NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dunia Novel Menjadi Suami Villain

Transmigrasi Dunia Novel Menjadi Suami Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Sistem / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Fantasi / Harem
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.

Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.

Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.

Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tambang Kristal Merah 3

Semakin jauh melangkah menembus jantung Tambang Kristal Darah, udara berubah menjadi lautan tekanan yang tak kasatmata—pekat, berat, dan menyesakkan. Di kedalaman ini, bahkan kultivator ranah roh tanpa artefak perlindungan spiritual tak lebih dari rapuhnya ilusi; tubuh mereka akan luluh, hancur, dan menguap menjadi kabut darah hanya dalam sekejap napas.

Langkah kaki berlapis zirah emas itu kembali bergema, memecah kesunyian lorong yang menurun tajam menuju perut bumi. Di belakangnya, Xu Mei dan kedua jenderal Utara mengikuti dengan kewaspadaan yang telah ditarik hingga ke batas maksimal. Kematian dua Piton Darah sebelumnya hanyalah hidangan pembuka, dan mereka semua tahu bahwa tekanan sejati dari Tambang Kristal Merah ini masih menanti di ujung jalan.

Sepanjang perjalanan menuruni terowongan raksasa tersebut, dinding-dinding gua dipenuhi oleh tonjolan-tonjolan kristal darah tingkat rendah hingga menengah. Kristal-kristal itu memancarkan pendaran merah redup, seolah dinding gua itu sendiri sedang bernapas dan berdarah. Setiap bongkahan kristal itu, jika dibawa ke dunia luar, akan menjadi rebutan berdarah bagi sekte-sekte kecil yang membutuhkan energi elemen 'Yang' yang sangat murni.

Namun, Wu Xuan berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikit pun. Tangannya tetap bersedekap dengan santai, sementara matanya terus mengunci kegelapan di depan.

Di dalam kepalanya, sifat asli pemuda Bumi itu sedang menggelengkan kepala dengan gaya seorang bos perusahaan besar.

'Lihatlah tumpukan batu bata merah ini,' monolog Wu Xuan dalam hati, menahan tawa sinis. 'Di duniaku dulu, ini ibarat melihat emas. Protagonis novel klise pasti akan berhenti, memungutnya satu per satu, dan tersenyum bodoh merasa kaya. Tapi aku? Aku adalah seorang Archduke, penguasa wilayah. Menunduk untuk mengambil harta ini akan merusak wibawa-ku. Biarkan saja batu-batu ini di sini. Besok, aku tinggal mengirim ribuan penambang dari keluargaku untuk mengeruk habis tempat ini. Kapitalisme delegasi adalah kunci menjadi tiran yang elegan.'

'Tapi sebelum mengirim penambang. Aku harus menghancurkan formasi tekanan alami di tambang ini. Agar para penambang ranah Pembentukan Qi juga dapat bekerja tanpa harus mengorbankan nyawa.'

Saat kelompok itu menembus lapisan kabut terakhir yang menandakan mereka telah memasuki inti gua yang lebih dalam, suhu udara semakin melonjak drastis. Panas yang menyengat terasa seperti memanggang paru-paru mereka dari dalam. Gravitasi di area ini begitu ekstrem hingga setiap tetes keringat yang jatuh dari pelipis kedua jenderal langsung menghantam lantai dengan suara seperti peluru dari tembakan pistol.

Tiba-tiba, tanpa ada fluktuasi Qi yang memberi peringatan, dinding kristal di sekeliling mereka meledak.

SYUUUT! SYUUUT! SYUUUT!

Seratus bilah kristal darah yang setajam pedang pusaka melesat dari kegelapan, mengarah langsung ke jantung dan leher Wu Xuan serta kelompoknya. Kecepatannya melampaui cahaya, merobek udara dengan desisan maut. Serangan penyergapan yang sempurna.

Namun, sebelum Xu Mei atau kedua jenderalnya sempat mengangkat senjata mereka untuk menangkis, sebuah bayangan putih raksasa telah melompat ke depan.

Mandou, sang singa bersayap griffin perak, tidak membuang waktu dengan raungan peringatan. Sayap peraknya yang membentang lebar dikepakkan ke depan dengan kekuatan fisik murni dari Ranah Kuno tahap akhir.

BZZZAAAASSHH!

Sebuah kibasan udara bertekanan luar biasa masif meledak ke arah depan. Angin topan yang terkompresi itu bertabrakan dengan seratus bilah kristal darah tersebut. Dalam sekejap mata, bilah-bilah mematikan itu hancur berkeping-keping menjadi debu merah yang tidak berbahaya, tersapu kembali ke dalam kegelapan lorong.

Dari balik kepulan debu merah itu, suara langkah kaki yang membuat tanah bergetar perlahan terdengar.

BUM... BUM... BUM...

Tiga siluet raksasa melangkah keluar dari bayang-bayang. Mereka adalah Kadal Darah Raksasa. Monster reptil mutasi yang berevolusi di bawah tekanan ekstrem Tambang Kristal Merah. Masing-masing dari mereka memiliki tinggi mencapai sepuluh meter, dengan panjang tubuh nyaris tiga puluh meter. Sisik mereka tidak sekadar menempel, melainkan membentuk lempengan-lempengan zirah kristal tebal yang tumpang tindih. Dari rahang mereka yang meneteskan air liur beracun, lidah bercabang menjulur keluar masuk, merasakan hawa kehidupan dari para penyusup.

Ketiga Kadal Darah Raksasa itu memancarkan fluktuasi Ranah Kuno tahap akhir. Di ruang tertutup ini, mereka adalah mesin pembunuh berdarah dingin.

Mandou menggeram rendah, ketiga kepalanya menyeringai memamerkan taring surgawinya. Alih-alih terintimidasi oleh ukuran mereka yang jauh lebih besar, binatang buas milik Wu Xuan itu seolah mengaum kegirangan. Ia menemukan lawan yang sepadan untuk melemaskan otot-ototnya.

Namun, mata keemasan Wu Xuan tidak tertuju pada ketiga kadal raksasa itu. Kesadaran spiritualnya—telah menembus jauh ke belakang barisan kadal tersebut.

Di sana, di ujung ruang inti gua yang sangat luas, tertidur dua eksistensi yang auranya membuat udara di sekitarnya melengkung. Dua monster yang napasnya menyatu dengan formasi kuno penyegel tambang ini. Dua monster di Ranah Primordial Suci tahap awal.

"Dengarkan aku baik-baik," suara Wu Xuan mengalun pelan namun memotong getaran ketakutan di hati bawahannya. Zirah emasnya memancarkan cahaya yang mengusir kegelapan gua. "Tiga kadal ini hanyalah anjing penjaga lapis kedua. Di ujung ruangan ini, terdapat formasi kuno yang mengikat energi tambang dan menjadi sarang bagi dua monster Primordial Suci."

Kedua jenderal Utara menelan ludah dengan susah payah. Dua monster Primordial Suci?! Ini adalah bunuh diri!

"Adik Xu Mei," panggil Wu Xuan, menoleh sedikit tanpa sepenuhnya memalingkan wajah dari depan. "Bawa kedua jenderalmu. Terobos sisi lorong ini dengan kecepatan penuh. Tugas kalian hanya satu: temukan inti formasi kuno itu dan hancurkan. Mandou akan menahan ketiga kadal raksasa ini."

"Lalu... bagaimana dengan Anda, Archduke?" tanya Xu Mei, suaranya tanpa sadar bergetar.

"Aku akan mengurus dua Primordial Suci di belakang sana," jawab Wu Xuan dengan senyum tipis yang memancarkan arogansi seorang tiran. "Jangan khawatir. Aku tidak berniat membunuh mereka berdua. Aku hanya akan mengajari mereka sopan santun."

Mendengar rencana itu, entah kenapa, jantung Xu Mei mendadak berdenyut nyeri. Bukan nyeri karena tekanan gravitasi, melainkan sebuah kepanikan emosional yang sangat asing baginya.

Sebagai Nyonya Utama wilayah Utara, ia selalu bersikap dingin dan rasional saat menghadapi kemungkinan pembunuhan, Dan Kematian adalah risiko mutlak dalam dunia kultivasi. Namun, saat melihat punggung lebar pria berzirah emas di hadapannya ini, sebuah perasaan protektif sebagai seorang wanita meledak di dadanya. Pria ini, kini akan melangkah sendirian menghadapi dua monster Primordial Suci demi membuka jalan?

"T-Tunggu," panggil Xu Mei refleks, tangannya terulur nyaris menyentuh jubah putih yang berkibar di bahu Wu Xuan. "Itu terlalu berbahaya, bahkan untuk seorang Primordial sepertimu. Dua lawan satu di wilayah yang menguntungkan mereka... biarkan kami membantumu mengalihkan perhatian salah satu dari mereka!"

Wu Xuan tidak menoleh. Ia tetap mempertahankan wibawanya, menatap lurus ke depan dengan postur yang tak tergoyahkan.

Ia tidak merespons dengan kata-kata manis atau pelukan. Ia hanya berdiri di sana, menjadi tembok tak tertembus yang menanggung seluruh beban langit.

"Pergilah," titah Wu Xuan dingin, namun entah mengapa terdengar begitu menenangkan. "Pria yang membiarkan wanitanya terluka oleh cakar monster bukanlah pria yang pantas berdiri di puncak dunia. Lakukan saja tugasmu, Adik Xu Mei."

Kata-kata itu menghantam hati Xu Mei layaknya palu godam. Wanitanya. Sebuah klaim posesif yang dilontarkan di tengah medan kematian. Ekspresi dari perasaan haru nyaris muncul dari sudut mata wanita dewasa itu. Seluruh pertahanan mentalnya runtuh tanpa sisa. Ia tidak lagi melihat Wu Xuan sebagai Archduke Selatan yang penuh perhitungan, melainkan sebagai seorang pelindung yang rela mati untuknya.

"Sesuai perintahmu... Kakak Xuan," bisik Xu Mei dalam hati, sebuah sebutan yang belum berani ia ucapkan keras-keras, namun telah terpatri abadi di jiwanya.

"Jenderal! Ikuti aku! Kita hancurkan formasi itu!" teriak Xu Mei. Matanya kini menyala dengan tekad membara. Ia mengaktifkan seluruh Qi di tubuhnya, mengubah dirinya dan kedua jenderalnya menjadi kilatan cahaya biru yang melesat menyusuri dinding sisi gua, menghindari tatapan ketiga Kadal Darah.

Ketiga Kadal Darah raksasa itu menggeram melihat mangsa mereka mencoba kabur. Salah satu dari mereka memutar tubuhnya yang masif, bersiap untuk menerkam cahaya biru tersebut.

Namun, Mandou tidak membiarkan panggungnya dicuri.

RROOOAAARRR!

Mandou melompat ke udara, mengabaikan gravitasi tambang. Di titik tertinggi lompatannya, sebuah anomali biologis surgawi terjadi. Ketiga kepala singa purba itu tiba-tiba bercahaya menyilaukan. Tubuh raksasa Mandou bergetar hebat, dan ruang di sekitarnya terdistorsi.

SLAAASSH!

Satu tubuh singa itu membelah dirinya sendiri. Tiga kepala berpisah, masing-masing menarik sebagian massa tubuh dan energi kosmik, bermanifestasi menjadi tiga wujud singa putih yang identik. Masing-masing singa putih itu memiliki tinggi tiga meter, sayap griffin perak, dan memancarkan aura murni Ranah Kuno tahap akhir!

Melihat adegan itu, Wu Xuan yang sedang melangkah maju menuju kegelapan seketika menghentikan langkahnya. Matanya terbelalak di balik ketenangan wajahnya.

Di dalam kepalanya, sifat aslinya sebagai orang dari Bumi nyaris tersedak ludahnya sendiri.

'Tunggu... tunggu sebentar. Apa-apaan ini?!' monolog Wu Xuan menjerit histeris namun penuh kegembiraan. 'Mitosis biologis?! Kloning bayangan tingkat dewa?! Sejak kapan peliharaanku bisa membelah diri menjadi tiga entitas fisik yang terpisah dengan kekuatan penuh?! Apa dia diam-diam melakukan grinding level (naik level) saat aku sedang tidur, atau ini adalah skill pasif yang baru saja terbuka?!'

Wu Xuan menahan tawanya. 'Ah, persetan dengan logikanya. Ini sangat luar biasa! Aku baru saja mendapatkan tiga tank kelas atas dengan harga satu peliharaan. Aku hoki sekali.'

Dan memang benar, ketiga Kadal Darah Raksasa itu terlihat kebingungan. Pertarungan yang tadinya satu lawan tiga, kini telah berubah menjadi duel adil tiga lawan tiga. Ketiga singa putih itu tidak membuang waktu. Mereka menerjang ke depan, masing-masing menargetkan satu kadal, memulai tarian pembantaian yang mengguncang pilar-pilar gua.

Wu Xuan tersenyum puas dan kembali melangkah maju. Ia berjalan santai melewati medan pertempuran Mandou, menembus lorong raksasa hingga akhirnya tiba di inti ruang tambang yang sesungguhnya.

Ruangan ini adalah sebuah kubah bawah tanah raksasa yang luasnya mencapai puluhan kilometer. Di tengah kubah tersebut, sebuah formasi array bercahaya merah darah berputar lambat, memancarkan rantai-rantai energi yang menyerap inti bumi.

Dan di atas formasi itu, melingkar dua eksistensi yang sangat agung sekaligus mengerikan.

Naga Darah Kristal.

Bukan naga bersayap kelelawar seperti Armis, melainkan naga darah memanjang khas mitologi timur. Panjang tubuh mereka mencapai ratusan meter, tertutup oleh sisik kristal merah yang murni tanpa cacat. Mereka tidak memiliki kaki, melayang di udara berkat manipulasi hukum elemen darah dan gravitasi tingkat Primordial.

Merasakan kehadiran aura Primordial Suci milik Wu Xuan, kedua naga itu membuka mata mereka secara serempak. Mata tanpa pupil yang hanya berisi pendaran darah murni.

HROOOOAAARRR!!!

Raungan dua monster Primordial Suci itu menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan ribuan ton stalaktit di atap gua. Tekanan Primordial tahap awal meledak, mencoba menekan Wu Xuan hingga berlutut.

Namun, Wu Xuan hanya berdiri tegak. Dao Halo di punggungnya berputar lambat, menolak tekanan tersebut dengan keanggunan seorang kaisar. Zirah emasnya memantulkan cahaya merah dari kedua naga itu.

Naga Darah pertama, yang merasa wilayah kekuasaannya diganggu, melesat ke udara. Namun ia tidak menyerang Wu Xuan. Insting predatornya mendeteksi fluktuasi formasi yang sedang diserang di sudut ruangan lain. Xu Mei dan kedua jenderalnya telah tiba di dekat inti formasi dan sedang melancarkan serangan bertubi-tubi.

Naga Darah itu mengaum marah, memutar tubuh raksasanya dan melesat ke arah Xu Mei dengan kecepatan kilat, bersiap untuk menelan ketiga lalat pengganggu itu dalam satu gigitan rahang kristalnya.

Xu Mei yang sedang memusatkan energinya pada formasi, menoleh dan memucat melihat rahang sebesar gedung yang meluncur ke arahnya.

Namun, sebelum Naga Darah itu bisa melewati batas tengah ruangan, Wu Xuan mengangkat tangan kirinya.

"Kau tidak punya izin untuk meninggalkan tempatmu," titah Wu Xuan dengan suara dingin yang membelah udara.

Akar Spiritual Kayu Surgawi di dalam tubuhnya meledak dengan kekuatan absolut.

Di dalam dunia kultivasi, elemen kayu biasanya membutuhkan tanah dan kelembapan untuk tumbuh. Namun, Kayu Surgawi milik Wu Xuan melampaui logika tersebut. Energi hijau zamrud mengalir dari tangan Wu Xuan dan meresap langsung ke dalam lantai batu kristal merah yang keras.

KRAAAK! KRAAAK! BZZZTT!

Lantai kristal di bawah tubuh Naga Darah yang sedang melesat itu tiba-tiba meledak. Puluhan akar raksasa, masing-masing sebesar pilar istana kerajaan, melesat keluar dari dalam batu. Akar-akar hantu berwarna hijau zamrud bercahaya itu tidak terbuat dari kayu biasa, melainkan dari pohon murni yang terkondensasi menjadi materi fisik.

Akar-akar itu melesat layaknya cambuk dewa, membelit tubuh raksasa Naga Darah Kristal itu dengan presisi mutlak. Mereka melilit leher, mengunci ekor, dan membelenggu tubuh tengah naga tersebut sebelum ia bisa mendekati Xu Mei.

GAAARRRGHH!

Naga Darah itu meronta hebat, mencoba menggunakan kekuatan fisik Primordialnya untuk memutuskan akar-akar tersebut. Namun, Kayu Surgawi milik Wu Xuan menyerap energi darah dari naga itu setiap kali ia meronta, membuat akar-akar itu semakin kuat dan semakin erat membelitnya. Naga itu tertahan di udara, sepenuhnya dikunci oleh manipulasi elemen kayu tingkat ekstrem.

Naga kedua mengaum melihat pasangannya ditangkap. Ia menerjang lurus ke arah Wu Xuan, membuka rahangnya untuk menyemburkan pilar api darah napas pemusnah berunsur racun.

Wu Xuan hanya tersenyum tenang. Ia tidak menarik Pedang Pelahap Dunia dari pinggangnya. Zirah emasnya memancarkan kemilau yang semakin terang saat ia mengangkat kedua tangannya dengan santai.

Di dalam kepalanya, ia bermonolog dengan nada pragmatis. 'Mencabut pedangku dan memenggal kepala kalian adalah hal yang mungkin. Pedangku akan senang, Armis akan kenyang. Tapi... membunuh naga Primordial adalah pemborosan aset yang sangat tidak termaafkan bagi seorang penguasa.'

Wu Xuan mengingat hadiah sistem yang ia dapatkan setelah membersihkan bencana Utara. Teknik Kutukan Pengunci (Locking Curse Technique). Sebuah teknik terlarang yang mampu memanipulasi hukum takdir untuk mengunci jiwa beast menjadi budak absolut, dengan syarat kekuatan jiwa monster itu tidak melebihi jiwa host.

'Kenapa harus membunuh jika aku bisa membuat mereka menjadi anjing penjaga gerbang istanaku?' seringai licik Wu Xuan melebar di balik wajah tampannya. 'Ayo kita bermain-main sedikit tanpa senjata. Aku akan menaklukkan jiwa kalian.'

Sementara Wu Xuan memulai pertarungan non-lethalnya dengan sepasang Naga Primordial Suci, di sisi lain lorong, pertarungan antara ketiga singa Mandou dan tiga Kadal Darah raksasa telah mencapai puncaknya.

Ketiga Kadal Darah yang mulai tersudut itu meraung putus asa. Tubuh kristal mereka bercahaya terang. Di atas kepala mereka, ilusi energi merah meledak keluar, membentuk tiga Avatar Roh (Spirit Avatar) berbentuk Kadal Darah raksasa transparan. Masing-masing avatar itu memiliki tinggi mencapai 50 meter, menekan ruang di sekitar mereka dengan aura penghancur.

Memanggil Avatar Roh adalah kartu truf terakhir dari setiap makhluk di Ranah Kuno. Di Benua Tianlan, aturan alam menetapkan bahwa manusia atau monster di Ranah Kuno hanya mampu memadatkan Avatar Roh maksimal setinggi 30-40 meter. Hanya mereka yang berhasil menembus ke Ranah Primordial Suci dan membuka Avatar Dharma yang mampu bermanifestasi menjadi raksasa setinggi ratusan bahkan jutaan kilometer.

Melihat avatar setinggi 50 meter itu, kedua jenderal Utara yang sedang merusak formasi dari kejauhan nyaris menjatuhkan rahang mereka.

"50 meter?! Itu melanggar batas hukum alam Ranah Kuno!" teriak jenderal pertama dengan ngeri. "Apa karena mereka Beast?"

Namun, kengerian mereka belum seberapa.

Ketiga singa putih Mandou menghentikan serangan mereka. Mereka melangkah mundur, lalu melolong panjang ke arah langit-langit gua secara bersamaan. Tubuh ketiga singa itu memancarkan cahaya perak yang luar biasa menyilaukan. Mereka tidak memanggil tiga avatar terpisah, melainkan menyatukan resonansi jiwa mereka ke dalam satu titik fokus.

Di atas ketiga tubuh fisik Mandou, ruang spasial hancur. Sebuah pusaran awan badai perak terbentuk.

Dari dalam pusaran itu, kaki depan seekor singa raksasa menapak turun, menghancurkan udara. Lalu, Avatar Roh Mandou bermanifestasi sepenuhnya.

Seekor Singa Putih bersayap griffin perak dengan tiga kepala yang terbuat murni dari esensi kosmik dan bintang-bintang. Avatar Roh itu berdiri tegak, menyentuh langit-langit kubah tambang. Tingginya mencapai 100 meter yang sangat mengerikan dan mustahil!

"S-Seratus meter..." jenderal Utara kedua jatuh terduduk, tombaknya terlepas dari tangannya. "Ini tidak mungkin... Makhluk peliharaan Archduke ini... garis keturunan macam apa yang mengalir di darahnya?!"

Bahkan kadal-kadal raksasa itu membeku dalam ketakutan primitif saat melihat Avatar Singa setinggi 100 meter memandang rendah ke arah avatar 50 meter mereka layaknya melihat anak kucing.

ROAAAAAARRR!!!

Avatar Mandou tidak memberikan ampun. Dengan satu ayunan cakar peraknya yang seukuran bukit kecil, ia menyapu bersih ketiga avatar kadal darah itu. Avatar merah itu hancur berkeping-keping layaknya kaca yang dipukul palu godam. Backlash (serangan balik) dari hancurnya avatar langsung membuat ketiga tubuh fisik Kadal Darah memuntahkan darah segar dan ambruk.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, ketiga fisik Mandou melesat maju. Tiga kepala singa purba itu menerkam secara bersamaan. Dengan kebrutalan mengerikan, mereka meremukkan kepala ketiga Kadal Darah tersebut, menghancurkan tengkorak kristal mereka hingga tak bersisa.

Mandou membuka rahangnya, menghisap ketiga jiwa kadal yang mencoba melarikan diri, lalu menelannya mentah-mentah, mengubah jiwa-jiwa malang itu menjadi nutrisi bagi garis keturunannya.

Ketiga tubuh singa putih itu kemudian berjalan santai, mengais sisa bangkai kadal dengan cakarnya, dan menemukan tiga buah Core Darah tingkat Kuno akhir yang masih berdenyut. Mereka menumpuk ketiga harta karun itu dengan rapi.

Di tengah pertarungannya dengan naga Primordial, kesadaran Wu Xuan melihat adegan tersebut. Jiwa pemuda Bumi di dalam dirinya melonjak kegirangan layaknya seorang anak kecil di toko mainan.

'YA AMPUN! TIGA CORE DARAH KUNO AKHIR?!' teriak monolog batin Wu Xuan dengan kebahagiaan yang meluap-luap. 'Ini bukan sekadar farming level, ini namanya merampok developer! Dengan loot sebanyak ini, aku bisa melakukan eksperimen terlarang! Mandou, kau adalah anak baik. Ayah akan membelikanmu makanan premium paling mahal setelah kita pulang!'

Di tengah kegirangannya atas harta jarahan yang melimpah, Wu Xuan kembali memfokuskan pandangannya pada dua Naga Darah Primordial di depannya yang masih meronta dan melawan.

"Nah," ucap Wu Xuan dengan senyuman yang kini terlihat seratus kali lipat lebih tiran dan menakutkan bagi kedua monster purba itu. Ia mengangkat tangannya yang bercahaya keemasan, membentuk segel tangan yang rumit. Simbol-simbol kutukan mulai berputar di ujung jarinya. "Kroco kalian sudah habis. Sekarang, saatnya aku memasangkan kalung anjing di leher kalian."

Bersambung...

1
Fajar Fathur rizky
thor gambar yan meli mana thor
EGGY ARIYA WINANDA: Nanti kalau wu xuan udah pulang ke selatan dinasti.
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 46
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 45 thor
Fajar Fathur rizky
thor bikin wuxuan licik orang yang mau meracuni klanya bikin bantai bikin orang yang mau meruntuhkan tambang spritual juga di bantal semua sampai tak tersisa bikin faksi ibu kota ketakutan bikin wuxuan meracuni semua anggota Kekaisaran great yan termasuk kedua leluhur itu bikin ranah kultivasi mereka turun sampai ranah primordial suci tahap awal bikin mereka menua
Fajar Fathur rizky
thor bikin wuxuan bikin pil racun yang menurunkan ranah kultivasi kedua leluhur itu sampai ranah primordial suci tahap awal thor bikin wuxuan licik
Fajar Fathur rizky
bikin semua orang yang di suruh itu mati oleh wuxuan
Fajar Fathur rizky
yan maier yang ada elu yg bakal di taklukkan oleh wuxuan
Fajar Fathur rizky
bikin Kekaisaran great yan bangkrut thor
Fajar Fathur rizky
bikin nanti bantai leluhur itu dan kaisar Kekaisaran great yan dengan cara paling kejam thor
Fajar Fathur rizky
cepat bikin wuxuan bantai para pembunuh itu dengan cara paling kejam thor bikin tubuh mereka jadi makanan hewan kontraknya
Fajar Fathur rizky
di tunggu updatenya thor bab 44 thor
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 43 thor
Fajar Fathur rizky
cepat naikin ranah kultivasi wuxuan sampai ranah tinggi thor pengen liat dia bantai kaisar Kekaisaran great yan termasuk dua leluhur itu dan taklukin ibu suri itu thor
Fajar Fathur rizky
cepat bikin ranah kultivasi yan dobu dan yan chaoran turun sampai ranah primordial suci tahap awal
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 43 thor
Fajar Fathur rizky
nanti jika wuxuan jika sudah berada di ranah tribulasi dunia tahap puncak bantai kedua leluhur Kekaisaran great yan itu dengan cara paling kejam Dan keji thor
Fajar Fathur rizky
chapter 42 bikin wuxuan kejam kepada musuhnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai yantian dengan cara paling kejam mati di tangan rakyatnya sendiri
Fajar Fathur rizky
cepat bikin wuxuan bantai kaisar dan kedua leluhur Kekaisaran great yan dengan cara licik memberikan racun yang membuat ranah kultivasi kedua leluhur Kekaisaran great yan turun begitu juga ranah kultivasi kaisar yan turun
Fajar Fathur rizky
bikin nanti dinasty menjadi dinasty wu bukan yan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!