Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Sejak malam itu, semuanya berubah.
Sari harus dirawat di rumah skit dan dinyatakan koma.
Kayla dan Marvin tidak memiliki tujuan. Bahkan mereka di bebankan pembayaran rumah sakit karena operasi ibunya yang tidak ditanggung oleh jaminan kesehatan. Terlebih mereka lebih sering melakukan pengobatan langsung ke dokter praktik.
Pada akhirnya mereka tinggal di sebuah mess tempat Marvin bekerja. Marvin dan Kayla tidak melanjutkan sekolah mereka. Setiap hari mereka bekerja keras untuk membayar pengobatan ibunya. Setiap hari bola yang melihat kakaknya berlatih bela diri dengan memukul samsak yang ada di tempat mereka bekerja.
Hingga suatu hari, tiba-tiba kakaknya membawa Kayla ke sebuah panti asuhan.
"Kayla ingat, lo nggak punya kakak, nggak punya ibu dan nggak punya ayah. Lo nggak punya keluarga."
"Kenapa harus gitu, kak? Gue mau tinggal bareng lu aja, jangan buang gue ke panti asuhan." Kayla menangis kembali merengek dan menggenggam lengan kakaknya dengan erat.
"Sebenarnya aku juga terpaksa ngelakuin ini. Tapi kita berdua gak punya apa-apa, kalau begini terus baik lho gue bakat ibu akan mati. Gue harus ngelakuin sesuatu."
"Kita lakuin apa? Gue ikut!"
"Kayla!"
Kayla terdiam ketika Marvin berteriak padanya, kegiatan kejut Karena untuk pertama kalinya kakaknya itu berteriak padanya. Katanya pun mulai berkaca-kaca.
Marvin menghela napas." Ingat ya Kayla. Jangan pernah kasih tahu siapapun kalau lu punya gue dan ibu. Anggap aja nggak hidup sendiri di dunia ini."
Kayla tidak menjawab, masih terisak dalam tangisannya."
"Kayla maafin gue. Kalau gue nggak balik-" suaranya tercekat, Marvin seperti sedang menahan sesuatu." Harus kuat Kayla, demi gue dan demi ibu."
"Sialan!" Kayla berteriak lalu mundur beberapa langkah.
"Lu pikir mudah, hah?! Seenaknya menyuruh Gue tetap kuat, sedangkan lo satu-satunya orangnya gue punya malah ninggalin gue sendirian! Lo ninggalin gue!!" Teriak Kayla frustasi. "Terus lo minta gue buat bertahan?"
Marvin berjalan dan memeluk tubuh adiknya erat." Maafin gue ya, gue akan berusaha buat temuin lo lagi setelah ini. Tolong bertahan, gue mohon bertahan."
Kayla membalas pelukan kakaknya dengan sangat erat. Air matanya terus mengalir seakan tidak mau berhenti, menggambarkan betapa sedihnya perasaan gadis itu saat ini.
"Jaga diri lo baik-baik ya, gue janji bakal kembali buat lo. Lo harus tetap bahagia jangan khawatirin gue ataupun ibu."Marvin tersenyum lalu mengelus kepala adiknya dengan perlahan.
Pada akhirnya Kayla hanya bisa mengganggu. Dirinya sama sekali tidak mengerti jalan pikir kakaknya itu. Tapi ia tahu, Marvin pasti sudah memikirkan semua ini dengan baik.
Marvin dan Kayla kemudian mendekati bangunan panti asuhan tersebut dan mengetuk pintunya. Tak lama keluarlah seorang wanita dewasa yang terlihat sangat keibuan.
"Cari siapa ya?"tanya wanita itu begitu melihat Kayla dan Marvin.
"Selamat sore Tante, maaf mengganggu saya tadi menemukan dia sendirian di sana." Ucap Marvin dengan sopan sambari menunjuk ke arah yang dimaksud.
"Tadi sempat saya tanya, katanya keluarganya sudah meninggal. Dia juga tidak punya kerabat lain dan akhirnya saya bawa dia ke sini."
Kayla mencengkram erat roknya, merasa gugup dengan kebohongan yang dilontarkan oleh kakaknya itu.
"Benarkah nak? Kamu sendirian dan gak punya siapa-siapa?"tanya wanita itu udah punya raut wajah.
"Iya Bu, Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Saya mohon terima saya di sini, Bu." Ucapkanlah lirik berusaha untuk terlihat sedih berharap wanita itu mau menerimanya.
"Baiklah kalau begitu kamu masuk dulu, kita bicara di dalam saja. Dan kamu-"mata wanita itu kemudian menatap ke arah Marvin.
"Oh, Saya hanya orang asing yang kebetulan lewat Bu. Kalau begitu saya permisi ya."ucap Marvin dengan sopan kemudian pergi.
Saat itu, Kayla benar-benar melihat Alvin untuk yang terakhir kalinya. Bahkan ketika Kayla mendatangi rumah sakit tempat di mana ibunya dirawat, ia tidak menemukan siapapun. Baik kakaknya maupun ibunya benar-benar menghilang.
...
Dua tahun kemudian.
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba kakaknya kembali datang menghampirinya. Kayla merasa seperti berada di dalam mimpi, perawakan kakaknya saat itu terlihat lebih tinggi dengan postur tubuh yang terlihat lebih dewasa dari terakhir kali dia melihat kakaknya.
Namun, entah kenapa Kayla merasa sedikit asing. Kakaknya yang dulu sangat hangat, kini terasa lebih dingin dari sebelumnya. Marvin berubah menjadi sosok yang dingin, jarang tersenyum maupun bicara. Dia akan mengeluarkan suara jika memang diperlukan saja.
Setiap kali Kayla bertanya ke mana saja kakaknya itu selama ini. Laki-laki itu tidak pernah mau menjawab pertanyaannya. Kemarin masih menyuruh Kayla bersikap seperti mereka tidak saling mengenal, meski begitu setiap bulannya Marvin akan mengirim Kayla uang bulanan.
Saat ini bahkan ibunya telah dirawat dengan baik di sebuah rumah sakit. Entah bagaimana caranya Marvin bisa mendapatkan uang dan memenuhi segala kebutuhan yang dulunya menjadi masalah besar bagi mereka berdua.
Maafin pun hidup dengan bekerja setiap hari, sambil melanjutkan sekolah. Karena Kayla melanjutkan sekolahnya terlebih dahulu dengan bantuan beasiswa yang diperolehnya, selain itu dia juga menjadi siswa akselerasi dan mereka akhirnya menjadi satu angkatan. Hingga saat ini kehidupan mereka terus berlanjut seperti biasa.
....
Tamara menangis tersedu-sedu setelah mendengar cerita Kayla. Sejujurnya, ia merasa sulit mempercayai bahwa cerita seperti yang sering muncul di film-film atau novel bisa benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Meskipun begitu, ia memilih untuk tetap percaya Karena cerita tersebut datang dari mulut kaila sendiri.
"Terus ayah lu gimana?"tanya Tamara penasaran.
Kayla menggelengkan kepalanya, sejujurnya Ia juga tidak tahu dan tidak ingin tahu mengenai ayahnya. Ia sudah terlalu membenci orang itu.
"Gue nggak tahu kalau selama ini lo adalah saudara kandung Marvin. Gue bahkan pernah juru-jodohin kalian berdua karena tahu Marvin sering mampir ke panti asuhan dari dulu."Tamara masih saja menangis." Gue,,gue nggak nyangka.."
Sarah mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, seperti menahan sesuatu dalam hatinya.
"Makasih ya kalian udah mau dengerin cerita gue. Maaf kalau selama ini gue nyembunyiin ini dari kalian."
"Gak apa-apa kok, Kay. Gue harusnya berterima kasih karena Allah mau berbagi cerita sama kita. Gue juga minta maaf ya, karena gue malah jadi beban dan nambahin masalah dalam hidup Lo "ucap Tamara merasa bersalah.
"Maafin gue juga ya, Kay. Gue bahkan pernah -"
"Udah ya nggak apa-apa. Masa lalu biar, sekarang gue senang karena punya kalian."
Kayla kemudian memeluk kedua temannya itu." Makasih ya."
Setelah itu, Tamara dan Sarah pamit pulang. Mereka cukup lama berbincang hingga tak terasa jika sudah hampir tengah malam.
Salah ingin mengantar Tamara pulang, namun gadis itu menolak karena arah pulang Sarah dan Tamara tidak searah. Tamara pun menghubungi sepupunya untuk menjemputnya di rumah sakit.
"Gue duluan ya, lo hati-hati di jalan,"ucap Tamara kalau dia naik ke atas motor milik sepupunya.
Setelah Tamara pergi, Sarah berjalan masuk ke dalam mobilnya.
Sarah terdiam sesaat. Ia mengingat kembali apa yang diceritakan Kayla tadi.
Air mata yang telah Ia tahan sedari tadi akhirnya tak bisa lagi ia. Tetesan air dari matanya semakin deras, bahkan suara isakannya pun mulai terdengar.
Dasar lo cewek miskin, jauh-jauh deh dari Marvin.
Dasar lu nggak tau diri, cewek murahan!!
Heh, bisa nggak sih kalau lu mati aja? Muak banget gue lihat wajah lo.
Kalau lo nggak jauhin Marvin, gue kan pastiin hidup lu menderita!
Lo kenapa sih Vin lebih milih cewek miskin itu daripada gue?
Vin, gue bisa kasih apapun yang lo mau, gue punya banyak uang. Kenapa sih lo selalu nurut gue dan milih cewek miskin itu?
Vin, gue cinta sama lo. Bisa nggak sih lu lihat perjuangan gue?
Lu nggak penasaran gimana rasanya jadi orang kaya? Kalau lo penasaran tinggal jadian sama gue, gue akan kasih apapun yang lo mau.
Sarah bahkan membenturkan kepalanya pada setir mobil mengingat banyak sekali kata-kata buruk yang ia lontarkan pada morfem dan Kayla.
Betapa jahat dan bodohnya salah saat itu.
Ia tidak tahu apa-apa mengenai kehidupan Marvin dan Kayla selama ini. Dia selalu mengaku bahwa dia mencintai Marvin, tapi pada kenyataannya yang salah lakukan selama ini hanyalah menyakiti laki-laki itu. Bagaimana Marvin tidak marah ketika adik yang ia sayangi dan ia lindungi malah disakiti oleh orang yang mengaku cinta padanya?
Laki-laki itu bahkan dikhianati oleh ayah kandungnya sendiri. Bahkan menyaksikan ibunya dibunuh di depan matanya.
Entah kenapa saat ini rasanya seorang ingin bertemu dengan laki-laki itu. Ia benar-benar merasa bersalah dan ingin meminta maaf kepada laki-laki itu.