Tentang Sasa yang jatuh cinta dengan Arif Wiguna,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Di sisi lain, Sasa sedang duduk di ruang tamu, sibuk dengan telepon genggamnya.
Dari telepon genggam itu, dia melihat sosial media. Di depannya, Bu Ani berdiri sambil bertanya, "Bu Sasa, mau saya buatkan minuman lagi?"
"Enggak usah, Bibi," jawab Sasa sambil mengalihkan pandangannya ke Bu Ani.
"Yaudah, kalau gitu saya mau ke kamar mandi dulu," ucapnya, lalu melangkah pergi. Namun, Sasa memanggilnya,
"Bibi." Bu Ani langsung terhenti, berbalik, dan menatap Sasa.
"Iya, Bu? Mau dibuatkan apa?"
"Enggak, Bibi, tapi saya pengen dibelikan batagor. Bibi tau kan, yang di depan gerbang perumahan ada toko batagor."
"Tau, tau. Bu Sasa mau dibeliin batagor?"
"Iya, Bibi, beliin ya, pake sambel yang banyak."
"Baik, laksanakan." Bu Ani dengan sigap menghormat ke Bu Sasa, lalu melangkah menuju pintu keluar rumah.
Saat Bu Ani akan menarik pintu, dia terhenti, lalu membalikkan diri.
Sasa yang duduk menatap ke arahnya langsung bertanya, "Kenapa, Bibi?"
"Bibi lupa, ga ada uangnya," kata Bu Ani sambil tersenyum.
"Ini uangnya." Sasa mengambil uang di dalam tas kecil di atas meja, lalu menaruhnya di sana.
Bu Ani melangkah ke depan meja dan mengambil uang itu. Bu Ani lalu bertanya, "mba, Mba Laras belum pulang, ga kaya biasanya."
"Dia katanya mau nginep di rumah temennya. Memang kenapa, Bibi?"
"mba Sasa ngijinin Mba Laras buat nginep? Gimana kalau Mba Sasa nginep di rumah cowo? Gimana kalau Mba Sasa hamil?" Bu Ani menatap lekat ke arahnya.
"Jangan berpikir begitu, Bibi. Ga mungkin Sasa berbohong. Lagian, dia nginep di rumah cewe. Udah, Bibi, cepet beliin dulu batagor, dua kantong ya."
"Baik, Bu. Kalau gitu saya pergi dulu," ucap Bu Ani sambil tersenyum tipis, sedangkan dalam hatinya dia merasa takut akan sesuatu.
***
sedang Arif sedang duduk di ruang kelasnya. Di depan, guru wanita sedang menerangkan pelajaran.
Tetapi Arif tidak fokus sama sekali, dia lebih fokus memperhatikan Laras yang begitu sibuk dengan pelajaran.
Saat seorang guru memberikan pertanyaan, Laras mengangkat tangannya. Bu guru langsung bertanya ke Laras.
Laras langsung menjelaskan apa yang dia ketahui, sedangkan Arif tersenyum menatap Laras yang begitu pintar menjawab pertanyaan itu.
Arif tersenyum, dalam hatinya berbicara, "Selain dia cantik, dia juga pandai, cuma ga yakin kalau dia enggak punya pacar," gumamnya disertai senyuman di wajahnya.
Dari belakang, butalan kertas melayang dan mengenai kepalanya.
Bug.
Arif sadar dari lamunannya. Dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah belakang, hingga tatapannya tertuju ke Ryuken.
"Bjir lah," bisik Arif pelan, lalu Arif kembali mengalihkan pandangannya ke Laras.
Saat Bu guru kembali memberikan pertanyaan, Ryuken mengangkat tangan dan langsung berbicara, "Arif yang mau jawab bu!"
"Arif, berdiri!" ucap Bu guru.
Arif terus melihat ke sekitar, sesekali menatap tajam ke Ryuken. Arif lalu berkata, "Busetlah," bisik Arif lalu berdiri sambil kembali berbicara,"ga tau, Bu."
"Kamu ini, bukannya mendengarkan, malah ga tau!" ucapnya dengan keras.
Arif menghela napas kasar, dia pasrah dengan perkataan Bu guru yang terus-terusan berbicara, mengulang setiap ucapan.
Waktu terus berlalu.
Selesai jam pelajaran, Arif berdiri, tatapannya begitu lekat ke arah Laras yang masih duduk.
Arif melangkah pergi keluar untuk meninggalkan ruangan kelas itu, sampai ke teras sekolah. Walaupun banyak sekali murid-murid yang lagi bubar dari kelas, Arif tidak melihat Laras keluar dari kelas.
Di depan kursi panjang di teras sekolah, Arif pun duduk, dan memerhatikan semua orang yang keluar. Tatapan Arif begitu tajam menunggu seseorang. Abdul dan Ryuken lalu duduk di kursi itu.
"Nungguin siapa? Serius banget tatapnya," Ryuken sambil tersenyum menatap Arif.
"Kepo. Lo pada jadi kan, nginep di rumah gue?" tanya Arif menatap Ryuken.
"Gue sih, santai aja," Ryuken sambil tersenyum dan menepuk bahu Arif.
"Kalau gue," Abdul terhenti saat Gea berhenti dan bertanya,
"Kalian masih di sini?" tanyanya menatap mereka bertiga, lalu kembali berbicara, "Rif, gue ke rumah Lo sama Laras ya."
"Gea, Lo mau nginep juga?" Abdul menatap lekat.
"Iya dong," Gea sambil mengalihkan pandangan ke arah Abdul.
"Kalau gitu gue ikut, Rif," Abdul sambil tersenyum, sedangkan Ryuken langsung mendorong kepala Abdul sambil berkata, "Giliran ada cewe, mau," ucap Ryuken sambil tersenyum, dan menggelengkan kepala.
"Laras," panggil Arif, dia langsung berdiri.
"Kita berangkat bareng ya, Laras," ucap Gea dengan lekat menatap Laras.
"Naik apa?" tanya Laras.
"Aku bawa mobil soalnya, yaudah yok, Rif, kita pergi," ucap Gea sambil mengalihkan pandangannya ke Arif.
"Yaudah, ayok."
Mereka lalu melangkah pergi bersama-sama. Abdul bersama Ryuken berdiri, mereka pun melangkah menuju ke parkiran.
Sampai mereka ke parkiran, Laras mengikuti Gea. Di depan mobil Lamborghini warna pink yang terlihat unik, Gea membuka pintu dan masuk.
Laras masih berdiri di pinggir kendaraan itu. Gea membuka kaca mobilnya lalu bertanya, "Ngapain masih di situ? Ayok!"
"Eh, keren banget sih mobilnya, bodinya juga udah lebih dari mobil standar," Laras sambil tersenyum, lalu membuka pintu dan masuk.
Sedangkan Arif yang sudah berada di dalam mobil dengan Abdul, dia menyalakan klakson agar Gea mengikuti dari belakang. Dari samping kendaraan Arif terlihat Ryuken mengendarai motor.
Arif lalu melajukan kendaraannya. Setelah lumayan jauh, Ryuken dan Laras mengikuti kendaraan Arif.
Di dalam mobil, Laras berbicara, "Gue jadi kepengen beli mobil."
"Eum, tapi Lo bisa kan pake mobil?" tanya Gea sesekali menatap Laras yang duduk di sampingnya.
"Bisa sih, cuman masih pelan aja."
"Nanti kalau ada waktu libur, kita belajar di sirkuit."
"Maksudnya gimana?" tanya Laras, dia baru mendengar itu.
"Sebenernya, mobil ini tuh bukan dari tampilan, tapi dari kecepatan, stabil, sampai ke tingkat mesin, mobil ini udah full modifikasi agar bisa menang saat balapan," ucapnya, sambil tersenyum dan sesekali menatap Laras.
"Pantesan, mobilnya asing banget. Emang Lo pernah menang dalam balapan?"
"Tentu, sempat menempati posisi pertama, saat Arif tidak ikut sirkuit."
"Apa hubungannya sama Arif?"
"Lo masih belum tau? Walaupun mobil Arif bodinya sederhana, tapi kecepatannya bisa melebihi mobilku, apa lagi saat TimeLap, dia udah beberapa kali masuk ke posisi pertama."
Laras terdiam, sama sekali tak menyangka dengan mobil Gea. Dalam pikiran dan hatinya, dia ingin merasakan dan memiliki mobil yang dimodifikasi, walaupun dia tak yakin orang tuanya akan membelikannya.
Gea yang mengemudi mengikuti kendaraan Arif, tanpa disadari Arif membawanya ke jalanan yang lurus, sampai Arif memberhentikan kendaraannya. Gea melaju dan berhenti di samping kendaraan Arif.
Arif membuka kaca mobilnya. Tak hanya Arif, Gea pun melakukan hal yang sama. Tatapan Arif dan Gea begitu tajam, Arif menaikkan alisnya.
Gea mengalihkan pandangannya ke Laras sambil berkata, "Laras, pasang sabuk pengaman."
"Ih, mau pada ngapain sih, pada berhenti di sini?" tanya Laras, dia merasa bingung.
"Pasang dulu, nanti kamu tau," Gea tersenyum.
Arif menggerung-gerungkan kendaraannya, dengan rem terus ditahan, sesekali menatap ke arah mobil Gea.
Sampai Laras memakai sabuk pengaman, Gea mulai membalas dan menggerung-gerungkan mesin kendaraannya.
Di jalanan yang begitu luar dan lurus, dua kendaraan langsung melesat cepat. Ryuken menatap kendaraan mereka berdua yang melaju cepat.
Di dalam mobil Gea, Laras terkejut dengan kecepatan kendaraan Gea, bahkan Laras begitu ketakutan hingga berteriak, "Ah, apa apaan ini, Geaaa!" teriak Laras, tangannya menggenggam kursi yang didudukinya.
Gea hanya terdiam, dia begitu fokus dengan kecepatan kendaraannya. Dengan cepat Gea menekan tombol N2s, hingga membuat laju kecepatannya meningkat dua kali.
Arif yang mengemudi dan menatap ke mobil Gea, dia tersenyum karena kendaraannya tertinggal beberapa meter.
"Ternyata kecepatannya udah lebih baik dari sebelumnya," Arif menatap lekat, dengan tatapan fokus ke kaca depan mobil. Arif lalu menekan tombol di tengah setir dengan satu tangannya, "Saatnya." Kecepatan meningkat 4X lebih cepat dari sebelumnya.
Arif yang tertinggal lumayan jauh, dia mulai mengimbangi kecepatan mobil Gea, hingga Arif berada di paling depan.
Arif melambatkan kendaraannya lalu memberhentikannya. Tak hanya Arif, Gea juga ikut memberhentikan kendaraanya di belakang mobil Arif.
Di tempat yang luas dengan penuh pepohonan yang tinggi, Arif keluar dari kendaraannya bersama Ryuken.
Di mobil Gea, Laras masih menutup matanya, karena dia takut terjadi apa-apa. Gea mengalihkan pandangannya ke Laras lalu berkata,
"Laras," panggil Gea.
"Ahhh... Gea, udah Gea, aku takut," ucap Laras dengan keras. Dia tak menyadari jika kendaraan itu sudah terhenti.
"Udah tau, ayok turun," Gea membuka pintu mobilnya.
Laras masih duduk, perlahan membuka matanya. Dia menarik napas kasar lalu berkata, "Ha, ngeri banget, pusing kepala," ucapnya pelan lalu membuka pintu mobil itu.
Dia pun turun, lalu menutup pintu itu. Laras yang berdiri langsung menatap ke arah Gea dan Arif yang sedang saling berhadapan.
"Udah lah, Rif, gue akuin mobil Lo cepet banget," ucap Gea yang berdiri di depan Arif dan Abdul.
"ternyata Mobil Lo, kecepatannya setara dengan mobil gue," Arif sambil tersenyum, lalu dia mengalihkan pandangannya ke Laras yang melangkah mendekat.