NovelToon NovelToon
TERJEBAK OBSESI

TERJEBAK OBSESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Duda
Popularitas:505
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

update setiap tanggal genap

Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.

Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.

Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sahabat yang Terlihat Tulus

Lin Yinjia masih memikirkan camilan itu bahkan sampai keesokan harinya. Kotak kecil berisi roti kacang merah itu sudah habis semalam. Ia memakannya sambil membaca catatan kuliah di kamar kosnya yang sempit, duduk di lantai dengan buku-buku terbuka di sekelilingnya. Rasa rotinya lembut, manisnya pas, dan entah kenapa membuat perutnya terasa hangat setelah seharian lelah.

Tapi yang membuatnya tidak tenang bukan rasa rotinya. Melainkan fakta bahwa seseorang meletakkannya di mejanya tanpa nama.

Pagi itu ruang kelas masih setengah kosong ketika Yinjia masuk. Ia datang lebih awal dari biasanya karena harus mencetak beberapa tugas kelompok. Tas kainnya terlihat penuh dan sedikit berantakan, seperti biasa.

Ia langsung menuju mejanya. Langkahnya berhenti. Ada sesuatu lagi. Sebuah botol susu kedelai dingin. Yinjia menatap botol itu seolah benda itu bisa menjawab pertanyaannya.

Ia melihat ke kiri dan kanan. Beberapa mahasiswa baru saja masuk kelas. Tidak ada yang terlihat mencurigakan. “Siapa sih…” gumamnya pelan. Ia mengangkat botol itu dan membacanya. Masih baru. Bahkan tutupnya belum dibuka.

Beberapa detik ia ragu. Lalu ia menaruhnya kembali. “Kalau ini prank gimana…”

“Prank apa?” Suara yang familiar muncul dari belakangnya. Yinjia menoleh cepat.

Xu Yara berdiri di sana sambil mengangkat alis, wajahnya segar seperti biasa. Rambutnya yang panjang diikat rendah, dan ia mengenakan jaket kampus yang terlihat rapi.

Yara adalah orang yang pertama kali Yinjia kenal ketika masuk universitas dua tahun lalu. Dan sejak itu mereka hampir selalu bersama. “Eh, kamu sudah datang?” Yinjia tersenyum lega.

Yara mendekat ke mejanya lalu melihat botol susu itu. “Ini apa?”

“Makanya aku juga bingung.” Yinjia duduk sambil menunjuk botol itu. “Kemarin juga ada roti di mejaku.”

Yara menyilangkan tangan. “Serius?”

“Iya. Aku kira mungkin kamu.”

“Aku?” Yara tertawa kecil. Kalau aku yang kasih, aku pasti bilang dong.”

Yinjia menggaruk belakang kepalanya, sedikit malu. “Ya… aku cuma menebak.”

Yara mengambil botol susu itu dan mengamatinya sebentar. “Hmm.”

“Apa?”

“Kamu mungkin punya pengagum rahasia.” Yinjia hampir tersedak udara.

“Apa? Jangan bercanda.”

“Aku serius.” Yara tersenyum tipis. “Di kampus ini banyak kok yang memperhatikanmu.”

Yinjia langsung menggeleng keras. “Tidak mungkin.”

“Kenapa tidak mungkin?”

“Karena… aku biasa saja.” Ia membuka tasnya dan mengeluarkan buku catatan yang agak kusut. “Aku juga sudah punya tunangan.”

Kalimat itu membuat Yara diam sebentar. Lalu ia duduk di kursi sebelah Yinjia. “Benar juga.” Nada suaranya terdengar ringan, tapi matanya terlihat berbeda sesaat.

“Tunanganmu dari keluarga Gu itu, kan?” Yinjia mengangguk.

Nama itu membuatnya sedikit tidak nyaman. Gu Zhenrui. Tunangan yang bahkan jarang ia temui.

“Orangnya tampan, kaya, dan populer,” kata Yara. “Tapi dia tidak terlalu menyukaimu, ya?”

Yinjia tertawa kecil, walau ada rasa pahit di tenggorokannya. “Bukan tidak terlalu.”

“Mungkin memang tidak sama sekali.”

Yara memiringkan kepala. “Kamu masih mau menikah dengannya?”

Yinjia tidak langsung menjawab. Ia membuka buku catatan dan pura-pura membaca halaman pertama. “Ayahku yang mengatur perjodohan itu.”

“Keluarga mereka membantu bisnis ayah dulu.”

“Jadi… aku tidak punya banyak pilihan.”

Yara memperhatikan wajahnya. “Kamu terdengar seperti orang yang menyerah.”

Yinjia mengangkat bahu. “Mungkin.” Ia kemudian menunjuk botol susu itu lagi. “Menurutmu aku harus minum ini?”

Yara tertawa. “Minum saja.”

“Kalau ada racun?”

“Kalau ada racun kamu sudah mati kemarin karena roti itu.”

Kalimat itu membuat Yinjia tertawa keras. Ia akhirnya membuka botol susu itu. Rasanya dingin dan segar. “Lumayan enak,” katanya setelah meneguk sedikit.

Yara tersenyum melihatnya. Di mata orang lain, hubungan mereka terlihat sangat akrab.

Yara sering membantu Yinjia memahami materi kuliah yang sulit. Mereka makan siang bersama hampir setiap hari. Bahkan beberapa teman kelas sering bercanda bahwa mereka seperti saudara.

Tapi ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar disadari Yinjia. Bahwa Yara sering memperhatikannya terlalu lama. Seperti sedang menilai sesuatu.

Kuliah pagi dimulai tidak lama setelah itu. Profesor Zhang masuk kelas dengan setumpuk dokumen di tangannya. “Baik, hari ini kita akan membahas analisis pasar internasional.”

Semua mahasiswa langsung membuka laptop atau buku catatan. Yinjia menulis dengan serius. Walaupun ia sering ceroboh dalam hal-hal kecil, ia cukup tekun dalam belajar.

Beberapa kali ia terlihat menggigit ujung pulpen ketika berpikir. Di tengah penjelasan profesor, Yara tiba-tiba menyenggol lengannya pelan.

“Yinjia.”

“Hm?”

“Orang itu lagi.”

“Siapa?”

Yara sedikit memiringkan kepalanya ke arah baris belakang.

Yinjia menoleh. Seorang mahasiswa laki-laki duduk di sana. Tinggi, berambut hitam rapi, dengan wajah yang cukup dikenal di fakultas mereka.

Chen Luo.

Mahasiswa populer yang sering mendapat nilai tinggi dan aktif di organisasi kampus. Saat Yinjia menoleh, Chen Luo sedang melihat ke arah mereka.

Begitu mata mereka bertemu, Chen Luo langsung memalingkan wajahnya seolah tidak terjadi apa-apa. Yinjia kembali menatap Yara.

“Ada apa?”

Yara mengangkat alis. “Dia sering melihatmu.”

“Tidak mungkin.”

“Serius.”

Yinjia menggeleng lagi. “Kamu terlalu banyak membaca novel.”

Yara tertawa kecil. “Kalau dia yang memberi camilan itu bagaimana?”

Yinjia menutup wajahnya dengan buku catatan. “Tidak mungkin.”

“Terlalu dramatis.”

Yara hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa lagi. Namun di dalam pikirannya, sesuatu bergerak pelan. Ia tidak suka cara Chen Luo melihat Yinjia. Tidak suka sama sekali.

Jam kuliah berakhir hampir dua jam kemudian. Mahasiswa mulai keluar kelas satu per satu. Yinjia masih membereskan buku-bukunya ketika seseorang berhenti di dekat mejanya. Ia mendongak.

Chen Luo.

Ia terlihat sedikit canggung berdiri di sana. “Hai.”

“Eh… hai.”

Yinjia langsung duduk lebih tegak. Chen Luo menunjuk buku catatan di tangannya. “Catatanmu tadi lengkap sekali.”

“Oh.”

“Aku cuma menulis apa yang profesor bilang.”

Chen Luo tersenyum tipis. “Boleh aku foto?”

“Tentu.”

Yinjia mendorong bukunya ke depan. Chen Luo mengambil foto beberapa halaman dengan cepat. “Terima kasih.”

“Tidak masalah.”

Beberapa detik mereka berdiri dalam keheningan yang agak canggung. Lalu Chen Luo berkata pelan. “Kamu datang lebih pagi hari ini.”

Yinjia mengangguk. “Iya.”

“Ada tugas yang harus dicetak.”

Chen Luo tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi akhirnya hanya mengangguk. “Baiklah. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa.”

Ia pergi setelah itu. Yinjia menghela napas panjang begitu ia keluar dari kelas. “Kenapa aku selalu gugup kalau bicara dengan orang…”

Yara muncul lagi di sampingnya. “Karena kamu memang gugup.”

“Dia cuma meminjam catatan.”

Yara tersenyum. “Ya, tentu saja.” Nada suaranya terdengar ringan. Tapi di dalam kepalanya, pikirannya jauh lebih rumit.

Hari itu mereka makan siang di kantin kampus seperti biasa. Tempat itu ramai dengan mahasiswa dari berbagai jurusan. Yinjia membeli semangkuk mie sederhana dan teh hangat.

Yara memesan sesuatu yang lebih mahal. “Kamu benar-benar tidak peduli dengan pengagum rahasia itu?” tanya Yara tiba-tiba. Yinjia mengangkat wajah dari mangkuknya. “Kenapa kamu terus membicarakan itu?”

“Karena menarik.”

“Bagiku tidak.” Ia mengaduk mie dengan sumpitnya.

“Aku sudah punya terlalu banyak masalah.”

“Masalah apa?”

Yinjia terdiam sebentar. Ia jarang benar-benar bercerita tentang keluarganya kepada orang lain.

“Tugas kuliah.”

“Perjodohan.”

“Hal-hal seperti itu.”

Yara menatapnya dengan serius. “Kamu tidak pernah berpikir untuk menolak perjodohan itu?”

Yinjia tersenyum tipis. “Ayahku sudah berusaha keras membangun hubungan dengan keluarga Gu.”

“Aku tidak ingin membuatnya kecewa.”

Yara tidak langsung menjawab. Ia hanya meminum tehnya perlahan. Di dalam hatinya ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Perasaan yang campur aduk antara simpati dan sesuatu yang lebih gelap. Sesuatu yang bahkan ia sendiri belum ingin mengakuinya.

Sore itu Yinjia pulang ke kamar kosnya dengan tubuh lelah. Ia membuka pintu kamar kecilnya dan langsung menjatuhkan tas ke kursi.

Hari itu terasa panjang. Ia membuka ponselnya. Tidak ada pesan dari Zhenrui. Seperti biasa. Ia bahkan tidak yakin kapan terakhir kali mereka benar-benar berbicara.

Yinjia merebahkan diri di tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamar yang sederhana. Di kampus, hidupnya terlihat normal. Ada kuliah, tugas, teman, dan tawa kecil di kantin. Tapi di balik itu semua, masa depannya terasa seperti sudah ditentukan oleh orang lain. Perjodohan. Keluarga Gu. Seorang tunangan yang bahkan tidak menyukainya.

Yinjia menghela napas. “Kenapa hidup terasa rumit sekali…”

Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Sebuah pesan masuk. Nomor yang sangat ia kenal. Gu Zhenrui.

Yinjia duduk perlahan. Pesannya singkat. “Datang ke rumahku minggu ini. Ibuku ingin bertemu.”

Tidak ada salam. Tidak ada penjelasan. Hanya perintah. Yinjia menatap layar ponselnya cukup lama. Ia tahu pertemuan itu tidak akan menyenangkan. Tapi ia juga tahu…

Ia tidak punya banyak pilihan. Dan tanpa ia sadari, keputusan kecil itu akan membawa hidupnya lebih dekat ke dunia keluarga Gu. Dunia yang jauh lebih dingin. Dan jauh lebih berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!