"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"
Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.
Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Antara Perintah Ayah dan Bisikan Hati
[Waktu: Rabu, 22 April, Pukul 23.15 PM]
[Lokasi: Apartemen Mewah Gu Jingshen, Distrik Nanshan, Shenzhen]
Gelas kristal yang pecah di lantai balkon mencerminkan perasaan Gu Jingshen saat ini: hancur dan berantakan. Suara rekamannya sendiri yang begitu lembut kepada Lin Xia masih terngiang-ngiang di telinganya. "Aku tidak akan pergi ke mana pun... Aku berjanji."
Janji itu terasa seperti belati yang menusuk dadanya. Bagaimana bisa ia melupakan wanita yang telah mempertaruhkan nyawa untuk mengubah naskah demi keselamatannya? Bagaimana bisa ia bersikap begitu kejam di lobi kantor dan di cafe tadi?
Baru saja ia hendak mengambil ponselnya untuk menghubungi Lin Xia, sebuah nada dering khusus yang sangat ia segani memecah kesunyian. Di layar ponselnya tertera satu nama: "Papa".
Gu Jingshen menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya sebelum mengangkat telepon itu. "Halo, Pa."
"Pulanglah ke rumah sekarang," suara di seberang sana terdengar berat, dingin, dan tidak menerima bantahan. "Ada hal penting yang harus kita bicarakan mengenai Project Mnemosyne dan kekacauan yang kau buat di wahana Suzhou kemarin."
"Ini sudah larut, Pa. Bisakah kita bicara di kantor besok?"
"Sekarang, Jingshen. Mamamu juga sudah menunggumu, dia merindukanmu," jawab Tuan Gu sebelum memutuskan sambungan secara sepihak.
Gu Jingshen mengepalkan tangannya. Ia tahu jika ayahnya sudah membawa-bawa nama ibunya, itu artinya tidak ada jalan keluar. Dengan berat hati, ia mengambil kunci mobilnya dan meninggalkan apartemen-nya, mengabaikan serpihan gelas yang masih berserakan di balkon—sama seperti ingatannya yang masih berserakan.
[Waktu: Kamis, 23 April, Pukul 00.30 AM]
[Lokasi: Kediaman Utama Keluarga Gu, Shenzhen]
Rumah mewah keluarga Gu berdiri megah dengan arsitektur klasik yang dingin. Saat Gu Jingshen melangkah masuk, ia disambut oleh ibunya, Nyonya Gu, yang langsung memeluknya dengan hangat.
"Jingshen, syukurlah kau datang. Kau tampak sangat lelah, Nak," ucap ibunya lembut sambil mengusap pipi putranya. Nyonya Gu tidak tahu apa-apa tentang ketegangan yang sedang terjadi. Ia hanya tahu bahwa suaminya ingin mengadakan pertemuan keluarga mendadak. "Mama sudah membuatkan sup hangat untukmu di meja makan."
"Terima kasih, Ma," jawab Jingshen pelan, mencoba memberikan senyum tipis untuk menenangkan ibunya.
"Jingshen, masuk ke ruang kerja Papa. Sekarang," suara Tuan Gu menggelegar dari lantai atas.
Nyonya Gu tampak bingung. "Ada apa sebenarnya? Kenapa wajah Papa terlihat begitu marah?"
"Hanya masalah bisnis kecil, Ma. Jangan khawatir," bohong Jingshen. Ia memberikan satu tepukan lembut di tangan ibunya sebelum melangkah menuju ruang kerja ayahnya yang gelap.
Begitu pintu ruang kerja tertutup, suasana berubah menjadi mencekam. Tuan Gu berdiri di balik meja besarnya, membelakangi putranya sambil menatap taman belakang yang gelap.
"Jelaskan padaku, kenapa kau memerintahkan Ah Cheng untuk membuka data terenkripsi Project Mnemosyne tanpa izin dewan direksi?" Tuan Gu berbalik, matanya berkilat marah. "Kau tahu risikonya, Jingshen! Protokol penghapusan ingatan itu dibuat untuk melindungi stabilitas mentalmu dan reputasi perusahaan!"
"Aku hanya ingin tahu kebenarannya, Pa! Ada seorang wanita, Lin Xia, dia—"
"Cukup!" Tuan Gu memukul meja dengan keras. "Wanita itu hanya seorang penulis naskah kelas bawah. Dia hanyalah glitch dalam sistem yang seharusnya sudah kau lupakan! Kau adalah CEO Gu Corp. Masa depan perusahaan ini ada di pundakmu. Kau tidak boleh membiarkan perasaan konyol dari sebuah simulasi merusak akal sehatmu!"
"Itu bukan sekadar perasaan konyol! Dia menyelamatkanku!" teriak Jingshen, suaranya naik satu oktav.
Tuan Gu berjalan mendekati putranya, menatapnya dengan tatapan meremehkan. "Dengar baik-baik, Jingshen. Besok pagi, kau akan kembali ke kantor dan bersikap seolah-olah data itu tidak pernah kau buka. Jika kau mencoba menemui wanita itu lagi atau membawanya masuk lebih dalam ke kehidupanmu, aku sendiri yang akan memastikan dia menghilang dari Shenzhen. Bukan hanya dari perusahaan, tapi dari kota ini."
Darah Jingshen terasa membeku. Ia tahu ayahnya tidak pernah main-main dengan ancamannya.
"Pecat dia besok pagi. Itu perintahku sebagai pimpinan tertinggi Gu Corp," pungkas Tuan Gu. "Sekarang keluar. Dan jangan membuat ibumu curiga."
Gu Jingshen keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai. Di ruang tamu, ibunya masih menunggunya dengan senyum manis, menawarkan sup yang sudah dingin. Jingshen memaksakan diri untuk meminum beberapa sendok sup itu, meski rasanya hambar seperti debu di lidahnya.
[Waktu: Kamis, 23 April, Pukul 08.00 AM]
[Lokasi: Gedung Gu Corp, Shenzhen]
Pagi itu, cuaca di Shenzhen tampak mendung. Lin Xia sudah duduk di sofa ruang kerja CEO dengan laptopnya, hatinya berdebar tidak keruan menantikan kedatangan Gu Jingshen setelah kejadian di cafe semalam. Ia berharap ada perubahan, sebuah pengakuan, atau setidaknya tatapan yang lebih lembut.
Pintu terbuka. Gu Jingshen melangkah masuk.
Lin Xia segera berdiri. "Selamat pagi, Tuan Gu. Saya sudah menyiapkan naskah bab sembilan sesuai perintah—"
Kalimatnya terputus saat melihat wajah Gu Jingshen. Pria itu tampak lebih dingin dari biasanya. Matanya merah, tanda kurang tidur, namun tatapannya tajam dan tidak bersahabat. Ia melewatinya begitu saja tanpa melirik sedikit pun.
"Letakkan di meja," jawab Gu Jingshen pendek. Ia duduk di kursi kebesarannya dan langsung membuka laptopnya sendiri, seolah-olah Lin Xia hanyalah udara kosong.
Lin Xia terpaku. Kenapa? Semalam di cafe dia tampak sangat terpengaruh...
"Tuan Gu, tentang semalam... di cafe... apakah Anda baik-baik saja?" tanya Lin Xia dengan suara bergetar.
Gu Jingshen berhenti mengetik, namun ia tetap tidak mendongak. Di dalam benaknya, suara ayahnya terngiang kembali: "Jika kau menemuinya lagi, aku akan memastikan dia menghilang dari Shenzhen."
Jingshen mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-bukunya memutih. Ia harus melindungi Lin Xia. Dan satu-satunya cara untuk melindunginya dari kemarahan ayahnya adalah dengan mendorongnya menjauh, sejauh mungkin.
"Kejadian semalam adalah sebuah kesalahan," ucap Gu Jingshen dengan nada datar yang menusuk. "Aku hanya sedang kelelahan dan terbawa suasana. Jangan berpikir bahwa satu kunjungan ke cafemu yang sempit itu mengubah status kita."
Lin Xia merasa jantungnya diremas. "Tapi Anda mendengar rekaman itu, kan? Anda mulai ingat, kan?"
Gu Jingshen akhirnya mendongak. Matanya menatap Lin Xia dengan penuh kebencian yang dipaksakan. "Ingat apa? Bahwa aku terjebak dalam naskah murahan yang kau buat? Bahwa aku menjadi karakter bodoh yang mencintai wanita yang bahkan tidak selevel denganku?"
"Tuan Gu!" Lin Xia memekik, air mata mulai menggenang di matanya.
"Dengar, Nona Lin. Aku sudah meninjau naskahmu. Itu sampah. Tidak ada gunanya dilanjutkan," Gu Jingshen mengambil map naskah bab sembilan dan melemparnya ke arah tempat sampah di pojok ruangan. Map itu mendarat dengan suara buk yang memilukan.
"Mulai hari ini, kau dibebastugaskan dari proyek ini. Bagian HRD akan mengirimkan uang kompensasimu. Jangan pernah menginjakkan kaki di gedung ini lagi, dan jangan pernah muncul di depanku lagi."
Lin Xia terdiam membatu. Seluruh dunianya seolah runtuh di depan mata. Ia menatap naskahnya yang tergeletak di tempat sampah—naskah yang ia tulis dengan seluruh jiwanya untuk menyelamatkan pria di depannya ini.
"Kenapa Anda melakukan ini?" bisik Lin Xia, suaranya pecah oleh isak tangis. "Kenapa Anda berbohong pada diri sendiri? Saya melihatnya di mata Anda semalam... Anda mengingat saya!"
Gu Jingshen berdiri, mencondongkan tubuh ke arah meja dengan tatapan yang sangat dingin hingga Lin Xia merasa ia sedang berhadapan dengan orang asing. "Keluar, Lin Xia. Sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu seperti pengemis."
Lin Xia menutup mulutnya, menahan isak tangisnya agar tidak pecah lebih keras. Ia menyambar tasnya dan berlari keluar dari ruangan itu tanpa menoleh. Ia melewati lorong kantor dengan air mata yang mengalir deras, mengabaikan tatapan heran dari para staf lainnya.
Di dalam ruangannya, begitu pintu tertutup, Gu Jingshen jatuh terduduk kembali di kursinya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar. Tangannya gemetar hebat.
"Maafkan aku, Lin Xia..." bisiknya parau ke ruangan yang kosong. "Hanya dengan cara ini aku bisa menjagamu tetap hidup."
Ia mengambil ponselnya dan menelepon Ah Cheng. "Ah Cheng... pastikan dia sampai di rumahnya dengan aman. Dan jangan biarkan siapa pun dari pihak ayahku mendekatinya. Siapkan pengawalan rahasia untuknya selama 24 jam."
Gu Jingshen kemudian menatap tempat sampah tempat naskah Lin Xia berada. Ia berdiri, mengambil map itu, dan mendekapnya erat di dadanya. Di balik topeng CEO yang kejam, hatinya menangis untuk wanita yang baru saja ia hancurkan perasaannya.
Sementara itu, Lin Xia berlari keluar gedung Gu Corp, menembus hujan gerimis yang mulai turun di Shenzhen. Ia tidak tahu bahwa ayahnya Gu Jingshen sedang mengawasinya dari mobil hitam di seberang jalan dengan senyum sinis.
"Permainan yang bagus, Jingshen," gumam Tuan Gu di dalam mobilnya. "Kau memang anakku."
Lin Xia berhenti di pinggir jalan, membiarkan tubuhnya basah kuyup. Ia mengeluarkan sapu tangan putih itu, menatapnya dengan penuh keputusasaan. "Janji itu... ternyata benar-benar hanya baris naskah yang bisa dihapus."
Namun, di tengah kesedihannya, sebuah pesan masuk ke ponselnya dari nomor yang tidak dikenal:
"Jika kau ingin menyelamatkan Marsekalmu dan adiknya, datanglah ke dermaga lama Suzhou jam 12 malam besok. Jangan beritahu Gu Jingshen."
Mata Lin Xia membelalak. Si Penulis Bayangan kembali menghubungi.
...****************...