NovelToon NovelToon
“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anita Banto

Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21

Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden, namun kegelisahan semalam masih membekas di benak Amara. Setelah mandi singkat untuk membasuh sisa-sisa mimpi buruknya, ia melangkah turun, mencari sosok yang menjadi dalang di balik rasa malunya.

​Keberuntungan—atau mungkin kesialan—sedang berpihak padanya. Melanie ada di sana, tampak begitu santai di sofa sambil menyesap kopi dan mengunyah roti panggang. Saat mendengar langkah kaki Amara, sahabatnya itu mendongak dengan binar jenaka yang sangat mencurigakan.

​"Pagi," sapa Melanie riang, senyumnya melebar seolah ia baru saja memenangkan lotre.

​"Apa yang membuatmu sesenang itu sepagi ini?" Amara menyipitkan mata, aromanya penuh kecurigaan. Ia berjalan menuju dapur, mencoba menyibukkan diri dengan mesin kopi dan pemanggang roti.

​Seringai Melanie semakin tak terkendali. "Jadi..." ia menggantung kalimatnya dengan nada nakal, "katakan padaku... apa 'mainan' itu cukup memuaskan?"

​Prang! Cangkir di tangan Amara hampir saja mencium lantai. Wajahnya terasa terbakar hebat. Belum sempat ia mengelak, Melanie sudah berdiri di sampingnya, menunjuk pipi Amara yang kini sewarna mawar musim semi.

​"Berhasil, kan? Kamu bahkan tidak perlu menjawab," goda Melanie.

​"Mel..." Amara mengerang, menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. "Bagaimana kamu bisa tahu?"

​Tawa renyah pecah dari bibir si rambut cokelat itu. "Sayang, kamu lupa menutup pintu. Aku mendengar semuanya."

​"Semuanya?!" pekik Amara. Jantungnya berdegup kencang karena malu yang luar biasa.

​"Yap. Sepertinya kamu tidur sangat nyenyak setelah semua teriakan itu."

​"Diamlah! Aku akan pindah hari ini juga!" Amara merengek, merasa dunianya runtuh seketika karena harga dirinya yang terkoyak.

​Melanie tertawa terpingkal-pingkal. "Masih keras kepala? Tenang saja, apartemen ini kedap suara... asal pintunya kau kunci rapat, Amara Crawford."

​Amara hanya bisa melemparkan tatapan tajam yang seolah berkata, 'Satu kata lagi dan aku akan menenggelamkanmu di wastafel.'

​"Oke, oke," Melanie akhirnya menyerah sambil mengerucutkan bibir. "Jadi, di mana istana barumu?"

​Amara menghela napas lega saat topik berganti. Ia menggeser ponselnya di atas meja marmer, menunjukkan foto-foto hunian yang dikirimkan Lorenzo. "Lorenzo yang mengaturnya. Letaknya di sisi timur, tepat di tepi pantai. Lebih dekat ke kantor."

​Melanie mengamati layar itu dengan tatapan dramatis, berpura-pura patah hati karena akan ditinggal jauh. "Kelihatannya luar biasa. Kapan?"

​"Hari ini."

​"Hari ini? Kenapa terburu-buru?"

​Amara menatap sahabatnya dengan tulus. "Aku tidak bisa menumpang selamanya, Mel. Aku butuh ruang untuk menata kembali hidupku."

​"Tentu saja kau boleh menumpang seumur hidup!" canda Melanie. Namun, ia akhirnya berdiri untuk membantu. "Ayo, biarkan aku membantumu berkemas sebelum aku berubah pikiran dan mengunci pintu depan."

​Proses perpindahan itu berlangsung cepat namun melelahkan. Hingga akhirnya, mobil Melanie berhenti di depan sebuah mahakarya arsitektur yang megah. Amara terpaku. Foto-foto Lorenzo sama sekali tidak bisa menggambarkan betapa prestisiusnya bangunan ini.

​Sebuah dupleks mewah dengan tujuh kamar tidur, dua kolam renang outdoor yang berkilau di bawah matahari, hingga akses pribadi menuju pantai yang tenang. Bagi orang biasa, ini adalah pemborosan. Tapi bagi seorang Amara Crawford, ini adalah zona nyaman minimum.

​"Ini... tempat tinggalmu?" Suara Melanie terdengar serak karena terkejut.

​"Lorenzo bilang ini yang termurah yang bisa dia temukan," jawab Amara santai, mengabaikan fakta bahwa 'murah' bagi Lorenzo berarti angka miliaran bagi orang lain.

​"Termurah?! Amara, kau benar-benar keterlaluan!" Melanie menggeleng tak percaya, namun tetap membantu mengangkat kotak-kotak barang.

​Setelah meletakkan barang terakhir, jam tangan mewah di pergelangan Melanie berdering. "Aku harus pergi, ada urusan mendesak. Kabari aku kalau kau butuh sesuatu!"

​"Jangan lupa mampir dan bawa Sushi Bluefin Tuna!" seru Amara sambil melambai.

​Begitu mobil Melanie menghilang, keheningan menyergap. Amara menatap hunian luas itu. Sunyi, namun menenangkan. Ini adalah awal yang baru. Hidupnya yang hancur di masa lalu tidak akan mengikutinya ke sini.

​Pukul tiga sore, atmosfer di kantor terasa berbeda. Begitu Amara melangkah masuk, ia merasakan tatapan-tatapan aneh. Bisikan-bisikan seperti duri halus mulai terdengar di sepanjang koridor.

​"...pemuja rahasia..."

"...siapa yang mengira Manajer kita punya penggemar segigih itu?"

​Dahi Amara berkerut. Pemuja rahasia? Ia tak punya waktu untuk omong kosong romansa. Tujuannya saat ini hanyalah satu: menyelesaikan pekerjaannya dan menjatuhkan Jason.

​Namun, saat ia membuka pintu ruang kerjanya, langkahnya membeku. Aroma harum yang menyengat langsung menyambut indranya. Di tengah meja kerjanya, sebuah buket bunga raksasa yang sangat indah berdiri dengan angkuh.

​Jantung Amara berdesir, bukan karena senang, melainkan karena firasat buruk. Ia mendekat, jemarinya yang lentik meraih kartu kecil yang terselip di antara kelopak bunga yang segar.

​Matanya membaca nama yang tertulis di sana. Seketika, raut wajahnya yang tenang berubah menjadi dingin sebeku es.

​Tobias Larsen.

​"Atas dasar apa dia melakukan ini?" desis Amara, meremas kartu itu hingga hancur dalam genggamannya. "Kau pikir bunga bisa menghapus semua luka, Tobias? Kau salah besar."

1
S
bodoh.jk.mau di lindungi seolah bs mengatasi segalanya tp begitu bahaya.mrngancam baru panik
S
aku yaki tawa dan dansamu hanya utk menghibur diri tak mungkin rasamu hilang tiba tiba mara.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!