NovelToon NovelToon
Iblis Penelan Langit

Iblis Penelan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.

Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debu yang Mengendap di Balik Keheningan

Episode 11

Suasana di aula utama Paviliun Seribu Harta masih terasa sangat berat, seolah-olah udara di tempat itu telah membeku akibat benturan aura antara Gu Sheng dan Zhao Ruo tadi. Meskipun sosok sombong dari Sekte Pedang Langit itu telah menghilang di balik pintu besar, sisa-sisa energi perak yang tajam masih terasa bergetar di udara, perlahan-lahan memudar ditelan oleh keheningan yang mencekam.

Debu-debu halus yang terbang akibat kehancuran rak-rak pajangan perlahan-lahan turun kembali, menutupi lantai marmer yang kini dipenuhi retakan panjang. Para tamu dan pelayan paviliun masih mematung di tempatnya masing-masing. Napas mereka tersengal, wajah mereka pucat, dan mata mereka tertuju pada satu titik, sosok pemuda berjubah hitam dengan pedang raksasa yang masih tertancap di lantai.

Gu Sheng tidak segera bergerak. Ia berdiri mematung, tangannya masih menggenggam gagang Penebas Dosa dengan sangat erat. Di bawah kulit punggung tangannya, urat-urat menonjol seperti akar pohon tua yang berusaha menahan beban gunung. Meskipun ia berhasil memukul mundur Zhao Ruo, tangannya sendiri sebenarnya masih terasa kesemutan hebat akibat getaran energi dari praktisi tingkat Spirit Sea.

“Bocah, jangan lepaskan kewaspadaanmu,” suara Kaisar Iblis bergema dengan nada yang sangat rendah dan berwibawa di dalam jiwanya. “Getaran energi barusan... itu bukan hanya serangan fisik. Itu adalah niat membunuh yang terkompresi. Jalur meridian di lengan kananmu sedikit memar. Jika kau tidak segera menenangkan aliran Qi-mu, kau akan mengalami pendarahan dalam dalam tiga tarikan napas.”

Gu Sheng memejamkan mata sejenak. Ia menarik napas secara perlahan melalui hidungnya, menghirup udara yang masih berbau logam terbakar. Di dalam tubuhnya, ia menginstruksikan Dantian Penelan Langit untuk berputar dalam arah yang berlawanan, menyedot sisa-sisa energi liar yang menyusup ke otot-otot lengannya.

Rasa sakit yang panas berdenyut di bahunya, namun Gu Sheng tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Wajahnya tetap sedingin es, tidak menunjukkan sedikit pun kelemahan di hadapan orang-orang yang sedang memperhatikannya.

"Zhao Hu, bersihkan tempat ini. Berikan kompensasi dua kali lipat kepada tamu yang barangnya rusak," suara Su Mei memecah keheningan. Meskipun ia berusaha terdengar tenang, ada nada gemetar yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

Su Mei melangkah mendekati Gu Sheng. Matanya menyapu jubah hitam pemuda itu yang kini sedikit robek di bagian lengan. Ia ingin menyentuh tangan Gu Sheng, memastikan keadaannya, namun aura kegelapan yang masih menyelimuti pemuda itu membuatnya ragu. Aura itu terasa seperti tembok berduri yang siap melahap siapa saja yang berani mendekat tanpa izin.

"Tuan Muda Gu... kau..." Su Mei menggantung kalimatnya. Ia kemudian menoleh ke arah pria tua berjubah hitam yang masih berdiri di dekat pintu. "Penatua Agung... terima kasih telah melerai pertikaian ini. Jika tidak, Paviliun Seribu Harta mungkin akan rata dengan tanah hari ini."

Penatua Agung, yang bernama Gu Yun, mengangguk pelan. Rambut putihnya yang panjang tertiup angin dari pintu yang masih terbuka. Tatapannya yang bijaksana namun penuh rahasia tertuju pada Gu Sheng. Ia mengamati setiap jengkal perubahan pada cucunya itu, mulai dari cara berdirinya yang kini lebih kokoh, hingga tatapan mata merah yang tidak lagi memiliki kelembutan masa lalu.

"Dunia berubah, Su Mei. Dan cucuku ini... dia telah berubah lebih banyak daripada dunia itu sendiri," ucap Gu Yun dengan nada yang terdengar seperti gumaman sedih. Ia melangkah maju, langkah kakinya sangat ringan namun setiap kali sepatunya menyentuh lantai, retakan marmer di bawahnya seolah-olah merapat kembali karena tekanan Qi-nya yang halus.

Gu Yun berhenti tepat tiga langkah di depan Gu Sheng. "Sheng-er, lepaskan pedangmu. Tekanan yang kau pancarkan mulai merusak fondasi bangunan ini. Kau sudah menang untuk saat ini. Simpanlah kekuatanmu untuk panggung yang sebenarnya."

Gu Sheng membuka matanya. Warna merah di pupilnya sedikit memudar, namun tetap menyisakan lingkaran tipis yang mengancam. Ia menarik Penebas Dosa keluar dari lantai dengan satu sentakan yang menghasilkan suara bum rendah. Ia kemudian menyarungkannya kembali ke punggungnya dengan gerakan yang sangat terukur.

"Penatua Agung," ucap Gu Sheng, suaranya serak namun penuh dengan kekuatan. "Anda bilang ada sesuatu yang ditinggalkan ayahku. Kenapa sekarang? Kenapa tidak sebulan yang lalu saat Keluarga Mu merobek dadaku dan mencuri tulangku? Di mana Anda saat ayahku dikepung dan dikhianati oleh tetua lainnya?"

Setiap kata yang keluar dari mulut Gu Sheng terasa seperti tamparan bagi Gu Yun. Pria tua itu tidak memalingkan wajahnya. Ia menerima kebencian itu dengan dada terbuka.

"Aku sedang berada dalam meditasi kematian di Puncak Terlarang saat itu terjadi, Sheng-er. Formasi penyegel di sana memutus semua komunikasi dengan dunia luar. Saat aku keluar dan mengetahui apa yang terjadi... semuanya sudah terlambat. Ayahmu sudah menghilang, dan kau dikabarkan mati," Gu Yun menghela napas panjang, sebuah desahan yang penuh dengan penyesalan yang mendalam. "Aku tidak meminta maafmu, karena aku tahu kata-kata tidak bisa mengembalikan apa yang hilang. Tapi warisan ini... ayahmu memberikannya kepadaku secara pribadi sebelum ia pergi. Ia berkata, 'Jika suatu hari putraku kembali dari kegelapan, berikan ini padanya'."

Gu Sheng terdiam. Kembali dari kegelapan? seolah-olah ayahnya sudah tahu bahwa ia akan melewati neraka dan kembali lagi. Apakah ayahnya sudah merencanakan semua ini? Atau ayahnya tahu tentang rahasia Cincin Penelan Langit?

Su Mei, yang merasa atmosfer semakin pribadi, segera memberi isyarat kepada bawahannya untuk mengosongkan aula sepenuhnya. "Penatua Agung, Tuan Muda Gu... silakan bicara. Paviliun ini aman dari telinga-telinga yang ingin tahu."

Gu Sheng melirik Su Mei sejenak, lalu kembali menatap kakek buyutnya. "Aku akan ikut denganmu. Tapi bukan ke Aula Leluhur Keluarga Gu. Aku tidak ingin menginjakkan kaki di tanah yang kini dikuasai oleh pengkhianat seperti Gu Lie dan sekutunya."

Gu Yun tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung rasa bangga yang tersembunyi. "Aku mengerti. Kebanggaanmu masih tetap sama, meski hatimu telah membatu. Kita tidak akan ke kediaman utama. Ikuti aku ke pondok tua di pinggiran Hutan Bambu Ungu. Di sana adalah tempat di mana ayahmu dulu sering menghabiskan waktu untuk bermeditasi."

Gu Sheng menoleh ke arah tangga, teringat pada Qing Er yang masih di atas.

"Qing Er akan tetap di sini, di bawah perlindunganku," sahut Su Mei seolah bisa membaca pikiran Gu Sheng. "Aku menjamin dengan nyawaku, selama kau pergi, tidak akan ada satu nyamuk pun yang berani menyentuhnya."

Gu Sheng mengangguk singkat. Ia mempercayai insting bisnis Su Mei. Wanita itu tahu bahwa nilai Gu Sheng jauh lebih tinggi daripada risiko menyinggung Sekte Pedang Langit untuk saat ini.

"Mari kita pergi," ucap Gu Sheng pada Gu Yun.

Kedua sosok itu berjalan keluar dari paviliun. Kota Azure di luar sana masih dalam keadaan siaga. Penjaga-penjaga kota berpatroli dengan wajah tegang, namun saat mereka melihat Penatua Agung Keluarga Gu berjalan bersama sosok misterius berjubah hitam yang membawa pedang raksasa, mereka semua menepi dan menundukkan kepala. Tidak ada yang berani menghalangi jalan pria tua yang dihormati itu.

Mereka berjalan menembus kerumunan pasar yang mendadak sunyi saat mereka lewat. Gu Sheng mengamati setiap jengkal kota yang dulu ia cintai. Ia melihat Kedai Minum Paman Wang yang kini ditutup secara paksa, ia melihat bekas-bekas pertempuran kecil di sudut jalan. Kebenciannya terhadap Keluarga Mu semakin tumbuh subur di dalam dadanya. Mereka bukan hanya menghancurkan dirinya, mereka menghancurkan tatanan kota ini demi ambisi pribadi mereka.

Perjalanan itu memakan waktu hampir satu jam. Mereka keluar dari gerbang barat kota dan masuk ke dalam Hutan Bambu Ungu yang rimbun. Suara gesekan daun bambu yang tertiup angin menciptakan melodi yang melankolis. Kabut tipis menyelimuti permukaan tanah, memberikan kesan bahwa mereka sedang berjalan menuju dunia lain.

Di tengah hutan, berdirilah sebuah pondok kayu yang sangat sederhana. Atapnya terbuat dari jerami yang sudah menghitam, dan dinding kayunya dipenuhi dengan lumut. Namun, di sekitar pondok itu, Gu Sheng merasakan sesuatu yang aneh.

Tekanan spiritual di sini sangat stabil, seolah-olah ada sebuah formasi tak terlihat yang mengatur aliran Qi di udara agar tidak terlalu bergejolak.

Gu Yun berhenti di depan pintu pondok. Ia tidak langsung membukanya, melainkan melakukan beberapa gerakan tangan yang rumit di udara, sebuah kunci energi.

Klik.

Suara mekanisme kuno yang bergeser terdengar dari bawah tanah.

"Ayahmu, Gu Jianfeng, bukan hanya seorang jenius dalam kultivasi pedang," ucap Gu Yun sambil menoleh ke arah Gu Sheng. "Ia adalah pria yang memiliki banyak rahasia. Rahasia yang bahkan aku, sebagai tetua paling senior pun, tidak sepenuhnya mengerti. Masuklah, Sheng-er. Hanya darah keturunan langsung yang bisa membuka peti di dalam."

Gu Sheng melangkah maju. Tangannya gemetar sedikit saat ia menyentuh pintu kayu yang dingin dan kasar itu. Ia mendorong pintu perlahan.

Kriet...

Pintu terbuka, memperlihatkan isi pondok yang sangat bersahaja. Hanya ada sebuah meja kayu, satu kursi, dan sebuah tempat tidur kecil. Namun, di tengah meja itu, terletak sebuah kotak hitam kecil yang terbuat dari kayu jati berumur ribuan tahun. Kotak itu tidak memiliki lubang kunci, melainkan sebuah simbol lingkaran di tengahnya yang berbentuk seperti... sebuah mulut yang sedang terbuka.

Gu Sheng mendekati kotak itu. Ia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia mengulurkan jarinya, membiarkan setetes darahnya yang mengandung energi hitam Penelan Langit jatuh tepat di tengah simbol tersebut.

Wush!

Kotak itu seketika menyerap darah tersebut dan mulai memancarkan cahaya ungu yang redup. Tutup kotak itu bergeser terbuka, memperlihatkan isinya yang akan mengubah seluruh pandangan Gu Sheng tentang dunia ini.

Di dalam kotak itu, hanya ada dua benda: sebuah gulungan perkamen tua yang sudah menguning, dan sebuah kristal memori yang berkilau.

“Bocah... auranya...” Kaisar Iblis tiba-tiba bersuara di dalam batin Gu Sheng, suaranya penuh dengan keterkejutan yang luar biasa. “Kristal itu... itu bukan dari benua ini. Itu berasal dari Alam Atas yang lebih tinggi!”

Gu Sheng terpaku. Tangannya yang gemetar meraih kristal memori itu, dan saat kulitnya bersentuhan dengan kristal tersebut, sebuah bayangan muncul di udara, bayangan seorang pria yang gagah dengan mata yang sangat mirip dengan mata Gu Sheng sebelum ia berubah menjadi Iblis.

"Sheng-er... jika kau melihat ini, berarti aku sudah gagal melindungimu dari takdir gelap itu..."

Suara ayahnya. Lembut, penuh wibawa, namun mengandung kesedihan yang mampu membelah hati. Gu Sheng jatuh berlutut, air mata yang selama ini ia tahan sejak bangun di dasar jurang, akhirnya tumpah membasahi lantai pondok yang berdebu.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai sekte pedang langit dengan cara paling kejam thor bikin leluhur sekte itu memohon ampunan bunuh dia aja jangan libatkan sektenya bikin mcnya tidak peduli bantai sekte itu serap kultivasi mereka naikin ranah kultivasi habis itu bantai klan lin dan klan zhou
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya, semua masih proses hehe 😅
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
bantai keluarganya zhou rou bikin mereka semua mengutuk zhou rou karena menganggu mcnya
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya, semua masih dalam proses ia Hehe 😅
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat robek musuhnya thor bantai klan zhao
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya, semua masih dalam proses ia Hehe 😅
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat naikin ranah kultivasi mcnya sampai puncak habis itu bantai lintian dan zhaoru bikin zhaoru dan lintian memohon jangan libatkan keluarganya bikin mcnya tidak perduli thor
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya, semua masih proses hehe 😅🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
bikin mcnya kejam bantai lin tian beserta keluarganya bikin mcnya memasukkan pil itu ke dalam tubuh lintian bikin lintian tidak bisa bereinkarnasi bikin mcnya memakan lintian
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!