Di bawah langit London yang selalu mendung, Alex Ferguson berdiri sebagai predator puncak di dunia bawah tanah Inggris. Baginya, kematian Brandon Warming karena sakit jantung adalah sebuah "penghinaan"—ia kehilangan kesempatan untuk membalas nyawa ibunya dengan tangannya sendiri.
Namun, Brandon meninggalkan satu-satunya harta yang tersisa: Tiana Luxemburg Warming. Gadis berusia 18 tahun yang masih memiliki binar polos di matanya, sama sekali tidak tahu bahwa seluruh hidupnya kini telah beralih menjadi milik Alex sebagai pelampiasan dendam yang belum tuntas. Bagi Alex, Tiana bukan sekadar mangsa, melainkan mahakarya yang akan ia hancurkan perlahan di balik dinding kastelnya yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan anggap saya mainan
Cup... cup... cup...
Alex terus menghujani bahu dan leher Tiana dengan ciuman-ciuman yang menuntut. Bibirnya terasa panas di atas kulit Tiana yang dingin karena ketakutan. Isak tangis Tiana tidak membuatnya berhenti, justru membuat gairah dan rasa kepemilikan Alex semakin membara.
"Diamlah," bisik Alex, suaranya terdengar berat di dekat Tiana.
Tiana terus terisak, mencoba mencari kekuatan untuk bicara. "Tuan... tolong berhenti..." ucapnya dengan suara bergetar.
Alex menjauhkan wajahnya sedikit, menatap Tiana yang tampak sangat tertekan. Ada keheningan sejenak di antara mereka. Suasana di ruangan itu terasa sangat tegang.
"Jika kau ingin aku berhenti malam ini, tetaplah di sini bersamaku," ujar Alex dengan nada yang tegas namun tidak lagi melakukan kontak fisik yang agresif.
Tiana terdiam, mencoba mengatur napasnya yang sesak. Ia menyadari bahwa situasi ini sangat sulit baginya. Tanpa banyak pilihan, Tiana hanya bisa menunduk, berusaha menenangkan diri di tengah tekanan situasi tersebut.
Alex menggendong Tiana dengan satu sentakan, membawa tubuh yang masih gemetar itu menuju ranjang besarnya yang megah. Tiana tidak lagi memberontak, ia terlalu lelah dan hancur secara mental untuk melawan tenaga Alex.
"Jangan menangis, aku tidak akan menyetubuhi dirimu. Aku hanya penasaran... dan ternyata rasamu tidak sebanding dengan Andriana," ucap Alex dengan nada mengejek yang sangat kental. Ia melempar Tiana ke atas kasur empuk itu dengan kasar, seolah Tiana adalah barang yang tidak lagi menarik.
Tiana tersentak mendengar hinaan itu. Di tengah isak tangisnya, rasa perih di hatinya justru lebih tajam daripada baju yang robek. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang terekspos, lalu menatap Alex dengan mata yang sembap.
"Kenapa Tuan membandingkan saya dengan dia?" tanya Tiana dengan suara parau yang menyayat hati. "Saya memang tidak cantik, tidak seksi... Saya bukan sosialita kelas atas seperti tunangan Anda. Saya hanya putri seorang pengkhianat yang kini menjadi pelayan Anda. Jadi, kenapa Anda tidak lepaskan saja saya kalau saya memang tidak ada apa-apanya dibanding dia?"
Alex berdiri di tepi ranjang, mulai membuka kancing kemejanya satu per satu sambil menatap Tiana dengan pandangan meremehkan. "Karena kau adalah satu-satunya barang milik musuhku yang tersisa, Tiana. Sekalipun kau hambar, aku akan tetap memilikimu hanya agar ayahmu membusuk di neraka dengan mengetahui putrinya ada di bawah kakiku."
Alex berdiri terpaku sejenak, tatapannya dingin namun ada kilat amarah yang tertahan di sana. Bukannya melepaskan, ia justru mencengkeram pinggiran ranjang, membuat Tiana semakin meringkuk ketakutan.
"Kehadiranmu di sini bukan tentang kecantikan atau pesona, Tiana," desis Alex dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Ini tentang penebusan dosa yang tidak pernah kau lakukan, namun harus kau tanggung. Kau akan tetap di sini, menjadi pengingat bagi setiap orang yang berani mengkhianati namaku."
Tiana memalingkan wajah, membiarkan air matanya jatuh ke atas bantal. Keheningan yang mencekam menyelimuti kamar luas itu, hanya menyisakan suara napas mereka yang tidak teratur.
Di luar kamar, bayangan seseorang tampak bergerak menjauh dari celah pintu yang sedikit terbuka. Rahasia dan dendam nampaknya mulai merayap di lorong-lorong rumah besar itu, mengancam untuk menghancurkan apa pun yang tersisa dari harga diri Tiana.
Alex mengukung tubuh Tiana, mengunci setiap ruang gerak gadis itu di atas ranjang. Tatapannya yang tadi mengejek kini berubah menjadi lapar dan gelap.
"Tuan... mau apa lagi?" cicit Tiana dengan napas tertahan.
"Aku belum selesai 'makan', Tiana..." bisik Alex sebelum akhirnya kembali membungkam mulut Tiana dengan lumatan yang jauh lebih dalam dan menuntut.
Tadi katanya cuma penasaran dan tidak sebanding dengan Andriana, tapi kenapa dia tidak berhenti?! Dasar iblis pembohong! batin Tiana meronta kesal di tengah pagutan Alex yang menyesakkan.
Suasana semakin panas ketika tangan Alex mulai bergerak liar. Tangan besarnya mengusap perut rata Tiana yang terekspos karena bajunya yang robek, lalu perlahan meraba naik hingga ke atas, membuat Tiana tersentak hebat. Sensasi aneh dan asing itu membuat bulu kuduknya berdiri.
Karena panik dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan tangan nakal itu, Tiana secara refleks menyentakkan kepalanya ke depan.
DUGH!
Tiana menabrakkan dahinya dengan keras tepat di dahi Alex.
"Akhh!" Alex mengerang tertahan sambil menjauhkan wajahnya, memegangi dahinya yang terasa berdenyut. Ia menatap Tiana dengan tatapan yang sangat tajam, antara kaget dan tidak percaya bahwa pelayan kecil ini berani menyerangnya secara fisik.
Tiana sendiri meringis kesakitan, matanya berkaca-kaca menahan pening di kepalanya sendiri. "Sudah saya bilang berhenti, Tuan! Jangan perlakukan saya seperti mainan!"