Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.
Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.
Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.
Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 30
Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela kaca besar di ruang kerja Marc yang mewah, memberikan kontras yang tajam dengan tumpukan dokumen yang berserakan di atas meja mahogani miliknya.
Marc duduk dengan santai, menyilangkan kaki sambil menyesap kopi hitam pekatnya.
Di tangannya, selembar kertas laporan baru dari agen *The Nightshade*—yang kini telah dimanipulasi—tergenggam erat.
Mata Marc menyisir baris demi baris kata yang tertulis di sana.
Laporan itu menyebutkan bahwa kemarin sore, Ilwa mengalami serangan mendadak akibat penyakit *Aura-Lock* miliknya yang kambuh setelah mencoba berjalan-jalan di tepi danau.
Seorang tabib dikabarkan datang terburu-buru ke paviliun untuk menstabilkan kondisinya yang kritis.
"Hahaha!" Marc tertawa terbahak-bahak, tawanya menggema di ruangan yang sunyi itu.
Ia meremas kertas laporan tersebut hingga menjadi bola kusut dan membuangnya sembarangan ke lantai, seolah-olah itu adalah sampah yang tak berharga.
"Anak sialan itu... dia benar-benar raga yang rusak. Hanya berjalan ke danau saja sudah membuatnya hampir mati. Sia-sia saja aku merasa waswas sebelumnya."
Senyum kemenangan merekah di wajah Marc. Ketegangan yang sempat menghantui pundaknya selama beberapa hari terakhir kini menguap sepenuhnya.
Baginya, Ilwa bukan lagi ancaman; bocah itu hanyalah kerikil kecil yang akan segera hancur oleh waktu dan penyakitnya sendiri.
"Kepala Pelayan," panggil Marc dengan nada suara yang jauh lebih ringan.
Seorang pria tua dengan seragam hitam rapi melangkah maju dari bayang-bayang pintu, membungkuk dalam. "Saya di sini, Tuan Marc."
"Apakah guru pedang pesanan khusus untuk Leo sudah tiba? Aku tidak ingin putraku membuang-buang waktu sedetik pun," tanya Marc dengan penuh rasa ingin tahu.
"Sudah, Tuan. Beliau adalah mantan instruktur ksatria dari ordo pusat. Saat ini, Tuan Muda Leo sedang berada di arena latihan pribadi, memulai sesi pertamanya," jawab kepala pelayan itu dengan tenang.
Marc mengangguk puas, matanya berkilat penuh ambisi. "Bagus. Sangat bagus. Dengan Ilwa yang sekarat dan Leo yang berlatih di bawah instruktur terbaik, posisi pewaris utama klan Eldersheath sudah terkunci di tanganku. Tidak akan ada yang bisa menghentikan rencanaku sekarang."
---
Sementara itu, suasana di paviliun keluarga cabang terasa jauh lebih tegang dan sunyi.
Di dalam kamar pribadinya yang terkunci rapat, Ilwa duduk dengan tenang di tepi tempat tidur, menatap lurus ke arah jendela. Di hadapannya, Lina berdiri tegak dengan postur kaku.
Ada bekas jahitan tipis yang masih kemerahan di leher Lina, tanda permanen dari pertempuran mereka di tepi danau.
Meskipun lukanya telah diobati, trauma mental akibat sihir *Neural Scolopendra* masih terlihat jelas dari cara Lina menghindari kontak mata langsung dengan Ilwa.
"Apakah surat yang kuberikan semalam sudah sampai ke tangan kurir gagakmu?" tanya Ilwa, suaranya tenang namun memiliki otoritas yang dingin.
"Sudah dikirim, Tuan Muda," jawab Lina singkat, suaranya sedikit serak.
"Laporan tentang kondisi kesehatan Anda yang memburuk dan kedatangan tabib palsu itu... Marc pasti sudah membacanya sekarang."
Ilwa menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan muslihat.
"Bagus. Biarkan paman tercintaku itu berenang dalam rasa aman yang palsu. Semakin dia meremehkanku, semakin bebas aku bergerak di bawah radar pengetahuannya. Laporan palsu adalah senjata yang lebih mematikan daripada belati mana pun jika digunakan dengan tepat."
Ilwa bangkit dari kasurnya, melangkah perlahan mengelilingi Lina yang tetap mematung.
Kehadiran Ilwa sekarang terasa jauh lebih berat bagi Lina; ia tidak lagi melihat anak kecil, melainkan entitas purba yang bisa menghancurkan jiwanya kapan saja.
"Sekarang, mari kita mulai bagian yang lebih menarik," ucap Ilwa, berhenti tepat di depan Lina.
"Kau adalah assassin lapangan dari organisasi yang cukup lama berdiri. Aku yakin kau menyimpan banyak informasi di kepalamu selain sekadar jadwal makan Marc. Beritahu aku segala hal yang kau ketahui dunia luar ini."
Lina menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Apa... apa yang ingin Anda ketahui secara spesifik, Tuan Muda?"
Ilwa menatapnya dengan rasa ingin tahu yang dalam, seolah-olah ia sedang menanyakan sesuatu yang sangat krusial bagi masa depannya.
"Aku tertarik pada satu hal. Selama penyamaranmu dan pencarian informasimu, apakah kau pernah mendengar tentang sebuah gelar atau profesi yang disebut sebagai **Omni-Overlord**? Katakan padaku, di zaman sekarang ini, apa sebenarnya *jobdesk* atau definisi orang-orang tentang sosok itu?"
Lina tertegun mendengar pertanyaan itu. Ia menatap Ilwa dengan bingung.
-----
Cahaya pagi yang masuk dari sela gorden menyinari debu-debu yang menari di antara Ilwa dan Lina.
Suasana kamar itu mendadak menjadi sangat berat, seolah udara enggan berpindah tempat.
Lina menatap Ilwa dengan tatapan yang sulit diartikan; antara tidak percaya, ngeri, dan bingung.
Bagaimana mungkin seseorang yang memiliki potensi sebesar itu—bahkan jika ia belum membangkitkannya sepenuhnya—tidak mengetahui definisi dari beban yang dipikulnya sendiri?
"Kenapa kau malah diam?" desak Ilwa, suaranya merendah, memberikan tekanan mana yang halus namun cukup untuk membuat bulu kuduk Lina berdiri.
"Cepat jawab saja. Apa yang diketahui dunia saat ini tentang *Omni-Overlord*?"
Lina menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya.
Ia berdeham kecil, suaranya terdengar serak saat ia mulai menyusun kata-kata yang selama ini hanya dianggap sebagai dongeng pengantar tidur bagi para ksatria dan penyihir.
"Tuan Muda... *Omni-Overlord* bukan sekadar gelar. Itu adalah anomali. Sebuah penyimpangan dari hukum alam yang membagi bakat manusia ke dalam kotak-kotak sempit,"
Lina memulai, matanya menatap kosong ke arah lantai seolah sedang membaca lembaran sejarah yang tak terlihat.
"Secara teoretis dan menurut catatan kuno yang disimpan oleh organisasi kami, seorang *Omni-Overlord* adalah satu-satunya keberadaan yang mampu menguasai empat disiplin tertinggi atau *Jobdesk* utama sekaligus tanpa mengalami konflik energi di dalam tubuhnya."
Lina melangkah satu langkah lebih dekat, nada bicaranya berubah menjadi sangat serius dan rapi saat ia merinci empat pilar tersebut:
**High Magician (Penyihir Agung):**
"Ini adalah kendali elemen tingkat tinggi di luar tubuh. Jika penyihir biasa hanya mampu memanggil api atau air dengan mantra, seorang *High Magician* mampu memerintah alam. Mereka tidak meminjam kekuatan elemen; mereka adalah tuan dari elemen tersebut.
Jangkauan sihir mereka tidak terbatas pada penglihatan, mampu menghancurkan pasukan dari jarak yang tak terbayangkan dengan manipulasi struktur atom di atmosfer."
**Sword Master (Ahli Pedang Sejati):**
"Berbeda dengan sihir, ini adalah tentang penguatan fisik dan teknik senjata tanpa batas.
Tubuh seorang *Sword Master* adalah senjata itu sendiri.
Mereka mampu memperkuat otot dan tulang hingga sekeras intan, serta memiliki teknik pedang yang mampu membelah dimensi atau ruang hanya dengan satu ayunan tanpa memerlukan setetes pun mana eksternal. Ini adalah puncak dari bela diri murni."
**Grand Sword Magic (Penyatu Pedang dan Sihir):**
"Inilah yang paling langka. *Grand Sword Magic* adalah kemampuan untuk menyatukan elemen ke dalam setiap serangan senjata secara sempurna.
Bukan sekadar pedang yang dilapisi api, melainkan menjadikan pedang itu sebagai media pelepasan sihir.
Setiap tebasan adalah mantra, dan setiap tusukan adalah ledakan energi. Ini adalah kombinasi yang biasanya akan menghancurkan tubuh pengguna biasa karena tabrakan mana internal, namun bagi seorang *Omni-Overlord*, itu adalah hal alami."
**Mana Architect (Arsitek Mana):**
"Dan yang terakhir, yang paling ditakuti... *Mana Architect*.
Ini adalah kemampuan langka untuk memanipulasi struktur mana pada benda mati maupun makhluk hidup. Seorang arsitek mampu melihat 'benang' yang menyusun dunia ini.
Anda bisa merombak sirkuit sihir orang lain, menghancurkan jantung mekanis artefak hanya dengan sentuhan, atau seperti yang Anda lakukan padaku semalam... membangun struktur sihir yang hidup di dalam otak manusia. Anda bisa menciptakan dan menghancurkan bentuk energi apa pun."
---
Lina terdiam sejenak, wajahnya tampak pucat saat ia melanjutkan bagian terakhir dari penjelasannya.
"Namun, Tuan Muda... *Jobdesk* ini dianggap sudah punah. Dalam catatan sejarah benua ini, sosok *Omni-Overlord* terakhir kali muncul sekitar 5000 tahun yang lalu. Setelah kematian sosok legendaris tersebut, dunia tidak pernah lagi melihat seseorang yang mampu menanggung beban empat pilar itu sekaligus. Tubuh manusia sekarang dianggap terlalu lemah untuk menampung volume mana sebesar itu. Itulah sebabnya saat upacara kemarin... ketika hasil itu muncul, tidak ada yang berani mempercayainya. Mereka lebih suka menganggapnya sebagai kesalahan alat atau kutukan."
Ilwa tertegun.
Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur, matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang kosong namun penuh gejolak.
*Lima ribu tahun...* batinnya berbisik.
Di kehidupan sebelumnya, saat ia dikenal sebagai Albus sang penguasa tertinggi, ia sangat bangga dengan kemampuannya. Namun, bahkan di masa jayanya dulu, ia hanya mampu mencapai tahap **Trinity Jobdesk**—tiga disiplin ilmu yang ia kuasai dengan sempurna.
Ia menghabiskan puluhan tahun untuk menyeimbangkan tiga kekuatan itu tanpa membuat tubuhnya meledak.
Namun sekarang, di raga bocah delapan tahun yang dianggap sampah ini, ia justru diberikan kunci untuk membuka empat pintu sekaligus.
Ia bukan lagi sekadar penyihir, ahli pedang, dan penguasa energi; ia sekarang memiliki kemampuan *Mana Architect*, sebuah disiplin ilmu yang bahkan di zamannya dulu dianggap sebagai mitos para dewa.
"Empat sekaligus..." gumam Ilwa, suaranya bergetar antara rasa tidak percaya dan ambisi yang tiba-tiba meluap seperti gunung berapi.
Bersambung.....