NovelToon NovelToon
Istri Bayaran Ceo Tampan

Istri Bayaran Ceo Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."

Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.

Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.

Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Lampu kristal di penthouse mewah itu meredup, menyisakan pendar keemasan yang temaram dan mencekam. Suara hiruk-pikuk pesta pernikahan yang megah tadi seolah menguap, digantikan oleh kesunyian yang berat di dalam kamar utama yang luasnya hampir menyamai rumah lama Calista. Aroma lilin aromaterapi sandalwood dan mawar hitam memenuhi indra penciuman, namun bagi Calista, wangi itu terasa seperti aroma sebelum eksekusi.

Calista duduk di tepi ranjang king size yang dilapisi sprei sutra abu-abu gelap. Ia masih mengenakan gaun pengantin putih tulang yang berat. Jemarinya yang dingin meremas kain mahal itu, menciptakan kerutan yang tak beraturan. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya hingga ia merasa sesak. Ia teringat kontrak itu. Ia teringat janji yang ia ucapkan di depan saksi dan Tuhan tadi siang janji yang bagi Denis hanyalah sebuah transaksi legal untuk kepemilikan total.

Pintu kamar mandi terbuka. Denis keluar hanya dengan mengenakan jubah mandi hitam satin yang dibiarkan terbuka sedikit di bagian dada, memperlihatkan otot-otot yang kokoh dan kulit yang masih lembap oleh sisa air. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini jatuh berantakan di dahi, memberikan kesan liar yang jauh lebih mengancam daripada penampilannya dengan tuksedo tadi.

"Kenapa masih mengenakan gaun itu?" suara bariton Denis memecah keheningan, terdengar begitu dekat.

Calista tersentak, ia mendongak dan mendapati pria itu sudah berdiri tepat di hadapannya. "Aku... aku kesulitan dengan ritsleting di belakang, Mas Denis," jawabnya lirih, nyaris berbisik.

Tanpa sepatah kata pun, Denis melangkah ke belakang tubuh Calista. Calista bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh pria itu. Sentuhan jemari Denis yang kasar namun hangat menyentuh kulit punggungnya yang terbuka, membuat bulu kuduk Calista berdiri. Perlahan, ritsleting itu ditarik turun. Suara logam yang bergesekan terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu, seiring dengan terbukanya gaun yang selama ini menjadi pelindung terakhirnya.

Calista memejamkan mata rapat-rapat saat gaun itu merosot jatuh ke lantai, menyisakan dirinya yang hanya mengenakan pakaian dalam renda tipis. Ia gemetar, menunggu serangan yang ia pikir akan segera datang. Ia sudah menyiapkan mentalnya untuk rasa sakit, untuk penyerahan diri yang brutal, untuk kehilangan kesuciannya malam ini demi nyawa Ibunya.

Namun, Denis tidak langsung menerjangnya.

Pria itu menarik dagu Calista, memaksanya untuk berdiri dan berhadapan dengannya. Tatapan Denis tidak menunjukkan nafsu yang membabi buta, melainkan sebuah ketenangan yang predatoris. Ia menatap setiap inci tubuh Calista dengan pandangan yang seolah sedang menilai sebuah karya seni yang baru saja ia beli dengan harga selangit.

"Kau gemetar," bisik Denis. Tangannya mulai menjelajahi bahu Calista yang halus. "Apa kau takut padaku?"

"Aku... aku hanya belum pernah melakukannya," jujur Calista dengan suara bergetar.

Denis menyeringai tipis, sebuah senyuman yang membuat nyali Calista menciut. "Aku tidak suka sesuatu yang terburu-buru. Malam ini masih sangat panjang, Nyonya Satrya. Dan aku ingin menikmati setiap detik dari hak milikku."

Tiba-tiba, Denis menyentakkan tubuh Calista hingga jatuh ke atas ranjang yang empuk. Sebelum Calista sempat memproses apa yang terjadi, Denis sudah berada di atasnya, mengurung tubuh mungil itu dengan kedua lengannya yang kuat. Calista menahan napas, tangannya tanpa sadar mencengkeram sprei sutra di bawahnya.

Denis mulai mengecup leher Calista. Kecupan itu awalnya lembut, namun segera berubah menjadi gigitan-gigitan kecil yang menuntut. Calista mengerang pelan, sebuah sensasi asing yang menyakitkan sekaligus mengejutkan menjalar ke seluruh sarafnya. Ia merasa seperti sedang ditandai.

Menit berganti menjadi jam. Malam itu memang terasa sangat panjang bagi Calista, namun tidak seperti yang ia bayangkan. Denis tidak melakukan penetrasi. Pria itu seolah sengaja menahan diri, bermain-main dengan batas ketahanan Calista. Ia menjelajahi setiap jengkal kulit gadis itu dengan bibir dan jemarinya.

Denis meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang kontras di atas kulit putih pucat Calista. Di ceruk leher, di tulang selangka, hingga ke bahu dan dada bagian atas. Setiap tanda yang dibuat Denis terasa panas, seperti cap besi yang membuktikan siapa pemilik sah tubuh itu sekarang.

"Mas... Mas Denis..." rintih Calista saat pria itu menyesap kulit di pangkal lehernya dengan kuat. Rasa perih itu membuat air mata Calista menetes di sudut matanya.

Denis mendongak, menatap mata Calista yang berkaca-kaca. Ia menyeka air mata itu dengan ibu jarinya. "Tanda ini akan mengingatkanmu besok pagi, dan lusa, bahwa kau bukan lagi milik dirimu sendiri. Kau tidak boleh membiarkan pria lain menyentuhmu, bahkan menatapmu seperti ini."

Calista merasa otaknya mulai tumpul. Ia pikir ia akan menyerahkan diri sepenuhnya malam ini sebuah tindakan final yang akan mengakhiri kepolosannya. Namun, Denis justru melakukan sesuatu yang lebih menyiksa secara mental. Pria itu membangkitkan gairah yang tidak Calista mengerti, lalu membiarkannya menggantung tanpa penyelesaian. Ia membuat Calista merasa benar-benar telanjang dan tak berdaya, tanpa benar-benar "mengambilnya".

Pemanasan yang dilakukan Denis terasa begitu intens. Setiap kali Calista mengira Denis akan melanjutkan ke tahap berikutnya, pria itu justru berpindah ke bagian tubuh yang lain, mengulang ritual penandaan itu kembali. Bekas merah hasil karya Denis kini menghiasi tubuh Calista layaknya tato temporer yang menyakitkan.

"Cukup untuk malam ini," ucap Denis tiba-tiba, saat jam di dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi.

Ia melepaskan kunciannya pada tubuh Calista dan berbaring di sampingnya, menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis yang masih tersengal-sengal itu. Calista terpaku, menatap langit-langit kamar dengan perasaan kosong. Tubuhnya terasa panas, berdenyut karena bekas-bekas merah yang ditinggalkan Denis, namun ada rasa hampa yang aneh di dalam dirinya.

"Kenapa?" tanya Calista lirih. "Kenapa Mas Denis tidak melakukannya sampai akhir?"

Denis memejamkan matanya, menyandarkan kepala pada bantal. "Karena aku ingin kau memohon padaku lain kali. Aku ingin kau menyerahkan dirimu bukan karena kontrak, tapi karena kau memang tidak punya pilihan lain selain menginginkanku."

Jawaban itu terasa lebih dingin daripada es. Denis ingin menghancurkan pertahanan mentalnya, bukan hanya fisiknya. Pria itu ingin Calista tunduk secara sukarela, sebuah bentuk penyerahan yang jauh lebih absolut.

Calista membalikkan tubuhnya membelakangi Denis, meringkuk kecil di balik selimut mewah itu. Ia menyentuh lehernya yang terasa perih. Di bawah cahaya rembulan yang masuk melalui celah gorden, ia bisa melihat pantulan dirinya di cermin lemari tubuhnya penuh dengan noda kemerahan, tanda bahwa ia telah benar-benar terjual.

Malam pertama itu tidak berakhir dengan hilangnya kesucian secara fisik, namun berakhir dengan hilangnya harga diri Calista sebagai seorang individu. Ia menyadari bahwa Denis Satrya adalah pria yang jauh lebih berbahaya daripada yang ia duga. Pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya; ia menginginkan jiwanya, dan ia akan mengambilnya perlahan-lahan, inci demi inci, dimulai dari tanda-tanda merah yang kini menghiasi kulitnya malam ini.

Dalam kegelapan, Calista menangis tanpa suara. Ibunya selamat, tagihan rumah sakit lunas, namun ia tahu bahwa Calista yang dulu gadis SMA yang ceria dengan mimpi-mimpi besarnya telah mati malam ini, terkubur di bawah tanda-tanda merah hasil karya suaminya sendiri.

Gimana? Lanjut lagi? Komen

1
partini
ngeri ini laki laki macam pesikopat
Sastri Dalila
👍👍👍 seruu juga thor
Sastri Dalila
👍👍👍seru kyknya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!