Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kukis Kehancuran
Satu minggu setelah kejadian air mancur dan konser fals di dalam mobil, Alya memutuskan bahwa ia membutuhkan strategi baru. Strategi yang lebih serius, lebih dramatis, dan yang paling penting lebih efektif untuk membuat Adrian kehilangan kesabaran. Selama beberapa hari terakhir, ia menghabiskan cukup banyak waktu memikirkan semua percakapan mereka sebelumnya, mencoba mencari celah kecil yang bisa ia manfaatkan.
Dan akhirnya ia menemukan satu hal penting.
Adrian pernah mengatakan bahwa ia menyukai wanita yang bisa memasak.
Saat mengingat kalimat itu, Alya yang sedang berbaring santai di tempat tidurnya langsung duduk tegak seperti mendapat wahyu dari langit.
“Ini dia,” gumamnya sambil menunjuk udara kosong di depan wajahnya. “Serangan dapur.”
Keesokan paginya dapur rumah keluarga Prameswari berubah menjadi lokasi eksperimen kuliner yang sangat meragukan. Alya berdiri di depan meja dapur dengan apron yang bahkan belum pernah ia pakai sebelumnya. Rambutnya diikat asal-asalan, sementara ekspresi wajahnya terlihat seperti seseorang yang sedang mencoba menaklukkan ilmu yang sama sekali asing.
Di hadapannya terdapat bahan-bahan sederhana: tepung, gula, telur, mentega, dan cokelat. Jika dilihat sekilas, semuanya tampak normal. Namun Alya tidak berniat membuat sesuatu yang normal.
Ia memecahkan telur dengan hati-hati lalu menuangkannya ke dalam mangkuk besar. “Baiklah,” katanya pelan seperti seorang jenderal yang sedang memberi instruksi pada pasukannya sendiri. “Kukis paling mengerikan di dunia… dimulai dari sini.”
Ia menuangkan gula terlalu banyak.
Lalu menambahkan garam yang juga terlalu banyak.
Kemudian ia berhenti sejenak dan menatap campuran itu dengan wajah berpikir.
“Hmm… kurang jahat.”
Alya mengambil botol saus yang bahkan tidak ada hubungannya dengan resep kukis dan menuangkan sedikit ke dalam adonan. Ia mengaduk semuanya dengan sendok kayu sambil tersenyum puas. Aroma aneh mulai muncul dari mangkuk itu, tetapi Alya justru semakin bersemangat.
“Kalau dia makan ini,” gumamnya, “dia pasti langsung menyesal mau nikah sama Alya.”
Beberapa menit kemudian adonan kukis dimasukkan ke dalam oven. Alya sengaja membiarkannya terlalu lama hingga bagian pinggirnya berubah menjadi warna cokelat gelap yang hampir hitam. Ketika akhirnya ia mengeluarkan loyang dari oven, aroma gosong langsung memenuhi dapur.
Bima yang sedang membaca koran di ruang keluarga mengangkat kepala.
“Ada apa ini?”
Alya muncul dari dapur sambil membawa piring berisi kukis yang bentuknya sangat tidak rapi. Beberapa terlihat terlalu keras, beberapa lagi terlihat terlalu gelap.
Ia tersenyum bangga.
“Eksperimen.”
Namun kukis bukan satu-satunya rencana Alya hari itu. Ia juga memutuskan membuat satu hidangan lain yang bahkan lebih berbahaya: kolak ikan mujair.
Ibunya, Lestari, yang baru masuk dapur beberapa saat kemudian langsung membeku melihat panci yang sedang mendidih di atas kompor.
“Alya… itu apa?”
Alya menoleh santai. “Kolak.”
“Kolak apa?”
“Kolak Cintahhh ikan Mujair..., Bundaaa.”
Lestari menatap panci itu seperti seseorang yang baru saja melihat fenomena alam yang tidak seharusnya ada. “Kenapa ada ikan di kolak?”
Alya mengangkat bahu. “Fusion food.”
Beberapa jam kemudian, meja makan rumah Prameswari sudah tertata rapi. Di tengah meja terdapat piring berisi kukis gosong dan semangkuk besar kolak ikan mujair yang aromanya… sangat membingungkan.
Hari itu Adrian diundang makan malam.
Bima duduk di kursinya dengan ekspresi waspada. Lestari di sampingnya terlihat sama tegangnya. Keduanya tahu Alya sedang memasak hari ini, tetapi mereka tidak tahu sejauh apa eksperimen itu akan berjalan.
Ketika bel rumah berbunyi, Alya langsung berdiri dengan semangat.
“Aku buka!”
Beberapa detik kemudian Adrian masuk ke rumah dengan langkah tenang seperti biasanya. Ia mengenakan kemeja gelap sederhana dan jas tipis, terlihat rapi seperti selalu. Alya berdiri di depannya dengan senyum yang sangat lebar hingga lesung pipinya muncul jelas.
“Selamat datang Calon Suami masa depaannn...,” katanya ceria.
Adrian mengangguk sopan pada Bima dan Lestari sebelum duduk di kursi yang telah disiapkan. Suasana meja makan terasa sedikit aneh, seolah semua orang menunggu sesuatu yang tidak mereka pahami sepenuhnya.
Dan kemudian Alya berdiri.
Ia mengambil piring kukis lalu berjalan ke arah Adrian dengan langkah yang sangat dramatis. Tubuhnya bahkan sedikit membungkuk seperti seorang pelayan kerajaan yang sedang mempersembahkan hidangan kepada raja.
“Tuanku,” katanya dengan nada yang sengaja di lembut-lembut kan.
Bima hampir tersedak air minumnya.
Alya menaruh piring kukis di depan Adrian dengan gerakan penuh hormat. “Ini kukis buatan hamba.”
Lestari menutup wajahnya dengan tangan.
Alya lalu berdiri tegak lagi dengan ekspresi bangga.
“Aku dengar kamu suka kukis.”
Adrian menatap piring itu.
Kukisnya terlihat… sangat tidak meyakinkan.
Namun Alya tetap berbicara dengan penuh percaya diri. “Ini enak loh.”
Bima mengambil satu kukis lebih dulu sebelum Adrian sempat bergerak.
Itu kesalahan besar.
Begitu kukis itu masuk ke mulutnya, wajah Bima langsung berubah drastis. Ia berhenti mengunyah, menelan dengan susah payah, lalu tiba-tiba berdiri dari kursinya.
“Maaf—”
Ia berlari ke dapur.
Beberapa detik kemudian suara muntah terdengar dari sana.
Lestari menatap kukis itu dengan ekspresi ngeri. Namun Alya dengan santai mengambil satu kukis lagi lalu menunjukkannya kepada Adrian.
“Serius, ini enak.”
Adrian mengambil kukis itu perlahan.
Lestari menahan napas.
Alya bahkan mencondongkan tubuh sedikit ke depan untuk melihat reaksinya.
Adrian menggigit kukis tersebut.
Ia mengunyah.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada perubahan besar di wajahnya.
Alya berkedip.
“Kamu… gak apa-apa?”
Adrian menelan kukis itu lalu berkata dengan nada tenang, “Tidak apa-apa.”
Alya benar-benar terkejut.
Ia bahkan belum sempat memproses kejadian itu ketika Lestari akhirnya mencoba mencicipi kolak yang ada di meja. Begitu sendok itu masuk ke mulutnya, ekspresi Lestari langsung berubah pucat.
“Alya…”
Ia menutup mulutnya dengan tangan lalu cepat-cepat berdiri.
Beberapa detik kemudian suara muntah kedua terdengar dari arah dapur.
Kini meja makan hanya tersisa Alya dan Adrian.
Sunyi beberapa detik.
Alya menyilangkan tangan dengan wajah curiga.
“Kamu serius?”
Adrian mengangguk pelan.
“Kukisnya memang agak… keras.”
Alya menatapnya tajam.
“Tapi tidak apa-apa,” lanjut Adrian tenang. “Kalau kamu ingin belajar memasak, itu hal biasa.”
Alya berkedip.
“Lain kali kamu bisa coba lebih baik lagi.”
Sunyi kembali menyelimuti meja makan.
Alya menatap pria di depannya dengan ekspresi campur aduk antara bingung, kesal, dan sedikit tidak percaya.
Ia sudah membuat kukis yang hampir seperti batu.
Ayahnya muntah.
Ibunya muntah.
Tapi pria ini…
masih mengatakan tidak apa-apa.
Ketika Adrian akhirnya pulang malam itu, Alya berdiri di teras rumah sambil menyilangkan tangan. Ia menatap mobil Adrian yang perlahan menjauh dari halaman rumah mereka.
Di dalam kepalanya, berbagai rencana baru mulai bermunculan satu per satu.
Dan untuk pertama kalinya sejak permainan ini dimulai, Alya mulai merasa sedikit… kesal.
“Kenapa dia gak pernah ilfeel sih?” gumamnya pelan.