NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cinta Seiring Waktu / Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Dengan mata yang terbelalak, Sarah menyaksikan kedua orang tuanya ditangkap oleh sekelompok orang berjas hitam melalui sela pintu lemari tempatnya bersembunyi. Jantungnya berdebar kencang, setiap denyutnya menggema di seluruh tubuh yang gemetar, sementara tangannya memegang erat inhaler dan menutup mulutnya agar tak terdengar suara apapun.

Dia harus menunggu, mengumpulkan setiap keberanian yang tersisa, menantikan para penyusup itu pergi agar dia dapat segera mencari bantuan. Setelah ketenangan mulai menyelimuti rumahnya yang sepi, Sarah segera meraup oksigen sebanyak yang dia bisa dan menghirup inhaler dengan napas tersengal. Hanya dengan sisa tenaga yang dimilikinya, dia melompat keluar dari lemari, kakinya membawa dia secepat mungkin menuju ke luar. Keringat dingin mengalir di dahi Sarah saat dia berlari mencari taksi di malam yang menyesakkan, menuju satu-satunya tempat yang mungkin bisa dia percayai—rumah yang selama ini dia hindari, namun dalam situasi putus asa ini, tak ada pilihan lain.

..

Sarah menatap sendu kedua orang yang kini duduk berhadapan dengannya di ruang tamu.

"Mau ngapain lo ke sini?!" Tanya laki-laki di hadapannya itu dengan nada yang sangat dingin, hingga dapat ia rasakan bulu kuduknya merinding.

"Vin,,"tegur perempuan yang berada di samping laki-laki itu dengan pelan. Laki-laki itu pun menghala nafas mencoba meredakan emosi lalu mengalihkan pandangan dari sosok gadis yang ada di hadapannya.

Sarah menggigit bibirnya dengan kuat, tangannya terkepal menahan air mata yang sepertinya akan jatuh.

"Vin,,Kayla, gue mohon tolongin gue." Ucap Sarah dengan nada lirih, ia menatap nanar kedua orang yang selalu ia buat menderita sejak dulu.

"Lo kenapa Sarah?"tanya Kayla dengan lembut dan terselip nada kekhawatiran di sana.

"Gue tahu kalian membenci gue," Sarah menutup mulutnya, berusaha menahan isak tangis yang membanjiri wajahnya. Air matanya menetes perlahan, membuktikan kesedihan yang tak terkatakan.

"Tapi tolong, gue benar-benar membutuhkan bantuan kalian. Orang tua gue diculik oleh orang yang gak dikenal, dan gue gak tahu harus berbuat apa. Kalian adalah harapan terakhir gue," ujarnya dengan nada memohon, sambil menggosok-gosok tangannya yang dingin karena ketakutan dan berlutut di hadapan mereka.

"Kalau begitu hubungi polisi saja! Buat apa juga lo menghubungi kami berdua?" Marvin menjawab dengan nada keras dan ketus. Hatinya penuh amarah.

"Marvin," Kayla mencoba menenangkan dengan suara lembut, namun Marvin hanya menghela nafas kesal, matanya memancarkan api kemarahan.

"Berani nya ya lo, tanpa rasa malu meminta bantuan sama gue dan Kayla setelah apa yang lo perbuat terhadap Kayla! Lo udah merenggut nyawa anak yang seharusnya menjadi buah hati kami, lo itu—," ucapan Marvin terhenti, seolah lidahnya kelu untuk melanjutkan. Amarahnya hampir meledak, membentuk aura tekanan yang tak terlihat namun terasa menyengat di ruangan itu.

"Marvin, udah." Kayla menahan lengan Marvin dengan maksud menenangkan laki-laki itu. Namun air mata yang ia bendung tidak dapat ditahan ketika kembali mengingat buah hatinya yang telah tiada.

Sarah semakin terkulai, tangisnya membasahi bumi, mengakui dosa yang teramat mengerikan—mengakhiri kehidupan yang belum sempat terhirup udara dunia. Kesadaran atas tindakannya yang keji dan tak termaafkan itu menyeruak dalam benaknya. Ia merasa seolah dihantui oleh rasa bersalah yang membelenggu, menjadikan langkahnya menuju pintu bantuan seolah menapaki jalur berduri. Tiap hentakkan langkahnya penuh penyesalan, berharap bisa memutar waktu dan memperbaiki kesalahan fatal yang telah ia perbuat.

"Maaf," suara Sarah terdengar rapuh, penuh penyesalan yang mendalam. Dia bangkit, tubuhnya gemetar, dan membungkuk dalam-dalam sebagai tanda permohonan ampun yang terakhir. Sisa harga diri yang tersisa melekat pada setiap langkah kakinya yang terasa begitu berat saat dia meninggalkan tempat itu. Sarah sadar diri terlambat. Hatinya terasa teriris; dia tahu ia tak layak meminta pengampunan, apalagi pertolongan, dari Marvin ataupun Kayla.

"Sadar, Sarah!" bisiknya pada diri sendiri, sebuah peringatan kelam atas keterlambatannya menyadari kesalahannya yang begitu fatal. Namun ia hanya bisa berjalan terpincang-pincang, membawa luka yang tak termaafkan serta air mata penyesalan yang menetes hingga membasahi jalannya pergi.

"Tunggu!" Suara bariton Martin menghentikan langkah Syarah yang sedikit lagi meninggalkan kediamannya itu.

"Hanya itu yang bisa gue bantu. Gue harap lo nggak muncul lagi di hadapan gue setelah ini."

Sarah menatap mandar sebuah kertas cek yang bertuliskan sejumlah uang yang sangat banyak. Ia kemudian menatap tak menyangka ke arah Marvin yang sudah pergi dan kini menatap Kayla yang juga menatapnya sambil tersenyum lembut.

"Makasih.."ucap Sarah sambil menangis terharu, lalu ia pergi meninggalkan kediaman itu.

Di tengah hening malam, ketika bulan menampakkan cahayanya yang temaram, Sarah berjalan di atas jembatan itu dengan pikiran yang penuh, menggenggam erat harapan. Dengan niat membebaskan keluarganya dari genggaman nasib buruk menggunakan uang yang diberikan Marvin untuk menyewa pengacara. Langkahnya cepat mencari taksi di ujung jembatan. Namun, tiba-tiba, tangan kasar muncul dari kegelapan dan mendorongnya dengan kejam. Tubuh Sarah terhuyung, terdorong melewati pembatas jembatan yang memang tidak terlalu tinggi. Kehidupannya seolah bergantung hanya pada genggaman tangannya pada besi dingin jembatan yang terasa menggigil itu.

"Tolong!!" Pekik Sarah, suaranya melengking menusuk hening malam, seraya matanya yang berkaca-kaca memohon pertolongan kepada siapa pun yang mungkin mendengar. Terdampar di antara nyawa dan maut, hati Sarah terasa ditikam ribuan duri kekhawatiran, menanti pertolongan datang, menanti harapan yang mungkin segera sirna.

Sarah menetap seseorang yang memakai pakaian serba hitam dengan wajah yang bagian atasnya tertutup topi, sehingga Sarah hanya bisa melihat bagian mulutnya saja. Dari bawah, terlihat ada sebuah bekas luka di leher dekat telinga orang itu.

Saat ini, Sarah dapat melihat bahwa orang itu tengah tersenyum lebar.

"Siapa Lo?!!"teriak Sarah sambil berusaha untuk mengangkat tubuhnya agar tidak terjatuh.

Tapi dengan kejamnya, orang itu menginjak tangan Sarah dengan begitu kuat sehingga gadis itu tak sanggup lagi mempertahankan pegangan. Teriakan penuh rasa sakit memecah keheningan saat Sarah kehilangan keseimbangan dan terjerembab ke dalam derasnya aliran sungai.

Gadis mungil itu terbanting ke air yang gelap dan dingin, terengah-engah mencari napas. Kekuatan yang berusaha dia kumpulkan untuk naik ke permukaan perlahan menguap, tubuhnya mulai menyerah pada kelelahan yang tak terhindarkan.

Air terasa mengejeknya, memanggil-manggil ketakutan terbesarnya—ia tidak bisa berenang. Dalam keputusasaan terakhirnya, Sarah merenungkan pilihan-pilihan hidup yang telah ia ambil—harapan untuk perubahan yang lebih baik setelah ia berhasil menyelamatkan kedua orang tuanya kini hanya kenangan. Air mata bercampur dengan air sungai, memutar balik perasaan sesal yang menghantui jiwa yang terperangkap dalam gelombang nasib malang.

Papa...

Mamah,,

Marvin,,,

Selamat tinggal.

.

1
Queen AL
baru satu bab, bab berikut2nya jangan pake gue lo thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!