NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Telat

Cuaca mulai teduh.

Langit yang tadi terang perlahan berubah lebih lembut. Warna jingganya memudar pelan, digantikan bayangan senja yang mulai turun.

Dan tanpa terasa—

waktu sudah berjalan cukup jauh.

Aku menarik napas pelan.

Seolah baru sadar…

hari ini tidak hanya tentang kami berdua.

Refleks, aku merogoh saku.

Mengeluarkan HP.

Layarnya menyala.

17.30.

Aku langsung terdiam sesaat.

Janji.

Bengkel.

Andi.

Semuanya kembali muncul… setelah sempat tenggelam.

Aku menoleh ke samping.

Cila masih duduk santai.

Matanya mengarah ke jalan.

Tenang.

Seolah waktu tidak sedang mengejarnya.

“Cil…” panggilku pelan.

“Iya?” dia menoleh.

“Ayo pulang.”

Dia mengernyit sedikit.

Aku lanjut,

“Udah sore. Aku ada janji… mau ketemuan di bengkel sama temen-temen.”

Cila diam sebentar.

Lalu matanya sedikit membesar.

“Oh…”

Seolah baru ingat juga.

“Iya, aku juga…”

Dia langsung bangkit.

Gerakannya jadi lebih cepat dari sebelumnya.

Aku ikut berdiri.

Kami sama-sama mulai bergegas.

Langkah yang tadi santai—

sekarang berubah lebih cepat.

Sedikit terburu.

Sedikit kacau.

Tapi entah kenapa—

tidak terasa berat.

Kami berjalan menuju parkiran.

Tidak banyak bicara.

Hanya sesekali saling melirik.

Seolah ada yang ingin diucapkan…

tapi tidak jadi.

Sampai akhirnya kami sampai di motor.

Aku mengambil helm.

Seperti biasa—

memakaikannya ke kepala Cila.

Gerakan yang sama.

Tapi kali ini terasa sedikit berbeda.

Lebih… disadari.

“Besok pagi jadi, kan?” ucapku pelan.

Cila mengangguk.

“Iya dong.”

Singkat.

Tapi cukup.

Aku menyalakan motor.

Mesin mulai hidup.

Kami naik.

Dan perlahan meninggalkan tempat itu.

Di perjalanan—

angin kembali menemani.

Kali ini sedikit lebih dingin.

Cila tidak banyak bicara.

Tangannya kembali memegang ujung jaketku.

Dan aku—

tetap fokus ke jalan.

Tapi pikiranku…

tidak sepenuhnya di sana.

Hari ini…

berjalan tidak seperti yang aku rencanakan.

Aku tidak jadi ke bengkel.

Tidak jadi menunjukkan desain itu.

Tidak jadi membahas motor.

Tapi—

anehnya…

aku tidak merasa kecewa.

Justru sebaliknya.

Ada sesuatu yang terasa… terisi.

Pelan.

Tanpa sadar.

Motor terus melaju.

Menuju rumah.

Menuju bengkel.

Menuju malam.

Dan di tengah semua itu—

aku mulai sadar satu hal.

Kadang…

yang datang tanpa rencana—

justru yang paling terasa.

Begitu sampai di depan rumah—

motor berhenti pelan.

Cila turun.

Melepas helmnya.

Kali ini tanpa banyak bicara.

Tapi sebelum masuk—

dia sempat menoleh.

“Rendra…”

Aku menatapnya.

“Iya?”

Dia diam sebentar.

Lalu tersenyum kecil.

“Makasih ya.”

Aku mengangguk.

“Iya.”

Aku memperhatikan ekspresinya.

Ada yang sedikit berbeda.

Lebih tenang.

Lebih… hangat.

Dan entah kenapa—

aku suka melihatnya seperti itu.

Cila masuk.

Pintu tertutup pelan.

Aku tidak langsung pergi.

Masih duduk di atas motor.

Mesin masih menyala.

Beberapa detik.

Cukup untuk menarik napas sekali lagi.

Dadaku terasa penuh.

Bukan karena terburu-buru.

Bukan karena janji yang hampir terlambat.

Tapi karena hari ini…

berjalan dengan cara yang tidak aku duga.

Dan mungkin—

itu yang membuatnya terasa lebih berarti.

Aku akhirnya memutar gas.

Menuju rumah.

Begitu sampai—

aku langsung masuk ke kamar.

Melepas tas.

Belum sempat duduk—

*getar.*

HP di tanganku bergetar.

Nama Andi muncul.

Aku membuka pesannya.

“Jadi ga woy, udah pada ngumpul nih.”

Aku menghela napas kecil.

Lalu cepat membalas.

“Iya, tunggu aja. Gue baru mau mandi.”

Tidak lama—

balasan masuk lagi.

“Anjir.”

Aku cuma tersenyum kecil.

Menaruh HP di meja.

Lalu berjalan ke kamar mandi.

Malam ini…

masih panjang.

Air dingin masih terasa di kulit saat aku keluar dari kamar mandi.

Cepat-cepat aku bersiap.

Kaos.

Jaket.

Celana.

Semua kulakukan tanpa banyak berpikir.

Di luar jendela, langit sudah benar-benar gelap.

Lampu jalan mulai menyala.

Aku mengambil kunci motor.

Keluar kamar.

“Ibu, aku keluar dulu ya,” ucapku sambil memakai sandal.

“Iya, hati-hati,” jawab ibu dari ruang tengah.

“Iya.”

Aku langsung keluar.

Mesin motor menyala.

Dan tanpa banyak waktu terbuang—

aku langsung berangkat.

Jalanan malam mulai ramai.

Lampu kendaraan saling bersahutan.

Angin malam terasa lebih dingin dibanding sore tadi.

Tapi kali ini—

kepalaku lebih ringan.

Beberapa menit kemudian, aku sampai di bengkel.

Lampunya masih terang.

Beberapa motor terparkir di depan.

Dan benar saja—

mereka sudah ada di sana.

Duduk santai.

Tapi ekspresinya…

tidak terlalu santai.

Aku mematikan mesin.

Turun.

“Sorry, gue sedikit telat,” ujarku sambil nyengir.

Andi langsung menoleh.

“Kita tadi janjinya sore,” katanya datar.

“Sekarang udah malem. Apa masih sore?”

Aku diam satu detik.

Lalu nyengir lagi.

“Masih sore.”

Bara langsung mendengus kecil.

Miko menahan tawa.

Andi menggeleng pelan.

“Gila.”

Aku mengangkat tangan sedikit.

“Iya, iya… gue salah.”

Aku menarik napas sebentar.

Lalu menatap mereka.

“Ya udah, ayo ke kafe…”

Mereka diam.

Aku lanjut—

“Sebagai permintaan maaf, gue yang traktir.”

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

“Gue maafin,” jawab Bara cepat.

Langsung berdiri.

“Ayo berangkat.”

Aku langsung ketawa kecil.

Miko ikut berdiri.

“Padahal tadi Bara yang paling kesel nungguin lu,” katanya santai.

“Laper, katanya.”

Andi langsung ketawa.

“Iya, dari tadi ngomel mulu.”

“Bacot lu,” jawab Bara sambil nyengir.

Aku cuma menggeleng kecil.

Suasana yang tadi agak tegang—

langsung cair.

Seperti biasa.

Kami mulai menuju motor masing-masing.

Mesin dinyalakan satu per satu.

Suara knalpot memenuhi udara malam.

Dan tanpa banyak aba-aba—

kami langsung berangkat.

Menuju kafe.

Menuju malam yang baru mulai.

Lampu kafe terlihat dari kejauhan.

Tidak terlalu ramai.

Tapi cukup hidup.

Kami memarkir motor di depan.

Masuk satu per satu.

Suasana di dalam hangat.

Lampu kuning, musik pelan, dan beberapa meja sudah terisi.

Kami memilih duduk di salah satu meja agak ke tengah.

“Enak juga tempatnya,” ucap Bara sambil melihat sekitar.

“Lumayan,” jawab Andi santai.

Aku duduk sambil melepas helm.

Mataku sempat menyapu ruangan—

tapi tidak benar-benar memperhatikan.

Fokusku masih ke mereka.

“Lu yang traktir, ya?” tanya Bara tiba-tiba.

Aku langsung nyengir.

“Iya, iya… pesan aja dulu.”

“Wah, mantap,” jawabnya cepat.

Miko hanya duduk tenang, melihat menu.

Andi masih celingak-celinguk.

Seperti biasa.

Kami mulai memesan.

Obrolan ngalir begitu saja.

Dari bengkel.

Motor.

Sampai hal-hal random yang nggak penting.

Aku ikut ketawa.

Menimpali sesekali.

Sampai—

Bara tiba-tiba menyenggol lenganku pelan.

“Eh…”

Aku melirik.

“Kenapa?”

Bara tidak langsung jawab.

Dia cuma mengangkat dagu sedikit ke arah depan.

Aku mengikuti arah pandangnya.

Belum sempat aku benar-benar fokus—

“Rendra?”

Aku langsung menoleh.

Dan di situ—

Kak Marisa sudah berdiri tidak jauh dari meja kami.

Aku sedikit kaget.

“Eh… Kak?”

Dia tersenyum tipis.

“Tumben. Sama siapa kamu?”

“Oh, ini temen-temen aku,” jawabku.

Aku menunjuk satu per satu.

“Ini Andi… Bara… sama Miko.”

“Oh, hai…” ucap Kak Marisa sambil melambaikan tangan kecil.

“Haai…” jawab Andi dan Bara hampir barengan.

Miko hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

Kak Marisa mengangguk kecil.

“Ya udah, kakak masuk dulu ya. Lagi agak ramai di dalam.”

“Iya, Kak.”

Dia sempat melirik sebentar ke arah kami—

lalu langsung berjalan pergi.

Beberapa detik hening.

Andi langsung menoleh ke arahku.

“Siapa?”

Bara dan Miko ikut menatap.

Aku menjawab santai.

“Kakak gue.”

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

“KAKAK LU?!” Andi dan Bara langsung bersamaan.

Aku cuma nyengir kecil.

“Iya.”

“Emang kenapa siii…” lanjutku santai.

Andi langsung nyengir.

“Kakak lu udah punya pacar?”

“Anjir, langsung to the point,” ucap Bara sambil ketawa.

Miko cuma ketawa kecil.

Aku menggeleng.

“Nggak tau. Lagian meskipun belum punya juga… seleranya bukan bocil kayak lu.”

Andi langsung ketawa.

“Siapa tau gue spesial.”

“Spesial apaan,” sahut Bara cepat. “Emangnya lu martabak spesial.”

Kami semua ketawa.

Suasana meja langsung cair lagi.

Pesanan mulai datang satu per satu.

Minuman dulu.

Lalu makanan.

Aromanya langsung memenuhi meja.

“Gas, gas…” kata Bara tanpa banyak basa-basi.

Kami mulai makan.

Obrolan kembali ngalir.

Dari sekolah.

Guru.

Sampai cerita-cerita nggak penting yang entah kenapa tetap seru.

Waktu terus berjalan.

Malam semakin larut.

Kak Marisa sudah pulang lebih dulu.

Suasana kafe mulai lebih tenang.

Aku melirik jam.

Sudah cukup.

Aku menatap mereka.

“Udah yuk, pulang,” ucapku santai.

Tidak ada yang menolak.

Kami pun bersiap.

Aku berjalan ke kasir.

Melakukan pembayaran.

Lalu kembali ke meja.

“Udah,” kataku singkat.

Kami keluar bersama.

Menuju parkiran.

Motor dinyalakan satu per satu.

Suara mesin memecah suasana malam.

Kami berangkat.

Menyusuri jalan yang mulai lengang.

Sampai di satu titik—

jalur kami mulai berbeda.

“Duluan,” ucap Andi.

“Ya,” jawabku.

Satu per satu berpisah.

Tinggal aku sendiri.

Aku memperlambat motor saat sampai di depan gerbang rumah.

Lampu teras masih menyala.

Mang Tatang sudah berdiri di sana.

Seperti biasa.

Langsung membukakan gerbang.

Aku masuk.

Memarkirkan motor.

Mesin dimatikan.

Suasana langsung terasa sunyi.

Aku masuk ke dalam rumah.

Tidak banyak suara.

Semuanya sudah beristirahat.

Aku langsung ke kamar.

Melepas jaket.

Lalu ke kamar mandi.

Mencuci muka.

Membasuh kaki.

Menyikat gigi.

Hal-hal sederhana.

Tapi terasa menenangkan.

Setelah itu, aku duduk sebentar di tepi kasur.

Sunyi.

Pikiran mulai pelan.

Dan entah kenapa—

Cila terlintas.

Refleks, aku melirik HP.

Hampir tengah malam.

Aku diam sejenak.

Mungkin dia sudah tidur.

Aku tidak jadi membuka chat.

Aku merebahkan tubuh.

Menarik selimut.

Hari ini terasa panjang.

Tapi juga… penuh.

Dan tanpa sadar—

aku tertidur.

Besoknya—

Aku terbangun.

Refleks.

Langsung duduk.

Cahaya pagi sudah masuk dari jendela.

Terang.

Tidak seperti biasanya.

Aku meraih HP.

Layarnya menyala.

06.30.

Aku langsung diam.

Satu detik.

Dua detik.

“Anjir…”

Refleks aku mengusap wajah.

Baru sadar.

Janji.

Lari pagi.

Aku membuka notifikasi.

Ada satu pesan.

Dari Cila.

Aku membukanya.

“Jadi ga lari pagi”

Aku menatap layar.

Lama.

Tidak langsung membalas.

Entah kenapa—

aku tidak tahu harus jawab apa.

Di luar, pagi sudah benar-benar berjalan.

Dan untuk pertama kalinya—

aku telat.

Bukan cuma soal waktu.

Aku menghela napas pelan.

Jari-jariku masih diam di atas layar.

Pesan itu masih terbuka.

Dan aku…

masih belum membalas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!