NovelToon NovelToon
Istri Gendut Kesayangan

Istri Gendut Kesayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Ruang Ajaib
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: rozh

Demi bertemu sang ibu, Liya berlari ke portal. Akan tetapi, jiwanya malah berpindah ke dunia hewan. Di sana, dia terkejut mendapati tubuh yang dia tempati sangat gendut berbeda dengan tubuh aslinya. Tabiatnya buruk dan malah mendapatkan empat suami hewan yang ingin membunuhnya karena perjodohan dewa monster. Dengan kematian, maka perceraian bisa terjadi.

"Tidaaaaaaaaak!" Liya menjerit keras, yang dia inginkan bertemu ibunya atau kembali ke dunia asalnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Hukum!

"Waduh, apa ini? Kenapa ada dua angsa jantan remaja?" Sebagian yang berdiri diluar tercengang.

"Katakan, siapa kalian!" hardik Berlian, lalu Berlian mendorong dua tubuh remaja itu ke depan, ke kerumunan banyak orang, tepatnya di halaman rumah Feyyi.

"Ka-kami, kami hanya pekerja!" jawab angsa jantan itu ketakutan.

"Pekerja, tapi berada di ranjang Riris?" Angsa tua melotot. "Katakan sejujurnya! Atau kalian juga akan di bakar hidup-hidup, menjadi angsa bakar!" lanjutnya marah berkacak pinggang.

Sementara Liyya dan lainnya membongkar kamar Feyyi, ruangan penyimpanan dan dapur. Liya menggunakan pelacakan sulurnya, serta elemen tanah, dia mengeluarkan debu halus agar mendeteksi tumbuhan yang sudah mati atau di keringkan.

"Mereka berdua budak yang aku beli, sengaja aku sembunyikan karena tidak ingin para jantan lain cemburu dan mengusili mereka yang lemah!" Riris membuat alasan.

Berlian memutar tubuh dua angsa remaja itu. "Oh bekerja untuk memuaskan hasr4t Tante atau Feyyi?"

"Kamu! Kamu kurang ajar sekali Berlian, mulut kamu sungguh tidak sopan! Kamu menuduh aku dan ibuku berbuat tak senonoh. Aku punya banyak suami tampan dan berguna, bagaimana mungkin aku bermain-main dengan angsa remaja seperti mereka!" Feyyi membela diri, kemudian melirik ibunya dengan cemberut.

"Kalau begitu, mereka berdua mainan ibumu. Jangan-jangan, ibumu sudah bosan dengan ayahmu, tapi ayahmu tidak mau bercerai, sehingga ibu kamu membunuh ayahmu?" tuduh Berlian.

"Ja-jangan sembarangan bicara kau Berlian, anak nakal tukang fitnah, suka keluyuran, sekalinya kembali ke suku angsa cuma membuat ribut." Riris melotot. "Duckiz beginilah cara kamu memimpin suku kita ini? Kamu tidak layak, karena gampang terhasut!" Dia cemberut pada Duckiz.

"Lalu siapa yang layak? Kamu? Mana pantas!" ejek Berlian.

Mereka masih berdebat, saat Liya dan lainnya keluar membawa beberapa benda.

"Liya, kamu menemukan buktinya?" Berlian melangkah mendekati Liya. Wajahnya penuh penasaran, sementara Feyyi dan Ibunya berwajah cemas.

"Setahuku, tidak ada jenis obat serangga dan nyamuk satu pun di sini, hanya ada obat lain. Untuk obat serangga dan nyamuk bisa menggunakan daun kemangi, ini bisa di gosokkan saat mau tidur, tanam di sekitar tempat tinggal, bahkan daun ini bisa di makan sebagai lalapan dan di masak. Lalu, batang serai. Bisa menjadi bumbu masak, di seduh untuk diminum menjadi obat lain, penghangat tubuh dan obat pengusir nyamuk dan serangga. Ada juga lainnya daun pandan wangi, daun mint, lavender dan banyak lainnya. Akan tetapi, di dalam rumah tadi, aku benar-benar tidak menemukan obat-obatan itu!" jelas Liya.

"Itu tidak mungkin. Kamu sok tahu sekali, baru juga punya elemen kayu dan elemen lainnya dengan level rendah, sudah sok pintar dari pada ayahku yang levelnya sudah tinggi dan bertahun-tahun menjadi dukun!" sahut Feyyi.

"Karena bertahun-tahun, dia menipu orang-orang!" balas Liyya. "Aku sudah membuktikan, beberapa saat lalu, aku menemukan tumbuhan kemangi, sudah menanam di sekitar gua tempat aku tinggal, memasak kemangi dengan ikan. Sungguh enak! Lalu, aku juga sudah membuat minyak batang sereh dengan ekstrak lavender." Liya mengeluarkan dari sakunya.

"Tante coba hirup dan oleskan di tanganmu." Liya memberikan kepada angsa betina tua.

Dia menerima, mencium aroma dan membalur tipis ke tangannya. "Ini obat nyamuk dan serangga?" tanyanya.

"Iya. Aku sudah membuat banyak, nanti akan mencoba membuat dari pandang wangi, kemarin baru saja menemukan pandan wangi, dan akan membagikan pada semua orang di suku angsa," balas Liya.

"Berarti sudah jelas, dukun ini orang jahat, keluarganya menutupinya! Hukum mereka semua!" Ibu tua itu berseru.

"Hukum! Hukum!" Mereka kompak bersorak.

"Ayah angkat. Ini tidak benar. Jika pun ayahku melakukan itu, kami berdua sama sekali tidak tahu!" Feyyi memohon pada kepala suku, Duckiz.

"Anggaplah kalian berdua tidak tahu, lalu ibumu telah melakukan kesalahan, membeli budak tanpa melapor dan berselingkuh, kemungkinan besar membunuh ayahmu!" sahut Liya.

"Jangan sembarang menuduh kau Liya gendut!" Riris berkacak pinggang. "Aku salah karena diam-diam membeli budak, tapi jangan menuduh aku membunuh suamiku. Selama ini bahkan aku setia padanya, hanya dia seorang suamiku. Coba kau lihat di sini, khusus di suku angsa, betina mana yang cuma punya jantan satu, tidak ada, hanya aku seorang! Bagaimana bisa aku membunuh suamiku, aku begitu setia padanya!" Riris menatap semua orang.

"Kalian semua saksi di sini bukan? Aku selalu baik dengan suami ku. Pernahkah kalian melihat kami berdua bertengkar? Tidak ada 'kan? Jadi tuduhan Liya gendut ini tidak benar. Lalu dua budak ini murni bekerja saja padaku," kata Liya. Lalu, dia berjalan melangkah ke arah dua pemuda itu.

Dengan cepat dan halus sekali, dia menyelipkan gelangnya dalam saku salah satu di antara mereka sambil berkata. "Kalian jelaskan pada semua orang, ibu kalian sakit kan? Sakit butuh uang!" Riris menekan kata itu sambil menyipit ke arah kantong.

"Tolong maaf dan ampuni aku kepala suku, demi keselamatan ibuku, aku bekerja di sini. Masalah aku di kamar Nyonya Riris, itu karena aku mencuri perhiasannya, tapi langsung ketahuan oleh kalian." Dia gemetar memegang gelang itu. Sakit rasanya menelan kesalahan yang tidak dia lakukan harus diakui.

"Baiklah, mari kita kesampingkan perihal budak. Ini adalah buku catatan obat dan catatan jual beli bahan yang aku ambil milik dukun." Setelah berkata begitu, Liya menoleh, lalu memanggil. "Zuyi, kemarilah!"

Seekor berang-berang dengan kaki cacat berjalan pincang ke depan, ke kerumunan angsa. Berang-berang itu memegang obat terakhir yang belum jadi, bahkan mangkuk obat itu jelas milik suaminya.

Riris menjadi panik melihat itu, apalagi Feyyi, muka cantiknya menjadi pucat pasi.

"Ayah, sebagai kepala suku, engkau pasti bisa menilai. Dia adalah Zuyi. Berang-berang ini pincang karena terjatuh setelah kabur dan melarikan diri. Dia tanpa sengaja melihat dan mengintip beberapa kejadian. Mangkuk ini pasti semua orang sudah tahu milik siapa 'kan?" Liya mengangkat mangkuk yang di pegang berang-berang itu.

"Zuyi aku tolong, dia menceritakan semuanya padaku, makanya aku menanam sulur dan memakai debu elemen tanahku untuk melacak tumbuhan kering apa yang digunakan untuk obat. Rupanya, dukun memberikan aku racun, aku tidak tahu alasannya apa ingin meracunku. Kemudian juga menemukan hal lain, dia juga memberikan obat kepada beberapa betina di suku angsa, salah satunya obat gila! Kini juga ditemukan daun obat halusinasi. Semua orang pasti tau guna obat ini, jika dicampur dengan bunga saffron, jahe merah, gingseng merah, serta lainnya dengan dosis tertentu, menjadi obat afrodisiak yang kuat," urai Liya.

"Zuyi, ceritakan pada semua orang, apa saja yang kamu lihat!" pinta Liya.

Berang-berang itu sedikit takut, namun tetap bersuara demi keadilan. "Saya awalnya tak sengaja mendengar orang bertengkar, kemudian melihat Tante Riris menampar dukun, memaksanya, melukai tangannya, mengambil darahnya untuk membuat obat. Dukun menolak awalnya, tapi akhirnya melanjutkan membuat. Dua hari setelah itu, aku juga diam-diam mengikuti lagi, dukun membuat obat, tapi Tante Riris meminta lebih banyak dan obat lain untuk mencelakai suami Liya. Dukun berkata, Feyyi sudah punya banyak suami, untuk apa menganggu suami orang lain lagi, Tante Riris marah, memukulnya hingga mati, lalu menarik dengan tali ke tepi jurang, membuangnya."

"Gila!" Mata orang-orang menatap tajam Riris.

"Fitnah, dasar berang-berang pincang, jelek, kau memfitnah aku!" Riris marah.

"Ini buktinya." Ziyu menyerahkan obat yang belum jadi.

Duckiz menerima itu dan menciumnya. "Benar ini obat halusinasi." Dia membalik tubuh dukun. Di lehernya terlihat memerah tipis bekas terkena tali.

"Bakar saja dukun jahat ini! Bakar juga istrinya!"

"Iya, bakar!"

Feyyi berlutut. "Ayah angkat, ampunilah ibuku, pasti ini salah, mohon beri keadilan dan kebenaran. Tidak mungkin ibuku membunuh ayah."

"Apanya yang tidak mungkin, wanita ini berhati iblis dan sombong!" Angsa lain berseru.

Melihat para angsa-angsa marah dan mengamuk membuat Feyyi dan Riris menciut, apalagi setelah mendengar Duckiz mengizinkan tubuh dukun di bakar dan Riris di ikat di tiang dengan rantai, menunggu keputusan tetua angsa yang lain.

1
echa purin
👍
Lestari Ami'ne Zia
KK rozhhh kok upp nya lama bingitzz... g kaya puasa tiaph harii
Yani
Lanjut, semangat update terus Thorrr 🥰🥰🥰
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
ada ada aja ulah si rubah satu ini /Facepalm/
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
mulai terbongkar juga akhirnya kebusukan mereka
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
akhirnya up juga kak thor, udah lama menantikannya
Musdalifa Ifa
walaupun punya lama klo sekali up banyak begini sih oke aja✌️🤭🤭🤭
Marsya
liya ngamok tuch suamimu😉😉😉
restu s a
terimakasih thor.
q tunggu lanjutanya
restu s a
Semangat thor
restu s a
terimakasih thor
Lestari Ami'ne Zia
besok up LG ya KK rozhhh 💪💪
Lestari Ami'ne Zia
ad AP dengan loki
Lestari Ami'ne Zia
uchhhh mksh thorrr
Lestari Ami'ne Zia
🥰🥰🥰🥰udah up mksh
Lestari Ami'ne Zia
ohhh....... apakah Hiatus KK rozhhh
Ujang Surya
ditunggu lagi up selanjutnya thor
Ujang Surya
eh Riris ulat bulu
Lestari Ami'ne Zia
😌harus menunggu BRP lama LG KK rozhhh Upin.ya
restu s a
lanjut thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!