Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *4
Yara keluar rumah siang itu. Tapi, dia tidak membawa barang sedikitpun. Yang ia bawa hanya tas selempang kecil yang biasanya menjadi teman ke manapun ia pergi setiap harinya.
Tidak ada satupun penghuni rumah yang merasa curiga dengan kepergian Yara siang ini. Karena memang, anak itu tidak menarik kecurigaan sedikitpun.
Lalu, seperti biasanya, Yara kembali pulang saat sore menjelma. Dia masuk kamar, lalu mengunci dirinya di dalam kamar tersebut. Penghuni rumah masih tidak curiga akan apa yang Yara lakukan. Karena mereka pikir, Yara dengan ngambek akan pemaksaan perjodohan yang tidak ingin dia terima.
Malam berlalu seperti biasa, seolah tidak ada apapun yang salah. Keluarga Rin masih makan malam bersama walau dalam diam. Tidak ada obrolan, apalagi canda dan tawa. Makan malam berlalu singkat. Setelahnya, semua masuk ke kamar masing-masing.
Malam pun berlalu dengan tenang. Tidak ada sedikitpun keributan yang tercipta. Namun, saat pagi menyapa, hal mengejutkan kembali terjadi.
Kali ini, bukan suara piring yang pecah. Melainkan, suara berisik dari penghuni rumah. Sang mama sibuk mencari anak bungsunya yang tidak dia temukan di kamar. Papa Rin ikut sibuk mencari ke taman bahkan ke sekitaran rumah.
"Ada apa lagi sih, Ma? Pa? Kenapa ada keributan lagi pagi ini?" Rin berucap dengan suara malas. Maklum, tadi malam dia agak sulit untuk tidur. Alhasil, tidur terlalu larut malam. Jadinya, dia bangun agak kesiangan. Berhubung, hari libur lagi. Inilah pemicu paling utama kenapa Rin bangun lebih lambat dari biasanya.
Wajah panik sang mama terlihat dengan sangat jelas. "Yara, Rin. Yara minggat dari rumah."
"Hah? Apa maksud, mama? Minggat? Kabur?"
"Iya. Adikmu tidak ada di kamarnya."
"Joging barang kali, Ma. Inikan hari libur."
"Rin. Bukan itu masalahnya, mama temukan ini di kamar adik kamu." Sang mama berucap sambil mengangkat selembar kertas yang bertuliskan pesan singkat dari Yara.
Rin meraih kertas tersebut dengan enggan.
*Mama. Papa. Kak Rin. Maaf. Aku pergi. Kalian jangan marah. Aku harus meninggalkan rumah malam ini. Karena aku gak ingin menikah dengan pria desa itu. Aku tidak terima dijodohkan. Aku tidak ingin tinggal di desa. Jadi, aku pergi.*
Rin seketika membatu. Yara pergi gara-gara tidak ingin dijodohkan. Lalu, siapa yang harus menikah dengan pria desa yang telah kakeknya wasiatkan?
"Ap-- apa ini? Apa maksud Yara dengan kabur gara-gara tidak ingin menikah dengan pria yang kakek jodohkan?"
"Apa!" Papa Rin yang ada di pintu masuk langsung berucap dengan kaget. "Yara pergi karena tidak ingin menikah? Lalu ... agh."
Sang papa tidak lagi bisa melanjutkan ucapannya. Karena saat ini, jantungnya berdetak terlalu kencang. Napasnya terasa sangat sesak. Tangannya langsung menyentuh dada. Mencengkram dada dengan sangat keras.
"Papa!" Rin dan mamanya dibuat semakin panik akan kondisi sang papa.
Mereka segera mendekat, lalu membawa orang tua itu ke rumah sakit. Papa Rin dilarikan ke rumah sakit sekarang. Keadaan keluarga Rin benar-benar kacau balau. Masalah datang tumpang tindih tanpa berhenti. Mulai dari perjodohan, Yara kabur. Lalu sekarang, papanya masuk rumah sakit. Rin benar-benar dibuat kehabisan akal gara-gara semua masalah tersebut.
Menunggu di depan ruang perawatan dengan gelisah. Ibu dan anak itu tidak saling bicara sepatah katapun. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, hingga pintu ruang perawatan itu terbuka. Dokter muncul dari balik pintu tersebut.
"Dok. Bagaimana keadaan suami saya?" Sang mama bicara dengan raut penuh kekhawatiran.
"Kondisi pasien masih belum stabil. Emosi yang memuncak bisa mengakibatkan pasien kena mengalami serangan jantung. Untung saja masih bisa diselamatkan. Tapi, saya sarankan agar pihak keluarga supaya bisa menjaga agar emosi pasien tetap normal. Jika tidak, saya tidak tahu lagi harus berkata apa. Kali ini, jika emosinya memuncak lagi, mungkin tidak ada kemungkinan untuk diselamatkan lagi."
Deg. Jantung Rin berdegup dua kali lebih kencang dari yang biasanya. Kondisi papanya sedang tidak baik-baik saja. Tapi masalah yang sedang mereka hadapi, masih tidak mereda sedikitpun. Bagaimana mereka bisa menjaga kondisi orang tua tersebut.
Setelah dokter beranjak, mamanya langsung menoleh. "Rin. Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Rin hanya bisa terdiam. Karena, pertanyaan itu, mana mungkin dia punya jawabannya. Soalnya, dia juga tidak tahu apa yang harus mereka lakukan sekarang.
"Rin."
"Ma. Aku juga tidak tahu."
"Ya Tuhan. Bagaimana ini, Rin?"
"Ah, iya. Hubungi pacar mu, Nak. Minta tolong sama dia buat bantu carikan Yara. Saat Yara kembali, kita akan bicarakan lagi langkah selanjutnya dengan pelan."
Rin hanya bisa menjawab dengan anggukan apa yang baru saja mamanya katakan. Saat mamanya masuk ke dalam ruang rawat untuk melihat papanya, Rin langsung mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Marvel.
Panggilan pertama, masuk. Tapi sayangnya, Marvel tidak memberikan jawaban. Panggilan kedua, nomor kontak Marvel yang tadinya aktif, kini sudah tidak aktif lagi. Rin melihat layar ponselnya dengan tatapan bingung.
"Apa yang sedang dia lakukan? Kenapa nomornya tiba-tiba gak aktif?"
Rin langsung mengirimkan pesan singkat ke Marvel. Terkirim, namun hanya centang satu. Ponsel Marvel benar-benar tidak bisa Rin hubungi. Rin mendadak kesal.
"Apa yang dia lakukan? Kenapa tiba-tiba tidak bisa aku hubungi. Padahal, aku sedang sangat membutuhkan dirinya."
Rin menggerutu sejenak. Beberapa saat kemudian, dia memilih untuk mengabaikan Marvel. Masuk ke dalam, melihat kondisi papanya.
Waktu berjalan secara perlahan. Pagi berubah siang, siang berganti sore. Sore pula, langsung menyambut malam kini. Papa Rin yang di rawat di rumah sakit sudah terlihat sedikit lebih baik. Tapi Rin yang tidak mendapat kabar dari Marvel terlihat semakin tidak baik-baik saja.
"Rin. Bagaimana? Apa Marvel sudah bisa di hubungi?"
Rin menggelengkan kepalanya cepat. "Belum."
"Ya Tuhan. Ke mana dia. Kenapa di saat-saat begini, dia malah tidak ada buat kamu, Rin."
"Mungkin dia sibuk."
"Hm." Sang mama mendengus pelan.
*
Karena masih tidak kunjung menerima kabar dari Marvel, siang harinya, Rin memilih untuk mendatangi kediaman orang tua Marvel. Tapi jawaban yang orang tua itu berikan cukup untuk membuat dada Rin sedikit sesak.
"Marvel gak ada di rumah, Rin. Kemarin malam, dia pergi dari rumah dengan terburu-buru. Mama tanya dia mau ke mana? Dia gak jawab dengan jelas. Cuman bilang, ada urusan mendadak."
"Kamu kenapa nak, nyariin dia? Kamu gak coba ngebuhin dia lewat nomornya? Kalian bertengkar ya?"
Rin menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak, Ma. Kami gak bertengkar. Hubungan kami baik-baik saja. Aku sudah mencoba menghubungi Marvel dari kemarin siang. Tapi sampai sekarang, nomornya gak aktif, Ma."
"Lho, kok bisa?" Wajah mama Marvel mendadak cemas. "Apa yang terjadi dengan anakku, Rin? Kenapa tiba-tiba gak bisa di hubungi?"