NovelToon NovelToon
Sang Legenda Telah Kembali

Sang Legenda Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.

Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.

Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.

Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 34

Suasana di kediaman utama cabang keluarga Eldersheath siang itu tampak begitu sibuk namun tertata.

Kereta kuda mewah dengan lambang keluarga yang terukir di pintu kayu mahoganinya baru saja berhenti di depan lobi utama yang megah.

Anak tangga marmer putih yang berkilauan menyambut kepulangan sang putri jenius, Clara Eldersheath.

Clara turun dari kereta dengan gerakan yang anggun namun tetap menyimpan kesan dingin yang menjadi ciri khasnya.

Di belakangnya, seorang pelayan setia mengekor dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tidak mendahului sang nona muda.

Begitu pintu ganda setinggi tiga meter itu terbuka, barisan pelayan yang sudah bersiap di lobi segera membungkuk serentak.

"Selamat datang kembali, Nona Clara," ucap mereka hampir bersamaan, sebuah sambutan protokoler yang sudah menjadi rutinitas harian.

Clara hanya mengangguk tipis, nyaris tak terlihat, sebelum langkah kakinya terhenti oleh sebuah suara berat yang bergema dari arah koridor tengah.

"Clara? Kau sudah pulang, Nak?"

Seorang pria paruh baya dengan setelan jas formal berwarna biru navy melangkah mendekat.

Wajahnya memiliki garis tegas yang serupa dengan Robert, sang kepala keluarga besar, namun tatapan matanya jauh lebih tenang dan penuh perhitungan.

Ia adalah Hugo Eldersheath putra kedua Robert, adik dari Marc, sekaligus ayah kandung Clara.

Hugo selama ini dikenal sebagai otak di balik stabilitas ekonomi keluarga Eldersheath, pria yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan angka dan neraca perdagangan daripada pedang.

"Ayah," Clara membungkuk hormat, suaranya tetap datar.

"Benar, Ayah. Aku baru saja kembali dari gereja di ibu kota."

Hugo tersenyum tipis, menghampiri putrinya dan menepuk bahunya dengan lembut. "Baguslah. Ibadah adalah hal penting untuk menjaga ketenangan jiwa sebelum memulai latihan berat. Aku hanya ingin memberitahumu, guru bimbingan sihir es yang aku sewa dari akademi pusat sudah sampai di ruang latihan sejak sepuluh menit yang lalu. Beliau sangat disiplin. Apa kau merasa terlalu lelah, atau kau ingin segera memulai?"

Clara menatap ayahnya dengan tatapan jernih. Pikirannya sejenak melayang kembali pada percakapan anehnya dengan Ilwa di bawah pohon cedar tadi, tentang 'Sang Pencipta' dan eksistensi dewa yang tidak turun ke bumi. Namun, ia segera menekan rasa pusing itu ke dasar kesadarannya.

"Aku akan latihan sekarang, Ayah. Tidak perlu menunggu lama," jawab Clara tegas.

"Sangat bersemangat, seperti biasanya," Hugo tertawa kecil. "Pergilah ganti bajumu. Gunakan pakaian latihan yang nyaman."

Clara mengangguk, lalu berbalik dan menaiki tangga menuju kamarnya diikuti oleh pelayannya.

Hugo berdiri di tengah lobi, menatap punggung putrinya hingga menghilang di tikungan koridor lantai dua.

Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi serius seorang pebisnis yang selalu waspada.

Ia menoleh ke arah pelayan paruh baya yang tadi mendampingi Clara ke gereja.

Pria itu memberi isyarat agar pelayan tersebut mendekat.

"Beritahu aku," bisik Hugo, suaranya kini rendah dan tajam.

"Apakah ada hal lain yang terjadi di gereja tadi? Sesuatu yang tidak biasa?"

Pelayan perempuan itu menunduk dalam, tangannya bertaut di depan perut. "Melapor, Tuan Hugo. Sebenarnya... tadi Nona Clara sempat menghabiskan waktu cukup lama di halaman gereja untuk berbicara dengan Tuan Muda Ilwa."

Hugo mengerutkan keningnya, alisnya terangkat karena terkejut. "Ilwa? Maksudmu... anak dari Elara?"

"Benar, Tuan. Putra dari adik perempuan Anda," jawab pelayan itu dengan sangat hati-hati.

Hugo terdiam sejenak.

Nama Ilwa hampir tidak pernah mampir di meja kerjanya.

Selama bertahun-tahun, ia terlalu sibuk mengurus ekspansi perusahaan ekonomi keluarga, memastikan pundi-pundi emas klan Eldersheath tetap penuh untuk membiayai ambisi politik Marc dan pelatihan militer Robert.

Ia tahu nasib malang yang menimpa Elara, adiknya, dan ia tahu anak itu dianggap sebagai 'sampah' yang cacat sejak lahir. Namun, ia tidak pernah memiliki waktu atau minat untuk ikut campur dalam urusan paviliun terpencil itu.

"Anak itu..." Hugo bergumam sendiri, mencoba mengingat kapan terakhir kali ia melihat wajah keponakannya tersebut.

"Dia masih hidup rupanya. Apa yang mereka bicarakan?"

"Saya tidak berani mendekat terlalu dekat, Tuan. Namun Nona Clara tampak... sedikit linglung setelah pembicaraan itu selesai," lapor sang pelayan lagi.

Hugo mengusap dagunya yang dicukur rapi. Ia tahu Clara bukan anak yang mudah dipengaruhi oleh pembicaraan kosong.

Jika Ilwa bisa membuat Clara merasa linglung, maka ada sesuatu yang aneh.

Namun, setelah menimbang sejenak, Hugo hanya menghela napas pendek.

Baginya, urusan keluarga yang tidak menguntungkan secara ekonomi adalah urusan yang membuang waktu.

"Begitu ya. Kalau begitu biarkan saja," ucap Hugo dingin.

"Selama itu tidak mengganggu jadwal latihan Clara dan tidak membawa masalah bagi stabilitas keluarga, aku tidak peduli. Biarkan mereka bermain sesama sepupu."

Hugo berbalik, jubah panjangnya berkibar saat ia melangkah menuju ruang kerjanya yang dipenuhi tumpukan kertas laporan.

Ia meninggalkan lobi tanpa menyadari bahwa keponakan yang ia abaikan itu baru saja menanamkan benih keraguan yang sangat dalam di kepala putri kesayangannya—sebuah benih yang kelak akan mengubah jalannya sejarah keluarga mereka selamanya.

------

Langkah kaki Hugo bergema di sepanjang koridor sunyi menuju ruang kerja pribadinya.

Pikirannya masih terbagi antara laporan fluktuasi harga kristal mana di pasar pusat dan laporan singkat pelayannya tentang pertemuan Clara dengan Ilwa tadi siang.

Namun, begitu ia mendorong pintu ganda dari kayu ek hitam yang berat itu, langkahnya terhenti seketika.

Aroma cerutu mahal yang menyengat langsung menyerbu indra penciumannya.

Di sana, di balik meja kerja mahogani miliknya yang besar, sesosok pria duduk dengan santai di kursi kebesaran Hugo.

Pria itu menyilangkan kaki, asap putih mengepul dari mulutnya, menutupi sebagian wajahnya yang penuh kemenangan.

"Kakak?" Hugo bergumam, matanya menyipit karena terkejut. "Marc? Sejak kapan kau ada di sini?"

Marc, sang putra sulung sekaligus pewaris utama klan Eldersheath, hanya tertawa rendah—sebuah tawa yang terdengar sangat puas dan penuh rahasia.

Ia tidak segera menjawab, melainkan mengetukkan abu cerutunya ke asbak kristal yang ada di atas meja Hugo, seolah-olah ia adalah pemilik ruangan tersebut.

"Jangan terlalu tegang, Adikku sayang," ucap Marc sambil tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi namun dingin.

"Aku baru saja tiba beberapa menit yang lalu. Kepala pelayanmu sangat kooperatif, ia membiarkanku masuk karena tahu kita punya banyak hal untuk dirayakan."

Hugo menghela napas panjang, mencoba meredam rasa kesal karena privasinya baru saja dilanggar.

Ia melangkah maju, menarik kursi kayu di depan mejanya sendiri, dan duduk berhadapan dengan kakaknya.

Ketegangan di antara mereka berdua selalu terasa seperti kabel yang ditarik kencang; satu adalah otot klan, dan yang lainnya adalah otak ekonomi.

"Jadi, ada keperluan mendesak apa hingga kau jauh-jauh datang dari kediaman utama ke kantorku ini?" tanya Hugo dengan nada menyelidik.

"Biasanya kau hanya mengirimkan utusan jika menyangkut anggaran militer atau biaya pelatihan Leo."

Marc menyesap cerutunya dalam-dalam sebelum meletakkannya di tepi asbak. Senyumnya tidak memudar, justru semakin lebar.

"Aku datang karena ada sesuatu yang sangat penting yang ingin aku bicarakan denganmu secara pribadi. Sesuatu yang akan menentukan masa depan klan kita dalam sepuluh tahun ke depan."

Hugo menyandarkan punggungnya, melipat tangan di depan dada. "Kalau begitu, katakanlah. Urusan apa yang membuatmu begitu bersemangat hingga mengabaikan protokol formal?"

Marc tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia merogoh saku jubahnya yang elegan dan mengeluarkan sebuah gulungan kulit tua yang tampak sangat berharga.

Dengan gerakan dramatis, ia membentangkan gulungan itu di atas meja Hugo, menutupi tumpukan laporan neraca perdagangan yang tadi sedang dikerjakan Hugo.

Itu adalah sebuah peta topografi yang sangat detail, menggambarkan wilayah perbatasan antara wilayah kekuasaan Eldersheath dan kerajaan tetangga.

Marc mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berkilat penuh ambisi saat ia menunjuk sebuah wilayah yang ditandai dengan lingkaran merah kecil di area lembah terpencil.

"Lihat ini, Hugo," ucap Marc, suaranya merendah menjadi bisikan yang penuh penekanan. "Wilayah **Lembah Veridia**."

Hugo mengerutkan keningnya, menatap titik yang ditunjuk kakaknya.

"Lembah Veridia? Bukankah itu hanya daerah tandus yang dipenuhi hutan lebat dan monster tingkat rendah? Wilayah itu hampir tidak memiliki nilai ekonomi. Penduduknya hanya terdiri dari pengembara dan pemburu liar."

Marc tertawa lagi, kali ini terdengar lebih tajam. "Itulah yang kupikirkan selama ini. Itu juga yang dipikirkan oleh klan-klan saingan kita. Namun, agen rahasiaku—yang baru saja kembali dari sana—menemukan sesuatu yang akan membuatmu melompat dari kursimu. Di bawah lapisan tanah tandus Veridia, tersembunyi urat nadi mana yang belum pernah terjamah. Sebuah tambang kristal mana murni tingkat tinggi, Hugo! Dan jumlahnya... jumlahnya bisa membiayai pasukan kita selama tiga generasi."

Hugo tersentak, matanya membelalak menatap peta tersebut.

Sebagai seorang pengelola ekonomi, ia tahu persis apa artinya penemuan tambang kristal mana murni.

Itu bukan sekadar uang; itu adalah kekuasaan absolut. Siapa pun yang menguasai Veridia, akan menguasai suplai energi kerajaan.

"Kau serius, Marc?" tanya Hugo, suaranya bergetar karena campuran antara rasa tidak percaya dan keserakahan yang mulai tumbuh.

"Aku tidak pernah seserius ini," jawab Marc sambil menatap tajam ke arah adiknya.

"Dan di sinilah peranmu dimulai. Aku butuh kau untuk mengatur pengambilalihan wilayah ini secara 'legal' melalui jalur ekonomi sebelum klan lain mencium aromanya. Kita akan membeli tanah itu dengan harga sampah sebelum mereka menyadari apa yang ada di bawahnya."

Marc menepuk peta itu dengan telapak tangannya, seolah-olah ia sudah menggenggam seluruh wilayah tersebut di dalam kepalannya.

Di ruangan yang remang-remang itu, kedua bersaudara tersebut mulai menyusun rencana gelap yang akan menyeret klan mereka ke dalam pusaran konflik yang lebih besar.

tanpa menyadari bahwa di paviliun yang jauh, sang keponakan yang mereka abaikan sudah mulai mencium aroma pengkhianatan ini melalui jaring informasinya.

------

Asap cerutu Marc menari-nari di udara, menciptakan selapis kabut tipis yang memisahkan kedua bersaudara itu.

Hugo menatap peta di atas meja dengan dahi berkerut dalam.

Sebagai seorang pria yang membangun kekuasaannya di atas deretan angka dan analisis risiko yang presisi, instingnya berteriak bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Lembah Veridia bukanlah sekadar tanah kosong; itu adalah lubang hitam dalam catatan sejarah klan mana pun.

"Lembah Veridia..." Hugo menggumam, suaranya terdengar berat dan skeptis.

Ia mengetukkan jemarinya di atas meja kayu ek yang mengilap.

"Kakak, aku menghargai semangatmu untuk memperluas pundi-pundi klan, tapi aku tidak bisa begitu saja menelan informasi ini. Wilayah itu hanyalah hutan tandus yang ditinggalkan oleh peradaban. Logikanya sederhana: jika memang ada urat nadi mana murni di sana, kenapa klan-klan besar sejak era lima ratus tahun lalu membiarkannya terbengkalai?"

Marc tertawa, sebuah tawa yang terdengar meremehkan. "Karena mereka bodoh, Hugo! Mereka terlalu takut pada bayang-bayang mereka sendiri. Laporan agenku sangat akurat, mereka menggunakan detektor mana spektrum tinggi—"

"Masalahnya bukan hanya pada detektor mana, Kak!" Hugo memotong dengan tegas, suaranya naik satu oktaf.

Ia berdiri, berjalan menuju lemari arsip di sudut ruangan, dan menarik sebuah gulungan tua yang berisi catatan ekspedisi militer. "Apakah kau lupa rumor yang menyelimuti hutan itu? Veridia bukan hanya dihuni oleh *beast* tingkat rendah. Ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya di sana."

Hugo membentangkan catatan itu di samping peta Marc. "Kau ingat organisasi **Iron Fang**? Mereka adalah kelompok *mercenary* (tentara bayaran) paling brutal yang pernah ada. Mereka memiliki ribuan anggota dan persenjataan yang bisa meruntuhkan satu benteng kota dalam semalam. Dua tahun lalu, mereka mencoba melewati Veridia untuk memotong jalur logistik perang."

Hugo menatap mata Marc dengan tajam. "Hasilnya? Pemimpin mereka, sang *Mercenary King* yang legendaris, pulang dengan tangan kosong dan pasukan yang tersisa kurang dari sepertiga. Pria itu—yang konon bisa membelah bukit dengan kapaknya—mengeluarkan pernyataan resmi bahwa ia tidak akan pernah menginjakkan kaki di Veridia lagi, berapapun emas yang ditawarkan. Dia mundur karena ketakutan, Marc. Bukan karena kurang keberanian."

Marc mendengus, mematikan cerutunya di asbak dengan kasar hingga abunya berhamburan.

"Tentara bayaran adalah pengecut yang hanya memikirkan nyawa mereka sendiri. Kita adalah Eldersheath! Kita punya ksatria sihir, kita punya sumber daya!"

"Tapi kita tidak punya nyawa cadangan untuk dibuang!" balas Hugo tak kalah sengit.

"Dengarkan aku baik-baik. Aku sudah melakukan riset mandiri jauh sebelum kau datang kemari. Aku sudah mengukur wilayah itu melalui pemetaan udara dan menghitung potensi kerugiannya."

Hugo menunjuk perbatasan yang ada di peta dengan pena bulunya.

"Veridia bukan sekadar hutan. Lokasinya berada tepat di titik buta perbatasan antara Kerajaan kita dan **Kerajaan Spade**. Kau tahu apa artinya itu? Itu adalah wilayah 'Zona Abu-abu'. Jika kita mulai melakukan penggalian besar-besaran di sana, Kerajaan Spade akan menganggapnya sebagai agresi militer. Kita tidak hanya akan melawan *beast* yang membantai *Iron Fang*, tapi kita juga akan memicu perang terbuka dengan kerajaan tetangga yang haus darah itu."

Marc tersentak.

Wajahnya yang tadinya penuh kemenangan kini memerah karena amarah yang tertahan. Ia berdiri, menatap adiknya dengan tatapan yang bisa membakar kulit.

"Jadi kau menolak? Kau menolak kesempatan untuk meningkatkan penghasilan keluarga Eldersheath hingga sepuluh kali lipat hanya karena kau takut pada rumor dan masalah diplomatik?"

"Aku tidak menolak keuntungan, aku menolak bunuh diri," jawab Hugo dengan dingin, ia kembali duduk dan merapikan tumpukan kertasnya, sebuah tanda bahwa diskusi ini telah usai di matanya.

"Jika memang benar ada tambang kristal di sana, itu memang hadiah dari langit. Tapi jika informasi itu salah, kita hanya akan mengantarkan nyawa ksatria terbaik kita ke mulut monster, sambil memberikan alasan bagi Kerajaan Spade untuk menyerbu wilayah kita. Resikonya terlalu besar, Marc. Aku tidak akan mencairkan anggaran sepeser pun untuk kegilaan ini."

Ruang kerja itu mendadak menjadi sangat dingin.

Marc menatap adiknya dengan kebencian yang mendalam, urat-urat di lehernya menegang.

Ia tidak menyangka Hugo akan seberani ini menentang ambisinya.

"Kau akan menyesal karena terlalu berhati-hati, Hugo," bisik Marc dengan nada mengancam.

"Saat aku menemukan cara untuk mengambil Veridia tanpa bantuanmu, jangan harap kau atau Clara akan mencicipi setetes pun dari kemakmuran itu."

Marc menyambar petanya dengan kasar, menggulungnya kembali, dan melangkah keluar dari ruangan dengan bantingan pintu yang menggetarkan seluruh bingkai jendela.

Hugo hanya terdiam, menatap pintu yang tertutup itu dengan napas berat.

Ia tahu kakaknya tidak akan berhenti di sini. Keserakahan Marc telah membutakannya, dan Hugo hanya bisa berharap bahwa keputusannya hari ini tidak akan menjadi awal dari keruntuhan klan mereka.

Di luar, matahari mulai tenggelam, menyisakan bayangan panjang yang seolah-olah merangkak masuk ke dalam ruangan, membawa firasat buruk tentang apa yang tersembunyi di dalam kegelapan Lembah Veridia.

**BERSAMBUNG.**

1
Orimura Ichika
oke sih
Ilwa Nuryansyah
terimakasih banyak 😄😄
black_rose
Karyamu masterpiece teruskan dan semagattt(っ´▽`)っ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!