NovelToon NovelToon
After Love

After Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Ketos
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.

"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"

"Kecuali apa, hm?"

Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.

✧✧✧

Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.

Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.

Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?

*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

✦✦

Kedua pintu kamar yang saling bersebelahan, tiba-tiba terbuka secara bersamaan.

Dari balik pintu itu muncul Galvin dan Khaira yang sudah rapih dan lengkap menggunakan seragam sekolah.

Mereka memang tidur di kamar yang berbeda, namun pagi ini kebetulan sekali mereka keluar dari kamar dalam waktu yang bersama.

"Assalamu'alaikum." Khaira mengucapkan salah terlebih dahulu, begitu kedua manik-manik matanya bertemu langsung dengan tatapan Galvin yang dalam.

"Wa'alaikumsalam," jawab Galvin, kembali berbicara dengan nada datar dan tanpa ekspresi.

Bukannya merasa bingung, Khaira justru merasa senang, karena sikap Galvin kembali seperti semula. Sikap Galvin yang seperti itu adalah sikap sosok Galvin yang dia kenal.

Berbeda dengan sikap Galvin waktu subuh tadi, yang malah membuatnya merasa sedikit takut dan was-was.

"Bunda dan ayah udah nunggu," ucap Galvin kembali, kemudian berjalan lebih dulu di depan Khaira, meninggalkan Khaira yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.

'Akhirnya sikap kamu kembali seperti ini,' batin Khaira dengan senang sekaligus merasa lega.

Dia memandangi punggung Galvin yang mulai menuruni anak tangga.

Jika di pagi hari, keluarga mereka sudah biasa menggunakan tangga untuk menuju lantai atas atau pun bawah. Sementara di malam hari, mereka lebih sering menggunakan lift, karena tenaga mereka sudah terkuras habis oleh aktivitas dari pagi hingga sore, bahkan sampai malam hari.

"Di mana Khaira? Kenapa kamu ga turun bareng dia?" tanya Diana, begitu melihat Galvin yang menghampiri mereka di meja makan hanya seorang diri, tanpa Khaira bersamanya.

"Mungkin dia belum selesai siap-siap," jawab Galvin, sambil menarik kursinya kemudian duduk di kursi itu untuk menyantap sarapan pagi.

Bersamaan dengan itu, di ujung tangga, mereka melihat Khaira yang baru menuruni anak tangga.

Penampilan Khaira yang tampak sederhana tetapi terlihat begitu indah, berhasil membuat sang mertua terkagum kepada menantunya itu.

"Istri kamu cantik banget, Sayang." Diana menggoda Galvin, dan memberikan kode kepada anaknya itu, untuk ikut melihat ke arah Khaira.

"Bunda pintar banget cari mantu," puji Hadi, yang tidak lain adalah suami Diana sekaligus ayah Galvin.

"Jelas dong, Yah. Ga mungkin bunda sembarangan pilih istri buat anak kita," balas Diana, dengan perasaan bangga.

Selama ini dia memang tidak pernah salah dalam mengambil keputusan, dalam hal apa pun. Termasuk memilih pasangan untuk anaknya.

"Selain baik, dia juga sangat cantik." Diana tidak hentinya terus memuji Khaira.

"Kamu setuju, kan, Sayang. Kalau Khaira itu sangat cantik?" tanya Diana, mengalihkan pandangannya kepada Galvin.

Dia ingin tahu bagaimana pengakuan Galvin tentang menantunya.

Galvin adalah anaknya, sudah pasti seleranya dengan Galvin tidak akan jauh berbeda.

"Jawab dong, Sayang. Khaira sangat cantik, kan?" tanya Diana kembali, mendesak Galvin untuk menjawab.

Galvin hanya mengangguk samar, namun itu cukup menjadi jawaban atas pertanyaan ibundanya.

Diana juga sangat mengenal anaknya itu yang tidak suka mengekspresikan perasaannya.

'Aku yakin dia sangat cantik, Bunda. Walaupun aku belum melihat wajahnya,' batin Galvin.

Kedua bola mata indah Khaira sudah cukup untuk membuktikan secantik apa wajah yang tersembunyi di balik cadar itu.

"Assalamu'alaikum. Mohon maaf Khaira terlambat," ucap Khaira, sambil sedikit menundukkan kepalanya dengan sopan.

Dia merasa tidak enak, karena semua orang sudah menunggunya begitu dia tiba di meja makan itu.

"Wa'alaikumsalam. Tidak papa, Sayang. Kami juga baru beberapa menit yang lalu duduk di sini," ucap Diana, begitu ramah dan lembut.

"Silahkan duduk, Nak. Kita mulai sarapannya," ucap Hadi dan langsung mendapatkan anggukkan sopan dari Khaira.

Dia duduk di kursi kosong yang hanya tersisa satu lagi di sana. Sementara ketiga kursi lainnya sudah ditempati oleh ayah ibu mertuanya dan juga Galvin.

Sementara itu, dia duduk di kursi yang berada di antara Galvin dan Diana.

"Ini teh dan susunya sudah bibi siapkan," ucap Bi Narti, dengan sebuah nampan putih di kedua tangannya.

Minuman itu merupakan menu terakhir yang disiapkan untuk sarapan di pagi hari ini.

"Makasih, Bi." Diana membantu Bi Narti memindahkan gelas teh dan susu itu dari nampan ke meja makan mereka.

Bi Narti mengangguk seraya tersenyum ramah. Kemudian dia segera berpamitan untuk kembali lagi ke dapur.

"Akhirnya pagi ini kita bisa sarapan bersama," ucap Hadi.

Suasana makan bersama dengan anaknya adalah hal yang sangat membuatnya bahagia. Di tengah-tengah kesibukannya, biasanya dia hanya makan berdua bersama Diana.

Pekerjaan dan kesibukan mereka menuntut mereka menjalani kehidupan seperti itu setiap harinya.

"Semoga kedepannya kita bisa lebih banyak memiliki waktu untuk bersama seperti ini," ucap Diana, berharap jika hal itu benar-benar akan dia dan keluarganya rasakan.

"Aamiin!" ucap Khaira, Galvin, dan juga Hadi secara bersamaan.

"Aamiin!" Diana ikut mengaminkan.

Mereka mulai sarapan dengan tenang. Tidak ada obrolan yang begitu ramai ketika mereka sedang makan.

Keluarga mereka selalu memegang teguh prinsip bahwa mereka harus tenang saat makan.

Bukan hanya gaya makan mereka yang tenang, tetapi susana di sekitar mereka juga tenang.

Meja makan itu terletak di tengah ruangan yang luas, dikelilingi oleh dinding-dinding yang dipenuhi dengan ornamen-ornamen menawan.

Suasana di ruangan itu begitu tenang, hampir seolah-olah waktu berhenti sejenak.

Cahaya yang masuk melalui jendela-jendela besar, memberikan pencahayaan alami yang cukup, menciptakan atmosfer yang hangat dan nyaman.

Di atas meja makan, piring-piring dan gelas-gelas tertata rapi, siap untuk menyambut hidangan lezat yang akan disajikan.

Nampan perak dan alat makan berkilauan menambah kesan mewah pada kesederhanaan pengaturan meja.

Di sekeliling meja, kursi-kursi kayu jati yang kokoh dan elegan disusun dengan apik, selalu siap untuk diduduki oleh keluarga di rumah itu.

Di sudut ruangan, sebuah lemari pajangan berisi koleksi porselen dan kristal yang berharga, menghiasi dinding dengan keindahan dan keanggunannya.

Lukisan-lukisan yang menggantung di dinding, menggambarkan pemandangan alam yang menakjubkan, seolah-olah mengajak para penghuni rumah untuk terus merasakan kedamaian.

Tanaman hias yang diletakkan di beberapa sudut ruangan menambah sentuhan hijau yang menyegarkan.

Sementara itu, aroma wangi dari sarapan yang sudah tersedia lengkap di atas meja, membaur luas memenuhi ruangan makan, menambah keharmonisan suasana yang sudah terasa begitu menenangkan dan menyenangkan.

 

Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sudah menyelesaikan acara sarapan pagi mereka.

Mereka sengaja memutuskan untuk sarapan di waktu yang masih sangat pagi. Hal itu mereka lakukan supaya sisa waktunya bisa mereka gunakan untuk berbincang hangat dan santai, sebelum mereka disibukkan oleh kegiatan mereka masing-masing.

Mereka duduk di ruang tamu yang hangat, dikelilingi oleh foto-foto keluarga yang menghiasi dinding.

Diana dan Hadi, yang merupakan orang tua Galvin dan mertua Khaira, menatap anak dan menantu mereka dengan penuh harapan.

Diana dan Hadi ingin membicarakan hal ini sejak awal Galvin dan Khaira menikah, tetapi mereka memilih untuk menunda terlebih dahulu pertanyaan itu.

Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk bertanya sekarang. Karena mereka berpikir jika ini adalah waktu yang tepat untuk mereka berbicara.

"Sebentar lagi kalian akan lulus sekolah, kan?" tanya Diana sambil menaruh ponselnya.

Dia tidak ingin obrolan dia bersama keluarganya terganggu oleh notifikasi pesan dari pekerjaan yang tidak ada habisnya.

Galvin dan Khaira menyimak ucapan Diana dengan baik. Itu sebagai sikap hormat dan sikap patuh kepada orang tua mereka.

"Nah, bunda mau tanya sama kalian. Kalian mau langsung lanjut kuliah atau cuti dulu untuk membuat Bunda cucu?" sambung Diana, mengutarakan isi hatinya.

Uhuk!

Galvin yang tidak sedang memakan atau pun meminum sesuatu, tiba-tiba saja tersedak.

Sementara Khaira, dia langsung memicingkan kedua bola mata indahnya. Pertanyaan dari ibu mertuanya itu benar-benar mengejutkannya.

"Kenapa kalian malam diam? Apa keputusan kalian?" tanya Diana, sambil menatap ke arah Galvin dan Khaira secara bergantian.

Galvin dan Khaira langsung saling pandang, tak menyangka pertanyaan tersebut muncul begitu saja dari orang tua mereka, bahkan di pagi hari seperti ini.

Keduanya menikah karena dijodohkan dan masih beradaptasi dengan perubahan dalam hidup mereka. Bahkan mereka sama sekali tidak berpikir untuk memiliki anak.

Khaira menatap ke arah Galvin, seolah meminta pertolongan supaya Galvin saja yang menjawab pertanyaan ibu mertuanya.

Sementara jika bisa, dia memilih untuk diam saja, karena dia takut salah menjawab atau keliru dalam berbicara.

Galvin yang paham dengan tatapan itu, langsung berdeham pelan.

Dia berusaha menetralkan hati dan pikirannya, supaya tetap terlihat tenang di hadapan Khaira, maupun di hadapan ayah dan ibu mertuanya.

"Siapa yang mau jawab? Kenapa kalian malah sama-sama diam? Apa pertanyaan ini terlalu sulit untuk kalian?" tanya Hadi, yang ikut meminta mereka untuk segera menjawab, karena selain Diana, dia juga sangat penasaran, tentang keputusan apa yang akan diambil oleh anak dan menantunya itu.

Galvin mengubah posisi duduknya, menjadi lebih tegas dari sebelumnya. Dia memposisikan dirinya supaya siap menjawab pertanyaan dadakan, yang sama sekali tidak dia duga jika pertanyaan itu akan ada.

"Bunda, kita mau fokus belajar dulu. Kita mau menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi, sebelum memikirkan tentang anak," jawab Galvin.

Diana dan Hadi mengangguk paham akan jawaban yang Galvin sampaikan.

Namun meskipun jawaban itu sudah mereka dengar, tetapi Diana merasa tidak puas jika hanya Galvin saja yang berbicara.

Dia juga ingin mendengarkan tanggapan langsung dari Khaira.

Hal ini bukan dia lakukan tanpa alasan, tetapi karena dia ingin memastikan bahwa keputusan yang baru saja Galvin sampaikan, tidak hanya keputusan yang berasal dari Galvin saja, tetapi keputusan yang diambil atas kesepakatan Galvin dan juga Khaira.

"Bagaimana dengan pendapat kamu, Sayang? Apa pendapat kamu sama dengan Galvin?" tanyanya, yang semula menatap ke arah Galvin, kini beralih menatap Khaira.

Khaira tentu saja terkejut, karena dia mendapatkan pertanyaan yang sama.

Padahal sebelumnya dia sudah merasa tenang, karena dia berpikir jika jawaban Galvin sudah cukup menjawab pertanyaan mertuanya.

Namun ternyata pikirannya salah. Dia juga harus menjawab pertanyaan yang sama.

Sebelum menjawab, Khaira memutuskan untuk menatap ke arah Galvin lebih dulu.

Dia ingin Galvin kembali menolongnya untuk kali ini. Namun, sepertinya pertolongan itu tidak akan dia dapatkan lagi.

Karena saat kedua manik-manik menatap lurus ke arah Galvin, Galvin malah menaikkan salah satu alisnya, sambil tersenyum tipis dan samar.

'Dia sengaja membiarkan aku menjawab pertanyaan Bunda? Bagaimana kalau aku salah menjawab?' batin Khaira, dengan segala rasa khawatirnya.

Dan benar dugaan Khaira, bahwa Galvin memang sengaja membiarkan Khaira untuk menjawab pertanyaan itu, karena dia juga penasaran bagaimana jawaban Khaira tentang pertanyaan itu. Apakah sama dengan jawabannya? Atau justru jauh berbeda?

"Ehm!"

Khaira berdeham pelan, sebelum menjawab. Dia melakukan itu untuk menetralkan perasaannya lebih dulu.

"Bagaimana keputusan kamu, Sayang?" tanya Diana kembali kepada Khaira, dengan lembut dan gaya bicara yang tenang.

Khaira memusatkan pandangannya kepada ibu mertuanya.

"Sama seperti yang Galvin katakan sebelumnya, Bunda. Kami mau fokus dulu pada pendidikan."

"Kenapa?"

"Karena kami mau memberikan yang terbaik untuk anak kami kelak, dan itu termasuk pendidikan yang layak. Jadi, kami berharap bunda dan ayah bisa mendukung keputusan kami," jawab Khaira dengan begitu tenang, disertai kerutan kecil di sudut matanya.

Hal itu menunjukkan bahwa Khaira berbicara seraya tersenyum di balik cadarnya.

Diana dan Hadi saling berpandangan, dia tidak menyangka jika jawaban itu yang akan keluar dari mulut Khaira.

Ternyata menantu kecilnya itu sangat berpikir luas dan sangat jauh ke depan tentang kehidupan.

Jika anak dan menantunya sudah menjelaskan seperti itu, tentu saja mereka memahami keputusan yang Galvin dan Khaira ambil.

"Baiklah, kami mengerti. Tapi jangan lupa, kalian juga harus menjaga hubungan baik sebagai suami istri," pesan Hadi dengan tegas, tetapi masih terkesan lembut.

Galvin dan Khaira tersenyum, berterima kasih atas dukungan dan pengertian orang tua mereka.

"Baiklah. Obrolan kita pagi ini seperti sudah selesai. Walaupun sebenarnya, bunda ingin membicarakan hal lainnya, tetapi kalian harus segera berangkat ke sekolah," ucap Diana, sambil menghembuskan napasnya dengan pelan.

"Benar. Ayah dan Bunda juga harus segera berangkat ke kantor," sambung Hadi.

"Kita bisa bicara lagi di waktu luang nanti," ucap Galvin dan langsung mendapatkan anggukkan dari yang lainnya, termasuk Khaira.

Mereka keluar dari dalam rumah bersama-sama menuju parkiran.

Hadi dan Diana berpamitan pergi lebih dulu kepada Galvin dan Khaira.

Tidak lama setelah itu, Galvin dan Khaira ikut keluar dari area parkiran dan gerang rumah mereka.

 

"Gue suka jawaban lo tadi," ucap Galvin tiba-tiba.

Dia berbicara dengan pandangannya yang masih fokus ke depan jalan, karena ada etir mobil yang harus selalu dia kendalikan.

"Tadi aku bingung harus jawab kaya gimana. Pertanyaan ayah sama bunda benar-benar di luar dugaan. Kita ditanya tentang anak, padahal kita sama sekali ga pernah bahas itu sebelumnya," ucap Khaira, seraya tertawa pelan di balik cadarnya.

Galvin menoleh sekilas ke arah Khaira. "Mau bahas sekarang?" tanyanya, tiba-tiba.

"Hah? Bahas apa?" tanya Khaira, dengan ekspresi bingung.

"Anak." Galvin mengatakan itu dengan begitu santainya.

"Anak siapa?" Khaira malah kembali bertanya. Dia tidak langsung paham dengan apa yang Galvin maksudkan.

"Anak kita," jawab Galvin, dengan nada dingin.

Bukannya terkejut mendengar ucapan Galvin, Khaira malah dibuat tertawa pelan.

"Pagi-pagi udah becanda aja," ucapnya, yang mengira jika ucapan Galvin hanyalah sebuah candaan.

"Kalau gue serius, gimana?" tanya Galvin kembali, dengan ekspresi wajahnya yang serius.

Namun Khaira masih tidak menanggapinya dengan serius. Karena dia sangat yakin, jika Galvin hanya asal berbicara, untuk mengerjainya saja.

"Ga mungkin, kan, kalau kamu punya anak dari aku?" tanya Khaira. Dengan berani dia berkata seperti itu, karena dia berpikir bahwa dirinya hanya menanggapi candaan Galvin saja.

Dia mengatakan itu dengan pandangannya yang sekilas menoleh ke arah Galvin, kemudian pandangan itu kembali dia alihkan ke sebuah buku yang sedang dia baca.

"Kenapa ga mungkin?" Galvin kembali melontarkan pertanyaan, dengan ekspresi wajahnya yang tenang.

"Kamu lupa? Awal pernikahan, kita udah buat kesepakatan untuk tidak saling mengganggu satu sama lain," ucap Khaira, mengingatkan kembali akan kesepakatan yang sudah mereka buat sebelumnya.

"Jangankan punya anak. Kita aja ga boleh saling nuntut hak dan kewajiban," sambungnya kembali, tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannya dari buku itu.

"Kesepakatan bisa dibatalin kapan aja. Sekarang juga bisa, kalau lo mau."

"Kamu yang mau bukan aku!" sahut Khaira, kembali tertawa pelan, karena dia masih menganggap itu adalah sebuah candaan.

Kitt!

Galvin tiba-tiba menghentikan mobilnya di persimpangan jalan, hingga membuat Khaira hampir saja menjatuhkan bukunya.

Untung saja mereka menggunakan sabuk pengaman, sehingga mereka masih dalam keadaan aman.

"Ya, lo bener. Gue yang mau. Gue mau kesepakatan itu dibatalin, sekarang," jawab Galvin, atas ucapan Khaira sebelumnya.

Khaira tidak memberikan respon apa pun. Dia masih berpikir apakah Galvin benar-benar serius dengan ucapannya atau tidak.

Galvin yang semula menghadapkan wajahnya ke depan, kini beralih menatap ke arah Khaira.

Tatapan Galvin begitu dalam dan tajam, hingga membuat Khaira kesulitan untuk mengerjapkan mata.

"Lo setuju kalau kesepakatan itu dibatalin?" tanya Galvin, sambil mendekatkan wajahnya kepada Khaira.

Dia ingin berbicara dengan menatap manik-manik indah itu dalam jarak yang sangat dekat.

"Khaira?" sahut Galvin, tepat di depan wajah Khaira. Hingga hembusan napasnya berhasil menyapa bibir Khaira yang tersembunyi di balik cadar.

"I-iya?" jawab Khaira dengan gugup.

Tatapan Galvin berhasil mengunci pikirannya, hingga dia tidak menyadari jarak wajah Galvin dengan wajahnya sudah sangat dekat.

"Gue mau mulai saat ini, kita bisa saling nuntut hak dan kewajiban," bisik Galvin, dengan suaranya yang terdengar begitu berat dan dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!