Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Jejak Sepatu Hak Tinggi
Pagi ini, Jakarta masih terasa sama, bising oleh klakson dan dipenuhi polusi. Tapi anehnya, saat aku membuka mata, duniaku terasa jauh lebih ringan.
Aku berdiri di depan cermin toilet kedai, mengikat tali celemek denimku dengan gerakan yang sedikit linglung. Tanpa sadar, jemariku terangkat, menyentuh bibir bawahku dengan pelan. Ingatan tentang sore kemarin saat Arka menarik tengkukku, saat aroma sandalwood-nya mengalahkan bau debu semen, dan saat sisa rasa cokelat berpadu di antara napas kami kembali berputar seperti rol film yang rusak di kepalaku.
Wajahku mendadak terasa panas. Aku buru-buru membasuh muka dengan air dingin, mencoba mengusir senyum bodoh yang terus-menerus muncul di bibirku.
Fokus, Senja. Jangan bertingkah seperti anak SMA yang baru pertama kali pacaran, rutukku dalam hati, meski dadaku masih bergemuruh bahagia.
Pukul delapan pagi, lonceng pintu kedai bergemerincing ceria.
Aku menoleh dengan cepat, berharap melihat sosok berpostur tegap itu melangkah masuk. Benar saja, Arka ada di ambang pintu. Pria itu sudah kembali mengenakan kemeja kerja yang rapi, meski tanpa jas dan dasi. Lengan kanannya masih diperban, tapi wajahnya tampak jauh lebih segar dibandingkan wajah frustrasinya kemarin sore.
Tatapannya langsung mengunciku. Sebuah senyum tipis yang luar biasa hangat merekah di bibirnya.
"Pagi," sapa Arka. Suaranya yang serak dan dalam membuat bulu kudukku meremang tipis. Ia berjalan mendekati meja bar, menyandarkan sikunya di sana, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Gimana tidur lo semalam?"
Aku pura-pura sibuk menyusun paper cup, menghindari tatapannya karena gugup. "N-nyenyak. Kedai aman, nggak ada ekskavator nyasar lagi. Lo sendiri?"
"Gue nggak bisa tidur," jawab Arka lugas. Matanya tak lepas menelusuri wajahku. "Gue sibuk mikirin sesuatu yang manis dan... bikin kecanduan."
Skakmat. Wajahku pasti sudah merah padam sekarang. Aku memukul lengannya pelan dengan lap bersih. "Gombalan lo jelek banget, Ka. Kayak bapak-bapak kurang ngopi."
Arka tertawa renyah. Tawa yang sangat jarang ia keluarkan, tawa yang membuat seluruh beban di kedai ini terasa menguap. Suasana di antara kami terasa sangat manis, seperti gelembung sabun transparan yang melayang naik ke udara.
Namun, seperti halnya gelembung sabun... ia sangat mudah pecah.
Tiba-tiba, ponsel Arka yang diletakkan di atas meja bar bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan sederet nama yang sukses membuat tawa Arka terhenti seketika.
Handoko Danadyaksa.
Suhu di sekitar kami mendadak anjlok. Arka mematung menatap layar itu. Rahangnya yang tadi rileks perlahan mengeras. Aku bisa melihat jakunnya bergerak naik turun saat ia menelan ludah.
"Angkat aja, Ka," bisikku pelan, mencoba menutupi rasa cemas yang tiba-tiba menyusup ke dadaku.
Arka menarik napas panjang, mengusap wajahnya kasar, lalu menggeser ikon hijau di layar. Ia mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo, Pa."
Hening sejenak. Aku sibuk pura-pura mengelap meja, tapi telingaku sepenuhnya fokus pada percakapan itu.
"Apa?" Suara Arka mendadak naik satu oktaf. Ia berdiri tegak, posturnya berubah kaku seperti papan baja. "Mendarat hari ini? Kenapa Papa nggak bilang dari kemarin?"
Arka menatapku sekilas dengan raut wajah panik yang berusaha ia sembunyikan, lalu ia membalikkan badan, berjalan menjauh sedikit ke arah jendela depan.
"Pa, aku nggak bisa jemput dia ke bandara. Aku ada jadwal" Arka terdiam, mendengarkan balasan ayahnya. Bahunya tampak menegang hebat. Tangan kirinya terkepal kuat di sisi tubuhnya. "Pa, jangan bawa-bawa proyek mall ini lagi. Kita udah sepakat"
Telepon itu sepertinya dimatikan sepihak oleh Handoko, karena Arka tiba-tiba menjauhkan ponselnya dari telinga sambil mengumpat tertahan. "Shit."
Arka berbalik menghadapku. Wajahnya pucat pasi. Tidak ada lagi sisa-sisa kehangatan dari pagi yang manis ini. Pria yang berdiri di depanku sekarang kembali menjadi direktur yang sedang terhimpit dinding berduri.
"Ada apa, Ka?" tanyaku hati-hati. Lambungku terasa seperti sedang diremas.
Arka berjalan pelan ke meja bar. Ia tidak menatap mataku, melainkan menatap ujung sepatunya sendiri. "Nja... gue... gue harus pergi sekarang."
"Ke mana? Ke kantor pusat?"
Arka menggeleng pelan. Ia akhirnya mengangkat wajah, menatapku dengan sorot mata yang penuh dengan rasa bersalah yang luar biasa besar.
"Gue harus ke bandara Terminal 3. Clara pulang dari London pagi ini," suara Arka nyaris seperti bisikan yang tertiup angin, tapi efeknya di telingaku menyerupai bunyi ledakan bom.
"Clara?" aku mengernyit bingung. Nama itu terdengar asing. "Siapa Clara?"
Arka memejamkan mata sesaat. "Clara Beatrice Wibowo. Dia... dia anak dari pemegang saham terbesar Cipta Megah, partner bisnis bokap gue." Arka menjeda kalimatnya, menarik napas seolah kehabisan oksigen. "...dan dia adalah perempuan yang udah dijodohin sama gue sejak tiga tahun lalu. Calon tunangan gue."
Deg.
Duniaku mendadak senyap. Udara di dalam kedai ini seolah disedot habis menggunakan vakum raksasa.
Calon tunangan. Dua kata itu menghantam ubun-ubunku seperti palu godam. Bibirku yang semalam baru saja ia cium, kini terasa kelu dan kebas. Rasa manis dari cokelat dan cinnamon itu lenyap tanpa sisa, digantikan oleh rasa pahit empedu yang naik hingga ke pangkal tenggorokan.
"T-tunangan?" suaraku mencicit, sangat menyedihkan.
"Nja, dengerin gue," Arka panik. Ia mencoba meraih tanganku di atas meja, tapi aku refleks menarik tanganku mundur. "Itu cuma perjodohan bisnis kolot bokap gue. Gue sama sekali nggak ada perasaan apa-apa sama dia. Hubungan kami murni cuma transaksional buat nyatuin dua perusahaan."
"Transaksional atau bukan, lo udah punya seseorang yang nungguin lo, Arka," desisku. Mataku memanas, tapi aku menggigit bagian dalam pipiku sekuat tenaga agar air mata sialan ini tidak jatuh. "Dan lo baru ngasih tahu gue hari ini?! Setelah... setelah apa yang terjadi kemarin?!"
"Gue mau kasih tahu lo dari lama, Nja, tapi situasinya nggak pernah pas! Gue kira Clara bakal menetap di London," bela Arka dengan wajah putus asa. "Bokap gue ngancem. Kalau gue nggak jemput Clara hari ini di bandara dan bersikap manis di depan dia... bokap bakal cabut semua kesepakatan perlindungan kedai ini. Dia bakal kirim ekskavator siang ini juga."
Aku terpaku. Aku menatap pria di depanku ini dengan perasaan yang hancur lebur.
Dia disandera. Kami berdua disandera oleh kekuasaan ayahnya. Dan kenyataan terburuknya adalah: aku hanyalah sebuah rahasia, sebuah pelarian, sebuah warung kopi reot yang harus ia lindungi dengan cara berpura-pura menjadi pangeran bagi perempuan lain.
Aku mundur satu langkah, menegakkan bahuku. Aku memasang topeng paling keras yang kumiliki. "Kalau gitu... lo pergi aja, Ka. Jemput dia. Jangan sampai kedai gue beneran hancur gara-gara lo telat ke bandara."
"Senja, please..."
"Pergi, Arka!" suaraku sedikit meninggi, tidak bisa menyembunyikan getarannya lagi. "Tamu gue bentar lagi dateng."
Arka menatapku dengan raut wajah hancur. Ia ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi ia tahu waktunya sudah habis. Ia mengepalkan tangannya di atas meja, lalu membalikkan badan dengan kasar dan berjalan keluar dari kedai.
Begitu pintu kaca tertutup, kakiku seketika kehilangan tenaganya. Aku merosot duduk di lantai di balik meja bar, menutupi wajahku dengan kedua tangan. Aku bodoh. Aku benar-benar bodoh karena sempat berpikir bahwa cerita dongeng bisa terjadi di dunia nyata.
Satu jam kemudian, Nisa, karyawanku, masuk ke kedai dengan napas ngos-ngosan sambil memegang ponselnya.
"Mbak Senja! Mbak harus lihat ini!" seru Nisa panik, ia berlari ke balik bar dan menyodorkan layar ponselnya ke depan wajahku.
Itu adalah layar aplikasi Instagram. Sebuah akun gosip sosialita kelas atas baru saja mengunggah foto paparazzi.
Di foto itu, terlihat lobi VIP bandara yang terang benderang. Seorang perempuan muda yang luar biasa cantik dan elegan berdiri di sana. Ia mengenakan trench coat Burberry yang harganya mungkin bisa untuk menyewa kedaiku selama lima tahun, kacamata hitam desainer, dan koper Rimowa edisi terbatas. Di sampingnya, berdiri Arka.
Di foto itu, Arka sedang membantu mengambilkan koper perempuan tersebut. Dan perempuan itu Clara tampak tersenyum anggun sambil menyelipkan tangannya dengan sangat mesra ke lengan Arka.
Caption di bawah foto itu seolah menaburkan garam di atas luka terbuka di dadaku:
"The Royal Couple of Property is Back! Pewaris Cipta Megah, Arka Danadyaksa, menjemput sang calon ratu, Clara Beatrice Wibowo, yang baru saja kembali dari London. Bau-baunya, pengumuman pertunangan dan mega-merger dua raksasa bisnis ini akan segera digelar dalam waktu dekat! Who's excited?!"
Aku menatap layar ponsel itu dengan pandangan kabur karena air mata yang akhirnya menetes jatuh.
Aku mengalihkan pandanganku pada bayanganku sendiri di kaca mesin espresso yang gelap. Aku memakai celemek denim yang sedikit pudar, kaos katun murah, dan rambut yang diikat seadanya karena gerah.
Dunia kami memang tidak pernah selevel. Clara Beatrice tiba di Jakarta dengan jejak sepatu hak tinggi yang langsung menghantam telak jantungku. Sang putri mahkota telah kembali untuk menuntut kerajaannya, dan juga... rajanya.
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍