NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Aurora

Takdir Cinta Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Karang Biru Samudera

Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Laptop

Walaupun jadi salah satu orang terkaya di Asia, kesederhanaan dan kerendahan hati tetap mereka terapkan dan menjadi prioritas utama. Salah satu contohnya adalah memperlakukan pegawai dan pekerja dengan baik layaknya manusia. Bahkan, seperti keluarga.

Tepat sebelum senja menghilang Aurora sampai di rumahnya. Dia cukup terkejut melihat mobil milik sang ibu sudah terparkir rapi di dalam bagasi. Padahal biasanya, ibunya akan pulang saat jam makan malam tiba.

"Pak Agus?" Panggilnya pada seorang pekerja yang tengah menyiram tanaman.

"Iya Non."

"Mama udah pulang?"

"Udah Non. Udah dari tadi siang."

"Kok tumben?"

"Soalnya mau ada tamu Non."

"Tamu?"

"Iya Non."

"Ya udah deh, makasih Pak."

"Sama-sama Non."

Tak ingin bertanya lebih jauh, Aurora memilih masuk ke dalam rumahnya untuk menanyakan langsung pada sang ibu.

"Ma.... Aku pulang." Ucapnya sedikit berteriak.

"Mama?" Panggil Aurora sekali lagi karena sang ibu yang tak menunjukkan batang hidungnya.

"Non Ara nyari Nyonya?" Tanya seorang perempuan paruh baya yang berlari kecil dari arah dapur menghampirinya.

"Eh, ada Bi Asih. Iya Bi, Mama dimana?"

"Nyonya ada di dapur Non."

"Oke. Makasih Bi."

Aurora pun melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menemui sang ibu.

"Ma?" Panggil Aurora menegur Ny. Airin yang tengah sibuk memasak.

"Hay sayang." Seperti biasa, Ny. Airin akan memberikan pelukan juga ciuman di kening setiap kali Aurora pulang dari kegiatan di luarnya.

"Kok udah pulang? Cepet banget keluarnya." Tanya Ny. Airin melanjutkan kegiatan masaknya kembali.

"Iya, cuma nemenin Audrey beli komik abis itu langsung pulang." Melihat sang ibu yang tengah kerepotan, Aurora pun meletakkan tasnya di atas meja dan langsung membantu tanpa harus di minta apalagi di perintah.

"Tumben Mama masak banyak banget? Buat apa?" Tanya Aurora yang tengah mencuci beberapa sayuran lalu memotongnya.

"Oh... Ini. Mau ada tamu sayang. Kamu masih inget kan sama Om Alex dan Tante Agnes? Temen Papa sama Mama pas kita ke Korea dulu?" Tutur Ny. Airin memberitahu seraya memasukkan beberapa bahan ke dalam panci yang sudah mendidih.

"Oh... Yang waktu itu ketemu di acara pesta itu ya?"

"Iya. Kemarin mereka baru aja pulang ke sini dan mutusin buat tinggal di Indo. Nah, malem ini Papa ngajakin mereka buat makan malem sama-sama."

Kebersamaan diantara ibu dan anak itu terekam jelas di mata Tn. Oliver saat ini. Sebenarnya, tak lama setelah Aurora masuk ke dalam rumah, Tn. Oliver juga baru saja kembali dari kantornya. Dia juga ingin ikut menyapa dan bergabung bersama anak dan istrinya. Tapi, daripada mengganggu atau mengacaukan semuanya, lebih baik dia memperhatikan saja dari kejauhan.

***

Kedatangan sebuah mobil mewah di kediaman keluarga Tn. Oliver sama sekali tak mengejutkan untuk para pekerja di sana. Maklum, sang majikan adalah seorang pengusaha sukses di negeri mereka, jadi, menerima tamu penting dari berbagai kalangan bukanlah hal aneh lagi bagi mereka.

"Selamat malam." Sambut seorang pelayan laki-laki yang berdiri di depan pintu sembari membungkuk hormat.

"Selamat malam. Apa majikan kalian ada di dalam?" Tanya seorang laki-laki dengan pakaian berjas mahalnya.

"Ada Tuan. Tuan dan Nyonya sudah menunggu di dalam."

"Terimakasih."

Tanpa menunggu lama, keduanya pun memasuki rumah mewah itu dengan senyum bangga di wajah mereka.

Sambutan hangat dari sang pemilik rumah seketika terdengar kala mereka baru saja duduk di ruang tamu yang tak kalah mewah dengan hotel bintang lima.

"Lama gak ketemu, bikin pangkling aja kamu, rin." Ucap Ny. Agnes menyambut pelukan Ny. Airin.

"Tambah cantik aja nih Nyonya Oliver." Pujinya.

"Gak usah muji. Kamu juga tambah cantik kok." Balas Ny. Airin diiringi senyuman.

"Gimana perjalanannya? Lancar gak?" Tanya Tn. Oliver seraya mempersilahkan keduanya untuk duduk kembali.

"Biasalah.... Macet." Sahut Tn. Alex dengan candaannya.

"Bukan Indonesia kalo gak macet. Kelamaan tinggal di Korea jadi lupa kebiasaan tempat tinggal sendiri."

"Maklumlah, namanya juga pertama."

"Sempet nyasar gak?" Tanya Ny. Airin.

"Gak dong... Drivernya kan udah ahli. Tapi, sepanjang perjalanan ke sini banyak yang berubah ya? Udah ada banyak bangunan dimana-mana." Sahut Ny. Agnes.

"Iya dong... Berapa tahun coba kalian gak balik ke Indo?"

"Lumayan lama juga sih. Mungkin sekitar 15 tahun."

"Tadi kita juga sempet di berhentiin pas di gerbang utama. Katanya karena kita belum bikin janji sama kalian. Emang gitu ya peraturannya?" Tanya Tn. Alex penasaran.

"Iya, sorry. Gue lupa gak ngasih tahu penjaga di depan kalau kalian mau dateng. Terus, gimana caranya bisa lolos?" Jawab Tn. Oliver cengengesan tapi tetap merasa bersalah.

"Ya, ngomong aja kalau kita temennya kalian. Terus, Alex ngasih KTP nya buat jaminan." Ucap Ny. Agnes menjelaskan.

"Udah kayak mau ketemu presiden aja." Sahut Tn. Alex tertawa.

"Hahaha.... Sorry sorry. Nanti gue kasih tahu deh penjaganya." Balas Tn. Oliver yang juga ikut tertawa.

"Katanya mau ngajakin Luca juga, kok cuma berdua?" Tanya Ny. Airin karena tak melihat sosok laki-laki muda bersama mereka.

"Oh, dia nanti mau nyusul katanya. Maklum, anak cowok kalau udah gede sukanya sendiri." Jawab Ny. Agnes.

"Oh, kita kira gak bakalan dateng dia."

"Om, Tante, selamat malam." Sapa Aurora yang baru saja datang. Tak lupa menyalami keduanya lalu duduk di sebelah Ny. Airin.

"Malem sayang." Balas Ny. Agnes dengan senyuman.

"Duh, tambah cantik aja nih bidadarinya." Puji Tn. Alex dengan senyum menggoda.

"Biasa aja kok Om, Tante, masih sama kayak yang dulu." Ucap Aurora tersipu malu.

"Gimana kabarnya?" Tanya Tn. Alex.

"Baik Om. Om sama Tante gimana?"

"Kita juga baik kok."

"Kata Mama Om sama Tante mau tinggal di Indonesia?"

"Iya sayang, kita mutusin untuk netap di Indo." Jawab Ny. Agnes membenarkan.

"Kenapa? Emangnya kerjaan yang di Korea udah bisa di tinggal? Soalnya, Om sama Tante kan sibuk banget. Sama kayak Papa Mama."

"Wah, anak Papa curhat nih ceritanya?" Sahut Tn. Oliver menggoda.

"Ya bener kan?"

"Sekarang udah bisa. Kalau dulu, harus di awasin terus." Ucap Tn. Alex menjawab pertanyaan.

"Tapi, kita juga masih bolak-balik ke sana juga kok buat ngecek. Yang di sini kan udah ada yang bantuin. Om sana Tante cuma ngarahin aja." Ucap Agnes menambahkan.

"Oh.... Siapa?"

"Sayang, kok kamu kepo banget sih?" Tegur Ny. Airin karena sang anak yang terlalu banyak bertanya.

"Kan cuma pengen tau aja. Siapa tahu nanti Ara main-main ke kantornya Om sama Tante. Gak papa kan Om?"

"Gak papa dong sayang.... Om seneng banget kalo kamu mau main." Jawab Tn. Alex dengan senyuman mengizinkan.

"Tuh kan, Om sama Tante aja gak papa."

"Iya deh iya.."

Obrolan tak lagi berlanjut karena handphone milik Tn. Alex tiba-tiba berbunyi. Tanpa berlama-lama dia pun langsung mengangkat panggilan itu setelah melihat siapa nama di kontaknya.

^^^"Kenapa sayang?" Tanya Tn. Alex. ^^^

"Papa sama Mana udah nyampek?"

^^^"Udah. Kamu dimana?"^^^

"Udah di depan gerbang. Tapi gak boleh masuk sama penjaganya."

^^^"Tunggu bentar. Jangan dimatiin telponnya."^^^

Menjauhkan ponselnya dari telinga, Tn. Alex menatap pasangan suami-istri di hadapannya.

"Kenapa?" Tanya Ny. Airin bingung.

"Anak gue udah ada di depan. Tapi gak bisa masuk."

"Siniin hpnya, biar gue yang ngomong." Pinta Tn. Oliver. Tn. Alex pun memberikan ponselnya pada sang sahabat.

^^^"Luca, ini Om." Ucap Tn. Oliver memberitahu. ^^^

"Oh, iya Om."

^^^"Kasiin hpnya sama penjaganya. Biar Om yang ngomong."^^^

Mendapat perintah seperti itu, Luca yang masih berdiri di samping motornya melangkah mendekati gerbang. Menghampiri salah satu penjara yang ada di sana.

"Pak, ada yang mau ngomong nih." Ucap Luca seraya memberikan handphonenya.

Meski bingung, pria bertubuh tegap itu tetap menerimanya dan menyapa seseorang di sebrang sana yang dia tak tahu siapa.

^^^"Hallo." Ucapnya terdengar ragu. ^^^

"Pak, ini saya."

^^^"Iya Tuan."^^^

"Biarin dia masuk. Dia tamu saya."

^^^"Baik Tuan."^^^

"KTP orang yang Bapak ambil juga kasihin ke anak itu."

^^^"Baik Tuan." ^^^

Pria itu pun memberikan handphone itu kembali pada Luca saat tak ada lagi perintah yang diberikan oleh sang majikan.

^^^"Makasih Om." Ucap Luca sebelum menutup panggilan begitu saja. ^^^

"Sama-sama." Balas Tn. Oliver dari sebrang sana.

"Maaf mas, saya gak tahu." Ucap pria itu menyesal setelah Luca menyimpan kembali ponselnya di saku celana.

"Iya, gak papa Pak. Makasih ya." Dengan senyum ramah Luca menanggapinya. Dia pun kembali ke motornya dan menaikinya untuk masuk ke dalam karena pintu gerbang yang sudah dibukakan.

***

"Anaknya kenapa gak bareng aja sama Om Tante?" Tanya Aurora sesaat setelah panggilan selesai.

"Udah ditawarin, tapi gak mau. Pengen berangkat sendiri katanya." Jawab Ny. Agnes.

"Dia baru pertama kali dateng ke Indo kan?"

"Gak juga sih. Dulu udah pernah, tapi gak ke Jakarta."

"Emang gak takut nyasar?"

"Gak tahu. Nanti Ara tanya sendiri aja sama orangnya."

Tak berselang lama, seorang pria muda tiba-tiba saja masuk dengan diantar salah satu pelayan.

"Malem Om, Tante." Sapa Luca dengan sopan. Dia juga tak lupa menyalami Airin dan Oliver sebagai bentuk rasa hormat terhadap yang lebih tua.

"Malem." Balas keduanya berbarengan.

"Oh.... Ini to yang namanya Luca. Sopan ya, ganteng lagi." Ucap Ny. Airin terpesona.

"Iya Tante, saya Luca." Dengan senyum canggung Luca membalas pujian Airin seraya duduk di sebelah sang ayah.

"Udah gede. Keliatan tambah dewasa dan berwibawa kayak papanya." Timpal Tn. Oliver juga ikut memuji.

"Biasa aja Om. Masih jauh kalo di bandingin sama Papa. Belum ada apa-apa nya."

"Tapi katanya udah berani buat mimpin perusahaan. Itu bagus dong."

"Iya Om, tapi masih harus banyak belajar."

"Eh, yang tadi sore ketemu di toko buku kan?" Tegur Luca saat pandangannya tak sengaja mengarah pada Aurora.

"Oh, masnya yang tadi mau beli novel." Ucap Aurora yang juga mengingatnya.

"Kalian udah saling kenal?" Tanya Ny. Airin penasaran.

"Belum. Cuma gak sengaja ketemu di toko buku aja."

"Oh... Ya udah yuk, makan. Pasti udah pada laper kan?" Ajak Tn. Oliver seraya berdiri.

Dari ruang tamu, mereka menuju meja makan yang sudah dipersiapkan. Tak hanya satu atau dua macam makanan, tapi begitu banyak jenis menu yang tersedia. Dari mulai western hingga makanan lokal.

"Siapa nih yang masak? Airin apa bukan?" Tanya NY. Alex dengan senyum dan mata berbinar seraya mengambil tempat duduknya di sana.

"Airin dong.... Di bantuin sama Aurora juga." Sahut Tn. Oliver dengan bangga.

"Kok Papa tau?"

"Ya kan Papa gak sengaja liat. Terus, videoin kalian."

"Tambah enak dong pasti." Ucap Ny. Agnes.

"Pasti dong."

"Dulu, pas kita masih kuliah, Mama kamu itu sering banget bawain kita makanan dari masakannya dia. Dan itu pasti enak banget." Beritahu Ny. Agnes bercerita.

"Dari dulu, Mama kamu emang jago masak. Anaknya pasti nurun lah." Sahut Tn. Alex menerima piring yang sudah di isi oleh sang istri.

"Gak juga Om. Jadi jangan terlalu berharap."

***

Di saat para orang tua tengah asyik menikmati waktu mereka dengan mengobrol dan bercerita, Aurora lebih memilih menikmati waktunya dengan santai di balkon kamar sembari membaca buku dengan ditemani langit penuh bintang juga hembusan angin malam.

10 menit berlalu ketenangan dan konsentrasi masih Aurora dapatkan. Tapi setelahnya, kenyamanannya terusik saat suara-suara tak jelas dari bawah sana terdengar hingga gendang telinga.

Berusaha untuk mengabaikannya tapi suasana yang tercipta sudah terlanjur di rusak. Mau tak mau Aurora pun menutup bukunya dan bangkit untuk melihat siapa sang pelaku sebenarnya yang telah mengganggu waktu berharganya.

Rupanya, sang tamu yang tak mengerti etika. Entah apa yang dilakukannya di bawah sana sampai harus menimbulkan keributan.

Tanpa membuang-buang waktu, Aurora membawa kakinya untuk melangkah pergi. Percuma rasanya jika harus memberitahu hanya lewat kata-kata.

"Sayang, mau kemana?" Tanya sang ibu karena Aurora hanya melewati mereka begitu saja.

"Halaman belakang."

***

Apa yang dia lakukan saat ini sebenarnya bukan tanpa alasan. Membunuh rasa bosan karena tak diizinkan pulang adalah penyebabnya. Lagipula, dia juga sudah diberi izin sepenuhnya untuk melakukan apapun yang dia suka. Jadi, untuk apa harus menyia-nyiakan nya?

Dan hal yang dia lakukan adalah mengajak semua pekerja yang ada di sana untuk bermain tenis meja bersama dirinya. Tenang, bukan hanya sekedar permainan semata, tapi Leo juga memberi hadiah berupa uang bagi siapapun yang menang.

"Eh, ada non Ara. Kita ganggu ya non?" Tegur salah satu pekerja yang ada di sana saat melihat kedatangan Aurora.

"Gak kok Pak. Kok tumben main tenis malem-malem?"

"Iya nih non, diajakin sama mas Luca."

"Oh.... Ada hadiahnya gak?"

"Ada non. Yang menang di kasih uang 1 juta."

"Non Ara mau ikutan main?"

"Gak bisa Pak. Nontonin aja."

Niat hati ingin menegur tapi tak jadi karena mereka tampak bersenang-senang. Apalagi, saat seorang pekerja mengambilkan kursi untuknya dan mempersilahkan Aurora untuk duduk.

"Mang Diman sama Pak Ucup kok gak ikutan main?" Tanya Aurora pada 2 orang di sebelahnya seraya mata tetap memperhatikan permainan.

"Udah non tadi. Tapi kalah sama mas Luca. Mas Luca jago mainnya." Jawab Mang Diman yang juga terlihat asyik menikmati permainan.

"Pak Muh keren. Jago juga ya ternyata." Ucap Luca tersenyum memuji saat sang lawan berhasil menambahkan poin.

"Kalo di kampung, saya mainnya kayak beginian mas sama temen-temen saya." Jawab Pak Muh bercerita.

"Kalau gitu kenapa gak jadi atlet tenis meja aja Pak Muh?"

"Hahaha.... Gak kesampean mas. Emang takdirnya buat jagain non Aurora aja." Tawanya renyah saat berhasil melakukan smash sekaligus menutup permainan dengan kemenangannya.

"Ada yang mau main lagi gak? Saya udah capek." Tanya Luca pada mereka semua.

"Saya mas." Seseorang di sebelah Mang Ucup mengajukan diri.

"Mang Jono saya tantang mau gak?" Tawaran Luca berikan sebelum memberikan alat pukul nya (bet)

"Apa mas?"

"Kalo Mang Jono bisa menang lawan Pak Muh, saya kasih 2 juta. Tapi kalau kalah saya kasih 500 ribu."

"Kalo saya yang menang dapet apa mas?" Tanya Pak Muh terlihat antusias.

"Hadiahnya saya tambahin 2 juta. Jadi 3 juta. Gimana?"

"Oke. Setuju." Sahut keduanya bersama.

Tanpa di perintah, Mang Ucup dan Mang Diman menggeser tempat duduk mereka. Memberikan tempat untuk Luca agar duduk di sebelah Aurora.

Bukan di sengaja, tapi mereka hanya menganggap jika mungkin kedua orang itu bisa mengobrol bersama.

"Pegawai kamu asik-asik ya ternyata. Enak di ajak ngobrol. Lucu-lucu. Sama bisa di ajak main." Tutur Luca panjang lebar.

"Emang di rumah lo gak ada pegawai?"

"Ada sih... Tapi pegawai di rumah gak ada yang kayak di tempat lo. Orang Korea tuh kalo kerja pada serius-serius. Ketawa aja jarang."

"Ya untung deh lo pindah ke Indo. Gue sih bisa stress kali kelamaan bergaul sama mereka."

"Hahaha... Lucu lo. Ya gak segitunya juga kali."

Sembari menonton pertandingan, Luca mengeluarkan 2 buah permen lolipop dari saku celananya lalu memberikan salah satunya pada Aurora.

"Mau ini gak? Gue punya 2 nih." Tawar Luca.

"Kayak anak kecil bawa beginian." Ejek Aurora tapi tetap menerima pemberian.

"Gak papa. Enak kok. Cobain aja. Gak pernah lo ya?"

"Pernah.... Tapi kalo gue pengen aja." Aurora pun membuka permen itu karena dia yang ingin mencobanya.

"Thanks ya." Ucapnya sebelum memasukkan permen itu ke dalam mulut.

"Sama-sama." Sahut Luca yang juga membuka permennya.

"Enak kan?" Tanya Luca setelah Aurora mencoba permennya.

"Lumayan lah."

"Gue gak liat ada orang lain selain nyokap, bokap sama lo. Lo anak tunggal?"

"Ho'oh. Lo sendiri? Lo anak tunggal?"

"Enggak. Gue anak terakhir. Kakak gue yang 3 udah pada nikah."

"Oh....."

"Lo masih kuliah?"

"Baru masuk semester 3."

"Jurusan apa?"

"Kedokteran."

"Kenapa gak ambil jurusan bisnis? Secara lo kan anak tunggal. Orang tua lo pasti pengen dong buat lo yang nerusin bisnis mereka?"

"Emang.... Tapi gue gak tertarik sama bisnis, gimana dong? Jadi pengusaha itu pusing. Mikirin ini itu. Belum lagi, kalo harus pergi ke luar kota atau luar negeri. Capek. Ngabasin banyak waktu."

"Lo curhat?"

"Emang gitu kan kenyataannya kalo jadi pengusaha?"

"Ya iya sih.... Banyak waktu sama tenaga yang harus di korbanin."

"Itu lo tau."

"Tapi, kenapa milih kedokteran?"

"Karena gue suka ngobatin orang sakit. Bisa jadi perantara mereka sembuh dari penyakitnya."

"Berarti, nanti kalo gue sakit, lo yang ngobatin gue ya?"

"Huh? Aneh lo. Emang ada orang sakit di rencanain dulu?"

"Kan apa yang terjadi di masa depan gak ada yang tau. Siapa tau aja...."

"Terserah lo deh."

Satu pukulan keras yang dilakukan Pak Muh berhasil menembus pertahanan Mang Jono yang mengakibatkannya akhirnya kalah dalam permainan dengan skor yang cukup meyakinkan. 21-15.

"Wih.... Pak Muh yang menang." Ucap Luca sedikit berteriak dan tersenyum senang.

"Pak Muh terlalu jago." Sahut Mang Jono.

"Ini hadiahnya buat Pak Muh. Yang ini buat Mang Jono." Sesuai yang sudah di janjikan, Luca pun mengeluarkan dompetnya dan memberikan lembaran uang 100 ribu pada mereka.

"Mas, kebanyakan ini. Kan mas Luca bilangnya cuma 500 ribu." Ucap Mang Jono tak enak hati karena dia mendapat 1 juta.

"Gak papa Mang, ambil aja. Dia uangnya banyak kok." Sahut Aurora.

"Gak papa Mang. Itu emang buat Mang Jono kok." Ucap Luca.

"Ini buat Mang Diman sama Pak Ucup." Tak hanya 2 orang yang bertanding, 2 orang yang sedari tadi menonton juga ikut Luca beri. Masing-masing 500 ribu.

"Loh, kita juga ikutan kebagian mas?" Tanya Mang Diman tak menyangka. Tapi tetap menerima pemberian itu dengan senang hati.

"Iya gak papa. Lanjutin aja kalo masih mau main."

Karena masih ada 2 bet yang tersisa, mereka berempat pun akhirnya bermain bersama untuk membunuh waktu.

"Om sama Tante bilang kalo kerjaannya di sini ada yang bantuin. Itu elo?" Tanya Aurora saat Luca kembali duduk di sebelahnya.

"Iya."

"Berarti lo gak kuliah dong?"

"Kuliah. Sambil ngurusin kerjaan juga."

"Jurusan apa?"

"Internasional bisnis semester 5."

"Semangat ya. Pasti capek banget tuh jalanin bisnis tapi sambil kuliah."

"Lumayan sih. Thanks ya."

Untuk beberapa saat keduanya tiba-tiba saling terdiam. Asyik menikmati keseruan para pekerja yang tengah bermain di depan mereka sambil bercanda.

"Nama lo Aurora?" Tanya Luca kembali membuka suara.

"Iya."

"Panggilan apa nama asli?"

"Nama asli."

"Cantik ya. Kayak keindahan cahaya di Kutub Utara."

"Emang gue cantik."

"Hahaha.... Astaga. Gak ada jaim-jaimnya sama sekali lo ya, ternyata."

"Kenapa harus jaim? Hidup itu gak perlu di tutupi. Jalanin aja apa yang lo miliki tanpa harus dengerin apa kata orang. Toh, selama itu gak krugiin orang lain dan tetep sopan sama orang, ya gak masalah dong?"

"Bener juga lo. Lebih baik jadi diri sendiri yang apa adanya daripada gak punya apa-apa tapi sok-sok'an jadi kaum sosialita."

"Ngobrolnya betah banget?" Tegur suatu suara mengagetkan keduanya yang langsung menoleh ke belakang dan berdiri bersama.

"Om, Tante." Tegur Luca tersenyum canggung.

"Mama sama Papa udah selesai ngobrolnya?" Tanya Aurora.

"Udah sayang." Jawab Ny. Airin.

"Kamu mau pulang sekarang atau nanti?" Tanya Ny. Agnes pada sang putra.

"Sekarang lah. Kan tadi Mama sama Papa yang gak ngebolehin Luca buat pulang."

"Oh iya, lupa."

Sebagai tuan rumah yang baik, ketiganya mengantar Tn. Alex, Ny. Agnes, serta Luca ke sampai depan rumah mereka.

"Rin, kita pulang dulu ya. Makasih buat makan malemnya. Next time kalian yang harus ke rumah kita." Pamit Ny. Agnes pada sang sahabat.

"Gampang itu mah. Asalkan bapak negara gak sibuk, kita pasti bisa kok."

"Thanks ya Ol buat malem ini." Ucap Tn. Alex juga ikut berpamitan.

"Sama-sama. Thanks juga karena kalian udah mau dateng."

"Sama-sama. Kita pamit ya."

"Hati-hati."

"Luca juga hati-hati bawa motornya. Gak usah kebut-kebutan di jalan." Pesan Ny. Airin pada Luca sebelum menaiki motornya.

"Iya Tante."

"Hati-hati." Aurora juga ikut berpesan sebelum akhirnya Luca pergi dengan motornya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!