NovelToon NovelToon
Kaisar Abadi Penentang Surga

Kaisar Abadi Penentang Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.

Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Naga

Matahari tengah hari bersinar terik, menembus sisa-sisa kabut ungu yang perlahan memudar di belakang Jian Chen. Pemuda berjubah hitam itu melangkah keluar dari batas Lembah Kabut Beracun, menghirup udara segar fana yang tak lagi dibebani oleh aroma manis racun.

Tidak jauh dari sana, kuda hitamnya masih terikat di sebatang pohon, meringkik kegirangan melihat tuannya kembali dengan selamat.

Jian Chen menepuk leher kuda itu dengan santai. "Kerja bagus. Ayo kita lihat panggung dunia ini yang sebenarnya."

Perjalanan dilanjutkan selama satu hari penuh melintasi dataran tinggi, hingga akhirnya, pada senja hari berikutnya, sebuah pemandangan yang mampu membuat penduduk fana Kota Daun Gugur berlutut karena kagum terbentang di hadapannya.

Di kejauhan, dikelilingi oleh pegunungan berbatu yang diukir seperti tembok pelindung, berdiri Ibu Kota Kerajaan Angin Langit.

Tembok kotanya terbuat dari batu granit putih setinggi lima puluh meter, bersinar di bawah cahaya matahari terbenam. Di atas tembok tersebut, formasi pertahanan berdenyut pelan, memancarkan tirai cahaya transparan yang melindungi seluruh kota dari serangan Binatang Iblis dari udara. Pusat kota dipenuhi oleh bangunan-bangunan megah yang menjulang tinggi, menembus awan-awan tipis, dengan istana kerajaan di puncaknya bagaikan mahkota dari emas murni.

Bahkan dari jarak sepuluh mil, Jian Chen bisa merasakan fluktuasi Qi langit dan bumi di tempat ini tiga kali lipat lebih padat dibandingkan di Kota Daun Gugur.

"Tirai Formasi Tingkat Tiga," gumam Jian Chen, matanya menyipit saat mengamati benteng kota itu. "Cukup untuk menahan serangan kekuatan penuh dari kultivator Alam Inti Emas (Golden Core). Bagi kerajaan fana di benua tingkat rendah ini, itu adalah pencapaian yang patut dipuji."

Namun, di mata seorang mantan Kaisar Abadi, formasi itu penuh dengan ratusan titik buta dan celah yang bisa ia hancurkan hanya dengan satu jentikan jari jika ia memiliki cukup Qi.

Jian Chen memacu kudanya mendekati Gerbang Naga Timur, salah satu dari empat pintu masuk utama ibu kota. Ratusan kereta kuda mewah, pedagang dari berbagai penjuru benua, dan kultivator yang membawa aura pembunuh mengantre untuk diperiksa.

Melalui Indra Spiritual-nya yang terbentang sejauh lima ratus meter, Jian Chen memindai kerumunan itu. Senyum masam terukir di bibirnya.

"Benar saja. Di sini, Tingkat Tiga dan Tingkat Empat Kondensasi Qi hanyalah kuli angkut atau penjaga kereta kuda biasa. Para komandan gerbang bahkan berada di Tingkat Delapan dan Tingkat Sembilan."

Di Kota Daun Gugur, Tingkat Delapan berarti kau adalah Patriark tertinggi. Di Ibu Kota, Tingkat Delapan hanyalah penjaga gerbang.

Saat tiba gilirannya, seorang penjaga berbaju zirah perak menatap Jian Chen dari atas ke bawah. Penjaga itu adalah seorang kultivator Tingkat Tujuh. "Identitas dan tujuan."

Jian Chen mengeluarkan Medali Rekomendasi emas berukir naga milik Klan Jian, lalu menyodorkannya bersama lima koin perak sebagai biaya masuk.

Mata penjaga itu melirik medali tersebut, namun ekspresinya tidak berubah. "Klan Jian dari Kota Daun Gugur? Rekomendasi untuk Akademi Angin Langit? Hmph. Masuklah. Ujian seleksi mahasiswa baru akan diadakan esok lusa di Alun-Alun Bintang. Jangan sampai terbunuh di jalanan kota sebelum kau sempat mendaftar, Nak."

Penjaga itu melemparkan kembali medali tersebut dengan sikap acuh tak acuh. Di ibu kota, klan-klan kecil dari kota perbatasan tidak ada bedanya dengan rakyat jelata.

Jian Chen menangkap medalinya tanpa emosi dan melangkah masuk. Ia tidak merasa tersinggung; arogansi adalah bahasa universal di dunia kultivasi.

Begitu melewati gerbang, hiruk-pikuk ibu kota langsung menyergapnya. Jalanan selebar lima puluh meter berlapis batu giok biru dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu-lalang. Toko-toko di sisi jalan memajang Senjata Spiritual, herbal berusia ratusan tahun, dan bahkan budak-budak dari suku manusia buas yang dikurung dalam sangkar besi.

Target utama Jian Chen hari ini bukanlah penginapan, melainkan Paviliun Persenjataan Ilahi. Pedang spiritualnya telah hancur saat membelah Lin Feng. Sebagai seorang Kaisar Pedang, berjalan tanpa pedang adalah sebuah ironi yang mengganggu.

Berkat Indra Spiritual-nya, ia dengan mudah menemukan paviliun senjata terbesar di distrik luar. Paviliun Persenjataan Ilahi adalah bangunan berlantai lima yang dijaga oleh dua patung singa perunggu raksasa.

Saat Jian Chen melangkah masuk, dinding-dinding di lantai pertama dipenuhi ribuan senjata yang berkilauan. Namun, matanya menyapu seluruh lantai pertama dengan kecewa.

"Senjata kelas fana, sampah. Besi dingin yang dicetak secara paksa, sampah. Pedang ini bahkan akan retak jika ditebas dengan tenaga seribu kilogram," komentar Jian Chen dingin, suaranya cukup keras untuk didengar.

"Nada bicaramu besar sekali untuk seorang bocah dari kampung!"

Seorang pria paruh baya berotot besar yang mengenakan celemek kulit melangkah keluar dari balik konter. Lengannya dipenuhi bekas luka bakar, dan ia memancarkan aura Qi elemen api Tingkat Enam. Dia adalah salah satu master penempa.

"Senjata-senjata di sini ditempa oleh murid-murid senior kami! Jika kau tidak punya mata untuk mengenali barang bagus, sebaiknya kau enyah!" bentak sang penempa dengan marah.

Jian Chen menatap pria itu dengan tenang. "Mata? Kau membuat pedang dari Besi Hitam Yin, namun kau mendinginkannya menggunakan air murni biasa di tengah hari. Akibatnya, esensi Yin di dalam logam itu menguap dan strukturnya menjadi rapuh di bagian tengah. Kau menyebutnya pedang spiritual? Itu hanyalah hiasan dinding."

Wajah sang penempa seketika memucat. Bagaimana mungkin pemuda berjubah hitam ini tahu proses pendinginan spesifik yang ia lakukan kemarin hanya dengan melihat pedang itu sekilas?!

"Panggil penanggung jawab lantai atas," perintah Jian Chen dengan dominasi yang tak tertahankan. "Aku menginginkan Pedang Spiritual setidaknya dari Kelas Bumi (Earth Grade) yang bisa menahan hantaman Qi murni secara ekstrem tanpa retak."

Sikap arogan sang penempa tadi lenyap sepenuhnya, digantikan oleh keringat dingin. "T-Tuan... mohon maafkan ketidaksopanan saya. Tolong, ikuti saya ke lantai tiga. Kami memiliki beberapa mahakarya yang belum terjual."

Di lantai tiga, udaranya jauh lebih tenang. Hanya ada kurang dari lima puluh senjata yang dipajang di atas alas sutra. Mata Jian Chen mengabaikan pedang-pedang yang berkilauan indah, dan langsung terpaku pada sebuah pedang di sudut ruangan yang tertutup debu tipis.

Pedang itu sangat jelek. Bilahnya berwarna hitam pekat, tebal, tanpa pelindung tangan yang mewah, dan tidak memancarkan cahaya spiritual apa pun.

Namun, Indra Spiritual Jian Chen melihat sesuatu yang berbeda.

Besi Meteorit Bintang Jatuh yang dipadukan dengan Esensi Batu Kekosongan? Jian Chen membatin, detak jantungnya sedikit bertambah cepat.

"Tuan muda, saya tidak merekomendasikan pedang itu," sang penempa menjelaskan. "Itu adalah Pedang Tanpa Nama. Ditempa oleh Master Paviliun kami sepuluh tahun lalu sebagai proyek gagal. Beratnya mencapai delapan ratus kilogram! Terlebih lagi, logam itu 'mati'—ia menolak untuk mengalirkan Qi elemen apa pun."

Sebuah senjata yang sangat berat dan menolak Qi elemen api, air, atau petir? Di dunia fana, itu adalah rongsokan. Tapi bagi Jian Chen? Itu adalah senjata yang jatuh dari surga!

Logam yang mengandung Esensi Batu Kekosongan secara alami menolak elemen dasar, karena Kekosongan (Void) menelan segalanya. Itulah mengapa pedang ini disebut "mati". Namun, Niat Pedang Kekosongan milik Jian Chen adalah satu-satunya kunci yang bisa membangunkan naga hitam di dalam besi ini.

"Aku akan mengujinya," kata Jian Chen santai, melangkah maju dan menggenggam gagang pedang itu dengan tangan kanannya.

Sang penempa ingin memperingatkannya agar menggunakan dua tangan dan Qi, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan.

Tanpa mengaktifkan Meridian Primordial-nya sedikit pun, Jian Chen mengerahkan kekuatan murni fisiknya yang mencapai 2.200 kilogram. Dengan satu tangan, ia mengangkat pedang hitam seberat 800 kilogram itu ke udara seolah mengangkat sebatang ranting bambu.

WUSH!

Jian Chen mengayunkan pedang itu secara horizontal. Angin dari tebasan fisik murni itu merobek udara di lantai tiga, menghasilkan ledakan sonik yang membuat gendang telinga sang penempa berdenging hebat hingga ia harus menutup telinganya dengan panik. Etalase kaca di kejauhan bahkan retak akibat gelombang kejutnya.

"B-bagaimana mungkin..." sang penempa menatap Jian Chen seperti melihat monster. Pemuda kurus ini mengayunkan beban 800 kilogram hanya dengan satu tangan tanpa bantuan Qi?!

"Aku ambil ini. Berapa harganya?" tanya Jian Chen, menancapkan ujung pedang itu ke lantai batu keras yang langsung amblas layaknya tahu.

"K-karena itu dianggap produk gagal... tiga ratus Koin Emas sudah cukup, Tuan," jawab penempa itu dengan suara bergetar.

Jian Chen melemparkan sekantong emas kepadanya, lalu mengikat pedang raksasa itu di punggungnya. Mulai hari ini, benda ini bukanlah produk gagal. Jian Chen menamainya Pedang Penguasa Kosong.

Setelah meninggalkan Paviliun Persenjataan, Jian Chen menyewa sebuah kamar di penginapan kelas atas di pusat kota. Ia menghabiskan sisa waktunya untuk menyelaraskan Lautan Kesadaran-nya dengan Pedang Penguasa Kosong, memastikan bahwa Niat Pedangnya dapat mengalir mulus tanpa menghancurkan bilahnya.

Dua hari berlalu dalam sekejap.

Pagi itu, suara terompet raksasa menggema di seluruh penjuru Ibu Kota Kerajaan Angin Langit. Burung-burung spiritual beterbangan ke udara, dan jalanan dipenuhi oleh lautan manusia yang mengalir menuju satu titik pusat.

Hari ini adalah hari ujian masuk Akademi Angin Langit. Generasi muda paling jenius dari berbagai klan, kota, dan sekte kecil berkumpul untuk memperebutkan posisi di institusi paling bergengsi di kerajaan tersebut.

Jian Chen membuka matanya. Kultivasinya di Tingkat 5 Puncak telah dimampatkan hingga mencapai titik kesempurnaan absolut. Ia memanggul Pedang Penguasa Kosong di punggungnya, mengenakan jubah hitamnya, dan melangkah keluar dari penginapan.

"Mari kita lihat, seberapa banyak yang disebut 'jenius' di kota ini yang bisa menahan satu seranganku," gumamnya, senyum tipis yang mendominasi terukir di wajahnya. Panggung pertunjukan sesungguhnya akhirnya dimulai.

1
selenophile
lagi
Nanik S
Aturan baru sang Monster👍👍👍
Nanik S
Paman dan keponakan yang rakus
Nanik S
Maaantaaap dapat harta karun
Nanik S
Dapat cincin Gratis
Nanik S
Mantap Pooool 👍👍👍
Bambang Widono
👍👍👍💯💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Optimus prime
cerita nya bagus...TPI lebih bagus ga ush pake bahasa inggris thor...👍👍
Nanik S
Pulang menghadapi Anjing dan pieraanya
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Hadir dan cukup menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!