Pernikahan yang diawali dengan perjodohan, tanpa adanya rasa cinta membuat Zayn dan Raras merasa kaku, bahkan terkesan formal layaknya rekan kerja. Tapi seiring berjalannya waktu, Raras mampu mencairkan gunung es dengan kesabarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Athariz271, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang bareng
“Ras, makan siang di kantin, kan?” Tanya Selina, teman kerja Raras satu divisi.
Raras lebih dulu menatap jam di tangannya. “Hmm, oke deh.”
“Ayo.”
Keduanya berjalan menuju kantin, sambil menunggu antrian lift keduanya melipir ke samping membiarkan yang lain lebih dulu.
“Sore ini ada rapat laporan keuangan bulan lalu, kan?” ucap Selina pelan.
“Hmm, jangan bilang lo belum siapkan semuanya?” Curiga Raras.
“Enak aja, aman lah. Cuman ya agak deg degan aja.”
“Kenapa?” Tanya Raras mengangkat alisnya.
“Kabarnya pak Zayn bakal ikut di rapat nanti.” Bisik Selina membuat kedua mata Raras membola.
“Serius?”
“Dua rius.” Jawab Selina mengangkat kedua jarinya.
Raras terdiam, tak menyangka akan satu ruangan dengan suaminya di kantor. “Ya udah sih.”
“Ih lo kok gitu sih, gue nervous ini.” Selina memegang tangan Raras, mencari kehangatan.
“Ya biasa aja kali, ngapain nervous segala. Dia juga manusia pada umumnya.”
“Ras, gak gitu maksud gue, aduh. Dia tuh ganteng pake buanget, ya gimana gak nervous coba. Gimana kalau gue pingsan tiba-tiba.” Selina benar-benar gemetaran sekujur tubuh, dia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di rapat nanti sore.
“Lebay ah lu. Orang pak bos juga biasa aja kali,”
Dan kali ini Selina benar-benar mati kutu, berulang kali dia mengedipkan matanya ke arah Raras, tapi si empunya terus mengoceh tak sadar dengan Selina yang diam-diam beranjak menyempil di kerumunan karyawan lain.
“Orang gak peka gitu, ngapain nervous segala.”
“Gunung es gak bakal peduli sama tingkah lo Sel.”
“Sangat membosankan, bukan?” Ucap lirih Raras di akhir kalimatnya.
Raras merasa heran dengan temannya yang diam saja sedari tadi, dia mengangkat kepalanya dan memasukan ponselnya kedalam tas.
“Loh? Sel, lo dimana?” Raras celingukan, merasa kesal dengan temannya yang tiba-tiba pergi gitu aja. Hingga tak sengaja Raras menoleh ke arah belakang dan hampir saja menabrak dada bidang suaminya.
“M-mas…” Gumam pelan Raras yang langsung berbalik badan dan menundukan kepalanya.
Zayn melangkah datar, menekan tombol lift yang tak lama kembali terbuka. Zayn melangkah masuk lebih dulu meninggalkan Raras yang terpaku.
“Masuklah!” Ucap Zayn datar.
Raras lebih dulu memejamkan mata, lalu melangkah pelan menghampiri Zayn yang bersiap menekan tombol.
Raras berdiri menjaga jarak satu langkah dibelakang suaminya, hawa dalam ruangan terasa sangat panas, apalagi teringat dengan tatapan datar Zayn.
“Apa dia dengar semuanya?” Batin Raras bergumam. “Ah, ngapain mesti ngomong kayak gitu sih. Gara-gara Selina nih, awas aja lo.” Gerutu Raras mengepalkan tangannya.
“Apa saya sangat membosankan?” Ucap tiba-tiba Zayn mengejutkan Raras.
“H-ah? A-apa mas? Eh om. Aduh pak maksudnya..” Raras benar-benar gelagapan menghadapi aura suaminya yang tegas saat di kantor.
“Apa kamu bosan dengan gaya yang biasa?” Tanya lagi Zayn.
“Mas, apaan sih. Ini di kantor.”
“Jawab saja!”
“Iih enggak kok, a-aku suka yang membosankan.” Cengir Raras
“Kenapa?” tanya Zayn menaikan satu alisnya.
“Ya…
Ya, karena karena… ya aku suka aja.” Jawab Raras jadi bingung sendiri.
“Apa yang dua ronde semalam kamu juga menyukainya?”
Raras memejamkan mata, entah apa maksud Zayn membahas hal begitu saat ini.
Karena tak mendengar jawaban istrinya, Zayn menoleh kebelakang dan bergeser mundur sejajar.
“Gimana?” Tanya Zayn lagi menuntut jawaban.
“Mm, s-suka kok.”
Tanpa Raras ketahui, Zayn tersenyum tipis sebentar. “Syukurlah.”
Ting…
Zayn melangkah lebih dulu keluar lift lalu pergi menjauh hilang di belokan koridor.
Huh…
“Gila, ngapain dia bahas begituan sih. Gak tau apa gue deg-degan banget ini, berasa mau dimakan harimau, tau.” Gerutunya.
“Huah…” Raras mengepalkan kedua tangannya, ingin rasanya dia menjambak rambutnya sendiri. Tapi sesaat kemudian Raras terdiam dan bersikap biasa saja.
Zayn kembali menghampiri Raras dan berdiri dihadapannya. “Nanti pulang bareng.” Ucapnya.
“Oh, hm i-iya.”
Zayn mengangguk tipis, kembali berjalan meneruskan tujuannya, tak lupa memasang wajah datar dan aura angkuhnya.
“Huh…” Kali ini Raras benar-benar bernafas lega, tak seperti biasanya mereka bertemu di kantor sedekat itu.
“Ras.”
“Hah?” Raras kembali terlonjak, seketika meremas kuat bahu Selina dengan kencang.
“Aduh. Woy sakit Ras, lepasin woy! Lo kenapa sih?” Selina mengusap-usap bahunya yang terasa perih.
“Lo yang kenapa.” Sahut Raras ketus.
“Lah?”
“Lo ngapain pergi gitu aja ninggalin gue? Mana ada si gunung es lagi.” Raras benar-benar melampiaskan rasa kesalnya dengan mencubit pinggang temannya itu.
“Aduh. Hahahaha. Lepasin Ras aduh sakit.”
“Biarin!”
“Hahahaha.. Lo gak ngomong macem-macem kan?” Tanya Selina serius.
“Mata lo! Gue malu banget anjir,” Raras terus mengumpati temannya itu yang malah cekikikan.
“Hahah, lumayan Ras kesempatan gak datang dua kali. Noh masih banyak cewek-cewek ngantri pengen berduaan sama pak bos.”
“Edan.”
“Udah ayo buruan, gue lapar banget nungguin lo berduaan di lift.” Selina menggamit tangan Raras dan mengajaknya ke kantin.
Raras diam saja, dia masih kesal dengan temannya.
“Udah dong ngambeknya, buruan makan keburu dingin Ras.” Ucap Selina cengengesan melihat temannya yang cemberut sedari tadi.
Setelah menghembuskan nafas panjang, Raras akhirnya mulai makan dengan lahap.
“Orang-orang pada ngeliatin lo Ras.” Bisik Selina pelan.
Dan ya, Raras baru sadar kalau dirinya jadi pusat perhatian banyak orang.
“Kenapa memangnya? Gak ada yang salahkan sama penampilan gue? Apa baju gue kebalik?” Raras menunduk melihat penampilannya sendiri yang memang terlihat rapi.
Selina menggeleng. “Kayaknya mereka lihat kejadian tadi.” Tebaknya tepat sasaran.
Raras memicing. “Begitukah?” Lalu tersenyum penuh arti.
“Apaan?” Selina jadi curiga sendiri.
“Pasti mereka iri, kan? Termasuk lo. Hahahahah..” Raras tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi cengo Selina.
“Damn, sialan lo!”
“Tapi ya, gue lebih ikhlas kalau pak bos sama lo, dari pada sama mereka.”
“Bisa diatur.” Balas Raras cengar cengir.
Keduanya tertawa bersama, dan semakin mengundang tanya dari karyawan-karyawan lain yang sejak tadi memperhatikannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Menjelang sore, rapat masih berlangsung. Semuanya terlihat fokus memperhatikan presentasi yang sedang disampaikan.
Tak lama kemudian, kepala divisi berdiri untuk memberikan kesempatan kepada Zayn untuk memberikan masukan.
Semua mata langsung tertuju pada CEO yang duduk di kursi utama. Zayn berdiri perlahan, mengambil beberapa lembar kertas dari mejanya dan mulai berbicara dengan suara yang jelas dan tegas.
"Laporan yang disampaikan hari ini cukup baik, namun masih ada beberapa poin yang perlu diperbaiki," ucap Zayn datar. Dia menunjuk salah satu bagian di layar proyektor. "Bagian alokasi anggaran untuk divisi pemasaran ini terlalu besar, kita perlu evaluasi ulang agar tidak mengganggu anggaran operasional lainnya."
Raras melihat beberapa karyawan mulai mencatat setiap kata yang keluar dari mulut suaminya. Zayn terus menjelaskan dengan rinci, memberikan contoh dan solusi yang konkret. Meskipun wajahnya tetap dingin, jelas bahwa dia benar-benar memahami setiap detail bisnis perusahaan.
Saat Zayn selesai berbicara, dia menoleh sekilas ke arah istrinya yang sedang fokus mencatat catatan penting. "Apakah ada yang ingin menambahkan?" tanya Zayn kepada seluruh peserta rapat.
Raras mengangkat tangannya perlahan. "Boleh saya bicara, Pak?"
Zayn mengangguk. "Silakan."
Raras berdiri dan menjelaskan usulan yang dia siapkan tentang efisiensi penggunaan anggaran di divisi keuangan. Dia menjelaskan dengan jelas dan logis, memberikan data pendukung yang kuat. Beberapa rekan kerja mengangguk setuju mendengar penjelasannya.
Setelah Raras selesai, Zayn memberikan sikapnya. "Ide yang cukup bagus. Kita akan bahas lebih lanjut mengenai hal ini pada rapat minggu depan," ucapnya singkat, namun cukup membuat Raras merasa tenang kembali.
Rapat akhirnya selesai saat jam menunjukkan pukul empat lewat. Semua orang mulai membereskan meja dan keluar dari ruangan rapat. Zayn bicara berdua dengan sekretarisnya, sengaja menunggu yang lain keluar lebih dulu, dan memberi kode pada istrinya.
“Ayo.” Selina berdiri lebih dulu.
“Aduh.. Lo duluan deh, gue ada beberapa hal yang belum tercatat, takutnya keburu lupa.”
Selina menoleh ke arah Zayn yang tampak sibuk dengan sekretarisnya, lalu mengangguk. “Ya udah gue tunggu didepan, jangan lama-lama.”
“Eh gak usah.” Sahut Raras cepat membuat Selina heran.
“M-maksud gue, takutnya lumayan lama. Lo pulang duluan aja.”
“Oh gitu. Ya udah deh, gue pulang duluan. Lo hati-hati.”
“Iya.”
Setelah tak ada orang lain lagi di ruangan rapat, Zayn menyuruh Dav pergi lebih dulu. Lalu menghampiri istrinya yang masih sibuk memasukan barang kedalam tas.
“Kunci.”
Raras mendongak, tanpa kata langsung memberikan kunci mobil miliknya. Entah kemana mobil suaminya, hingga dia memilih pulang bareng dirinya.
“Saya tunggu di mobil.” ucap Zayn lalu pergi lebih dulu.
“Iya.”
“Aneh banget, gak seperti biasanya.”
Raras keluar ruang rapat, suasana sudah tampak sepi. Hanya ada beberapa karyawan yang masih stay mungkin ada lembur tambahan.
Raras berjalan menuju parkiran dan masuk kedalam mobil bagian penumpang, suaminya telah menunggu dan siap untuk pulang.
“Maaf agak lama, mas.”
“Hmm.”
Mobil melaju keluar perusahaan, membelah jalanan yang sangat ramai sore ini. Raras menyandarkan punggungnya yang terasa pegal lalu menoleh ke arah Zayn sekilas.
“Mobil kamu memangnya kemana mas?”
“Dipake Dav, ada kerjaan keluar kota.”
“Oh.”
Suasana kembali hening, hingga tak sadar Raras tertidur dengan pulas.
Bersambung…