NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 1

Siska adalah putri tunggal dari keluarga konglomerat yang menguasai sektor perhotelan di Jakarta. Di balik kemewahannya, ia merasa tertekan oleh ekspektasi ayahnya. Andi, sahabat masa kecilnya yang kini menjadi arsitek idealis, adalah satu-satunya tempat Siska bisa menjadi dirinya sendiri. Persahabatan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang dalam, namun keduanya ragu untuk mengaku karena perbedaan status sosial yang mencolok.

Ayah Siska jatuh sakit dan memberikan ultimatum: Siska hanya bisa mewarisi takhta perusahaan jika ia menikah dalam waktu enam bulan dengan calon yang "setara" (pilihan keluarga). Siska berada di persimpangan jalan antara tanggung jawab terhadap ribuan karyawan perusahaan dan kebahagiaan pribadinya bersama Andi.

Siska memutuskan untuk memperjuangkan Andi. Namun, masalah datang bertubi-tubi:

 * Intrik Internal: Anggota dewan direksi yang tidak setuju mencoba menjatuhkan kredibilitas Siska dengan menyebarkan rumor buruk tentang hubungannya dengan Andi.

 * Tekanan Keluarga: Ibunda Siska mencoba menjodohkannya dengan seorang pengusaha muda dari Singapura untuk menyelamatkan aset keluarga.

 * Keraguan Andi: Andi merasa rendah diri dan sempat ingin mundur karena merasa hanya menjadi penghambat bagi masa depan Siska.

Andi tidak menyerah begitu saja. Ia membantu Siska memecahkan masalah besar di proyek pembangunan terbaru perusahaan dengan desain arsitekturnya yang inovatif dan hemat biaya. Kerja keras Andi membuktikan kepada ayah Siska bahwa nilai seseorang tidak hanya ditentukan oleh saldo bank, tapi oleh integritas dan loyalitas.

Setelah melewati berbagai drama dan sabotase, Siska akhirnya mendapatkan restu penuh. Cerita ditutup dengan pesta pernikahan yang megah namun tetap terasa hangat. Siska resmi menjabat sebagai CEO baru dengan Andi di sisinya, membuktikan bahwa cinta dan karier bisa berjalan beriringan tanpa harus mengorbankan salah satunya.

Siska memutar gelas kristal di tangannya, tapi matanya sama sekali tidak melirik minuman di dalamnya. Ia hanya menatap lampu kota yang berpijar dari lantai 50 gedung kantornya. Di belakangnya, Andi berdiri dengan jarak yang cukup sopan, namun kehadirannya terasa begitu memenuhi ruangan.

"Ayah memberiku waktu dua minggu, Ndi," suara Siska parau. "Kalau aku tidak membawa calon yang menurut mereka 'pantas', aku kehilangan hak waris. Perusahaan ini akan jatuh ke tangan paman yang hanya peduli soal angka, bukan orang-orang yang bekerja di dalamnya."

Andi melangkah maju, berhenti tepat di samping Siska. "Dan menurut mereka, aku bukan orang yang pantas itu, kan?"

Siska menoleh cepat. "Bukan itu maksudku. Kamu lebih dari pantas. Tapi sistem mereka... cara mereka melihat dunia itu sangat sempit. Aku tidak ingin kehilangan kamu, tapi aku juga tidak bisa membiarkan warisan kakekku hancur."

Andi tersenyum tipis, jenis senyum yang selalu berhasil menenangkan badai di hati Siska. Ia mengulurkan tangan, ragu sejenak, sebelum akhirnya menggenggam jemari Siska yang dingin.

"Kita tidak akan menyerah pada sistem mereka, Sis. Kalau mereka butuh pembuktian bahwa aku bisa menjaga perusahaan ini sehebat aku menjagamu, maka itu yang akan aku lakukan. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi mereka sendirian."

Matanya bertemu—adu kekuatan antara tradisi yang kaku dan cinta yang keras kepala. Siska tahu, sejak detik itu, masalah yang akan datang bukan lagi soal siapa yang mewarisi apa, tapi soal bagaimana mereka berdua bertahan di tengah badai yang diciptakan oleh keluarga besarnya sendiri.

"Kamu siap?" bisik Siska.

Andi mengangguk mantap. "Selama tujuan akhirnya adalah kita, aku siap menghadapi apa pun."

"Jangan terlalu yakin dulu, Andi," Siska menarik napas panjang, matanya kembali menatap pantulan mereka di kaca jendela yang besar. "Ayah bukan hanya soal restu. Dia bicara soal kontrak, soal merger, dan soal posisi tawar. Baginya, pernikahan ini adalah transaksi terakhir yang paling menguntungkan bagi dinasti keluarga."

Andi melepaskan genggamannya, tapi bukan untuk menjauh. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, hingga bayangan mereka menyatu di kaca. "Lalu, apa yang dia minta? Bukti bahwa aku punya modal? Atau bukti bahwa aku punya nyali?"

"Keduanya," jawab Siska getir. "Dia ingin calon suamiku memimpin proyek ekspansi di Kalimantan yang sedang macet itu. Proyek yang semua orang bilang akan gagal karena masalah lahan dan birokrasi. Kalau aku menikah denganmu dan proyek itu gagal, dia punya alasan hukum untuk mencabut seluruh hak warisku."

Andi terdiam sejenak. Ia tahu itu adalah jebakan. Proyek Kalimantan itu adalah "kuburan" bagi karier banyak direktur sebelumnya. Tapi ia juga tahu, mundur sekarang berarti membiarkan Siska menyerah pada perjodohan yang sudah disiapkan ayahnya dengan anak kolega bisnis mereka.

"Jadi, kalau aku berhasil membereskan proyek itu, dia tidak punya alasan lagi untuk menolakku?" tanya Andi, suaranya terdengar lebih berat, lebih serius.

Siska menoleh, matanya berkaca-kaca. "Ini terlalu berbahaya untukmu, Ndi. Kamu arsitek, bukan petarung politik korporat. Mereka akan menghancurkan reputasimu kalau kamu gagal."

"Reputasiku tidak ada artinya kalau aku harus melihatmu menikah dengan orang lain hanya karena selembar kertas saham," Andi menyentuh dagu Siska, memaksanya menatap langsung ke matanya. "Beri aku data proyek itu. Malam ini juga. Kita mulai dari sana."

Siska terpaku. Ia melihat kilat yang sama yang dulu ia lihat saat Andi berjuang menyelesaikan maket pertamanya saat kuliah—campuran antara idealisme dan tekad yang tidak bisa dipatahkan.

"Kamu benar-benar keras kepala," bisik Siska, kali ini dengan senyum tipis yang mulai muncul.

"Aku belajar dari orang terbaik," balas Andi singkat.

"Ayahku tidak akan memberikan data itu dengan mudah di kantor," Siska berbisik, seolah dinding ruangan itu memiliki telinga. "Dia ingin kita datang ke perjamuan malam ini. Ini bukan sekadar makan malam, Andi. Ini adalah panggung yang dia siapkan untuk memperkenalkan anak kolega bisnisnya sebagai 'solusi' untuk perusahaan."

Andi merapikan kerah kemejanya, mencoba menyembunyikan kegugupan yang mulai merambat. "Jadi, aku harus datang sebagai penghancur pesta?"

"Datanglah sebagai pasanganku," koreksi Siska tegas. "Tunjukkan padanya bahwa alasan aku memilihmu bukan karena kenangan masa kecil kita, tapi karena visi yang kamu punya. Ayah sangat menghargai efisiensi. Jika kamu bisa menunjukkan celah di desain proyek Kalimantan yang selama ini luput dari pengawasan para insinyurnya, dia akan mulai mendengarkan."

Andi mengangguk pelan, otaknya sudah mulai bekerja memetakan struktur tanah dan logistik yang pernah ia baca selintas di berita bisnis. "Dia ingin aku membuktikan nilai fungsional, bukan cuma nilai emosional."

Siska melangkah ke arah meja kerjanya, mengambil sebuah map kulit berwarna gelap yang selama ini ia sembunyikan di laci terkunci. Ia menyerahkannya pada Andi. Tangannya gemetar sedikit saat bersentuhan dengan tangan pria itu.

"Ini cetak biru awal dan laporan kendala lapangan yang belum dipublikasikan. Aku mencurinya dari arsip pusat tadi siang. Kamu punya waktu tiga jam sebelum supir Ayah menjemputku."

Andi menerima map itu dengan berat hati yang bercampur tekad. Ia tahu ini adalah pengkhianatan kecil Siska terhadap ayahnya, demi masa depan mereka yang jauh lebih besar.

"Tiga jam," Andi mengulang, matanya menatap tajam ke arah Siska. "Pastikan kamu memakai gaun yang paling berani malam ini, Sis. Karena setelah aku membuka mulut di depan Ayahmu, tidak ada jalan untuk kembali lagi."

Siska tersenyum, kali ini dengan binar yang lebih hidup. "Aku akan memakai gaun merah yang paling dia benci. Kita hadapi badai ini bersama."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!