NovelToon NovelToon
Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Marcel ( rxel )

Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
​Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1: Sisa-Sisa Harapan di Balik Salju Azure

Salju turun dengan kejam di Puncak Azure, seolah-olah langit sendiri ingin mengubur Sekte Pedang Azure di bawah selimut putih yang mematikan. Angin bersiul tajam di antara celah-celah bangunan megah yang terbuat dari batu giok dan kayu cendana, namun bagi Li Chen, keindahan arsitektur itu hanyalah pengingat akan jarak yang tak terjemah antara dirinya dan dunia para dewa.

​Di halaman belakang yang kumuh, jauh dari aula pelatihan yang hangat, seorang pemuda berusia tujuh belas tahun berdiri tegak dengan kapak berkarat di tangannya. Napasnya membentuk uap putih yang tebal di udara dingin. Pakaian tipisnya yang berwarna abu-abu—seragam pelayan tingkat rendah—sudah lama basah oleh keringat dan salju yang mencair, menempel ketat pada tubuhnya yang kurus namun kencang karena kerja keras bertahun-tahun.

​Satu... dua... seratus...

​Li Chen menghitung setiap ayunan kapaknya dalam hati. Setiap kali logam tumpul itu menghantam kayu pinus yang keras, rasa sakit menjalar dari telapak tangannya yang kapalan hingga ke bahunya. Namun, ia tidak berhenti. Di dunia ini, mereka yang tidak memiliki kekuatan hanya punya satu pilihan: menjadi lebih keras dari nasib mereka sendiri.

​"Li Chen! Masih bermain dengan kayu?" sebuah suara melengking memecah kesunyian salju.

​Li Chen menghentikan gerakannya. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Wang Hu, seorang murid luar yang baru saja menembus Tingkat Pembersihan Sumsum Tahap Kedua, berjalan mendekat dengan langkah angkuh. Di belakangnya, dua pengikut setianya tertawa kecil, memandang Li Chen seolah-olah ia adalah serangga yang menarik untuk diinjak.

​"Pelayan sepertimu seharusnya tahu diri," lanjut Wang Hu, menendang tumpukan kayu yang sudah dibelah Li Chen hingga berantakan. "Hari ini adalah ujian seleksi murid luar. Semua orang sedang bersiap di lapangan utama, tapi kau? Kau bahkan tidak bisa merasakan aliran Qi di udara. Kau hanyalah noda di nama besar Sekte Azure."

​Li Chen mengepalkan tangannya pada gagang kapak. Matanya tertuju pada tanah yang tertutup salju. "Tugas saya adalah menyiapkan kayu bakar untuk dapur alkimia, Kakak Senior Wang. Saya tidak punya urusan dengan ujian seleksi."

​"Oh? Begitu sopan?" Wang Hu menyeringai, matanya berkilat jahat. "Tapi aku merasa tersinggung melihat wajah murammu itu. Bagaimana kalau kau membantuku berlatih? Anggap saja sebagai kontribusimu sebelum kau diusir dari sekte bulan depan karena gagal mencapai Tingkat Pengumpulan Qi di usia delapan belas tahun."

​Tanpa menunggu jawaban, Wang Hu menggerakkan tangannya. Seberkas cahaya biru redup terpancar dari telapak tangannya—itu adalah Teknik Telapak Azure, serangan dasar yang menggunakan Qi untuk meningkatkan daya hancur fisik.

​BUM!

​Li Chen mencoba menghindar, tetapi tubuhnya yang tanpa kultivasi terlalu lambat. Pukulan itu mendarat tepat di dadanya, melemparkannya ke tumpukan salju yang membeku. Rasa sakit yang tajam seperti ditusuk ribuan jarum membakar paru-parunya. Ia terbatuk, memuntahkan sedikit darah yang langsung membeku di atas salju putih.

​"Lemah. Benar-benar sampah," ludah Wang Hu. Ia mendekat, hendak mendaratkan tendangan ke perut Li Chen, ketika sebuah lonceng besar bergema dari puncak tertinggi gunung.

​DONG... DONG... DONG...

​"Sial, ujian dimulai," gerutu Wang Hu. Ia menatap Li Chen dengan jijik untuk terakhir kalinya. "Berdoalah agar kau mati kedinginan di sini, Li Chen. Setidaknya itu lebih terhormat daripada hidup sebagai aib."

​Setelah Wang Hu dan rombongannya pergi, keheningan kembali menyelimuti halaman belakang. Li Chen berbaring di salju, menatap langit abu-abu yang seolah menekan jiwanya. Rasa sakit di dadanya perlahan mereda, namun penghinaan itu membakar lebih panas dari api mana pun.

​Kenapa? pikirnya pahit. Kenapa takdir memberiku kemauan, tapi mencabut jalanku?

​Ia dilahirkan di sebuah desa kecil yang hancur oleh serangan binatang buas. Orang tuanya tewas melindunginya, dan satu-satunya harta yang tersisa adalah sebuah liontin batu hitam berbentuk segitiga yang tergantung di lehernya. Sejak kecil, ia diberitahu bahwa meridiannya—saluran energi di dalam tubuhnya—tersumbat secara permanen. Ia adalah "Gelas Retak", sebutan bagi mereka yang tidak bisa menampung Qi. Sebanyak apa pun ia berlatih, energi alam yang ia hirup akan selalu bocor keluar.

​Li Chen meraba dadanya, merasakan bentuk keras dari liontin hitam di balik bajunya. Anehnya, tepat di mana pukulan Wang Hu mendarat, liontin itu terasa sangat panas.

​Rasa panas itu mulai menyebar. Awalnya seperti hangatnya sinar matahari, namun dalam hitungan detik berubah menjadi panas yang membara, seolah-olah ada logam cair yang dituangkan langsung ke dalam pembuluh darahnya.

​"Ugh... Argh!" Li Chen mengerang, tubuhnya melengkung di atas salju.

​Tiba-tiba, penglihatannya menjadi gelap. Dunia di sekitarnya menghilang. Ia tidak lagi berada di halaman belakang Sekte Azure yang dingin. Ia berdiri di tengah ruang hampa yang tak terbatas, di mana ribuan pedang raksasa tertancap di tanah yang terbuat dari abu perak. Di langit yang hitam pekat, bintang-bintang tidak bersinar dengan cahaya putih, melainkan dengan aura pedang yang tajam.

​Di tengah-tengah hamparan pedang itu, duduk sesosok bayangan yang sangat besar. Sosok itu mengenakan jubah perang kuno yang sudah robek-robek, namun auranya membuat seluruh dimensi itu bergetar. Wajahnya tidak terlihat, tertutup oleh kabut kegelapan, tetapi sepasang matanya bersinar merah seperti darah yang mendidih.

​"Sepuluh ribu tahun... akhirnya, seseorang dengan 'Tubuh Penentang Langit' datang."

​Suara itu tidak terdengar oleh telinga, melainkan bergema langsung di dalam jiwa Li Chen, hampir menghancurkan kesadarannya.

​"Siapa... siapa kau?" bisik Li Chen, gemetar ketakutan namun juga merasakan dorongan aneh untuk tidak berpaling.

​"Aku adalah sisa dari mereka yang meludah ke wajah Langit. Aku adalah debu dari Kaisar Pedang yang dikhianati oleh hukum semesta," bayangan itu berdiri. Setiap gerakannya menyebabkan bunyi denting ribuan pedang. "Wahai anak kecil yang malang... kau membenci kelemahanmu? Kau membenci ketidakadilan takdir yang mengunci meridianmu?"

​"Aku membencinya lebih dari apa pun," jawab Li Chen, rasa takutnya perlahan digantikan oleh kemarahan yang sudah ia pendam selama bertahun-tahun.

​"Bagus. Langit mengunci jalanmu, maka kau harus membangun jalanmu sendiri di atas reruntuhan surga. Ambil ini... dan jadilah pedang yang akan membelah tirai kebohongan dunia ini."

​Sosok itu mengangkat tangannya, dan sebuah cahaya hitam pekat melesat menuju dahi Li Chen.

​BOOM!

​Informasi yang sangat besar meledak di dalam otaknya. Simbol-simbol kuno, teknik pernapasan yang menyimpang dari segala logika kultivasi, dan bayangan sebuah teknik bernama: Seni Penelan Bintang (Star-Devouring Art).

​Di dunia kultivasi biasa, seorang kultivator menyerap Qi dari alam untuk memperkuat meridian. Namun, Seni Penelan Bintang tidak membutuhkan meridian yang utuh. Teknik ini mengubah seluruh tubuh penggunanya menjadi lubang hitam yang haus. Ia tidak hanya menyerap Qi, ia bisa memakan energi dari senjata yang rusak, emosi negatif, bahkan kutukan yang mengalir di darahnya sendiri.

​Li Chen terbangun dengan napas memburu. Ia masih berada di salju, namun salju di sekitarnya telah mencair dalam radius tiga meter karena panas yang dipancarkan tubuhnya.

​Ia merasa berbeda. Rasa sakit dari pukulan Wang Hu hilang sepenuhnya. Alih-alih merasa kosong, ia merasakan pusaran energi kecil yang mulai terbentuk di perut bawahnya (Dantian), namun pusaran itu berwarna hitam pekat, berputar berlawanan arah jarum jam dengan rakus.

​Ia bangkit berdiri, matanya tidak lagi kusam. Ia melihat kapak berkarat di dekatnya. Tanpa sadar, ia menyentuh logam kapak itu dan mengaktifkan teknik barunya.

​Dalam sekejap, warna perak pada kapak itu memudar, logamnya menjadi rapuh dan berubah menjadi debu dalam hitungan detik. Sebagai gantinya, Li Chen merasakan aliran energi murni—meskipun kecil—mengalir masuk ke dalam telapak tangannya dan menyatu dengan Dantian hitamnya.

​"Ini..." Li Chen menatap tangannya yang gemetar. "Aku benar-benar bisa berkultivasi."

​Ia menatap ke arah lapangan utama sekte, di mana suara sorak-sorai ujian seleksi terdengar samar. Di sana, Wang Hu mungkin sedang memamerkan kekuatannya. Di sana, para tetua sekte mungkin sedang memuji para jenius yang memiliki meridian sempurna.

​Li Chen mengepalkan tinjunya. Sebuah senyum dingin muncul di wajahnya yang biasanya pucat.

​"Kalian menyebutku sampah karena aku tidak bisa mengikuti aturan kalian," gumamnya, suaranya sedingin angin musim dingin yang menerjang puncak gunung. "Mulai hari ini, aku tidak akan mengikuti aturan siapa pun. Jika Langit tidak memberiku jalan, maka aku akan menjadi akhir dari Langit itu sendiri."

​Ia memungut sisa kayu yang berserakan, bukan untuk bekerja, melainkan sebagai bahan bakar pertama bagi api yang baru saja menyala di dalam dirinya. Perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah, dan langkah pertama Li Chen adalah memastikan bahwa bulan depan, saat hari pengusirannya tiba, dialah yang akan menentukan siapa yang pantas tinggal di gunung ini.

​Malam itu, di bawah cahaya bulan yang dingin, seorang pelayan yang terlupakan mulai menelan kegelapan untuk menjadi cahaya yang paling menyilaukan.

1
Inyos Sape Sengga
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!