Hwang zin bukanlah orang dari era ini,dia lahir di tahun 2028 dan berusia 30 tahun,dia yatim piatu,Dia bekerja keras selama hidupnya.
Dia menjadi koki , petugas pengangkutan barang, bartender,pelayan restoran dan lainnya,dia hidup dengan menghemat banyak uang saat tabungannya mencapai 100 juta dalam 15 tahun hidupnya.
Hwang zin membeli bangunan toko kecil yang lengkap penuh dengan barang-barang grosir dari barang orang tua hingga anak-anak dan makan pokok dan sejenisnya.
dia akan mulai berbisnis tapi siapa kira saat dia dalam perjalan pulang justru mobilnya tertabrak truk dan bangun disini .....bukannya mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terluka
Hwang zin membuka matanya,atap langit-langit ini tak seperti kamarnya.
Bau obat memenuhi udara,dia menggosok hidungnya dan mengerutkan kening,dia mengangkat tangan kanannya yg terdapat perban luka.
Oh... benar' dia terluka.
Hwang zin bangun dan duduk,Pintu terbuka dari luar, pelayan masuk melihat dengan terkejut." Ah kamu sudah bangun....."
" Maaf merepotkan,saya akan kembali..."Hwang zin berdiri dan berpamitan padanya.
Pelayan itu ragu namun mengangguk dan mengantarnya pergi.
Hari masih dingin dan menembus kulit, dia menghembuskan nafasnya,uap terlihat di udara dia tak membuang waktu dan segera pulang ke rumah.
Mantel yg dia kenakan tak bisa menutupi udara dingin, Hwang zin berjalan lebih cepat,saat melewati Kedai dia bertabrakan dengan seseorang.
Hwang zin merasa pijakannya tak tepat,membuat kakinya terpeleset dan jatuh ke samping. Alis nya mengerut.dia segera duduk.
Pelayan segera menahan punggung tuan muda dengan cemas."Hei! ... tuan kamu baik-baik saja...!"
"Oke jangan ribut...!"ucapnya pada pelayan, sebelum Dia berbalik melihat orang yg dia tabrak yg tak segera bangun dari tanah beku.
"Hei aku tak menabrak mu terlalu keras!apa kau berniat menipu...." Ucapnya dengan nada menuduh.
Hwang zin menunduk menyentuh lengannya dan rasa basah ,dia menghela nafas leleh lalu berdiri.
"Darah...!" Teriak panik pelayan saat melihat lengan mantel putih anak itu penuh darah.
Tuan muda itu juga menunduk melihat lengan orang itu diwarnai darah merasa terkejut.
Dia tak menabrak sekeras itu,apa kulit anak ini terbuat dari porselen. Dia baru sadar anak itu lebih tinggi darinya jadi dia mendongak dan tertegun.
Wajah remaja seusianya , dengan mata tajam bibir tipis dan alis yg tampan tanpa ekspresi.Hwang Zin meliriknya sekilas sebelum berjalan pergi.
"......."Tuan muda yg pertama kali diabaikan. Dia segera berbalik kesal melihat anak itu. Dia akan berkata namun menahan nya
"... Apa yg terjadi?"seorang pria muda dengan pakaian putih berjalan ke arah mereka dengan heran.
Pelayan dan tuan muda berbalik ke arahnya.
"Tuan...." Pelayan itu melihatnya Menunduk kepalanya dengan gugup.alis pria itu mengerut melihat reaksinya.
Tuan muda memasang senyum canggung."Bukan apa-apa saudara..."
Namun Pria tak perlu mendengarkan ucapannya sepupunya,dia hanya menoleh dan menatap tajam pada Pelayan kecil itu."Katakan...!"
Wajah ke dua orang memucat.
Lalu pelayan itu mengertakan giginya ,berkata dengan jujur."...Tuan muda menabrak seseorang dan ... seperti orang itu terluka..."
Mendengar nya Pria itu berjalan ke arah sisi jalan menoleh ke kiri lalu ke kanan dan melihat orang yg dimaksud pelayan nya.
Lalu matanya menyipit dan melihat bahwa ada sesuatu di salju.
Dia menunduk untuk melihat lebih jelas salju yg dilewati anak itu merah, tetes san darah mengalir dari jari-jari anik itu dan jatuh ke salju.
Tuan itu mengalihkan pandangannya pada punggung bungkuk sosok itu secara menyeluruh.
Jelas tabrakan tak akan mengakibat darah sebanyak itu,jelas pemuda itu mungkin sudah terluka sebelumnya.
"Saudara ku...." Panggil tuan muda padanya,lalu menoleh ke arah Anak itu pergi merasa cemas.
"....Tidak apa-apa... sepertinya anak ini sudah terluka lebih dulu sebelum kamu menabraknya...." Dia menghibur sepupunya, mendengar itu bukan salahnya, dia bernafas lega.
Lalu pria itu memerintahkan pada pelayan."... ikuti orang itu dan cari tau dimana dia tinggal, sepertinya dorongan Jin Yang memperparah lukanya...."
" Baik...Baik Tuan!" Jawab pelayan itu segera pergi,dan keduanya masuk kembali ke kedai teh.
Hwang zin yg sudah pusing,mengantuk dan lelah dan kedinginan tak menyadari seseorang mengikutinya sampai pulang ke rumah.
Dia membuka pintu dan menutupnya,dengan pakaian kotor dan tak nyaman dia pergi ke kamar mandi dan ber besih.
Dia bahkan tak sepat merebus air panas,jadi dia mandi air dingin di udara yg dingin. Hwang zin menggertakan giginya saat dia buru-buru kembali ke rumahnya.
Dia pergi ke kamar dan menyalakan pemanas,lalu membuka lemari untuk mengambil pakaian ganti,dia memakai celana dan melihat bahwa kain kasanya benar-benar basah.
"......." Hwang zin melihat semua lantai kayu yg dipenuhi tetesan air merah.
Dia duduk dimeja rias membuka laci dan mencari kotak obat,dia membuka kasa luka hati-hati, alisnya mengerut saat melihat di cermin bahwa ada jahitan yg lepas.
Mungkin karena dia jatuh dengan tangan kanan yg menjadi tumpuan, Hwang zin membersihkannya secara hati-hati.
Lalu mengoleskan salep luka dan membungkusnya dengan perban luka tahan air. Dia mengambil kain kasa penuh darah itu ke halaman,dia membuangnya di tong sampah sebelum menutup pintu dapur dan kembali ke kamarnya.
Tak lupa dia mengepel semua lantai yg dia kotori, setelah cuci tangan dia kembali ke kamar, berbaring diatas ranjang hangatnya dan beristirahat.
Hwang zin tidak tau jam berapa dia bangun yg jelas rumahnya sudah gelap gulita,dia menekan lampu dimeja samping.
Satu lampu itu menerangi kamar, Hwang zin duduk dengan kepala terasa pusing,dia menyentuh keningnya.
Demam.
Tapi dia sangat lapar.
Jadi Hwang zin dengan demam tinggi pergi ke dapur untuk masak bubur sederhana. Dia menyalakan semua lampu dirumah sebelum pergi ke dapur.
Dia merebus air dan menyalakan api. Lalu membuka rak atas untuk mengambil oatmeal ,ini lebih cepat dari pada membuat bubur.
Hwang zin duduk didepan kompor sambil menghangatkan tubuh nya. Walaupun kepalanya terasa panas dia merasa tubuhnya sangat dingin.
Air dalam panci meluap,dia segera memadamkan api dan mengambil air dengan sendok kayu besar dan menyiramnya pada mangkuk yg berisi oatmeal.
Setelahnya dia pergi ke meja makan untuk makan. Dia makan dengan mata setengah terpejam, kepalanya benar-benar berat.
Tapi Hwang zin harap dia tak akan pingsan sebelum makan. Karena itu akan merepotkan.
Setelah makan dengan langkah sedikit terhuyung-huyung dia pergi ke kamarnya,menutup pintu.
pukul 7 malam. Kereta kuda berhenti, pintu terbuka dari dalam,kaki jenjang turun dan melihat sekitar, pelayan yg duduk didepan rumah Hwang zin segera menghampirinya.
"Tuan!" Sapanya dengan wajah agak merah karena udara dingin.
"Apa ini rumahnya?"tanyanya, sambil melihat pintu rumah bercat hitam dengan papan nama Marga Hwang.
"Benar'...saya sudah menanyai nama orang itu, bermarga Hwang zin,dia baru pindah 4 hari lalu dan dia tinggal sendirian...."jelasnya saat mencari tau siapa anak itu pada para tetangga.
"....Apa dia masuk begitu saja ke dalam rumah nya?"tanya Jin Yang pada pelayan nya, pelayan itu mengangguk cepat.
"....Pergilah cari dokter untuk datang kesini..."Perintahnya, mungkin anak itu tak memiliki cukup uangnya untuk mengobati lukanya.
Pelayan segera pergi dengan kereta kuda untuk memangil dokter. Jin Yang dan saudaranya berjala ke arah pintu yg tertutup.
Mereka mengetuk beberapa-beberapa kali, namun tak ada suara sama sekali. Keduanya saling melirik bingung.
".......Siapa anda?"teriak Paman Li berjalan ke arah rumah Hwang zin dan melihat orang asing dengan pakaian bagus berdiri didepan pintu rumah Zin.an.
Keduanya menoleh dan memberi salam paman Li saat dia mendekat,Jin Yang menjelaskan."Kami mencari Tuan Hwang...."
"...Zin.an? Apa kamu sudah mengetuk pintu nya?"tanyanya.
Mereka mengangguk,lalu Tuan berkata dengan alis turun." Ya tapi tak dibuka,tapi pelayan ku melihatnya masuk ke dalam...."
Paman Li menjadi cemas,tadi sore dia pergi ke aula Hakim tapi anak itu sudah pulang. Jadi dia bergegas kesini."Aih apa luka anak itu memburuk ...."
"... Dia terluka?" Jin Yang bertanya dengan penasaran.paman Li mengangguk,dan mendesah lelah." Benar, seorang wanita gila melukai tangannya....."
Tuan menurunkan matanya,dilukai oleh Wanita?
"....Apa yg membuat wanita itu bisa melukainya?"Tanya Jin Yang terkejut.
Paman Li menghela nafas merasa kasihan."... Anak itu menolong anak yg diracun namun sayang anak itu tewas...dan wanita gila itu adalah ibu anak itu sekaligus pembunuh anaknya......"
" Ibu macam apa itu!" Jin Yang mendengarnya dengan tak percaya,ada ibu membunuh anaknya sendiri! .Alis Tuan mengerut.
"... ibu anak itu merasa Zin.an membuatnya dipenjara...."lanjutnya,lalu dia melihat mereka dengan ragu bertanya."...apa kalian ingin masuk?"
"....Apa anda Paman nya?"tanya Tuan , namun pria tua itu menggelengkan kepalanya.
"... Tidak..rumah yg dibeli anak ini adalah rumahku,aku datang kesini untuk menyerahkan kunci cadangan rumah yg sudah ketemu padanya juga aku ingin melihat kondisinya...."
"...Apa tak apa-apa menerobos masuk begitu saja.....?"tanyanya pada paman Li dengan senyum canggung.
pria itu melambaikan tangannya.tersenyum kecil." .....Zin.an tak akan marah,anak ini sangat baik....lagi pula aku benar-benar mencemaskan lukanya,itu begitu parah sampai terlihat daging terbelah......"
Mengingatnya membuat wajah paman Li pucat. Lagi lagi hal ini membuat keduanya terkejut,pantas saja darah anak itu begitu banyak.
Pintu terbuka,Ke tiganya masuk dan melihat suasa rumah yg terang benderang dan sunyi.
Paman Li tanpa sadar mempercepat langkahnya."Zin.an ! Zin.an kamu baik-baik saja!"
Hwang zin berbaring diatas kasurnya,mendengar seseorang memanggil namanya,dia membuka matanya, kepalanya tak terasa begitu berat ,suhu tubuh nya sepertinya perlahan turun.
Dia bangun dari tempat tidur,mengusap rambutnya yg berantakan,dia berdiri untuk mengambil mantel hangat baru di lemari tanpa mengenakan baju dalamnya lagi.
dia keluar dari kamarnya. Paman Li tak Berani masuk kedalam jdi dia hanya berteriak dihalaman." Zin an!"
Pintu dari ruang tamu terbuka,ke tiga mata langsung berhadapan dengan Hwang zin. Alis anak itu mengerutkan,dia menyentuh keningnya."...paman ada apa malam-malam kesini?"
Paman Li melihat anak itu yg hanya mengenakan mantel dan merasa cemas."Kamu begitu dingin hanya memakai mantel.......aku sudah menemukan kunci cadangan dan ingin mengembalikannya...."
Hwang zin mengangguk dan menerima kucingnya,lalu melihat dua orang asing tambahan.
"Kami..." Jin Yang melangkah maju namun tak tau harus berkata apa jadi dia melihat pada saudaranya.
Tuan itu juga melihat pada Hwang zin yg setinggi dirinya." Bisakah kita masuk dulu.....?"
Hwang zin merespon sedikit lambat, lalu melihat ke arah langit yg nampak memiliki butiran-butiran salju yg turun,dia melihat ke tiganya.
".. masuklah dulu..."
Pintu dibuka lebih lebar,Paman Li pamitan pergi dulu setelah melihat dia baik-baik saja,Jin Yang masuk lebih dulu lalu Tuan itu, Hwang zin menutup pintu ruang tamu.
saat masuk ruang tamu rasa hangat menyelimuti mereka.