NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Integritas di Hadapan Takhta

Namun, sore hari itu, saat matahari mulai condong dan angin laut bertiup sepoi-sepoi, seorang prajurit muda mendekati pagar kayu itu. Dia tidak seperti yang lain. Dia tidak mengenakan zirah lengkap, hanya seragam kulit biasa, dengan rambut cokelat berantakan tertiup angin dan mata cokelat yang penuh keingintahuan, bukan ketakutan. Usianya mungkin seumuranku, awal dua puluhan.

"Dengar, mereka bilang aku gila karena mendekat," ujarnya, suaranya santai namun bergetar sedikit. "Tapi... aku penasaran. Namaku Kaelan. Kaelan dari Desa Oakhaven, bagian dari Kadipaten Lindenroth. Aku hanya prajurit biasa, bukan kesatria."

Aku mengangguk, merasakan kejujuran dalam nada bicaranya. "Aku Rian. Dan ini Eveline." Aku tidak menyebut marga atau gelar. Hanya nama.

"Rian," ulang Kaelan, mencoba nama itu. "Jadi... cerita-cerita itu benar? Kau bisa... membangkitkan orang mati?"

"Aku bisa," jawabku jujur. "Tapi itu bukan hal yang kusukai. Itu terjadi tanpa kusengaja."

Dia duduk di lantai geladak di seberang pagar, seolah ingin menunjukkan bahwa dia tidak dalam posisi mengancam. "Mereka bilang kau punya senjata petir. Dan ada dewi yang mengancam akan menghancurkan Kekaisaran."

"Yang pertama benar, itu senjata dari duniaku. Yang kedua... Ratri adalah temanku. Dia khawatir."

Kaelan menghela napas. "Hidup ini sudah cukup rumit tanpa tambahan dewi yang marah." Lalu, dengan tiba-tiba, dia tertawa kecil, getir. "Tapi, ya. Hidup memang begitu. Aku mendaftar jadi prajurit karena... karena putus asa. Pacarku, Elara, dinikahkan paksa dengan anak seorang bangsawan lokal oleh orang tuanya. Alasannya untuk meningkatkan status keluarga. Aku cuma anak petani. Jadi, daripada melihatnya setiap hari dengan orang lain, lebih baik aku pergi, ikut tentara, mudah-mudahan di medan perang."

Ceritanya menyentuh sesuatu yang dalam di diriku. "Aku... mengerti perasaan itu. Aku juga ditinggal tunanganku. Dia memilih orang lain karena tekanan keluarga dan... mungkin karena keadaanku yang waktu itu menganggur, tidak punya masa depan."

Mata Kaelan membesar. "Benarkah? Jadi kau juga...?"

"Ya. Manusia dengan patah hati, sama seperti yang lain," jawabku, tersenyum pahit. "Kekuatan ini... ini bukan sesuatu yang kuminta. Aku bahkan tidak berasal dari dunia ini."

Sekarang, Kaelan benar-benar tertarik. "Tidak dari dunia ini? Maksudmu?"

Aku memandang ke laut yang luas. Mungkin, dengan berbagi cerita, aku bisa menemukan sekutu, atau setidaknya mengurangi ketakutan. "Aku berasal dari tempat yang bernama Indonesia. Kotaku namanya Jakarta. Dunia yang berbeda. Tidak ada sihir seperti di sini, tidak ada elf atau iblis. Kami punya teknologi—mesin, listrik, kendaraan yang bisa terbang. Suatu hari, aku tiba-tiba terbangun di dunia ini, di sebuah rumah kayu tua, dan tanpa sengaja membangkitkan Eveline di sini dari tengkorak. Semua karena sebuah lelucon bodoh."

Aku menceritakan semuanya dengan jujur. Tentang pengangguran, patah hati, keinginan untuk pulang, dan ketakutan akan kekuatan yang tidak kuminta ini. Kaelan mendengarkan dengan serius, tanpa interupsi.

"Sumpah," ucapnya setelah aku selesai. "Itu... lebih gila dari cerita pengembara mana pun. Dan kau bilang kau cuma ingin pulang?"

"Itu yang paling kuinginkan. Kekuatan ini, gelar 'Pembangkit', ancaman kerajaan... semua itu beban. Aku cuma ingin kembali ke hidupku yang biasa, sepi, dan mungkin menyedihkan itu. Tapi setidaknya itu adalah hidupku."

Kaelan diam lama. Lalu, dengan suara rendah, dia berkata, "Indonesia... Jakarta. Aku... pernah mendengar nama itu."

Sekarang giliranku yang terkejut. "Apa? Di mana? Bagaimana?"

"Tidak dari sini," jawab Kaelan. "Tapi... sekitar delapan tahun lalu. Saat aku masih kecil. Ada seorang pengembara tua yang singgah di desaku. Dia bercerita banyak hal. Dan dia pernah menyebut nama 'Indonesia'. Katanya, itu adalah nama sebuah pulau di ujung dunia, di seberang lautan mimpi. Tapi yang lebih aneh, dia bilang dia pernah bertemu seseorang dari sana, yang juga tersesat di sini seperti dirimu. Orang itu... hilang tanpa jejak setelah itu."

Informasi itu seperti sambaran petir. Ada orang lain? Dari Indonesia? Tersesat di sini juga? "Orang itu... bagaimana ciri-cirinya? Apa yang dia katakan?"

Kaelan menggaruk kepalanya. "Aku masih kecil, jadi ingatanku samar. Tapi pengembara itu bilang, orang itu bicara aneh, punya pengetahuan yang tidak biasa, dan... selalu mencari cara untuk 'membuka pintu' kembali. Dia menyebut sesuatu tentang 'keseimbangan dimensi' atau semacamnya. Lalu suatu hari, dia pergi ke arah Pegunungan Api di utara, dan tidak pernah kembali."

Harapan dan kecemasan bertarung di dadaku. Ada kemungkinan! Ada petunjuk! Tapi juga ada bahaya—orang itu hilang.

"Terima kasih, Kaelan," ucapku, tulus. "Informasi ini... sangat berharga bagiku."

Kaelan tersenyum, senyum pertama yang tulus sejak kami bertemu. "Gak apa-apa. Aku juga senang bisa ngobrol sama seseorang yang... manusiawi. Di sini, semua orang menganggapmu setan. Tapi bagiku, kau cuma orang tersesat yang lagi sial, kayak aku."

Persahabatan kecil, rapuh, tapi nyata, terjalin di atas geladak kapal kerajaan yang membawaku menuju ketidakpastian. Di tengah lautan luas dan ancaman kekaisaran, setidaknya ada satu orang yang melihatku sebagai Rian, manusia, bukan sebagai monster. Dan itu memberi sedikit kehangatan di tengah dinginnya perjalanan ini. Serta satu petunjuk samar yang mungkin, hanya mungkin, menjadi kunci untuk pulang.

 Perjalanan darat selama dua hari setelah berlabuh adalah pengalaman yang melelahkan secara psikologis. Meski aku dan Eveline ditempatkan di dalam sebuah kereta kuda yang cukup nyaman—bukan gerobak tahanan berjeruji—perlakuan di sekelilingku jelas-jelas untuk tahanan kelas tinggi yang ditakuti. Para pengawal berkuda menjaga jarak ketat, tidak ada yang berani mengajak bicara selain memberi perintah singkat. Bahkan Kaelan, yang kemarin berani mendekat, sekarang hanya bisa melirik dari kejauhan dengan ekspresi campur aduk. Aku mengerti. Mereka takut pada sesuatu yang tidak mereka pahami. Aku memilih untuk tidak mencari keributan. Kesalahpahaman bisa berakibat fatal, dan aku tidak ingin memicu ancaman Ratri menjadi kenyataan. Aku harus tenang, setidaknya sampai aku tahu apa yang benar-benar mereka inginkan.

Saat kami memasuki pinggiran ibu kota Kekaisaran Aethelgard, pemandangan mulai berubah. Jalan raya batu yang lebar dipadati oleh penduduk yang dengan cepat minggir saat iring-iringan kami lewat. Bisik-bisikan seperti desir angin gugur memenuhi udara.

"Itu dia... Pembangkit..."

"Dia yang bisa menghidupkan orang mati..."

"Lihat wanita di belakangnya... katanya bukan manusia..."

"Apa Kekaisaran akan menghukumnya? Atau... memanfaatkannya?"

"Demi Langit, jangan sampai dia marah di sini..."

Wajah-wajah yang kulihat adalah campuran rasa takut, penasaran, dan sedikit kebencian. Aku melihat kontras sosial yang familiar namun asing: di pinggir jalan, rumah-rumah kayu sederhana dan toko-toko kecil dengan rakyat jelata berpakaian lusuh. Tapi semakin ke dalam, bangunan-bangunan mulai berubah. Rumah batu bertingkat dengan jendela kaca, toko-toko dengan papan nama berpahat, bahkan ada bangunan seperti pabrik dengan cerobong asap tinggi yang mengeluarkan asap tipis. Ini seperti melompat ke era revolusi industri, tapi masih dengan kuda dan kereta sebagai tulang punggung transportasi. Sungguh dunia yang aneh.

Yang lebih mencolok adalah para bangsawan dan orang kaya yang lalu lalang. Mereka mengenakan pakaian yang rumit dan berwarna cerah, jas panjang, gaun berenda, dengan topi-topi yang aneh menurutku. Beberapa bahkan bukan manusia—elf dengan pakaian yang lebih anggun, dan bahkan iblis dengan kulit kemerahan atau kehitaman namun berpakaian mewah, berbaur tanpa rasa canggung di lingkungan elit ini. Dunia ini benar-benar berbeda, sebuah melting pot ras di bawah naungan kekaisaran yang tampak sangat makmur—setidaknya untuk kalangan atas.

Akhirnya, kami tiba di depan kompleks istana. Bukan istana bergaya dongeng dengan menara runcing, melainkan sebuah monumen arsitektur yang megah dan kokoh. Bangunan utama terbuat dari batu putih yang berkilauan, dengan pilar-pilar besar, ukiran rumit di setiap sudut, dan jendela-jendela kaca patri yang memantulkan cahaya matahari. Ini lebih mirip sebuah katedral raksasa yang dipadukan dengan gedung pemerintahan, menunjukkan kekayaan dan kekuasaan yang tak terbantahkan.

Setelah melalui gerbang besar yang dijaga ketat, kami disuruh turun dari kereta. Saat itulah masalah muncul.

Dua prajurit dengan baju zirah lengkap mendekat, membawa sepasang borgol yang terbuat dari logam gelap dengan ukiran cahaya biru samar—jelas diberi sihir.

"Kaki," perintah salah satunya dengan suara gugup.

Aku mengulurkan kakiku tanpa protes. Borgol itu dingin dan berat, terkunci dengan klik yang menusuk. Lalu mereka menoleh ke Eveline.

"Yang ini juga," kata prajurit lainnya.

"Ini tidak ada gunanya," ucapku, suara tenang. "Borgol apa pun, sekuat apa pun sihirnya, tidak akan bisa menahan dia. Kekuatan fisiknya berbeda level dengan manusia."

Prajurit itu mendengus, seolah meremehkan. "Borgol ini diberi Sihir Pengikat Level Tinggi oleh Penyihir Istana. Tidak ada yang bisa melepaskannya."

Aku menghela napas. "Eveline. Lepaskan."

Tanpa ekspresi, tanpa usaha, Eveline hanya menggerakkan pergelangan tangannya ke arah luar. KRAAAK! Logam gelap itu pecah seperti kaca, serpihan sihir biru beterbangan sebelum memudar. Borgol itu jatuh ke tanah berbunyi nyaring.

Semua orang di sekitar tercekat. Para prajurit melompat mundur, tangan meraih pedang. Wajah mereka pucat.

"Seperti yang kukatakan," lanjutku, masih tenang. "Aku tidak melawan. Aku di sini dengan damai. Tapi memborgol Eveline bukan hanya sia-sia, itu adalah tindakan tidak percaya. Jika kalian tidak percaya bahwa kedatanganku ini untuk diskusi, bukan sebagai buronan yang ingin membuat onar, lalu apa gunanya aku datang dengan sukarela? Aku rela diborgol sebagai simbol, tapi jangan langgar prinsip kepercayaan di hadapan Kekaisaran yang konon beradab ini."

Komandan Alistair, yang telah mengawasi dari samping, akhirnya melangkah maju. Wajahnya keras. "Cukup. Biarkan yang wanita tanpa borgol. Tapi awasi ketat."

Aku diarak memasuki istana. Lorong-lorongnya luas, tinggi, dengan lantai marmer yang mengilap dan lukisan-lukisan besar di dinding menggambarkan pertempuran dan penobatan. Aroma dupa dan bunga yang mahal memenuhi udara. Kami akhirnya berhenti di depan sepasang pintu kayu besar berukir emas. Di ruangan besar sebelum pintu itu, sudah berkumpul puluhan orang. Mereka semua berpakaian luar biasa mewah—jubah berenda, jubah beludru, seragam militer dengan medali bertaburan. Para bangsawan, menteri, dan petinggi kerajaan. Mereka memandangku dengan tatapan yang bervariasi: ada yang penuh kebencian, penasaran, ketakutan, dan ada juga yang dengan perhitungan dingin.

Pintu besar itu terbuka dengan perlahan. Seorang petugas berteriak, "SEMUA, BERI HORMAT!"

Serempak, semua orang di ruangan itu membungkuk dalam-dalam, bahkan berlutut. Aku sendiri masih berdiri tegak, agak kagok. Loh? Loh? Loh? Kok pada tunduk gitu?

Komandan Alistair di sampingku berbisik keras dan mendesak, "Tunduk! Sekarang!"

Tapi naluriku dan prinsip dari dunialah yang berbicara. Aku tidak berlutut. Sebagai gantinya, aku merapatkan kedua kakiku, menarik bahu ke belakang, dan memberi hormat ala militer yang kupelajari di sekolah dulu—tangan kanan diangkat ke pelipis, tubuh tegak, pandangan lurus ke depan. Itu adalah penghormatan tertinggi yang biasa kuberikan kepada atasan atau dalam upacara.

Dari balik pintu, muncul seorang wanita.

Dia tidak terlalu tua, mungkin pertengahan tiga puluhan, dengan kecantikan yang matang, anggun, dan memancarkan wibawa alami. Rambutnya yang pirang keemasan disanggul rumit, dihiasi mahkota yang bukan hanya dari emas, tetapi dengan batu-batu permata biru dan putih yang memancarkan cahaya lembut. Gaunnya berwarna biru laut dengan hiasan perak, panjang dan megah, disertai tongkat pemerintahan yang dipegang dengan santai di tangan kanannya. Dia berjalan dengan langkah percaya diri, diiringi oleh beberapa pelayan dan penjaga pribadi.

Aku menahan napas. Ini pasti permaisuri, istri kaisar, pikirku.

Wanita itu naik ke singgasana tinggi yang terletak di ujung ruangan dan duduk dengan anggun. Matanya yang berwarna biru langit—sama seperti Eveline, tapi penuh kehidupan dan kecerdasan—menyapu ruangan, lalu akhirnya tertuju padaku. Dan, yang mengejutkanku, dia tersenyum. Bukan senyum sinis atau merendahkan, tapi senyum feminin yang terlihat agak terhibur, seperti melihat sesuatu yang menarik.

Sebelum ada yang berkata-kata, seorang pria tua berjubah merah di samping singgasana melangkah maju, wajahnya merah padam oleh kemarahan. " DASAR, BERANI KAU TIDAK BERLUTUT DI HADAPAN YANG MULIA MAHARANI AURELIA THEODORA VAN AETHELGARD?!"

Maharani? Jadi dia penguasa tertingginya? Bukan permaisuri?

Pria tua itu mengangkat tangannya, dan aku merasakan tekanan sihir yang kuat mencengkeram bahu dan kepalaku, berusaha memaksaku untuk menunduk. Nyeri tajam menusuk di tengkuk.

Tapi sebelum aku bereaksi atau Eveline bergerak, suara sang Maharani terdengar, jernih dan tegas, memotong ketegangan.

"BERHENTI, LORD MAGISTER VALTOR! KAU BERANI MENGGUNAKAN SIHIR DI DEPAN TAKHTA TANPA PERINTAHKU?"

Tekanan itu langsung menghilang. Lord Valtor terlihat seperti dicambuk. "Yang Mulia, dia menghina—"

"Dia tidak menghina siapa pun," sang Maharani memotong, suaranya kini lebih rendah tapi penuh otoritas. "Dia memberi penghormatan dengan caranya sendiri. Dan itu cukup menarik perhatianku." Dia menatapku langsung. "Kenapa kau tidak berlutut seperti yang lain, anak muda?"

Aku menarik napas, berusaha menjaga suara tetap stabil. "Yang Mulia, saya tidak bermaksud menghina. Saya menghormati Anda sebagai penguasa negeri ini. Tapi dalam keyakinan dan budayaku, ada tingkatan penghormatan. Penghormatan tertinggi, dengan menyembah atau berlutut, hanya layak diberikan pada Tuhan yang Maha Kuasa, Sang Pencipta. Memberikan hal yang sama pada manusia, betapapun mulianya, dianggap melanggar prinsip itu. Jadi, saya memberikan penghormatan tertinggi yang bisa saya berikan kepada sesama manusia: hormat dengan tegak, penuh rasa hormat, dan tatapan langsung yang jujur."

Ruang sidang gempar. "Keterlaluan!" "Bidaah!" "Dia merendahkan takhta!" Seruan kemarahan berdatangan.

Tapi Maharani Aurelia justru mengangkat tangannya, dan ruangan langsung hening. Ekspresinya tak tergoyahkan, malah ada kilatan ketertarikan yang lebih dalam di matanya.

"Diam!" suaranya menggema. "Apakah kalian buta? Dia berdiri di hadapan takhta asing, dikelilingi musuh, dengan kekuatan yang bisa menghancurkan ruangan ini jika dia mau, namun dia memilih untuk menjelaskan keyakinannya dengan sopan dan berani. Itu bukan penghinaan. Itu adalah integritas. Dan integritas adalah sesuatu yang langka di ruangan ini."

Dia memandangku lagi, dan kini senyumnya lebih hangat, meski tetap berwibawa. "Jadi, kau adalah 'Pembangkit' yang telah membuat Lembaga Inkuisisi dan separuh dewan Kekaisaranku tidak bisa tidur. Namaku adalah Aurelia Theodora van Aethelgard, Maharani Kekaisaran Aethelgard yang ke-47. Dan tampaknya, kita memiliki banyak hal untuk dibicarakan, Rian Saputra."

Aku berdiri di sana, sedikit terpana. Ini bukan penguasa arogan dan kejam yang kubayangkan. Ini adalah seorang wanita yang cerdas, tenang, dan... bisa melihat melampaui protokol buta. Apa yang terjadi selanjutnya? Aku tidak tahu. Tapi setidaknya, pembukaannya tidak dengan ancaman atau kekerasan. Dan untuk saat ini, di tengah istana megah yang asing, itu adalah hal yang bisa kupegang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!