Di Medan tahun 2026, Rania Putri pendiri startup yang membantu UMKM dengan teknologi data terpaksa bekerja sama dengan perusahaan besar dari Jakarta yang dipimpin oleh Reza Aditya, mantan kekasihnya yang menghilang tanpa kabar sepuluh tahun lalu.
Pada awalnya, mereka hanya fokus pada pengembangan aplikasi "UMKM Connect", namun menemukan kode aneh dalam sistem yang menyimpan jejak masa lalunya. Saat menyelidiki asal usul kode tersebut, mereka mengungkap rahasia mengejutkan, perpisahan mereka dulu adalah rencana jahat dari Doni Pratama, mantan sahabat Rania yang mengambil alih bisnis keluarga dia.
Di tengah penyelidikan yang penuh kejadian lucu dan tantangan bisnis, rasa cinta lama mereka kembali muncul. Setelah berhasil membongkar kejahatan Doni dan mendapatkan dukungan pemerintah, mereka tidak hanya menyelesaikan proyek aplikasi yang bermanfaat bagi jutaan UMKM, tapi juga menemukan kesempatan kedua untuk cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 : UJI COBA YANG LUCU DAN SUKSES
Suara tawa riuh memenuhi halaman depan pasar tradisional Pasar Merdeka Medan pada pagi hari yang cerah. Seluruh tim UMKM Connect – Rania, Reza, Dewi, Adi, Lina, Bima, dan Maya – berkumpul bersama puluhan pemilik usaha kecil yang akan mengikuti uji coba pertama integrasi sistem baru dengan pasar tradisional. Atmosfer yang penuh semangat dan sedikit gugup terasa di udara, karena ini adalah langkah besar untuk membawa teknologi ke dalam lingkungan yang sudah terbiasa dengan cara kerja konvensional selama puluhan tahun.
“Baiklah teman-teman, hari ini adalah hari yang sangat penting!” ucap Rania dengan suara ceria sambil berdiri di atas panggung kecil yang disiapkan di tengah pasar. “Kita akan melakukan uji coba pertama aplikasi baru kita yang bisa membantu kita memprediksi permintaan pasar dengan lebih akurat. Semoga semua berjalan lancar ya!”
Tepukan riuh menggema sepanjang pasar. Pak Joko dari Warung Makan “Cita Rasa” bahkan membawa alat musik tradisional yang membuat suasana semakin meriah. Namun, tidak ada yang menyangka bahwa uji coba ini akan menjadi salah satu momen paling lucu dan tak terlupakan dalam perjalanan mereka bersama.
“Mari kita mulai dengan mengaktifkan sistem untuk semua usaha yang berpartisipasi!” jelas Reza yang sedang berdiri di samping layar besar yang akan menampilkan data secara real-time. “Setiap usaha akan memasukan data stok dan harga produk mereka, lalu sistem akan menganalisis tren dan memberikan prediksi permintaan untuk hari ini.”
Proses pendaftaran berjalan lancar. Para pedagang dengan antusias memasukkan data produk mereka ke dalam aplikasi yang sudah diinstal di tablet yang disediakan oleh tim. Ada pedagang sayuran, pedagang buah, penjual makanan ringan, hingga penjual kerajinan tangan yang ikut serta dalam uji coba ini.
“Wah, aplikasi ini sangat mudah digunakan ya Bu Rania!” teriak Bu Sri yang menjual kerajinan tangan dengan senyum lebar. “Saya yang bukan terlalu pandai teknologi saja bisa menggunakannya dengan lancar!”
Setelah semua data dimasukkan, sistem mulai melakukan analisis selama sekitar lima menit. Seluruh tim dan pedagang berkumpul di depan layar besar dengan mata penuh harapan, menunggu hasil prediksi yang akan menentukan berapa banyak stok yang harus mereka siapkan.
“SEDANG MENGANALISIS DATA… SILAKAN TUNGGU…” tulis tulisan besar di layar. Setelah beberapa saat, hasil akhirnya muncul – dan membuat semua orang terpana lalu langsung tertawa terbahak-bahak.
PREDIKSI PERMINTAAN PASAR HARI INI:
- Bawang Merah: 1.200 kg (normalnya sekitar 150 kg)
- Telur Ayam: 50.000 butir (normalnya sekitar 3.000 butir)
- Kerupuk Udang: 2.500 bungkus (normalnya sekitar 200 bungkus)
- Bunga Mawar Merah: 3.000 tangkai (normalnya sekitar 100 tangkai)
- Mie Instan Rasa Kari: 10.000 bungkus (normalnya sekitar 500 bungkus)
“WADUH APA INI?!” teriak Pak Soleh yang menjual sayuran dengan ekspresi terkejut yang membuat semua orang semakin tertawa. “Bagaimana mungkin permintaan bawang merah jadi 1.200 kg? Padahal biasanya hanya sekitar 150 kg saja!”
Rania dan Reza segera mendekat ke layar dengan wajah sedikit panik, mencoba mencari tahu di mana kesalahan terjadi. Dewi dan Adi langsung mengecek kode sistem di laptop mereka, sementara Lina mencoba menghubungi tim teknis yang ada di kantor untuk membantu menganalisis masalahnya.
“Tunggu dulu, mari kita periksa data masukan nya,” ucap Dewi dengan suara yang tetap tenang meskipun suasana sekitar sangat ramai dengan tawa dan percakapan. Setelah beberapa saat memeriksa, dia menemukan sumber masalahnya dan langsung tertawa juga.
“Wah ternyata begitu!” teriak Dewi sambil menunjuk ke layar laptopnya. “Ada kesalahan dalam pengaturan parameter sistem. Sistem kita tidak hanya menganalisis data pasar lokal, tapi juga salah mengambil data dari acara besar yang akan diadakan di kota lain besok!”
Semua orang semakin tertawa mendengar penjelasannya. Ternyata sistem baru yang mereka kembangkan secara tidak sengaja menghubungkan data dari acara pernikahan besar yang akan diadakan di Jakarta besok dengan pasar tradisional di Medan. Akibatnya, prediksi permintaan menjadi jauh di atas angka normal.
“Padahal kita sudah mengatur agar sistem hanya mengambil data dari sekitar 50 km radius saja,” jelas Adi dengan suara penuh kesalahan. “Ternyata ada bug kecil yang membuat sistem mengambil data dari seluruh Pulau Jawa juga!”
Meskipun sedikit panik pada awalnya, suasana segera kembali menjadi riang dengan tawa yang tak kunjung usai. Pak Joko bahkan membuat lelucon tentang bagaimana mereka harus menyediakan truk penuh bawang merah untuk memenuhi permintaan yang tidak akan pernah datang.
“Kalau benar-benar ada permintaan segitu banyak, saya harus menyewa pesawat untuk mengangkut bawang merah dari dataran tinggi ya Bu!” canda Pak Joko sambil tertawa terbahak-bahak.
Rania segera mengambil inisiatif untuk mengatasi situasi ini dengan bijak. “Tenang saja teman-teman! Meskipun ada kesalahan kecil ini, ini justru membuktikan bahwa sistem kita bekerja dengan baik – hanya saja perlu sedikit penyesuaian pada parameter pengambilan data. Mari kita manfaatkan momen ini sebagai pembelajaran yang berharga ya!”
Mereka semua mengangguk dengan senyum, menyadari bahwa kesalahan seperti ini adalah bagian dari proses pengembangan teknologi. Tim teknis segera bekerja untuk memperbaiki sistem, sementara para pedagang mulai berbagi cerita tentang kesalahan lucu yang pernah mereka alami dalam menjalankan usaha mereka.
“Saya pernah juga salah menghitung pesanan lho Bu!” cerita Bu Lina yang menjual makanan ringan. “Dulu ada pesanan untuk acara sekolah sebanyak 50 bungkus kue, tapi saya salah dengar jadi bikin 500 bungkus! Akhirnya saya bagi-bagi ke tetangga dan teman-teman saja!”
Suasana semakin meriah dengan cerita-cerita lucu dari para pedagang. Sementara itu, tim teknis telah berhasil memperbaiki sistem dan melakukan kalibrasi ulang parameter pengambilan data. Dalam waktu kurang dari satu jam, sistem siap untuk diuji coba kembali.
“Baiklah teman-teman, sistem sudah diperbaiki!” ucap Reza dengan suara penuh semangat. “Mari kita coba lagi dengan parameter yang sudah disesuaikan agar hanya mengambil data dari sekitar Medan dan wilayah sekitarnya saja.”
Kali ini, proses analisis berjalan lancar dan hasil prediksi yang muncul jauh lebih masuk akal:
- Bawang Merah: 160 kg
- Telur Ayam: 3.200 butir
- Kerupuk Udang: 220 bungkus
- Bunga Mawar Merah: 120 tangkai
- Mie Instan Rasa Kari: 550 bungkus
“Wah sekarang sudah pas sekali ya!” teriak Bu Sri dengan senyum lebar. “Sekarang saya bisa menghitung berapa banyak stok yang harus saya siapkan tanpa takut kelebihan atau kekurangan!”
Mereka segera melanjutkan uji coba dengan menjalankan sistem selama seluruh hari. Para pedagang mulai menggunakan aplikasi untuk mencatat setiap transaksi yang terjadi, dan sistem secara real-time mengupdate data serta memberikan rekomendasi jika ada produk yang mulai langka atau terlalu banyak stok.
“Sangat membantu sekali!” cerita Pak Hadi yang menjual buah-buahan. “Tadi saya hampir kehabisan apel, tapi sistem sudah memberi peringatan sejak pagi hari sehingga saya bisa cepat mengambil stok dari gudang. Akhirnya saya tidak mengecewakan pelanggan yang datang khusus untuk membeli apel!”
Selama hari itu, banyak kejadian lucu lainnya yang membuat semua orang tertawa. Misalnya, ketika sistem secara tidak sengaja merekomendasikan pedagang bunga untuk menjual bunga mawar bersama dengan mie instan karena pola pembelian yang sedikit unik dari beberapa pelanggan.
“Kalau seperti ini nanti saya jadi pedagang mie dan bunga ya Bu!” canda Pak Darmawan yang menjual bunga sambil tertawa. “Mungkin ada orang yang mau beli mie dan bunga sekaligus untuk pacarnya!”
Meskipun ada beberapa kejadian lucu lainnya, uji coba secara keseluruhan berjalan sangat sukses. Pada akhir hari, mereka menghitung bahwa omset para pedagang yang berpartisipasi meningkat rata-rata 30% dibanding hari biasa. Banyak pelanggan yang merasa puas karena mendapatkan produk yang mereka butuhkan dengan mudah, dan para pedagang juga puas karena tidak ada lagi stok yang terbuang sia-sia atau kekurangan produk yang banyak dicari.
“Lihat saja teman-teman, meskipun ada awal yang sedikit lucu, akhirnya kita berhasil kan?” ucap Rania dengan suara penuh bangga saat memberikan kata penutup di akhir hari. “Ini membuktikan bahwa teknologi bisa membawa manfaat besar bagi kita semua, asalkan kita mau belajar dan beradaptasi bersama!”
Tepukan riuh sekali lagi menggema sepanjang pasar. Para pedagang bahkan mengajak seluruh tim untuk makan malam bersama sebagai bentuk terima kasih atas bantuan yang diberikan. Mereka menyajikan hidangan khas Medan yang sangat lezat – mulai dari bubur pedas, sate padang, hingga gulai kambing yang menggugah selera.
“Saya tidak menyangka bahwa teknologi bisa membantu kita seperti ini,” ucap Pak Joko dengan suara penuh rasa syukur. “Dulu saya selalu kesulitan menghitung berapa banyak makanan yang harus saya siapkan setiap hari. Kadang kelebihan, kadang kekurangan. Sekarang dengan aplikasi ini, saya bisa mengatur semuanya dengan tepat!”
Mereka semua berbagi cerita dan candaan selama makan malam. Banyak pedagang yang mulai bertanya tentang kapan sistem ini akan bisa digunakan secara penuh oleh semua usaha di pasar. Mereka juga memberikan berbagai masukan untuk meningkatkan aplikasi agar lebih sesuai dengan kebutuhan mereka sebagai pedagang pasar tradisional.
“Saya punya ide nih Bu!” teriak Bu Sri dengan semangat. “Kalau aplikasi bisa dibuat juga dalam bahasa daerah Medan saja, pasti akan lebih mudah dimengerti oleh banyak orang di sini!”
“Baiklah Bu Sri, kita akan pertimbangkan masukan Anda dengan baik!” jawab Dewi dengan senyum hangat. “Kita selalu ingin membuat sistem yang mudah digunakan oleh semua orang, tanpa memandang usia atau tingkat pengetahuan teknologi mereka.”
Setelah makan malam selesai dan suasana mulai mereda, Rania dan Reza berdiri di pinggir pasar yang kini mulai sepi. Mereka melihat ke arah tempat di mana uji coba pertama mereka berjalan dengan penuh warna – mulai dari kejadian lucu di pagi hari hingga kesuksesan yang mereka raih di akhir hari.
“Perjalanan kita memang selalu penuh kejutan ya Rania,” ucap Reza dengan suara pelan. “Tapi itu yang membuatnya menarik dan berharga.”
Rania tersenyum dan menjawab: “Ya Reza. Setiap kesalahan adalah pembelajaran, setiap tawa adalah kebahagiaan yang kita bagikan bersama. Inilah yang membuat kerja sama kita begitu berharga – kita bisa menghadapi segala sesuatu dengan senyum dan semangat yang tidak pernah padam.”
Mereka berdua melihat ke arah langit yang sudah mulai gelap, dengan bintang-bintang yang mulai bersinar terang. Di kejauhan, mereka bisa melihat beberapa pedagang yang masih sibuk mengatur barang dagang mereka sambil sesekali melihat ke arah tablet yang telah mereka berikan – membuktikan bahwa teknologi sudah mulai menjadi bagian dari kehidupan mereka.
“Kita akan terus bekerja keras untuk membuat sistem ini semakin baik,” jelas Rania dengan suara penuh tekad. “Semua masukan dari para pedagang akan kita gunakan untuk mengembangkan aplikasi agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.”
Reza mengangguk dengan penuh kesepakatan. “Dan kita akan selalu mengingat momen ini – uji coba yang lucu tapi sukses yang membuktikan bahwa kerja sama dan kebersamaan adalah kunci dari setiap kesuksesan.”
Mereka berdua berjalan perlahan meninggalkan pasar, merasa bahwa mereka telah mencapai tonggak penting dalam perjalanan mereka. Meskipun awalnya penuh dengan kejadian lucu yang membuat semua orang tertawa, uji coba pertama mereka di pasar tradisional telah berhasil membuktikan bahwa teknologi bisa diterima dengan baik oleh masyarakat yang terbiasa dengan cara kerja konvensional – asalkan dilakukan dengan cara yang tepat dan penuh rasa hormat terhadap budaya lokal.
Di pagi hari berikutnya, mereka semua berkumpul kembali di kantor UMKM Connect untuk merencanakan langkah selanjutnya. Mereka akan melakukan uji coba lebih lanjut di beberapa pasar lain di Medan sebelum akhirnya meluncurkan sistem secara penuh untuk semua usaha kecil di seluruh kota.
“Kita akan membuat panduan pengguna yang sangat sederhana dan mudah dimengerti,” jelas Maya yang sedang menyusun rencana pelatihan. “Setiap pedagang akan mendapatkan pelatihan secara gratis agar mereka bisa menggunakan aplikasi dengan lancar.”
Adi juga menambahkan: “Kita akan membuat pusat bantuan khusus untuk menangani segala masalah teknis yang mungkin terjadi. Jadi para pedagang tidak perlu khawatir jika ada sesuatu yang tidak bisa mereka pahami.”
Mereka semua bekerja dengan penuh semangat, mengetahui bahwa setiap langkah yang mereka ambil akan membawa manfaat bagi banyak orang. Momen uji coba yang lucu dan sukses di Pasar Merdeka Medan akan selalu menjadi kenangan berharga yang mengingatkan mereka bahwa kerja sama yang penuh rasa humor dan semangat akan selalu membawa hasil yang baik.
Saat matahari mulai menyinari kantor mereka, mereka siap untuk menghadapi hari-hari mendatang dengan tekad yang lebih kuat. Proyek UMKM Connect tidak hanya tentang teknologi – ini tentang bagaimana mereka bisa membawa perubahan positif bagi kehidupan banyak orang, dengan cara yang penuh cinta, kerja sama, dan tentunya, sedikit sentuhan humor yang membuat perjalanan menjadi lebih menyenangkan.