NovelToon NovelToon
Milik Sang Kapten

Milik Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Menyembunyikan Identitas / Romansa
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
​Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
​"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Kabar Burung di Balik Dinding Sekolah

Pagi itu, suasana SMA Garuda Kencana terasa sedikit mencekam. Di balik ketenangan semu, ada sebuah rahasia yang mulai bersemi di antara Karline dan Dean. Mereka sepakat untuk merahasiakan kedekatan mereka. Karline merasa belum saatnya seluruh sekolah tahu, apalagi ia belum sepenuhnya menerima Dean sebagai pacarnya. Ia masih butuh waktu untuk benar-benar percaya bahwa perubahan Dean adalah permanen.

​Dean sendiri sangat mengerti posisi Karline. Ia tidak memaksa. Baginya, bisa melihat senyum tulus Karline setiap pagi sudah lebih dari cukup. Ia mencoba masuk ke hidup Karline secara perlahan, seperti tetesan air yang perlahan melubangi batu.

​Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Clarissa, yang hatinya sudah dipenuhi rasa iri dan benci, tidak tinggal diam. Sejak kejadian di taman, ia terus menguntit gerak-gerik mereka berdua. Ia merasa ada yang tidak beres. Bagaimana bisa seorang Dean yang angkuh mendadak menjadi pelindung bagi Karline?

​Pagi itu, di area dekat laboratorium yang sepi, Clarissa melihat Dean dan Karline sedang berbicara berdua. Dari kejauhan, ia memperhatikan Karline secara tidak sengaja mengusap perutnya sambil tertawa kecil, teringat ucapan konyol Nenek Aminah kemarin sore. Dean pun tertawa, menunjuk ke arah perut Karline lalu menunjuk dirinya sendiri, seolah sedang memperagakan adegan "suami-istri" palsu yang mereka alami.

​Di mata Clarissa yang sudah gelap mata, pemandangan itu diterjemahkan secara mengerikan.

​"Gak mungkin... Karline mengusap perut? Dean menunjuk dirinya sendiri? Apa jangan-jangan... Karline hamil?" batin Clarissa dengan napas memburu.

​Pikiran jahat langsung merasuki otaknya. Ia berpikir bahwa Karline sedang meminta pertanggungjawaban, dan Dean tampak bingung namun mencoba menenangkan. Tanpa mencari tahu kebenarannya, Clarissa langsung menyebarkan desas-desus itu lewat akun-akun gosip sekolah dan grup-grup privat.

​Hanya dalam hitungan jam, suasana sekolah berubah drastis. Saat jam istirahat, Karline berjalan menuju kantin dan menyadari ada yang salah. Orang-orang tidak lagi menatapnya dengan kekaguman, melainkan dengan bisik-bisik yang penuh selidik. Ada tatapan kasihan, ada pula tatapan menghina.

​"Eh, denger-denger si primadona itu 'isi' ya?"

"Serius? Sama siapa? Kak Dean?"

"Katanya sih gitu, tapi Kak Dean nggak mau tanggung jawab. Makanya mereka sering berantem diam-diam."

​Suara-suara itu sampai ke telinga rombongan kelas XI-IPA 2. Bimo, Faras, dan Andi yang sedang makan langsung berdiri tegak. Wajah mereka merah padam menahan amarah.

​"Siapa yang bikin gosip sampah kayak gini!" teriak Faras hingga seisi kantin menoleh.

​Di pojok lain, Dean yang sedang bersama Raka dan Rio juga mendengar desas-desus itu. Rio langsung menatap Dean dengan tatapan tak percaya. "Dean, ini beneran? Lo sama Karline...?"

​"Jaga mulut lo, Rio!" bentak Dean, matanya berkilat marah. "Siapa pun yang mulai fitnah ini, gue bakal bikin dia nggak bisa sekolah lagi!"

​Dean langsung berdiri dan berjalan cepat menuju meja Karline. Karline sendiri hanya diam, wajahnya tenang meski di dalam hatinya ia merasa sangat muak. Ia tidak menyangka bahwa keramahannya kemarin sore di pemukiman kumuh akan dipelintir menjadi fitnah yang begitu menjijikkan.

​Teman-teman sekelas Karline tetap berada di barisan terdepan. Mereka tetap membela Karline. "Kami nggak percaya! Karline itu anak baik-baik, dia setiap hari sama kami!" seru Sarah dengan berani, meski suaranya sedikit gemetar. Namun, anehnya, kali ini mereka juga tidak menyalahkan Dean sepenuhnya, karena mereka melihat betapa protektifnya Dean pada Karline belakangan ini.

​Dean sampai di depan meja Karline. Ia menatap Karline dengan penuh rasa bersalah. "Karline, maaf... ini pasti karena kejadian kemarin sore. Aku nggak nyangka akan jadi seperti ini."

​Karline mendongak, menatap Dean dengan tenang. "Ini bukan salahmu sepenuhnya, Dean. Ini salah orang yang sengaja mencari-cari kesalahan kita."

​Tepat saat itu, Clarissa lewat dengan senyum kemenangan di wajahnya. Karline berdiri, membuat suasana kantin menjadi hening seketika.

​"Clarissa," panggil Karline dengan suara yang renyah namun sangat tajam. "Kamu pikir dengan menyebarkan fitnah bahwa aku hamil, kamu bisa menjatuhkanku? Kamu pikir kamu bisa merebut Dean dengan cara serendah ini?"

​Clarissa berpura-pura kaget. "Lho, aku nggak bilang apa-apa ya. Orang-orang cuma ngomongin apa yang mereka liat di taman tadi pagi. Kamu pegang perut, kan? Dean juga nunjuk-nunjuk, kan?"

​Karline tertawa hambar. Ia melangkah mendekati Clarissa hingga jarak mereka hanya beberapa senti. "Dengar ya, Clarissa. Apa yang kamu lihat itu adalah kebahagiaan yang tidak akan pernah kamu rasakan. Aku mengusap perutku karena aku baru saja membantu memberi makan orang-orang kelaparan di luar sana, hal yang tidak akan pernah terpikirkan oleh otak sempitmu."

​Dean maju, berdiri tepat di samping Karline dan menggenggam tangan gadis itu dengan erat di depan semua orang.

​"Dengar semuanya!" teriak Dean dengan suara baritonnya yang menggema. "Siapa pun yang berani meneruskan fitnah tentang Karline, kalian berurusan sama gue. Dan buat lo, Clarissa, kalau lo pikir gue bakal baik sama lo setelah ini, lo salah besar. Lo baru saja bikin gue makin muak liat wajah lo."

​Fitnah itu bukannya memisahkan mereka, justru membuat Dean semakin berani menunjukkan posisinya. Karline yang tadinya ragu, kini melihat betapa Dean berani mempertaruhkan reputasinya demi membelanya di depan umum.

​"Gue pergi duluan, Dean. Di sini udaranya kotor," ajak Karline.

"Gue ikut." Susul Dean.

​Mereka berdua berjalan keluar dari kantin sambil bergandengan tangan, meninggalkan Clarissa yang berdiri mematung dengan wajah yang sangat malu. Namun, masalah belum selesai. Karline tahu, fitnah seperti ini tidak akan hilang hanya dengan kata-kata. Ia harus melakukan sesuatu yang lebih besar untuk membungkam mulut mereka semua, sementara Dean berjanji dalam hati bahwa ia akan mencari tahu siapa dalang di balik penyebaran pesan di grup sekolah.

1
Anonymous
jgn gantung dong thor 😭
jajangmyeon
Suka banget sama ceritanya! Alurnya menarik dan karakternya juga bikin penasaran. Pokoknya recommended, yang lain wajib baca! 😆✨
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentarmu yang sangat positif 💞
total 1 replies
Anonymous
loh kok beda thor?
Anonymous: oke thorr, semangat selalu 💪😎
total 2 replies
jajangmyeon
wihhhhh seru nii
brawijaya Viloid
yey cerita baru 😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!