Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.
Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.
Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.
Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.
Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Suara letusan senjata api memecah keheningan malam. Dentuman demi dentuman menggema di sekitar markas besar milik Enzo, memantul di dinding-dinding beton yang kokoh. Kilatan cahaya dari moncong senjata terlihat silih berganti, diiringi teriakan para pria yang saling memberi perintah di tengah kekacauan.
Aksi baku tembak pun tidak terelakkan.
Di halaman depan markas, anak buah Jendra terus bergerak maju sambil berlindung di balik mobil-mobil yang terparkir dan pilar-pilar besar yang mengelilingi bangunan itu. Mereka menembakkan peluru tanpa henti, mencoba menekan pertahanan lawan.
“Terus maju! Jangan beri mereka kesempatan!” teriak salah satu anak buah Jendra dengan suara lantang.
Namun di sisi lain, anak buah Enzo bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka sudah terbiasa menghadapi serangan seperti ini. Dengan posisi yang lebih menguntungkan dan persiapan yang matang, mereka membalas setiap tembakan dengan akurat.
Peluru demi peluru melesat di udara.
Beberapa anak buah Jendra terpaksa berlindung ketika tembakan balasan menghantam mobil yang mereka gunakan sebagai perlindungan. Kaca mobil pecah berhamburan, serpihan-serpihan beterbangan di udara.
“Brengsek! Pertahanan mereka terlalu rapat!” geram salah satu pria sambil menunduk menghindari peluru yang hampir mengenai kepalanya.
Meski begitu, Jendra tidak berniat mundur. Pria itu berdiri di belakang sebuah mobil hitam, menatap tajam ke arah bangunan besar yang berdiri kokoh di depannya. Wajahnya dipenuhi kemarahan dan ambisi.
Dia sudah mendengar kabar bahwa Enzo sedang terluka parah.
Baginya, ini adalah kesempatan emas.
Jika malam ini dia berhasil menumbangkan Enzo, maka nama Jendra akan semakin ditakuti di dunia bawah tanah.
“Cari jalan masuk dari samping!” perintahnya tegas. “Kita tidak boleh gagal malam ini!”
“Baik, bos!”
Beberapa orang langsung bergerak menyebar, mencoba mencari celah untuk menembus pertahanan markas itu. Namun setiap sudut tampaknya sudah dijaga ketat oleh anak buah Enzo.
Lampu sorot besar yang terpasang di beberapa titik halaman membuat pergerakan mereka mudah terlihat.
Tembakan kembali meletus.
Suara logam berdenting ketika peluru menghantam pagar besi, sementara beberapa lainnya menghantam dinding beton dengan suara keras.
Udara malam kini dipenuhi aroma mesiu.
Sementara kekacauan itu terjadi di luar, suasana di dalam markas justru sangat berbeda.
Di lantai atas, di sebuah ruangan luas dengan jendela besar yang menghadap ke halaman depan, seorang pria duduk santai di kursi kulit hitam. Tubuhnya bersandar dengan tenang, seolah suara tembakan di luar hanyalah gangguan kecil yang tidak berarti.
Di tangannya, sebatang rokok menyala yang sesekali dia hisap dengan santai. Asap putih tipis keluar dari bibirnya, melayang perlahan memenuhi ruangan.
Matanya menatap ke arah jendela besar di depannya. Dari sana, Enzo bisa melihat kilatan tembakan yang terjadi di halaman markasnya.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang dingin.
“Dasar bodoh…” gumamnya pelan.
Dia kembali menyesap rokoknya, lalu menghembuskan asapnya perlahan.
“Menyerang markasku sama saja mengantarkan nyawamu sendiri”
Tatapannya berubah bengis, penuh dengan rasa meremehkan.
Di belakangnya, beberapa anak buah kepercayaannya berdiri dengan sikap siaga. Namun berbeda dengan situasi di luar yang kacau, mereka terlihat sangat tenang. Seolah serangan seperti ini sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka.
“Bos, Jendra membawa cukup banyak pasukan” ucap Joe orang kepercayaannya.
Enzo tidak langsung menjawab. Dia memiringkan kepalanya sedikit, lalu mematikan rokoknya di asbak kaca yang berada di meja samping.
“Semakin banyak yang datang…semakin banyak juga yang akan mati” ucapnya pelan.
Dia lalu berdiri dari kursinya. Langkahnya perlahan namun penuh wibawa ketika berjalan mendekati jendela besar itu.
Matanya menatap ke bawah, memperhatikan pergerakan orang-orang Jendra yang terus mencoba menembus pertahanan.
Sesaat kemudian, Enzo tersenyum tipis lagi.
“Kabarnya aku terluka parah, ya?” katanya dengan nada mengejek.
Salah satu anak buahnya menunduk hormat. “Begitulah informasi yang sampai ke mereka, bos.”
Enzo tertawa pelan. Tawa yang terdengar dingin dan menyeramkan.
“Bagus. Aku memang terluka, tapi aku tidak selemah itu"
Dia mengambil pistol hitam yang terletak di atas meja. Tangannya memutar senjata itu dengan santai, seolah benda itu hanyalah mainan biasa.
“Biarkan mereka terus berpikir seperti itu.”
Tatapan matanya kini berubah tajam.
“Semakin percaya mereka bahwa aku lemah…semakin mudah aku mengubur mereka malam ini.” lanjutnya dengan suara rendah yang penuh ancaman.
Di luar, suara tembakan masih terus menggema tanpa henti. Dan tanpa disadari oleh Jendra, mereka semua sedang berjalan masuk ke dalam perangkap milik Enzo.
Dorr..
Dorr..
Suara tembakan masih terus menggema di halaman markas. Kilatan api dari moncong senjata memecah gelapnya malam, sementara peluru-peluru beterbangan menghantam pagar besi, mobil, dan dinding beton yang kokoh.
Beberapa anak buah Jendra mulai tumbang satu per satu. Namun pria itu tetap tidak mau menyerah.
Dengan wajah penuh emosi, Jendra terus bergerak maju bersama sisa anak buahnya. Nafasnya memburu, tetapi tekadnya untuk menghabisi Enzo malam ini jauh lebih besar daripada rasa takut yang mulai merayapi anak buahnya.
“Terus maju!” teriak Jendra dengan suara keras. “Dia sedang terluka! Ini kesempatan kita!”
Ucapan itu membuat sebagian anak buahnya kembali berani maju, meskipun di dalam hati mereka mulai ragu. Pertahanan markas itu terlalu kuat. Seolah setiap sudut sudah dipersiapkan untuk menghadapi serangan seperti ini.
Peluru kembali menghantam tanah di dekat kaki mereka.
“Brengsek!” geram salah satu pria sambil merunduk.
Di sisi lain, anak buah Enzo tetap bertahan dengan disiplin. Mereka menembak dengan akurat, memanfaatkan posisi yang lebih tinggi dan perlindungan yang kuat.
Suasana halaman kini berubah seperti medan perang kecil. Teriakan kesakitan sesekali terdengar ketika seseorang terkena tembakan.
Jendra menatap tajam ke arah pintu utama markas yang masih tertutup rapat. Rahangnya mengeras penuh kemarahan.
“Aku tidak percaya dia hanya bersembunyi di dalam!” gumamnya kesal.
Namun tepat saat itu tiba-tiba....
Ceklek....
Pintu besar markas tiba-tiba terbuka secara perlahan.
Semua orang yang berada di halaman seketika menoleh. Langkah kaki terdengar tenang dari dalam bangunan.
Tap
Tap
Tap…
Seorang pria berjalan keluar dengan langkah santai seolah tidak terjadi apa-apa di sekitarnya.
Tatapan Enzo dingin dan tajam seperti pemangsa yang sedang memperhatikan mangsanya. Di tangannya tergenggam pistol hitam yang berkilau di bawah cahaya lampu halaman.
Melihat sosok itu, mata Jendra langsung membesar.
“Enzo…” desisnya.
Anak buah yang masih tersisa di kedua kubu secara refleks berhenti menembak sejenak. Aura yang terpancar dari pria itu terlalu menekan.
Enzo berhenti beberapa meter dari tangga depan markas. Matanya menatap lurus ke arah Jendra.
Lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang meremehkan.
“Jadi… kau sendiri yang memimpin pasukanmu” ucap Enzo dengan suara rendah namun jelas terdengar.
Jendra mendengus kasar.
“Aku dengar kau hampir mati,” balasnya sinis. “Ternyata masih bisa berdiri juga.”
Enzo tertawa kecil. “Dan kau cukup bodoh untuk mempercayai laporan anak buahmu itu”
Wajah Jendra langsung menegang. Dia baru menyadari sesuatu.
Enzo tidak terlihat seperti orang yang terluka parah. Cara berdirinya tegap, tatapannya tajam, bahkan auranya terasa jauh lebih berbahaya daripada biasanya.
Seketika perasaan tidak enak merayapi hatinya.
Namun harga dirinya terlalu besar untuk mundur sekarang.
“Bunuh dia!” perintah Jendra tiba-tiba.
Beberapa anak buahnya langsung mengangkat senjata. Namun sebelum mereka sempat menarik pelatuk, Enzo sudah lebih dulu menembakkan pelurunya.
Dor!
Dor!
Dor!
Tiga tembakan cepat terdengar. Tiga orang anak buah Jendra langsung jatuh bersamaan.
Semua orang terkejut. Tembakan itu berasal dari Enzo. Gerakannya begitu cepat hingga hampir tidak terlihat.
Jendra menatapnya dengan mata membelalak.
“Brengsek…” geramnya. Sekarang hanya tersisa dia seorang diri. Anak buahnya sudah terkapar di tanah.
Enzo menuruni tangga perlahan, langkahnya santai namun penuh tekanan. Suasana halaman menjadi sangat sunyi. Hanya suara langkah kaki Enzo yang terdengar jelas.
Jendra menggenggam senjatanya lebih erat. “Kau pikir aku takut padamu?” bentaknya.
Enzo berhenti beberapa langkah di depannya. “Seharusnya kau takut,” jawabnya datar.
“Persetan!” Jendra langsung menembakkan senjatanya.
Dor!
Namun Enzo bergerak lebih cepat. Dia memiringkan tubuhnya, peluru itu meleset hanya beberapa sentimeter dari bahunya.
Sebelum Jendra sempat menembak lagi—
Dor!
Peluru dari pistol Enzo menembus bahu Jendra.
“Aaarrgh!” teriaknya kesakitan.
Senjatanya hampir terlepas dari tangannya.
Enzo berjalan mendekat tanpa ekspresi.
Jendra terhuyung mundur, darah mulai mengalir dari bahunya. “Kau… kau menipuku…” geramnya dengan napas berat.
Enzo berhenti tepat di depannya. Tatapan matanya dingin tanpa sedikit pun rasa kasihan.
“Aku tidak menipumu, tapi kaulah yang terlalu bodoh untuk berpikir.”
Jendra mencoba mengangkat senjatanya lagi.
Namun lagi-lagi peluru Enzo lebih dulu melesat ke arahnya
Dor!
Tembakan kedua mengenai kakinya. Pria itu langsung jatuh berlutut di tanah. Nafasnya tersengal, tubuhnya gemetar menahan rasa sakit.
Enzo berdiri tepat di hadapannya sekarang.
Lampu halaman memantulkan bayangan mereka di tanah yang dipenuhi darah.
“Enzo…Kalau kau membunuhku… perang ini tidak akan selesai…” ucap Jendra dengan suara lemah.
Enzo menatapnya tanpa emosi. “Perang ini sudah selesai,” jawabnya dingin.
Dia mengangkat pistolnya perlahan. Moncong senjata itu tepat mengarah ke kepala Jendra.
Jendra menatapnya dengan mata penuh kebencian… sekaligus ketakutan.
Detik terasa berjalan sangat lambat.
Dor!
Suara tembakan terakhir menggema di halaman markas. Tubuh Jendra langsung terjatuh ke tanah tanpa bergerak lagi. Darah mengalir pelan di bawah kepalanya.
Semua anak buah Enzo yang masih berdiri hanya menunduk hormat. Enzo menatap tubuh Jendra sejenak dengan ekspresi datar.Seolah pria itu tidak lebih dari sekadar sampah yang baru saja dia singkirkan.
Dia kemudian memutar pistolnya dengan santai sebelum menyelipkannya kembali ke pinggang.
“Bersihkan semuanya,” perintahnya dingin.
“Jangan tinggalkan jejak.” lanjutnya.
“Baik, bos.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Enzo berbalik dan berjalan kembali masuk ke dalam markasnya.
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐