NovelToon NovelToon
Aku Bisa Memanggil Mahluk Dari Masa Depan

Aku Bisa Memanggil Mahluk Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Dunia Masa Depan
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Back Dragon

Beberapa tahun lalu, berbagai celah ruang-waktu bermunculan, dan Blue Star pun memasuki era supranatural. Setiap orang memiliki kesempatan untuk membangkitkan “panel permainan”.

Lu Heng secara tak terduga membangkitkan kelas Summoner. Namun, makhluk-makhluk panggilannya tampaknya… agak tidak biasa.

……

【Si Bulat Daging】: Sebagai keturunan Dewa Jahat, setiap kali ia dimakan, ia justru menjadi semakin kuat. Ia juga mampu membuat musuh terjerumus ke dalam kekacauan persepsi.

【Anjing Mesum】: Sebagai kaki tangan yang setia, ia dapat berpindah tempat secara instan dan menampar orang, bahkan memutus semua skill lawan.

【Prajurit Medis】: Memiliki kemampuan menukar kondisi luka, dan juga bisa diam-diam mencuri organ milik orang lain.

【Zirah Keadilan】: Makhluk simbiotik yang dipenuhi energi positif. Bukan hanya memiliki daya tempur yang sangat tinggi, ia juga dapat berdiri di puncak moral untuk mengecam musuh, membuat lawan…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Back Dragon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 Gampang, Tinggal Masuk Pabrik Saja

Lu Heng agak terkejut.

Bukan… ini kelas lomba siapa yang paling sampah, ya?

Namun si gendut di sebelahnya tiba-tiba tersadar, “Sial… baru ingat kita ini cuma anak D3!”

“Kalau yang bangun dengan bakat tingkat Perak ke atas, gampang banget masuk S1. Yang Emas ke atas malah bisa langsung direkomendasikan.”

“Yang masuk D3 ya jelas bakat tingkat Besi Hitam semua!”

Lu Heng termenung. “Kalau begitu… program Bintang Luar Biasa ini nggak bermasalah, kan?”

Jiang Che menepuk bahunya dengan nada membujuk, “Aduh, Bang! Bintang Luar Biasa itu jelas bagus! Tiga kali lipat sumber daya! Bimbingan pribadi dari mentor! Tiap tahun ada subsidi puluhan ribu! Enak banget!”

Lu Heng masih ragu, tapi sebelum sempat bertanya lagi, bel sekolah sudah berbunyi.

“Drrring—”

Semua orang kembali ke tempat duduk masing-masing.

Lu Heng pun terpaksa duduk di kursi kosong baris kedua.

Tak lama kemudian, seorang pria berbalut mantel hitam masuk dengan santai.

“Jadi, sudah pilih Bintang Luar Biasa belum? Kali ini nggak boleh ditunda lagi. Kalau nggak, saya tunjuk paksa ya,” ujar sang mentor dengan nada malas.

“Sudah! Sudah!”

“Setelah musyawarah seluruh kelas, murid baru, Lu Heng, adalah kandidat paling cocok!”

“Betul! Cowok tampan dan keren ini paling pantas jadi Bintang Luar Biasa!”

Semua tatapan langsung mengarah ke baris kedua. Lu Heng pun tercengang.

Sang mentor meliriknya. “Oh… murid baru ya? Katanya seorang Summoner. Ya jelas lebih kuat dari kumpulan bakat Besi Hitam ini. Baiklah, kamu saja.”

“Seminggu lagi ada Kompetisi Gabungan Antar Kampus. Kamu yang mewakili sekolah.”

Kompetisi gabungan?

Lu Heng buru-buru bertanya, “Itu apaan? Kenapa saya yang harus ikut?”

“Hei, santai saja. Setiap angkatan Bintang Luar Biasa memang harus ikut,” Jiang Che menyela sambil nyengir.

Karena mentor sudah menetapkan pilihan, Jiang Che pun tak lagi menutup-nutupi. “Kompetisi gabungan itu, buat Akademi Vokasi Jiudaogou kita… ya sederhananya sih ajang mempermalukan diri.”

“Tapi nggak apa-apa, bro. Asal muka kamu cukup tebal, anggap saja jalan-jalan!”

Lu Heng terkejut. “Ajang mempermalukan diri? Maksudnya?”

“Karena yang ikut itu elit-elit dari berbagai kampus. Di provinsi kita ada sembilan puluh perguruan tinggi yang ikut. Tapi tahu nggak berapa jumlah D3?”

“Satu. Cuma kita.”

“Jadi ya kita ke sana buat jadi juru kunci. Tiap tahun begitu. Paham kan, bro?”

Lu Heng makin heran. “Kalau sudah tahu bakal malu, kenapa sekolah tetap ikut?”

Jiang Che melambaikan tangan. “Karena rektor kita goblok. Nanti juga kamu paham sendiri.”

Yang lain ikut menggerutu.

“Sudah tahu kirim kita cuma buat malu, masih saja dipaksa ikut.”

“Masih minta kita bawa pulang peringkat supaya kampus bisa naik status jadi S1. Dengan kondisi kita? Lucu banget.”

“Dia nggak tahu malu, kita yang ikut kena getahnya.”

Baru saat itu Lu Heng mengerti kenapa tak ada yang mau gelar Bintang Luar Biasa.

Ternyata ada harga yang harus dibayar.

Tapi tak apa, selama ada keuntungan.

Soal kompetisi antar kampus, bersaing dengan para jenius…

Kedengarannya justru menarik.

“Baik, siap-siap mulai pelajaran,” kata sang mentor sambil berdeham.

Semua buru-buru duduk rapi.

Lu Heng pun untuk sementara melupakan urusan Bintang Luar Biasa.

Setidaknya masih ada tiga kali lipat sumber daya dan bimbingan mentor terkenal.

Karena sudah masuk kelas Lingwu, tentu harus belajar dengan sungguh-sungguh.

Pasti akan mempelajari ilmu luar biasa yang baru.

Atau duel sengit melawan monster?

Teknik bela diri tingkat tinggi?

Membayangkannya saja sudah membuatnya bersemangat.

Tatapan tajam sang mentor menyapu kelas. “Semua bawa ponsel?”

“Bawa!”

Semua orang mengangkat tangan sambil tersenyum.

Lu Heng tiba-tiba merasa ada yang janggal.

“Kalau begitu, duduk di tempat masing-masing dan mainlah ponsel dengan baik,” ujar sang mentor, lalu langsung merebahkan diri di meja.

“Saya tidur sebentar. Kalau sudah jam selesai, bangunkan.”

Dan seisi kelas tampak sudah terbiasa.

“Login, login!”

“Cepat, cepat! Aku sudah masuk King’s Canyon!”

“Nggak usah banyak omong, gas satu ronde!”

Kelas langsung ricuh. Bahkan ada yang memindahkan kursi untuk duduk bareng teman, siap mabar.

Lu Heng benar-benar melongo.

Si gendut pun tak kalah terkejut. “Ini kenapa malah lebih parah dari kelas teknik sipil kita dulu? Minimal dulu guru masih buka PPT dan baca naskah, kita cuma main diam-diam. Ini mah terang-terangan nggak ngapa-ngapain?”

Jiang Che tertawa. “Ah, bro… kita ini memang datang ke sini buat numpang lewat. Bakat Besi Hitam mau sekuat apa dibanding orang biasa? Nggak usah mikir aneh-aneh, main saja!”

“Tunggu. Lalu sumber daya kita? Tiga kali lipat sumber daya itu jangan-jangan bohong?” tanya Lu Heng dengan ragu.

“Bro, jujur saja ya. Tiga kali lipat itu sebenarnya cuma tiga batu pengalaman tingkat rendah. Sama saja kayak nggak ada.”

“Kalau mentor tingkat tinggi?”

Jiang Che menunjuk ke depan. “Tuh, itu mentornya. Coba saja minta les privat.”

Lu Heng terdiam. Melihat sikap malas sang mentor, rasanya memang tak bisa berharap banyak.

Melihat teman-temannya asyik bermain, ia tak tahan bertanya, “Kalian ini bagaimanapun juga sudah Awakener. Mau begini saja tiga tahun? Lulus nanti bagaimana?”

“Haha!” Jiang Che tertawa lebar. “Gampang. Masuk pabrik saja.”

“Anak D3, jiwa D3! Kalau nggak kuat susahnya belajar, ya siap tanggung susahnya pasang baut.”

“Bro, jangan banyak mikir. Kita sudah sampai sini, nasib kita ya masuk pabrik.”

Lu Heng terdiam.

Ini sama sekali tak seperti yang ia bayangkan tentang kebangkitan.

Ia pikir setelah bangkit akan jadi orang hebat.

Ternyata tetap jadi orang tak terlihat di masyarakat.

“Sebelum bangkit kamu suruh aku masuk pabrik, ya sudahlah.”

“Setelah bangkit masih juga suruh aku masuk pabrik?”

“Berarti aku bangkit sia-sia dong!”

Kulit kepalanya terasa merinding.

Semakin dipikir, semakin takut. Tiba-tiba ia berdiri.

“Tidak! Ini bukan hidup yang kuinginkan!”

Semua mata tertuju padanya.

“Aku tak mau seperti kalian, tiap hari masuk kelas cuma main ponsel!”

“Aku tak mau lulus lalu masuk pabrik!”

“Aku punya tujuan sendiri! Aku ingin jadi Awakener yang sangat kuat! Aku ingin jadi orang hebat!”

“Aku mau berusaha! Aku mau berjuang!”

Setelah berteriak, Lu Heng berlari keluar kelas dengan penuh emosi. “Kalau kalian tak mau mengajariku, aku akan belajar sendiri!”

Semua orang terpaku, bahkan sang mentor pun mengangkat kepala sejenak.

Lu Heng berlari kencang di lapangan. “Aku harus berusaha… harus berjuang!”

Ia pergi ke perpustakaan, tapi tak satu pun buku tentang ilmu luar biasa yang bisa ia pahami.

Ia pergi ke lapangan latihan, tapi tak ada satu pun alat yang bisa digunakan.

Ia berkeliling seluruh kampus, namun tak menemukan apa-apa. Kampus ini nyaris tak memiliki fasilitas layak bagi para Awakener.

Ia lelah.

Tiga puluh menit kemudian…

Lu Heng berbaring di ranjang asrama, membalikkan badan, lalu dengan riang menggulir video pendek di ponselnya.

“Hehe… ternyata main ponsel enak juga.”

Bersambung.

1
EAKK
.
Khusus Game
bagus k. Cuman kalo bisa... covernya lebih menarik lagi🙏
Khusus Game: nahh.. jadi lebih GG👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!