Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.
Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.
bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Malam di kediaman keluarga Narendra terasa sangat sunyi, hanya suara jangkrik dari taman luas di luar yang sesekali terdengar. Di dalam kamar masa kecilnya, Davino sedang duduk di tepi ranjang. Di depannya, Alisa berbaring tengkurap dengan bantal yang menyangga dadanya. Suasana tegang setelah keributan di taman tadi perlahan mencair, digantikan oleh kecanggungan yang sangat pekat.
Davino mengeluarkan balsem hangat yang tadi ia beli. Tangannya yang biasanya menggenggam senjata dengan kokoh, kini terasa sedikit ragu saat menyentuh kulit pundak Alisa yang halus.
"Mas... pelan-pelan ya," gumam Alisa, suaranya teredam bantal. Tidak ada jawaban dari Vino.
Dan ini untuk pertama kalinya ia melihat punggung istrinya yang putih dan mulus itu. Karena tadi ia sudah berjanji untuk memijat Alisa, ia pun dengan kesadaran penuh melakukan hal tersebut
Ia mulai memijat punggung Alisa dengan gerakan memutar yang lembut. Aroma balsem bercampur dengan aroma tubuh Alisa yang khas—wangi lavender dan sabun bayi—mulai memenuhi indra penciumannya. Davino bisa merasakan otot-otot Alisa yang semula tegang perlahan mulai rileks di bawah tekanannya.
Menit demi menit berlalu. Keheningan di kamar itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Davino memperhatikan bagaimana helai rambut Alisa jatuh di tengkuknya yang jenjang. Setiap tarikan napas Alisa, setiap erangan kecil karena rasa nyaman, seolah menarik Davino ke dalam pusaran emosi yang sulit ia kendalikan.
Davino berhenti memijat sejenak, tangannya masih bertumpu di pinggang Alisa. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ia menatap wajah Alisa dari samping—mata wanita itu terpejam, bulu matanya yang lentik tampak basah karena sisa tangis tadi.
Tanpa sadar, tangan Davino bergerak meraba perlahan ke arah sisi wajah Alisa, menyelipkan helaian rambut ke belakang telinganya. Alisa membuka matanya perlahan, menatap Davino dengan pandangan yang sayu dan penuh kerentanan.
"Alisa..." bisik Davino, suaranya serak dan dalam.
Alisa tidak bergerak menjauh. Ia justru terpaku pada tatapan mata Davino yang malam ini tidak lagi tajam seperti elang, melainkan lembut dan penuh dengan sesuatu yang selama ini ia sembunyikan. Keberanian yang selama ini terkunci di balik seragam taktisnya tiba-tiba meledak.
Davino merunduk, mendekatkan wajahnya. Alisa bisa merasakan deru napas Davino yang hangat di kulitnya. Detik berikutnya, Davino menempelkan bibirnya di bibir Alisa.
Ini adalah ciuman pertama mereka yang sesungguhnya. Bukan kecupan formal di kening, bukan akting untuk orang lain. Ini adalah sentuhan penuh keinginan yang jujur. Alisa memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi yang baru pertama kali ia rasakan sehebat ini. Davino semakin berani, tangannya mulai meraba pinggang dan naik ke arah punggung Alisa, menarik wanita itu agar lebih dekat.
Napas mereka berdua memburu. Suasana di kamar itu menjadi sangat panas. Davino mulai mencium leher Alisa, tangannya terus menjelajah dengan penuh damba. Alisa mendesah kecil, tangannya meremas seprai ranjang dengan kuat. Namun, tepat saat Davino hendak melangkah lebih jauh, sebuah kesadaran menghantam Alisa.
"Mas... Mas, tunggu," Alisa menahan dada Davino dengan tangan gemetar.
Davino berhenti, napasnya tersengal, menatap Alisa dengan tatapan yang masih penuh kabut gairah. "Ada apa?"
Alisa menggigit bibirnya, wajahnya merah padam. "Aku... aku sedang haid, Mas. Hari pertama."
Kalimat itu seketika mendinginkan suasana. Davino terdiam, lalu perlahan menjauhkan tubuhnya. Ia duduk tegak di tepi ranjang, menutup wajahnya dengan kedua tangan, mencoba mengatur detak jantungnya yang menggila.
"Maaf... maafkan aku, Alisa. Aku terbawa suasana," gumam Davino dengan nada menyesal.
Alisa duduk, merapikan bajunya yang sedikit berantakan. Ia menyentuh lengan Davino pelan. "Tidak apa-apa, Mas. Aku... aku juga terbawa."
Keheningan yang terjadi kali ini berbeda. Tidak ada lagi permusuhan. Davino menoleh, menatap Alisa lurus-lurus. "Aku harus jujur padamu. Foto-foto tadi... itu memang bagian dari hidupku yang sulit kulepaskan. Tapi sejak kamu datang, sejak kamu mengomeliku di rumah, sejak kamu menungguku pulang di balkon... perlahan-lahan tempat itu mulai terisi olehmu. Aku tidak tahu sejak kapan, tapi aku takut kehilanganmu lebih dari aku takut gagal dalam misi."
Alisa menatap Davino dengan mata berkaca-kaca. "Aku juga, Mas. Aku benci diriku sendiri karena merindukanmu saat Mas tidak ada. Aku cemburu melihat foto itu karena aku sadar... aku tidak ingin kamu melihat wanita lain selain aku."
Pengakuan itu membuat mereka berdua tersenyum tipis. Sebuah beban besar seolah terangkat dari pundak mereka. Malam itu, mereka tidak melanjutkan hubungan ke tahap fisik yang lebih jauh, namun hati mereka telah menyatu lebih dari sebelumnya.
Keesokan paginya, Alisa turun ke dapur untuk membantu menyiapkan sarapan. Ia mendapati Mama Sari sedang menyeduh teh melati.
"Pagi, Alisa. Bagaimana tidurmu? Kamar itu tidak terlalu dingin?" tanya Mama Sari dengan senyum keibuan yang teduh.
"Pagi, Ma. Nyenyak sekali," jawab Alisa, teringat kejadian semalam yang membuat wajahnya kembali merona.
Mama Sari mengajak Alisa duduk di meja makan kecil di sudut dapur. "Davino sudah cerita soal foto-foto itu?"
Alisa tertegun. "Mama tahu?"
Mama Sari mengangguk pelan. "Mama yang menyuruhnya menyimpan foto-foto Sarah di laci itu dulu. Mama pikir, dia butuh waktu untuk berdamai. Sarah adalah wanita yang baik, dia tunangan Davino yang meninggal dalam sebuah kecelakaan saat sedang bertugas di Papua dengan Davino tiga tahun lalu. Davino menyalahkan dirinya sendiri karena lalai menjaganya."
Alisa mendengarkan dengan seksama, hatinya merasa iba.
"Sejak saat itu, Davino berubah jadi robot. Dia tidak pernah membawa wanita manapun ke rumah ini, sampai akhirnya dia bertemu kamu melalui wasiat Ayahmu," lanjut Mama Sari. "Tapi tahu tidak, Alisa? Kemarin saat kalian datang, Mama melihat Davino tersenyum saat menatapmu dari kejauhan. Itu senyum yang tidak pernah Mama lihat selama tiga tahun terakhir. Kamu adalah obatnya, Alisa. Jangan menyerah padanya hanya karena masa lalunya yang kelam."
Alisa memegang tangan Mama Sari. "Terima kasih sudah bercerita, Ma. Alisa sempat salah paham kemarin."
"Davino itu seperti keramik yang retak, Alisa. Dia terlihat kuat dari luar, tapi di dalam dia butuh perekat. Dan Mama rasa, perekat itu adalah kamu," Mama Sari mengelus tangan menantunya itu dengan sayang.
Pagi itu, Alisa melihat Davino turun dari tangga, mengenakan kaos santai dan celana pendek. Tidak ada lagi aura dingin yang membekukan. Saat mata mereka bertemu, Davino memberikan senyuman tipis—senyuman yang hanya diperuntukkan bagi Alisa.
Mereka memang memulai semuanya dengan kontrak, namun di rumah keluarga Narendra ini, mereka menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diatur oleh perjanjian tertulis: rasa cinta yang mulai tumbuh di antara sisa-sisa luka masa lalu.
"Siap untuk pulang ke rumah kita?" tanya Davino saat mereka berpamitan dengan Papa Hendra dan Mama Sari.
Rumah kita. Kata-kata itu terdengar sangat indah di telinga Alisa.
"Siap, Mas," jawab Alisa mantap.
Mobil pun melaju meninggalkan Menteng. Maura melambai dari teras, sementara Alisa menyandarkan kepalanya di bahu Davino sepanjang perjalanan. Kali ini, ia tidak lagi merasa hampa. Karena ia tahu, di manapun Davino berada, di situlah rumahnya yang sesungguhnya.
Bersambung