Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngarai Jeritan Roh
Langit merah kelam di atas Reruntuhan Kuno tidak pernah mengenal pertukaran siang dan malam. Waktu hanya bisa diukur dari seberapa banyak dupa yang telah terbakar dan seberapa jauh langkah kaki menapaki tanah penuh kutukan ini.
Jian Chen melesat bagai anak panah hitam yang dilepaskan dari busur bayangan. Langkah Hantu Kekosongan membawanya melintasi rawa beracun dan hutan pohon-pohon mati tanpa memicu satu pun jebakan alam. Setiap kali ujung kakinya menyentuh tanah, tubuhnya telah berpindah puluhan tombak ke depan.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah hari penuh, bentangan rawa yang menjijikkan perlahan berganti menjadi daratan berbatu cadas yang tandus. Di hadapannya, menjulang dua tebing batu hitam yang sangat tinggi, mengapit sebuah jalan sempit yang hanya muat dilalui oleh tiga kuda berjajar.
Hembusan angin yang melewati celah sempit itu menghasilkan suara lolongan panjang, terdengar persis seperti ratapan ribuan roh penasaran yang disiksa di dasar neraka.
"Ngarai Jeritan Roh," gumam Jian Chen, membongkar ingatan dari peta fana yang pernah ia baca di Paviliun Kitab Suci. "Satu-satunya jalan darat yang aman untuk memotong jalur menuju Altar Pusat tanpa harus memutari Pegunungan Tulang Iblis."
Jian Chen tidak mengurangi kecepatannya. Namun, saat ia berada tiga ratus langkah dari mulut ngarai, jaring Indra Spiritual-nya yang terbentang luas tiba-tiba bergetar.
Mata di balik topeng hantu besi itu menyipit.
Ada helaian hawa murni elemen angin yang dirajut sangat halus, membentang dari tebing kiri ke tebing kanan, menciptakan jaring laba-laba tak kasat mata. Di baliknya, tertanam susunan batu spiritual yang memancarkan niat membunuh yang tertahan.
Susunan Pembunuh Tingkat Menengah, batinnya dingin. Dan ada dua belas tarikan napas manusia yang bersembunyi di balik bebatuan tebing.
Alih-alih menyelinap atau mencari jalan memutar, langkah Jian Chen justru menjadi semakin tegap dan teratur. Ia berjalan tepat ke tengah mulut ngarai, berhenti hanya sejengkal dari jaring angin mematikan tersebut, lalu menengadah ke arah tebing setinggi sepuluh tombak di sebelah kanannya.
"Bersembunyi di balik batu seperti sekawanan tikus tanah. Apakah Lu Mofeng mengajari anjing-anjingnya untuk menggonggong hanya dari balik selimut?" Suara Jian Chen mengalun tenang, namun menembus lolongan angin ngarai dengan kejernihan yang menyayat hati.
Keheningan sesaat melanda tebing tersebut.
Tiba-tiba, suara tawa kasar meledak dari atas. "Hahaha! Telingamu cukup tajam untuk ukuran seekor domba yang berjalan ke tempat penjagalan!"
Dari balik bebatuan, dua belas sosok melompat turun, mendarat dengan ringannya layaknya dedaunan di sekitar Jian Chen. Mereka semua mengenakan jubah biru cerah bersulam awan putih. Kultivasi mereka luar biasa rata—sebelas orang berada di Kondensasi Qi Tingkat Delapan Puncak, dan pria berwajah codet yang berdiri di depan mereka memancarkan hawa murni Tingkat Sembilan Menengah.
Pria berwajah codet itu adalah Gao Zhan, salah satu panglima kepercayaan Lu Mofeng.
"Kakak Senior Gao! Lihat pedang raksasa di punggungnya dan topeng hantu itu!" seru salah satu murid, menunjuk Jian Chen dengan pedangnya. "Dia adalah orang dari Akademi Angin Langit yang menghina Kakak Senior Lu di perkemahan!"
Mata Gao Zhan seketika berbinar dipenuhi keserakahan dan haus darah. "Langit benar-benar membuka jalannya! Kakak Senior Lu menugaskanku menjaga ngarai ini untuk mencegat sampah dari akademi dan Lembah Pedang Es, siapa sangka aku justru mendapatkan buruan utamanya!"
Gao Zhan melangkah maju, pedang panjangnya memancarkan tiupan angin yang berputar tajam. "Bocah, jika kau berlutut sekarang, memotong lidahmu sendiri, dan menyerahkan cincin penyimpananmu, aku mungkin akan membiarkan mayatmu utuh untuk dibawa ke hadapan Kakak Senior Lu."
Jian Chen tidak membalas. Ia hanya menggelengkan kepala perlahan, seolah sedang menyesali nasib segerombolan semut yang tidak menyadari bahwa mereka sedang menghalangi laju kereta kuda.
"Lu Mofeng benar-benar pelit," ucap Jian Chen datar. "Ia bergegas ke Altar Pusat untuk menelan buah pusaka sendirian, dan meninggalkan kalian di sini sebagai tumbal untuk mengulur waktu."
"Tutup mulut busukmu!" raung Gao Zhan, merasa provokasi itu tepat menusuk kesombongannya. "Susunan Angin Pemisah Tulang, aktifkan! Cincang dia!"
Gao Zhan menjejakkan kakinya, mengalirkan hawa murni ke dalam tanah. Seketika, jaring angin tak kasat mata di mulut ngarai itu menyala dengan cahaya kebiruan yang mematikan. Ratusan bilah angin yang setajam pedang baja spiritual tercipta dari udara kosong, melesat serentak ke arah Jian Chen dari segala penjuru, bersiap mengubah tubuhnya menjadi ribuan potongan daging merah.
Bagi kultivator Tingkat Sembilan biasa, terjebak di tengah susunan ini adalah kematian yang pasti.
Namun, Jian Chen bahkan tidak mengedipkan matanya.
"Susunan fana yang rapuh," bisik Jian Chen.
Alih-alih menangkis menggunakan tangan kosong seperti sebelumnya, ia memutuskan untuk meratakan jalan ini dengan cara yang paling tiran. Tangan kanannya menjulur ke belakang punggung, menggenggam erat gagang Pedang Penguasa Kosong.
TRAAANG!
Pedang seberat delapan ratus kilogram itu dihunus dari punggungnya. Kain rami yang membalutnya robek menjadi debu akibat gesekan hawa murni. Bilah hitam pekat selebar telapak tangan yang menolak segala bentuk elemen itu akhirnya meminum udara Reruntuhan Kuno.
Jian Chen menyalurkan tenaga murni delapan belas ribu kilogram dari Raga Tirani Kekacauan-nya ke kedua lengannya. Urat-urat menonjol di lehernya, sementara tulang giok putihnya memancarkan pendaran keemasan dari balik kulitnya.
Ia memutar tubuhnya dan mengayunkan pedang raksasa itu dalam satu putaran penuh.
"Seni Tebasan Kehancuran Bintang!"
Tidak ada hawa murni yang meluap, tidak ada cahaya pedang yang menyilaukan. Yang ada hanyalah penghancuran mutlak atas ruang itu sendiri!
Bilah hitam itu menyapu udara dengan kecepatan dan bobot yang melanggar nalar. Badai angin murni meletus dari lintasan pedang tersebut, menghantam susunan bilah angin milik Gao Zhan.
BOOOOOOM!!!
Suara ledakan yang dihasilkan menyerupai langit yang runtuh. Ratusan bilah angin dari susunan pembunuh itu hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan riak tenaga dari Pedang Penguasa Kosong.
Namun tebasan itu tidak berhenti di situ. Gelombang kejut bertenaga belasan ribu kilogram terus meluas, menghantam kedua sisi tebing Ngarai Jeritan Roh.
Batu cadas sekeras besi yang telah berdiri selama ribuan tahun hancur lebur layaknya tanah liat kering. Tebing itu retak, runtuh, dan meledak, menghujani mulut ngarai dengan ribuan bongkahan batu raksasa.
Sebelas murid Tingkat Delapan Puncak yang tadinya berdiri mengepung Jian Chen bahkan tidak sempat menjerit. Gelombang kejut dari tebasan pedang itu langsung menghancurkan organ dalam mereka. Tubuh mereka meledak di tempat, berubah menjadi kabut darah sebelum akhirnya tertimbun oleh runtuhan batu tebing.
Gao Zhan, berkat kultivasi Tingkat Sembilan Menengah-nya, sempat mengangkat pedangnya untuk menangkis.
KRAK! Pedang pusaka andalannya patah menjadi dua. Kedua lengannya remuk seketika, dan tubuhnya terpental ke belakang sejauh dua puluh tombak, menghantam dinding batu hingga melesak ke dalam. Ia memuntahkan darah segar bercampur serpihan organ dalamnya, matanya melotot dipenuhi teror yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata.
Dalam satu tarikan napas, satu ayunan pedang... sebuah susunan pembunuh hancur, tebing ngarai runtuh, dan sebelas ahli elit musnah tak bersisa!
Debu tebal membumbung ke udara, menutupi langit merah kelam. Di tengah kawah kehancuran tersebut, Jian Chen berdiri tegak. Ia menghentakkan ujung Pedang Penguasa Kosong ke tanah berbatu, menciptakan retakan panjang di bawah kakinya.
Ia melangkah perlahan ke arah Gao Zhan yang terkapar sekarat di dinding tebing.
"T-Tolong... J-Jangan bunuh aku..." rintih Gao Zhan, suaranya bercampur dengan buih darah. Kesombongannya telah menguap sepenuhnya. Ia kini menyadari bahwa pemuda di hadapannya bukanlah seekor domba, melainkan iblis purba yang menyamar dalam kulit manusia.
"Kau beruntung masih bisa bernapas," ucap Jian Chen datar, menatap dingin dari balik topeng hantunya. "Jawab satu pertanyaanku, dan aku akan memberimu kematian yang cepat. Seberapa jauh jarak kelompok Lu Mofeng dari Altar Pusat saat ini?"
Gao Zhan terbatuk hebat, matanya mulai kehilangan fokus. "M-Mereka... mereka menggunakan Perahu Giok Terbang... sebuah pusaka sekte... M-Mereka pasti sudah tiba di pelataran luar Altar Pusat sejak satu jam yang lalu... T-Tolong, beri aku..."
Jian Chen tidak menunggu Gao Zhan menyelesaikan kalimatnya. Ujung sepatu botnya menjejak leher pria itu dengan ringan.
KRAK.
Nyawa panglima Sekte Awan Biru itu melayang seketika.
Jian Chen membuka telapak tangannya. Pusaran kelam Seni Melahap Surga Primordial berputar tanpa suara di Dantiannya. Kabut darah dan intisari hawa murni dari dua belas ahli tersebut, termasuk sisa-sisa yang tertimbun batu, ditarik paksa dan diserap ke dalam tubuhnya.
Esensi dari selusin ahli tingkat tinggi ini jauh lebih kental daripada petarung Gelanggang Asura. Qi di dalam meridian Jian Chen yang tadinya berbentuk kabut tebal, kini meneteskan lebih banyak embun cair yang berkilau. Ia semakin dekat dengan gerbang Alam Pembentukan Fondasi.
"Perahu Giok Terbang?" Jian Chen memungut dua belas kantong penyimpanan yang berserakan, lalu menyarungkan kembali pedang raksasanya ke punggung.
Tatapan Jian Chen menembus lorong Ngarai Jeritan Roh yang kini dipenuhi puing-puing batu, memandang jauh ke arah pilar awan kelam di pusat reruntuhan.
"Bahkan jika kau terbang menggunakan sayap dewa, kepala kalian semua sudah tertulis di ujung pedangku. Tunggu aku di sana, Lu Mofeng."
Dengan satu hentakan kaki, sosok berjubah hitam itu melesat menembus ngarai, meninggalkan kawah berdarah yang menjadi saksi bisu atas kelahiran seorang tiran di tanah kuno.