Fei Xing berasal dari abad masa depan—tahun 3080—dimana hampir semua aspek kehidupan dikuasai oleh mesin pintar canggih.
Kemajuan teknologi yang terlalu cepat mengakibatkan banyak kerusuhan dan konflik di seluruh dunia.
Ayahnya, seorang profesor jenius di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, menciptakan sebuah sistem canggih yang terpasang pada jam pintar Fei Xing.
Tujuan utama penciptaan sistem itu adalah untuk melindungi anaknya dengan mengirimkannya pergi dari tahun 3080 yang penuh bahaya.
Di dunia baru ini, Fei Xing bebas mengendalikan sistemnya sesuai keinginannya.
Sistem kecerdasan buatan ini sangat pintar dan memiliki protokol dasar: tidak boleh menyakiti atau melawan tuannya.
Dalam kurun waktu 100 tahun, Fei Xing sudah sering melakukan perjalanan lintas dunia—dari zaman modern, masa lalu, hingga dunia saat ini—hanya untuk bertahan hidup dan mengembangkan kemampuannya.
Namun Sistemnya membutuhkan energi untuk tetap beroperasi dan menjaga kelangsungan hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suku Hu
Hu Zen mengingat akan rekan-rekannya yang masih berada di berbagai arah hutan—dia tidak tahu apa yang terjadi pada mereka atau apakah mereka berhasil menangkap buruan.
Tiba-tiba dia menjadi diam, pikirannya jauh.
"Ada apa?" tanya Fei Xing saat melihatnya menyendiri. Wajah pria suku itu memang sudah tampak pucat, namun dia tetap berdiri dengan tegak tanpa menunjukkan rasa lemah sedikitpun.
[Tuan, lukanya cukup dalam—robekan mencapai 15 cm. Perawatan harus dilakukan segera jika tidak akan membahayakan nyawanya!] sistem memperingatkan dengan serius.
Fei Xing yang mendengarnya segera menghampiri Hu Zen: "Hei, kita harus segera merawat lukamu! Kalau tidak, kau tidak akan bisa bertahan hidup....."
Hu Zen mengangguk perlahan. Dia menunduk melihat perutnya yang terus mengalirkan darah—jika dia mati, sukunya akan kehilangan pemimpin pemburu dan itu akan menjadi masalah besar bagi kelangsungan hidup mereka.
"Aku ..." Hu Zen bingung harus berkata apa untuk meminta bantuan. Tanpa dia menyampaikannya, Fei Xing sudah segera membantunya berjalan ke tempat yang lebih datar, lalu membantunya duduk dengan lembut.
Hu Zen menyandarkan kepalanya ke batang pohon di belakangnya, matanya sudah mulai sedikit tidak fokus karena kehilangan banyak darah.
[Tuan, dia sudah kehilangan banyak darah! Harap cepatkan proses penyembuhan!]
Fei Xing menyingkirkan tangan Hu Zen yang menutupi lukanya. Sobekan pada kulit dan handuk kulit babi tanduk terlihat jelas, daging dan kulitnya terbelah parah.
Dia melepaskan sarung tangannya, lalu meminta dengan suara lembut: "..Jangan membukanya sebelum aku memintamu..."
Hu Zen yang sudah sangat kelelahan hanya bisa menuruti tanpa banyak bertanya. Dia memejamkan matanya dengan patuh.
Pada saat itu, Fei Xing memerintahkan sistemnya: "Aktifkan alat penyembuhan tingkat satu!"
[Terpasang!]
Fei Xing menaruh tangan kanannya di atas luka dengan jarak beberapa sentimeter tanpa benar-benar menyentuhnya.
Dia berjongkok di samping Hu Zen, lalu menaruh tangan kirinya di atas rerumputan hijau yang segar di bawahnya.
Mata Fei Xing tiba-tiba berbinar dengan warna kehijauan. Sejumlah cairan bening seperti lendir mulai mengalir lembut dari ujung jarinya, perlahan-lahan menutupi seluruh luka pada tubuh Hu Zen.
Dengan mata telanjang bisa dilihat, daging yang terbelah mulai tumbuh perlahan menyatu, kulit yang sobek juga perlahan-lahan menutupi bagian yang kosong.
Sementara itu, rerumputan yang disentuh tangan kirinya perlahan berubah warna menjadi kekuningan, lalu mengering seperti terkena musim kemarau panjang.
Alis Hu Zen sedikit mengerut. Awalnya dia merasakan rasa pedih dan dingin yang menusuk pada lukanya, lalu perlahan terasa seperti ada kekuatan yang menarik bagian tubuhnya untuk kembali ke tempat semula.
Setelah itu, rasa hangat menyelimuti perutnya, lalu berubah menjadi dingin yang menenangkan.
Fei Xing menarik tangannya menjauh. Luka pada tubuh Hu Zen sudah sembuh total, hanya menyisakan bekas sayatan putih yang sudah membekas.
Dia melirik pada pria itu dan berkata: "..Buka matamu.."
Hu Zen membuka matanya dengan perlahan. Pria aneh itu sudah berdiri empat langkah darinya.
Dia menunduk melihat perutnya—cairan hijau transparan yang menutupinya berbau seperti tanah dan dedaunan segar.
Yang membuatnya terkejut adalah kondisi lukanya yang benar-benar sembuh—dia jelas masih ingat rasa sakit dan darah yang mengalir, namun sekarang hanya tersisa bekas luka yang jelas bukan khayalan.
Hu Zen segera berbalik dan menatap Fei Xing dengan tatapan penuh kekaguman dan keraguan.
Suaranya terdengar tegas namun penuh rasa hormat: "...Kamu.. sebenarnya siapa?"
Fei Xing melambaikan tangannya dengan santai. "Kamu tidak perlu tahu siapa aku. Karena kamu sudah lebih baik, kenapa tidak mencari teman-temanmu saja....?"
Alis Hu Zen mengerut—bagaimana pria ini bisa tahu bahwa dia tidak sendirian?
Seolah membaca pikirannya, Fei Xing segera berjalan ke arah lokasi awal kelompoknya bertemu dengan gerombolan babi tanduk sambil berkata: "...Bukankah pemburuan dilakukan berkelompok? Tentu saja kamu tidak sendirian."
Hu Zen tertegun sejenak, lalu mengangguk dan segera mengejarnya. "..Benar. Juga, terima kasih telah menyelamatkan dan menyembuhkan aku..."
"Tidak perlu. Lagipula aku sudah mendapatkan apa yang ku mau," jawab Fei Xing singkat.
Saat itu juga Hu Zen mengingat kembali bahwa babi tanduk besar yang menjadi buruannya telah menghilang—tentu saja itu adalah bagian dari apa yang dimaksud pria ini.
Keduanya berjalan dengan langkah cepat. Hu Zen menjelaskan bahwa dia membawa tujuh rekannya untuk berburu bersama untuk persediaan musim hujan.
Fei Xing hanya mengangguk—dia sudah tahu hal itu semenjak melihat mereka melalui pemantauan sistemnya.
Saat mereka tiba di lokasi pertemuan yang telah disepakati, mereka mendapati empat pria duduk dengan wajah kelelahan, beberapa di antaranya memiliki luka ringan di tubuh mereka.
Da Wang, yang menghadap arah datangnya Hu Zen, segera berdiri dengan terkejut dan berseru: "..Hu Zen! Kami mendapatkan 2 ekor buruan! Zi Kun dan yang lainnya sedang menjaganya di lokasi kejadian!"
"Bagus sekali..." ucap Hu Zen saat sampai di depan mereka.
Keempat pria itu kemudian melihat bahwa kapten mereka tidak sendirian—di sisinya berdiri seorang pria asing dengan wajah tampan dan rambut panjang yang terikat rapi, namun mengenakan pakaian yang benar-benar aneh di mata mereka.
Mau tak mau mereka menjadi waspada, tangan mereka secara tidak sengaja menggenggam gagang tombak mereka.
Namun Fei Xing tetap bersikap santai seperti biasa. "...Hari akan segera gelap. Apa kalian tidak akan bergegas pergi?"
"Hu Zen, siapa dia?" tanya Da Wang dengan suara rendah, bahkan berbisik lagi sambil melirik Fei Xing: "Pakaiannya aneh sekali. Apa dia bisa bernafas dengan pakaian seperti itu...."
"....." Fei Xing terdiam sejenak—bukan hanya bisa bernafas, dia bahkan bisa hidup dengan sangat baik di berbagai dunia dengan pakaian pelindung itu.
"Dia menyelamatkan aku, dan juga menyembuhkan lukaku. Dia seorang dukun..." jawab Hu Zen dengan suara tegas pada kelompoknya.
Keempat pria itu langsung tercengang, lalu secara bersamaan menoleh pada Fei Xing dengan tatapan penuh rasa hormat.
Fei Xing hanya melambaikan tangannya dengan senyum kecil. "Halo..."
Keempatnya segera bangkit dan menyentuh dada kirinya, memberi salam yang khas: "Dukun baik!"
"Oh...." Sudut matanya sedikit berkedut. Sepertinya posisi dukun sangat dihormati di dunia ini.
[Tuan, di dunia ini 'dukun' berperan sebagai dokter atau tabib yang menangani kesehatan dan menyembuhkan luka. Itulah mengapa mereka sangat menghormati Anda.] sistem segera menjelaskan di benaknya.
Melihat hari semakin gelap dengan cepat, mereka segera menyusul ke tempat dimana Si Bin dan dua rekannya lainnya berada.
Jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi pertama—Fei Xing mengikuti dari belakang, melihat banyak pohon tumbang dan jejak kaki besar yang berantakan di tanah basah, jelas bekas dari gerombolan babi tanduk yang telah berlari.
"Hu Zen! Disini!" teriak suara Si Bin dari kejauhan. Kelompok Hu Zen segera berlari cepat ke arah depan untuk bergabung dengan mereka.
Saat Fei Xing tiba di lokasi itu, dua ekor babi tanduk yang sudah tidak bernyawa tergeletak di tanah—ukurannya lebih kecil dari yang tadi, sepertinya masih muda.
"Apa ada yang terluka parah?" tanya Hu Zen dengan wajah serius pada Si Bin dan yang lainnya. Semua orang segera menggeleng kepalanya.
"Hanya luka ringan saja, tak masalah...," jawab salah satu pemuda sambil menggosok bekas memar di lengannya.
Hu Zen merasa lega mendengarnya. Bagaimanapun juga, sejak kecil mereka telah hidup bersama sebagai satu keluarga besar—jika ada yang terluka parah bahkan mati, dia pasti akan merasa sangat sedih. Si Bin melihat Fei Xing yang berdiri di belakang dengan wajah terkejut.
"...Pakaianmu sangat bagus..." ucapnya dengan suara rendah, penuh rasa kagum. Mereka yang belum melihat Fei Xing segera menoleh ke arahnya.
Fei Xing memberikan senyum kecil. "..Tentu saja. Ini bukan baju biasa..." Dia lalu melihat ke arah Hu Zen. "...Hari semakin gelap. Lebih baik kalian mencari tempat yang aman untuk berkemah sebelum malam benar-benar tiba...."
"Ya..." Hu Zen mengangguk setuju—dia tahu bahwa perjalanan kembali ke pemukiman di malam hari akan sangat berbahaya karena jalanan akan sulit dilihat dan banyak bahaya yang bersembunyi di hutan.
"Maaf Hu Zen... Kami kehilangan beberapa barang dan perbekalan saat babi-babi itu menerjang," ucap Da Wang dengan suara penuh rasa bersalah. Dia merasa bahwa kehilangan barang itu adalah tanggung jawabnya karena tidak bisa menjaganya dengan baik.
[Tuan, apakah Anda tidak ingin mengundang mereka berkunjung ke rumah Anda?] sistem bertanya dengan nada antusias.
Alis Fei Xing sedikit mengerut. "Apa ini tidak masalah?" pikirnya.
Biasanya dia memang mengizinkan orang tertentu dari dunia yang dia kunjungi untuk datang dan melakukan penukaran barang di pasar swalayan miliknya.
Namun orang-orang ini terlihat sangat miskin dan hanya memiliki dua ekor babi tanduk muda. Mungkin mereka hanya bisa menukarnya dengan beberapa karung beras, sayur-mayur, buah-buahan, atau sedikit daging saja.
Keriukkk~
Suara lapar terdengar jelas dari arah kelompok Hu Zen. Fei Xing mendongak dan melihat ketujuh orang itu sedang memegang perut mereka dengan wajah kesusahan—jelas mereka sudah tidak makan sejak pagi hari sebelum berangkat berburu.
Hu Zen yang juga merasa lapar hanya bisa memasang wajah tegas dan memerintahkan."..Kita bangun tenda dulu! Setelah itu kita masak sedikit daging babi untuk makan malam.... Kita harus menyisakan yang lain untuk dibawa pulang ke pemukiman besok pagi!"