Kembali lagi dalam kisah seru perjalanan hidup seorang wanita dari keluarga Nugraha, siapa dia?, yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelesaikan Masalah
Sera masih berada di dekat Alensky saat ini, sebenarnya lukanya tak begitu parah sih, hanya memar di beberapa bagian saja.
"Pulang ke Apartemen setelah ini, jangan berani ke Mansion utama, atau Oma akan benar-benar murka"
"Aku tau kak"
Sera menatap Alensky yang nampak malas di atas tempat tidurnya.
"Aku memang cantik, tidak usah terlalu kagum padaku kak"
"Mau aku tambahi luka mu?!" seru Sera di buat kesal saja, dia memang mengamati Alensky, tapi bukan untuk mengagumi kecantikannya karena wajahnya juga sebelas duabelas dengannya.
"Aku heran, kenapa kau suka sekali buat masalah" tanya Sera.
"Aku hanya melindungi diriku kak, jadi bukan aku yang mengawalinya, okey?"
"Heh, okey, aku mengerti, tapi tidak bisakah kamu mengurusnya sendiri?, ayolah jangan melibatkan ku terus Alen, aku sudah cukup pusing dengan masalahku sendiri, apalagi sekarang ini aku harus bekerja keras dengan partner kerja yang gak waras!"
Sejenak Alensky terdiam, mengerutkan alisnya nampak berpikir dalam, dan_
"Oh, jadi tadi bener suara laki-laki?" entah kenapa wanita penuh luka itu kini malah antusias membahas lawan jenis yang membuat Sera ingin sekali menghabisinya.
"Ck, iya, dan dia lebih mirip malaikat pencabut nyawa dari pada partner kerja"
Kali ini Sera melihat wanita yang mengesalkan ada di depan mata, Melihat Alensky yang justru malah tertawa.
"Diam lah, aku serius dengan ucapanku tadi, aku sibuk dan gak banyak waktu lagi untuk mu, jadi tolong belajarlah menjaga dirimu sendiri Alensky!" Suara Sera naik satu oktaf.
Alensky diam, lalu menatap melas kearah Sera yang jelas tidak akan tega.
"Ya Tuhan, jangan tunjukkan wajah seperti itu lagi Alen, dan bangunlah, aku antar pulang dan aku akan menyelesaikan masalahmu, kali ini dengan caraku, jangan berani-berani mengacau" Sera memperingatkan adik sepupunya.
Keduanya lalu berjalan pulang, setelah sebelumnya meminta bantuan agar apa yang terjadi dengan Sera tetap menjadi rahasia, terutama dari sang Oma.
Sampai di Apartemennya, Alensky membuka pintu perlahan, lalu tersenyum dan menggandeng tangan Sera untuk masuk ke dalam.
"Jadi ada lima orang?" tanya Sera.
"Yap, dan hanya satu dalangnya" jawab Alensky yang saat ini sudah ambruk di atas sofa yang nyaman.
"Wanita ini?" tanya Sera menunjukkan foto yang dikirim oleh anak buahnya yang melapor kan kejadian detail di minggu pagi beberapa jam yang lalu.
"Tepat, kakak sudah menemukan orangnya, cepat sekali"
"Kamu pikir aku perlu berhari-hari hanya untuk mencari cecunguk seperti ini?"
"Orang tuanya punya pengaruh juga di kota ini kak, hati-hati!"
"Pengaruh yang di beli dengan uang, mana bisa bertahan, itu hanya semu, mudah sekali di runtuhkan hanya dengan sekali gertakan" Sera lalu melihat Alensky yang tengah membalas dengan senyuman.
"CEO Sera memang hebat, Oma tidak salah memilihmu walau dengan banyak drama yang terjadi" ucap Alensky sambil mengacungkan jempol kanannya.
Sera berjalan meninggalkan Alensky, tenggorokannya terasa sangat kering setelah berlarian menuju ke ruang rawat Rumah Sakit sesaat tadi.
"Jadi_, dia Sek-si kak?"
Byur
Sera hampir saja tersedak minumannya, mendengar kata-kata ajaib yang tiba-tiba saja keluar dari mulut adiknya.
Ada tawa setelahnya, dan Sera melempar tas kecilnya hampir mengenai kepala wanita yang kini makin tertawa.
"Kamu minta di banting ya!" seru Sera.
"Bukan aku, tapi kak Sera, aku makin penasaran seperti apa laki-laki itu, dan dia berhasil membuat mu kerja di hari minggu, kok bisa?" kini Alensky mendekat dan menatap lekat.
"Minggir, jangan terlalu dekat" Sera mundur dan membuat jarak dari adiknya yang seolah ingin masuk ke dalam otaknya.
"Cerita sedikit saja, ayolah!"
"Tidak ada yang perlu di ceritakan Alen, dia bisa berbuat semaunya karena ikatan kontrak perusahaan kita"
"What?!, kok bisa?"
"Siapa lagi kalau bukan karena Oma" sahut Sera.
"Oh, itu_' Alensky tertawa.
Sera tak memperdulikannya, fokus pada layar ponselnya, rupanya data-data yang di carinya sudah di temukan dan kini tengah di baca.
Seperti yang di bilang Alen, orang tua dari wanita brengsek yang berani menyentuh adiknya adalah orang yang punya pengaruh di kota ini, tapi Sera tak pernah gentar, semua kebusukan mereka telah di dapatnya juga.
"Ada apa kak?"
"Diam, dan aku akan urus masalahmu sekarang juga, aku tidak punya banyak waktu" Sera segera bangkit dan memilih tempat di ruang tengah, diikuti oleh Alensky dengan wajah penasarannya.
Panggilan tersambung, kali ini kepada Pengurus Mahasiswa tertinggi di kampus.
"Saya wali dari Mahasiswa bernama Alensky Bu, mohon kerjasamanya, mengingat adik saya di serang di dalam kegiatan kampus hari ini, tepatnya Minggu pagi di area kampus"
"Oh iya Bu, ini kami masih melakukan koordinasi, karena kami juga harus melihat banyak sisi_"
"Tidak perlu banyak, fokus saja pada pemicu masalahnya, saya rasa anda pasti sudah mengerti"
"Maaf, Maksudnya?"
Sera menghela nafas sebelum melanjutkan kata-katanya, terlalu banyak kata dan muter-muter saja, dia benar-benar tidak suka.
"Alensky di serang degan sengaja, banyak luka lebam di tubuhnya, semua sudah ada bukti visum karena saya langsung menindak lanjuti, kuasa hukum kami akan turun tangan Bu"
"Ini masalah yang tidak bisa begitu saja anda putuskan sepihak, saya yakin orang yang anda maksud juga tidak akan diam, saya ingatkan untuk tidak ceroboh dan merugikan banyak pihak Bu Sera"
Cukup, dari sini Sera sudah tau kemana arah tujuannya, saatnya menunjukkan siapa dirinya, menunjukkan kekuasaannya, jika berurusan dengan nyawa anggota keluarga Nugraha, tidak ada kata tawar menawar.
"Baik, kami akan mengirim Tim kuasa hukum, untuk mempercepat prosesnya"
"Apa?!, maaf, anda bilang Tim?" mulai nampak Kekhawatiran, ego yang di turunkan, dan Sera tengah tersenyum penuh kemenangan.
Alensky yang juga mendengarkan ikut tersenyum dengan mata yang tertutup diatas Sofanya, kemampuan Sera kakak sepupunya memang tidak pernah dia ragukan, dia wanita tangguh yang tak akan pernah runtuh, batinnya.
Perbincangan berlanjut, kali ini Sera terlihat mengendalikan situasinya, dan di titik terakhir akhirnya menutup ponsel dengan kata_
"DONE!!"
Alensky menoleh dan kembali tersenyum, mengangguk pelan lalu matanya terpejam.
Sera mendekat, membenarkan baju yang di pakai, dan menyelimuti tubuhnya.
"Istirahatlah, masalah selesai dan jangan khawatir lagi, kuliah yang bener Alensky"
"Hem" hanya itu jawabannya.
Sera tersenyum, mengusap lembut puncak kepala Alensky, lalu berjalan keluar Apartemen, sebenarnya masih ingin di sana, tapi sayang, ada janji yang harus di tempati.
Pesan di terima
'Jangan berani kabur, ingat janjimu, dan kita masih ada kerja untuk menyempurnakan beberapa proposal'
Sera memasuki lift dengan menghela nafas panjangnya, ingin membalas tapi sangat malas, lebih baik langsung muncul saja dari pada banyak debat di ponselnya, bisa-bisa tambah kesal dan akan membanting benda mahal yang selalu menemaninya.
Bersambung di jam 12 siang, mana nih Komennya?
tp tdk lepas jg dr titisan gestrek omanya 🤭🤭