Dan kamu?”

Sekar tersenyum tipis, tapi ada sedikit rasa bersalah yang terselip di sana.

“Aku tolak.”

“Kenapa?”

Sekar mengangkat bahu kecil. “Ya… dulu aku anak rohis, dia…” ia tertawa kecil tanpa suara, “…berandal sekolah.”

Lita ikut tertawa. “Klasik banget.”

“Iya,” Sekar mengangguk. “Dan ibu juga nggak setuju. Katanya nggak cocok. Aku juga mikirnya gitu waktu itu. Apa kata dunia kalau anak rohis yang jilbaban lebar nikah sama berandal sekolah yang suka bolos, perokok sama tukang brantem." Mobil melambat sedikit saat lampu merah menyala. Sekar menatap lurus ke depan. “Abis itu… ya udah. Lulus, selesai. Aku nggak pernah tahu lagi kabarnya.”

Lampu berubah hijau. Mobil kembali berjalan. Lita diam beberapa detik, mencerna cerita itu. Lalu… “Sekarang kamu suka nggak?” tanyanya tiba-tiba.

Sekar langsung menoleh cepat. “Apaan sih?”

“Ya Damar,” jawab Lita santai. “Kamu suka nggak? Dia natap kamu masih beda lho,"

Sekar menggeleng pelan, sedikit defensif. “Nggak pantas ditanya gitu, Lit. Itu kan zaman SMA.”

“Tapi orangnya sekarang beda,” sahut Lita cepat. “Dan kamu tadi… aku lihat sendiri.”

Sekar menggigit bibirnya pelan. “Aku cuma kaget,” kilahnya.

“Cuma kaget?” ulang Lita, alisnya terangkat.

Sekar tidak menjawab. Ia kembali fokus ke jalan, tapi pikirannya tidak lagi setenang tadi. Bayangan Damar muncul lagi, cara dia tersenyum, cara dia bicara… dan bagaimana ia terlihat sangat berbeda dari yang dulu. Lebih matang. Lebih stabil. Lebih… siap.

“Siapa tahu bisa dicoba,” ujar Lita ringan, memecah keheningan.

Sekar langsung menggeleng. “Jangan ngaco.”

“Kenapa?”

Sekar tertawa kecil, tapi kali ini ada nada pahit yang terselip. “Aku ini siapa, Lit?” katanya pelan. “Janda. Punya anak. Masalah belum selesai.” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Dia?” Sekar menghela napas. “Single. Punya usaha. Hidupnya jelas.” Perbandingan itu terasa terlalu nyata.

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!