NovelToon NovelToon
ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aksi / Mengubah Takdir / Horor
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Pelarian Sang Musafir ​.

Pagi itu, Pondok Al-Hikam geger. Kamar kayu tempat Arjuna Wijaya biasa beristirahat kosong melompong. Tidak ada surat wasiat, tidak ada pesan titipan. Hanya ada selembar kertas bungkus nasi yang ditulisi huruf arab pegon berantakan: "Kulo ajeng sinau dadi aspal, ampun digoleki (Saya mau belajar jadi aspal, jangan dicari)."

​.

​Guntur terduduk lemas di ambang pintu. "Mas... Mas Juna... kowe kok malah milih dadi gembel maneh tinimbang dadi pemimpin neng kene?" tangis Guntur pecah. Ia tidak paham bahwa bagi Arjuna, jabatan adalah penjara bagi ruhnya.

​.

​Sementara itu, jauh dari keramaian Sidoarjo, seorang pemuda dengan kaos oblong kuning yang sudah bolong-bolong di pundak nampak berjalan santai menuntun seekor Kambing putih. Kakinya yang pecah-pecah tidak beralas sandal, sengaja membiarkan kerikil tajam menyapa telapak kakinya.

​.

​"Le... kene iki wis dudu Sultan, dudu Gus. Kene iki mung sampah sing ngebaki dalan," bisik Arjuna pada kambingnya.

​.

​Tujuannya hanya satu: Dusun Sunyi di lereng Gunung Penanggungan. Tempat di mana gurunya, Syekh Ali Al-Munawar, tinggal dalam kesunyian yang amat dalam.

​.

​Namun, baru saja memasuki perbatasan hutan jati, Arjuna merasakan bulu kuduknya berdiri. Suasana mendadak menjadi sangat dingin, padahal matahari sedang terik. Kabut hitam tipis mulai merayap di sela-sela pohon jati, membawa aroma kemenyan yang sangat tajam dan bau anyir darah.

​.

​"Walah... jebule siso-siso cecunguk Mr. Richard ijek mboten trimo," gumam Arjuna.

​.

​Tiba-tiba, dari balik pepohonan, muncul sosok mahluk tinggi besar dengan kulit bersisik seperti ular dan kepala manusia yang lidahnya menjulur panjang. Inilah Siluman Naga Sungsang, mahluk peliharaan dukun kiriman dari luar kota yang dendam karena bisnis haramnya dihancurkan Arjuna.

​.

​"Arjuna Wijaya! Sopo sing bakal nulungi kowe neng kene? Neng kene mboten wonten santri, mboten wonten polisi!" gertak siluman itu dengan suara desisan yang memekakkan telinga.

​.

​Arjuna tidak lari. Ia justru ndheprok (duduk bersila di tanah) dengan santai. Ia mengambil sepotong singkong mentah dari tas kainnya, lalu mengunyahnya dengan bunyi "krak-kruk" yang keras.

​.

​"Mbah... ampun nesu-nesu. Niki wonten singkong, kerso mboten? Nek jenengan mboten doyan singkong, nggih sampun, ampun ganggu dalan kulo. Kulo selak ajeng sowan guru," ucap Arjuna dengan nada cengengesan.

​.

​Siluman itu murka karena merasa diremehkan. Ia melompat, kuku-kukunya yang beracun mengarah tepat ke jantung Arjuna. Namun, tepat sebelum kuku itu menyentuh kulit Arjuna, Arjuna memakai Kacamata Hitam bututnya.

​.

​"ZIKIR SIRRI... ILANG!"

​.

​Seketika, wujud Arjuna menghilang dari pandangan mata batin si siluman. Yang ada di depan siluman itu hanyalah Lubang Hitam yang sangat dalam. Si siluman justru jatuh terjerembap ke tanah karena menabrak kekosongan.

​.

​Arjuna muncul kembali, tapi kali ini ia sudah berdiri di atas kepala si siluman sambil memegang telinganya. "Mbah, sampun nggih. Balio menyang asalmu. Bilang sama juraganmu, Arjuna itu sudah mati. Sing mlaku niki namung debu."

​.

​Arjuna menghentakkan kakinya sekali. Getaran dahsyat merambat dari kaki Arjuna, menghancurkan energi hitam si siluman hingga mahluk itu melengking kesakitan dan lenyap menjadi asap kelabu.

​.

​Setelah berjalan beberapa jam lagi, Arjuna akhirnya sampai di sebuah gubuk yang sangat reyot. Di pelatarannya, seorang kakek tua bersorban putih kusam sedang asyik membelah kayu bakar dengan tenang.

​.

​"Syekh Ali Al-Munawar... Juna wangsul," ucap Arjuna sambil bersujud di tanah, mencium debu di bawah kaki sang guru.

​.

​Syekh Ali Al-Munawar tidak berhenti membelah kayu. Ia hanya melirik Arjuna dengan mata tajamnya yang jernih. "Juna... kowe bali mrene nggowo raga, nanging atimu ijek keri neng Sidoarjo. Kowe ijek seneng disebut 'Wali', to? Ndang, resiki kandang sapi neng mburi! Ojo mangan nek durung resik!"

​.

​Arjuna tersenyum lebar meskipun dibentak. Inilah yang ia cari. Penghinaan yang justru menyelamatkan jiwanya dari kesombongan.

​.

​"Nggih, Syekh... Juna matur nuwun sampun dipun anggep asu neng mriki," jawab Arjuna dengan tulus.

​.

​Di bawah pengawasan Syekh Ali Al-Munawar, dimulailah babak baru kehidupan Arjuna. Bukan lagi sebagai "Sultan" yang dipuja, melainkan sebagai pelayan guru yang paling rendah, di sebuah gubuk yang menyimpan rahasia langit paling dalam.

Di bawah langit lereng Gunung Penanggungan, Syekh Ali Al-Munawar menuangkan segelas air putih ke dalam cangkir kecil yang sudah penuh. Air itu tumpah, membasahi meja kayu yang lapuk.

​.

​"Juna... ilmu niku samudro, dene atimu niku mung cangkir sing retak. Nek tak sok (tuang) kabeh saiki, kowe bakal pecah," ucap Syekh Ali dengan nada berat.

​.

​Namun, Arjuna yang haus akan hakikat Tuhan justru memaksakan diri. Malam itu, di dalam kamar zikir yang gelap, Arjuna mencoba melakukan Zikir Sirri tingkat pamungkas yang diajarkan sang Syekh. Tiba-tiba, tubuh Arjuna bergetar hebat. Matanya memutih, dan dari pori-pori kulitnya keluar uap panas yang menyengat.

​.

​DHUARRR!

​.

​Arjuna tersungkur. Cahaya yang masuk ke batinnya terlalu besar hingga sirkuit ruhaninya "terbakar". Sejak saat itu, Arjuna Wijaya berubah total. Ia tidak lagi bicara bijak. Ia hanya tertawa-tawa sendiri, berlari ke sana kemari sambil memeluk kambingnya, dan bicaranya ngawur tidak karuan.

​.

​"Aku dudu Arjuna! Aku iki suket! Aku iki watu!" teriak Arjuna sambil berguling-giling di lumpur sawah. Orang-orang desa menganggapnya benar-benar gila, bahkan Syekh Ali hanya melihatnya dengan tatapan sedih namun penuh rahasia.

​.

​Syekh Ali Al-Munawar memanggil Guntur yang datang menyusul dengan panik. "Guntur... masmu iki dudu gendheng mergo jin, nanging gendheng mergo mabuk Gusti Allah (Jadzab). Wadah batiné mboten kuat nampung nur (cahaya)."

​.

​"Lajeng pripun, Syekh? Nopo mboten saged dipun obati?" tanya Guntur sambil menangis melihat kakaknya makan kembang kamboja di kuburan.

​.

​Syekh Ali mengelus jenggotnya. "Mung ono siji carane nggo 'mbumekne' (membumikan) maneh jiwane Arjuna. Cahaya sing kakehan niku kudu dionthek (dibagi) menyang rahim sing suci. Arjuna kudu rabi (menikah). Nanging dudu rabi karo wong sugih utawa ayu rupane."

​.

​Syekh Ali menunjuk ke arah dua gadis yatim piatu di ujung desa yang sedang mencuci baju di sungai. Mereka adalah Siti dan Aminah. Penampilannya sangat sederhana, hanya memakai daster lusuh dan caping, tapi sorot matanya menyimpan ketulusan yang luar biasa.

​.

​"Wong wadon loro niku sing saged dadi 'wadah' nampung lubere cahyo ing batine Arjuna. Nek Arjuna rabi karo bocah loro niku, kegilaane bakal dadi kewalian sing sampurno," tegas Syekh Ali.

​.

​Guntur terperangah. Arjuna yang dulu dikagumi sebagai Sultan dan Wali, kini harus menikah dalam kondisi "gila" dengan dua wanita desa yang sangat sederhana.

​.

​Malam pengantin itu sangat aneh. Arjuna duduk di pojok kamar sambil memakai kacamata hitam si kambing, bicaranya masih melantur tentang bintang dan rembulan. Namun, saat Siti dan Aminah dengan penuh kasih sayang membasuh kaki Arjuna yang penuh lumpur dan mencium tangannya dengan tulus tanpa rasa jijik...

​.

​DEG!

​.

​Seketika, suhu ruangan menjadi dingin. Arjuna yang tadinya tertawa-tawa mendadak terdiam. Ia menatap Siti dan Aminah. Perlahan, kesadaran Arjuna kembali. "Panasé... panasé batin kulo sampun ilang..." bisik Arjuna.

​.

​Ajaib! Kewarasan Arjuna kembali pulih lewat perantara bakti dua wanita sederhana itu. Kegilaannya sirna, berganti dengan ketenangan yang lebih dalam dari sebelumnya. Ia menyadari bahwa Tuhan menyembuhkannya bukan lewat ritual hebat, tapi lewat kerendahan hati seorang istri yang tulus.

​.

​"Matur nuwun, Gusti... jebule dalan 'Ilang' niku nggih lewat dalan menungso biasa ngeten niki," ucap Arjuna sambil memeluk pundak kedua istrinya dengan penuh hormat.

​.

​Di luar gubuk, Syekh Ali Al-Munawar tersenyum tipis sambil menatap langit. "Selamat, Juna. Kowe wis dadi Wali sing sejati... Wali sing mboten saged dipancal (ditendang) dunya, mergo dunya wis dadi siji neng njeron omahmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!