NovelToon NovelToon
CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Matahari pagi di pemukiman padat itu terasa lebih menyengat dari biasanya, namun bagi Dika, udara di dalam kontrakannya terasa membeku. Sejak pukul dua dini hari tadi, ia tidak bisa memejamkan mata. Ingatannya terus berputar pada momen ketika ia terbangun untuk minum dan mendapati pintu depan sedikit terbuka, tanpa ada sosok Dinda di dalam kamar.

Dika duduk di kursi kayu reyot, matanya yang tajam dan dingin menatap pintu dengan saksama. Ia tidak bergerak, hanya tangannya yang mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih.

"Abang... Kak Dinda mana?" suara lemah Dita memecah keheningan.

Dika menoleh. Dita tampak meringkuk di balik selimut, wajahnya yang kemarin mulai merona kini kembali pucat pasi, bahkan lebih buruk dari biasanya. Napasnya pendek-pendek.

"Kakak lagi ada urusan kerjaan mendadak, Ta. Sebentar lagi pasti pulang," jawab Dika datar. Ia berusaha menyembunyikan badai kecemasan di hatinya. Sifatnya yang keras tidak membiarkannya terlihat lemah di depan adiknya.

Dika menghampiri Dita, meletakkan punggung tangannya di dahi adiknya. "Panas, Ta. Kamu jangan banyak gerak dulu. Aku ambilin air."

"Badan Dita sakit semua, Bang... dingin banget," keluh Dita sambil menggigil.

Kondisi Dita yang tiba-tiba menurun drastis membuat Dika semakin terpojok. Di satu sisi, ia ingin lari keluar mencari kakaknya ke pabrik atau ke mana pun, namun di sisi lain, ia tidak bisa meninggalkan Dita yang tampak sangat rapuh pagi ini.

***

Tepat pukul sembilan pagi, suara ketukan pintu yang ritmis terdengar. Dika berdiri dengan waspada, otot-otot tubuhnya menegang. Ia mengira itu Dinda, namun saat pintu dibuka, ia mendapati seorang pria berpakaian rapi dengan kacamata hitam berdiri di sana. Leo.

Leo membawa beberapa kantong plastik besar berisi makanan mewah dan buah-buahan segar.

"Selamat pagi. Apa benar ini rumah Nona Adinda?" tanya Leo dengan nada yang sangat profesional namun tenang.

Dika tidak menjawab. Ia justru menatap Leo dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan intimidasi. "Siapa kamu? Di mana kakakku?"

Leo tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana yang mencekam itu. "Saya Leo. Saya teman sekantor Dinda di bagian administrasi. Dinda minta saya ke sini karena dia harus menyelesaikan laporan proyek penting yang mendesak sejak semalam. Dia tidak sempat pulang karena pekerjaannya harus selesai pagi ini."

"Bohong," potong Dika cepat. Suaranya dingin dan menusuk. "Kakakku nggak pernah nggak pulang tanpa kabar. Dan dia nggak punya teman sekantor yang datang pakai mobil mewah ke gang ini."

Leo tetap tenang, ia sudah terbiasa menghadapi situasi sulit di bawah perintah Alan. "Nona Dinda sangat sibuk, Dek Dika. Dia merasa tidak enak hati karena meninggalkan kalian, jadi dia menitipkan makanan ini. Dia bilang kamu harus makan enak bersama Dita agar Dita tetap kuat."

Dika melirik kantong plastik itu. Isinya bukan makanan biasa—itu dari restoran ternama. Kecurigaannya semakin memuncak. "Kakakku nggak punya uang buat beli semua ini. Siapa yang nyuruh kamu sebenarnya?"

Belum sempat Leo menjawab, suara rintihan tertahan terdengar dari dalam kamar.

"Abang... Dita sesak... Bang Dika..."

Dika langsung berbalik, mengabaikan Leo dan berlari ke arah Dita. Dita tampak memegangi dadanya, wajahnya membiru. Penyakit jahat itu seolah kembali menyerang dengan kekuatan penuh tepat saat penjaga utamanya—Dinda—tidak ada di sana.

"Dita! Dengerin aku, tarik napas pelan-pelan!" panik Dika mulai muncul di balik topeng dinginnya. Ia mendekap adiknya, mencoba memberikan kehangatan.

Leo yang melihat itu segera masuk ke dalam. Ia melihat kondisi Dita yang mengkhawatirkan. Sebagai orang kepercayaan Alan, ia tahu instruksi utamanya adalah menjaga keselamatan keluarga Dinda.

"Kondisinya gawat. Ayo, saya bawa ke rumah sakit sekarang. Mobil saya ada di depan gang," tawar Leo dengan nada mendesak.

Dika menoleh, matanya berkilat penuh kemarahan dan ketidakpercayaan. "Jangan sentuh adikku! Aku nggak kenal kamu! Bisa saja kamu orang jahat yang mau celakain kami!"

"Dika, dengar!" suara Leo meninggi, mencoba menyadarkan remaja itu. "Lihat adikmu. Dia butuh pertolongan medis sekarang. Kalau kamu keras kepala, dia bisa lewat! Jangan pedulikan siapa saya sekarang, pedulikan nyawa adikmu!"

Dita menarik ujung baju Dika dengan tangan yang gemetar. "Bang... jangan... jangan bawa ke rumah sakit... Dita mau di sini saja sama Abang..."

"Tapi kamu sakit, Ta!" Dika memeluk adiknya erat.

"Dita takut... Dita mau Kak Dinda... Abang di sini saja... temenin Dita," isak Dita lemah. Matanya yang sayu seolah memohon agar Dika tidak meninggalkannya sendirian di tangan orang asing.

Dika menatap Leo dengan tajam, lalu kembali menatap Dita. Dilema besar menghancurkan hatinya. Ia membenci pria asing ini, ia mencemaskan kakaknya yang hilang, dan kini ia harus menyaksikan adiknya meregang nyawa.

"Pergi," ucap Dika pelan namun sangat dalam pada Leo.

"Tapi Dek—"

"AKU BILANG PERGI!" teriak Dika. "Bawa semua makanan ini! Aku nggak butuh kemasihan dari teman kakakku yang mendadak muncul ini. Kasih tahu kakakku, kalau dalam satu jam dia nggak muncul, aku akan cari dia sampai ke ujung dunia dan aku nggak akan maafin dia kalau terjadi apa-apa sama Dita!"

Leo terdiam. Ia melihat keteguhan dan api kemarahan di mata Dika yang baru berusia 17 tahun itu. Ia sadar, memaksa Dika saat ini hanya akan memperburuk keadaan.

"Baiklah. Saya akan sampaikan pesanmu pada Dinda," ucap Leo. Ia meletakkan kantong makanan itu di atas meja kayu. "Tapi tolong, berikan makanan ini pada Dita jika dia merasa sedikit lebih baik. Itu dari kakakmu."

Leo melangkah keluar dengan perasaan berat. Ia harus segera melaporkan ini pada Alan. Situasi di kontrakan itu sudah seperti bom waktu yang siap meledak.

***

Di dalam kamar, Dika terus memeluk Dita. Ia membisikkan doa-doa yang ia tahu, mengusap punggung adiknya agar napasnya kembali teratur.

"Sabar ya, Ta. Kak Dinda pasti pulang. Aku di sini... Abang di sini," bisik Dika, suaranya sedikit bergetar.

Dika menatap langit-langit yang bocor. Pikirannya liar. Kenapa orang itu datang? Kenapa Kak Dinda nggak telepon sendiri kalau memang lembur?

Insting Dika mengatakan ada sesuatu yang sangat salah. Kakaknya tidak mungkin menitipkan makanan semewah itu lewat orang asing sementara mereka hidup dalam kesederhanaan. Ada bau "orang kaya" di balik semua ini, bau yang sama dengan pria bernama Alan yang ia temui di rumah sakit tempo hari.

"Kalau sampai pria itu yang ada di balik ini semua..." Dika menggertakkan giginya, "...aku bersumpah nggak akan biarkan dia lepas."

Dika terus menjaga Dita yang mulai terlelap karena kelelahan, sementara di luar sana, kebenaran pahit tentang apa yang menimpa Dinda malam tadi sedang tertutup rapat di balik dinding kaca sebuah penthouse mewah.

***

Bersambung ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!