NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:744
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Faktanya Kami Tidak Sedarah

Alessia menutup buku agendanya dengan bantingan pelan, matanya menatap kosong ke arah deretan gedung pencakar langit Seoul dari balik jendela kaca kantornya. Kesimpulan pahit itu akhirnya mengendap di dasar hatinya: Nathaniel benar-benar menarik garis tegas. Bagi pria itu, Alessia hanyalah tugas, tanggung jawab, dan seorang adik yang harus dijaga martabatnya.

Namun, di balik rasa sesak itu, sebuah percikan pemberontakan mulai menyala di benak Alessia. Ia bukan tipe wanita yang mudah menyerah pada kata "aman" yang dilemparkan Nathaniel.

"Aku dan dia tidak sedarah. Secara hukum dan biologis, tidak ada salahnya kan menyukainya?" gumam Alessia lirih, mempertanyakan batasan moral yang selama ini membelenggu mereka.

Ia menyandarkan punggungnya, memutar kursi kerjanya perlahan. Logika Alessia mulai bekerja mencari pembenaran. Sepuluh tahun lalu, Nathaniel datang sebagai orang asing yang kemudian menjadi pelindung paling setia. Tidak ada ikatan genetik yang mengalir di nadi mereka. Satu-satunya yang menghalangi adalah rasa hormat Nathaniel yang terlalu besar pada ayahnya, William Sinclair.

"Kalau Kak Nathan pikir dia bisa mendorongku menjauh dengan bersikap formal, dia salah besar," bisik Alessia dengan tekad baru yang berkilat di matanya.

Jika Nathaniel memilih untuk menjadi dinding beton, maka Alessia akan menjadi air yang perlahan-lahan mencari celah untuk masuk. Ia tidak akan lagi merengek seperti anak kecil; ia akan menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang wanita yang pantas berdiri di samping Nathaniel, bukan di bawah ketiaknya.

Alessia meraih ponselnya, jemarinya lincah mengetik pesan singkat. Bukan untuk Nathaniel, melainkan untuk seseorang yang mungkin bisa ia gunakan untuk memancing "sang singa jantan" keluar dari sarang persembunyiannya.

"Noah, tawaran mencoba unit mobil sport-mu masih berlaku? Aku butuh udara segar sore ini."

Alessia tersenyum tipis. Jika Nathaniel ingin mereka bersikap profesional dan fokus pada pekerjaan, maka Alessia akan menunjukkan betapa "profesionalnya" ia menjalin hubungan strategis dengan mitra bisnis keluarga mereka. Ia ingin melihat, sampai kapan Nathaniel bisa bertahan dengan topeng "kakak" itu saat melihat pria lain mencoba mengambil tempat di sampingnya.

———

Pagi itu, area Luxury Landmark mall masih terasa tenang sebelum jam operasional resmi dimulai. Namun, deru mesin V8 yang berat dan bertenaga sudah menggema di area test drive khusus yang terhubung dengan showroom Noah. Alessia duduk di kursi pengemudi sebuah unit mobil sport berkelir merah metalik yang tampak agresif, jemarinya mencengkeram kemudi kulit yang masih beraroma baru.

Noah berdiri di samping pintu mobil, memberikan instruksi singkat dengan senyum bangga. Ia senang Alessia akhirnya menerima tawarannya. Namun, kesenangan itu terinterupsi oleh langkah kaki yang terburu-buru dan berat.

Nathaniel muncul dari arah lift eksekutif. Wajahnya tampak tegang, matanya langsung tertuju pada sosok Alessia yang sudah siap menginjak pedal gas. Rasa khawatir seketika membakar dadanya; ia tahu betul bahwa mobil sport dengan tenaga sebesar itu bukanlah mainan. Karakteristiknya liar, sangat berbeda dengan mobil harian yang biasa dikendarai sopir Alessia.

Nathaniel mendekati mobil itu dengan langkah lebar, mengabaikan sapaan Noah yang hendak menyapa. Ia berdiri tepat di samping pintu pengemudi, menatap Alessia yang balik menatapnya dengan pandangan menantang.

"Gunakan seatbelt," pinta Nathaniel rendah. Suaranya tidak terdengar seperti perintah atasan, melainkan seperti pria yang ketakutan akan kehilangan sesuatu yang paling berharga.

Alessia terdiam sejenak, tangannya masih menggantung di udara. "Aku tahu cara mengendarai mobil, Kak. Jangan berlebihan," sahutnya, mencoba tetap pada strateginya untuk bersikap mandiri.

Namun, Nathaniel tidak bergeming. Ia membungkukkan tubuhnya, masuk ke area kabin yang sempit hingga wajahnya kembali berada dalam jarak yang sangat dekat dengan Alessia. Aroma parfum maskulinnya seketika memenuhi ruang sempit itu, memicu kembali debaran jantung Alessia yang belum juga reda sejak kemarin.

Tanpa menunggu persetujuan, tangan Nathaniel meraih sabuk pengaman di samping bahu Alessia. Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia menarik sabuk itu menyilang di dada Alessia. Klik. Suara pengunci seatbelt itu terdengar jelas di tengah kesunyian.

"Mobil ini punya tenaga yang tidak bisa kamu duga, Al. Jangan pernah menganggap remeh keselamtanmu hanya untuk membuktikan sesuatu padaku," bisik Nathaniel tepat di telinga Alessia sebelum ia menarik diri kembali.

Nathaniel kemudian menoleh ke arah Noah, tatapannya tajam dan mengintimidasi. "Pastikan sistem keamanannya aktif, Noah. Jika terjadi goresan sekecil apa pun pada adikku, aku akan menutup proyek showroom ini sebelum diresmikan."

Deru mesin mobil sport itu akhirnya mereda, menyisakan keheningan yang sarat akan ketegangan di area test drive. Alessia keluar dari kabin kemudi dengan napas yang sedikit memburu, rambut panjangnya tampak sedikit berantakan karena terpaan angin kencang saat ia memacu mobil tadi.

Noah, dengan gerakan yang tampak begitu natural dan penuh perhatian, melangkah mendekat. "Hebat juga caramu mengendalikan mesin liar itu, Al," pujinya sambil mengulurkan tangan, jemarinya perlahan merapikan helaian rambut Alessia yang menutupi wajahnya.

Sentuhan itu singkat, namun efeknya luar biasa bagi Nathaniel yang berdiri hanya beberapa langkah di belakang mereka. Rahang Nathaniel mengeras seketika. Ia merasa ada sesuatu yang panas membakar dadanya, sebuah dorongan untuk menepis tangan Noah, namun ia segera memenjarakan emosi itu di balik topeng profesionalnya yang dingin. Ia harus mempertahankan diri agar tidak terlihat seperti pria pencemburu di depan publik.

"Jika sudah selesai, ayo kembali ke ruangan. Masih banyak berkas yang harus kamu tinjau," ajak Nathaniel dengan suara datar yang tidak menyisakan ruang untuk debat.

Alessia menoleh, memberikan senyum kemenangan yang sangat tipis pada Nathaniel sebelum beralih kembali ke arah Noah. "Terima kasih banyak, Noah! Pengalamannya luar biasa," ujarnya dengan nada yang sengaja dibuat lebih manis dari biasanya.

Noah hanya terkekeh, tidak menyadari (atau mungkin sengaja mengabaikan) tatapan tajam dari sang Direktur Utama.

Alessia melangkah mendahului Nathaniel menuju lift eksekutif, membiarkan pria itu mengikutinya dari belakang. Di dalam lift yang berdinding cermin, Alessia mencuri pandang ke arah pantulan wajah Nathaniel yang tampak sangat kaku.

"Misi pertama, sudah selesai," gumam Alessia dalam hati dengan penuh kepuasan. Ia berhasil memancing reaksi "singa jantan" itu, meski Nathaniel masih berusaha keras untuk tidak mengaum.

"Misi kedua adalah menjadi wanita dewasa di depan Nathaniel," lanjutnya lagi dalam batin. Ia bertekad untuk tidak lagi merengek atau bertingkah manja. Ia akan menunjukkan bahwa ia adalah rekan kerja yang kompeten, wanita yang mandiri, dan seseorang yang bisa membuat Nathaniel merasa terancam kehilangan jika terus-menerus menganggapnya sebagai "adik kecil".

Sesampainya di ruangan, Alessia tidak langsung duduk. Ia melepas blazer-nya, menggulung lengan kemejanya sedikit, dan langsung meraih tumpukan dokumen tanpa menunggu instruksi. Ia ingin Nathaniel melihat bahwa ia bukan lagi gadis yang hanya bisa mengekor di belakang punggungnya.

"Mau matcha?" tanya Nathaniel lembut. Ia tahu betul bahwa matcha latte dengan tambahan gula adalah minuman favorit Alessia setiap kali ia merasa lelah atau tertekan.

Alessia tidak mendongak dari tumpukan berkasnya. Ia hanya mengangkat satu tangannya sedikit, memberikan gestur penolakan yang tegas namun sopan.

"No... no... aku mau kopi," ucap Alessia, suaranya terdengar dingin dan lugas.

Nathaniel tertegun di depan mesin kopi, tangannya menggantung di udara. Ia mengernyitkan dahi, menatap punggung Alessia dengan rasa heran yang tak terbendung. Kopi? Sejak kapan Alessia menyukai kopi hitam yang pahit? Selama sepuluh tahun ini, Alessia selalu menghindari rasa pahit; ia adalah definisi dari segala sesuatu yang manis dan lembut.

"Kopi? Kamu yakin? Bukannya kamu tidak suka rasa pahit?" Nathaniel mencoba memastikan, berharap ini hanya sekadar gurauan.

"Orang bisa berubah, Kak. Lagipula, wanita dewasa butuh kafein untuk tetap fokus, bukan sekadar susu berwarna hijau," jawab Alessia tenang, kali ini ia mendongak dan menatap Nathaniel dengan tatapan yang sulit dibaca.

Nathaniel terdiam. Kalimat "wanita dewasa" itu seperti tamparan halus bagi egonya. Ia menyadari bahwa Alessia sedang berusaha menanggalkan citra "adik kecil" yang selama ini ia sematkan pada gadis itu. Meski merasa ada yang hilang dari sosok Alessia yang ceria, Nathaniel tetap menuruti permintaan itu.

Ia menyiapkan secangkir Americano tanpa gula. Aroma pahit yang kuat segera memenuhi ruangan. Saat ia meletakkan cangkir porselen putih itu di meja Alessia, ia memperhatikan jemari lentik gadis itu yang kini tampak begitu mantap memegang cangkir, tanpa keraguan sedikit pun.

Nathaniel kembali ke mejanya dengan perasaan yang semakin tidak menentu. Baginya, perubahan selera Alessia dari matcha ke kopi pahit bukan sekadar soal minuman, itu adalah pesan bahwa Alessia sudah siap menghadapi kenyataan pahit di antara mereka, meski Nathaniel sendiri masih terjebak dalam rasa takutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!