NovelToon NovelToon
DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tama Dias

Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4~Sebuah kebetulan atau takdir??

Hari Senin pagi itu langit mendung, tapi suasana hatiku justru cerah. Aku masih teringat kata-kata Raka di taman rumahnya kemarin — kata-kata sederhana, tapi hangat.

|“Kamu orang yang bikin aku pengen jadi lebih baik.”

Kalimat itu terus terngiang di kepala, bahkan waktu aku nyisir rambut di depan cermin. Aku masih nggak percaya cowok sepopuler Raka bisa ngomong sejujur itu. Tapi, tentu saja, sekolah nggak pernah kehabisan cara untuk menguji kebahagiaan seseorang.

Begitu aku melangkah ke gerbang sekolah, aku langsung tahu ada sesuatu yang nggak beres. Beberapa teman menatapku aneh, dan ada bisik-bisik kecil di sepanjang koridor. Lina langsung berlari menghampiriku dengan wajah cemas.

“Ly, kamu udah liat story Nadya belum?”

Aku mengernyit. “Story apaan?”

Dia menyerahkan ponselnya. Di layar terlihat foto Raka dan Nadya — duduk berdua di kafe, dengan caption:

|Kerja kelompok juga, kok bisa seru 😘

Dunia seperti berhenti sejenak.

“Astaga…” hanya itu yang keluar dari mulutku.

“Padahal kamu bilang kemarin kalian bareng, kan? Kok sekarang dia malah bareng Nadya?” kata Lina hati-hati.

Aku menarik napas dalam. “Mungkin cuma kebetulan. Siapa tahu mereka ketemu nggak sengaja.”

Tapi jauh di dalam hati, aku nggak bisa menahan rasa kecewa yang tiba-tiba muncul.

Hari itu aku berusaha bersikap biasa. Di kelas, aku tetap tertawa bersama teman-teman dan mengerjakan tugas seperti biasa. Tapi setiap kali mendengar nama Raka disebut, dadaku terasa sesak.

Sampai akhirnya, waktu istirahat, aku melihat dia sendiri di taman belakang — tempat kami biasa makan siang bareng.

Aku menatapnya dari jauh, ragu-ragu untuk mendekat. Tapi sebelum aku sempat berpaling, dia sudah melihatku duluan dan melambaikan tangan.

“Ly! Ke sini!”

Aku berjalan pelan, mencoba menahan perasaan yang campur aduk.

“Kenapa nggak makan di kantin?” tanyanya.

“Lagi nggak lapar,” jawabku pendek.

Dia menatapku heran. “Kamu marah?”

Aku menggeleng cepat. “Nggak.”

“Karena Nadya?” tanyanya langsung.

Aku membeku. “Jadi kamu tahu?”

Raka tersenyum tipis. “Tahu. Nadya upload foto itu tanpa izin. Kami memang sempat ketemu di kafe, tapi cuma buat ngerjain laporan kelasnya dia. Aku udah minta dia hapus.”

Aku menatapnya lama. “Kamu nggak marah?”

“Sedikit,” katanya pelan. “Tapi lebih penting buat jelasin ke kamu dulu.”

Hatiku mencair seketika. Aku berusaha menahan senyum, tapi sulit. “Kamu nggak perlu jelasin sih, aku percaya.”

Raka menghela napas lega. “Syukurlah. Aku sempat takut kamu salah paham.”

“Emangnya aku segampang itu salah paham?” godaku.

Dia tersenyum. “Nggak juga. Tapi kamu gampang disenyumin, kayak sekarang.”

Aku langsung menunduk, menutupi wajah. “Kamu ini, ngomongnya suka seenak hati.”

Dia tertawa kecil. “Tapi kamu suka, kan?”

Aku pura-pura nggak dengar. “Udah ah, makan gih. Aku balik ke kelas dulu.”

Tapi sebelum aku pergi, dia berkata pelan, “Makasih ya, udah percaya sama aku.”

Aku menoleh sebentar. “Selama kamu jujur, aku nggak punya alasan buat nggak percaya.”

Hari-hari berikutnya berjalan cukup damai. Gosip tentang Raka dan Nadya perlahan mereda, apalagi setelah Nadya sendiri menghapus semua unggahan dan meminta maaf secara pribadi padaku di depan kelas.

“Aku cuma iseng, Alya. Nggak nyangka bakal heboh,” katanya sambil tersenyum kaku.

Aku tersenyum ramah. “Nggak apa-apa, aku ngerti kok.”

Tapi dalam hati, aku tahu Nadya masih menyimpan rasa pada Raka.

Beberapa minggu kemudian, acara “Pekan Proyek Sekolah” resmi dimulai. Aula sekolah dipenuhi stand dari tiap kelompok. Stand kami — Taman Hidroponik Ramah Lingkungan — termasuk yang paling ramai dikunjungi.

Bukan cuma karena hasilnya bagus, tapi juga karena semua orang penasaran lihat aku dan Raka kerja bareng.

“Raka, tolong pasang banner-nya agak tinggi,” kataku sambil berdiri di kursi.

Dia berdiri di belakangku, memegangi papan. “Jangan naik terlalu tinggi, nanti jatuh.”

“Aku hati-hati, kok—”

Bruk!

Kursi bergeser, dan aku nyaris kehilangan keseimbangan. Tapi sebelum aku jatuh, Raka langsung menangkapku dengan sigap.

Aku terdiam di pelukannya. Semua orang di aula yang melihat langsung bersorak kecil.

“Waaah! Romantis banget!”

“Fix, mereka pasangan impian sekolah!”

Pipiku langsung panas. Aku buru-buru berdiri tegak, tapi Raka malah tersenyum santai. “Kamu nggak apa-apa?”

Aku mengangguk cepat. “Nggak… nggak apa-apa.”

Dia menatapku sebentar, lalu berbisik pelan, “Tuh kan, aku udah bilang hati-hati.”

Aku pura-pura sibuk membetulkan banner biar nggak terlihat malu. Tapi jujur aja, detak jantungku belum juga normal.

Acara berjalan lancar. Kami bahkan berhasil meraih Juara 2 untuk kategori inovasi lingkungan terbaik. Semua anggota kelompok bersorak gembira.

Setelah acara, Raka menghampiriku sambil membawa dua minuman dingin.

“Untuk partner terbaik,” katanya sambil menyodorkan satu botol padaku.

Aku tersenyum. “Makasih, tapi ini semua karena tim juga.”

Dia menatapku serius. “Tapi kalau nggak ada kamu, aku mungkin nggak bakal sesemangat ini.”

Aku menatapnya lama, mencoba menahan perasaan yang tiba-tiba meluap. “Raka…”

Sebelum aku bisa melanjutkan, seseorang memanggil dari belakang. “Raka, foto bareng dulu yuk!” Itu Nadya, lagi-lagi dengan senyum manisnya.

Aku langsung mundur selangkah. “Kamu dulu aja, aku mau bantu bersihin meja.”

Tapi Raka menahan tanganku pelan. “Tunggu bentar.”

Dia menoleh ke Nadya. “Nanti aja ya, aku lagi ngomong sama Alya.”

Tatapan Nadya seketika berubah, tapi dia akhirnya pergi tanpa protes.

Aku memandang Raka bingung. “Kamu nggak apa-apa nolak gitu?”

Dia tersenyum lembut. “Aku nggak suka ninggalin orang di tengah kalimat. Apalagi kamu.”

Aku hampir nggak bisa berkata apa-apa.

Sore itu, setelah semua kegiatan selesai, kami duduk di bangku taman sekolah — tempat pertama kali kami benar-benar bicara. Langit mulai berwarna oranye, dan angin sore berembus lembut.

“Ly,” kata Raka pelan. “Kamu pernah mikir nggak, kalau semua ini bukan kebetulan?”

Aku menatapnya. “Maksudnya?”

“Dijodohkan, satu sekolah, satu kelompok, bahkan satu taman hidroponik,” katanya sambil tertawa kecil. “Kayak semuanya diatur biar aku ketemu kamu.”

Aku menatap ke depan, berusaha menyembunyikan senyum. “Kamu percaya takdir, ya?”

“Dulu nggak. Tapi sekarang… mungkin iya.”

Hening sejenak. Lalu dia menatapku, kali ini dengan mata yang serius. “Kalau suatu hari nanti kita bukan cuma ‘dijodohkan’, tapi benar-benar saling memilih… kamu mau?”

Aku menatapnya lama, jantungku berdebar kencang. “Tanya lagi nanti,” jawabku pelan. “Kalau aku udah yakin ini bukan cuma kebetulan.”

Dia tersenyum. “Baiklah. Tapi aku bakal bikin kamu yakin.”

Dan di bawah langit senja yang perlahan memudar, aku tahu — entah ini kebetulan atau takdir, tapi satu hal pasti:

Hatiku sudah mulai memilihnya lebih dulu.

✨ Bersambung ke Bab 5

1
dias lobers
baguss
dias lobers
gimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!