Apa jadinya jika yang menjadi sekretaris di perusahaan adalah istri sendiri? jangankan bisa menggoda karyawan wanitanya bahkan untuk sekedar lirik sana-sini pun tidak akan bisa dilakukan.
Sementara itu, dibalik sikap ceria sang istri ternyata dia harus bertahan menghadapi keluarga suami yang sering menyindirnya karena belum dikaruniai anak. Akankah rumah tangga mereka bisa kuat ataukah harus hancur hanya gara-gara sang istri belum juga dikaruniai keturunan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 Bertengkar
Keesokan harinya....
Ashika bangun tidur dengan mata yang sembab karena semalaman dia terus saja menangis. Perkataan Mama mertua dan adik iparnya membuat hatinya benar-benar sakit, Ashika selalu down kalau sudah di sindir mengenai anak.
“Sayang, kamu tidak apa-apa, kan?” tanya Rio dengan menangkup wajah Ashika.
“Aku tidak apa-apa kok, Mas.”
Ashika bangkit dari tempat tidur, lalu dengan langkah gontai masuk ke dalam kamar mandi. Rio tahu kalau saat ini istrinya itu sedang down akibat dari perkataan Mama dan adiknya. Rio yang memang sudah rapi dengan baju kantornya, memutuskan untuk turun duluan ke lantai bawah.
Ternyata di meja makan sudah ada Nirmala dan juga Ikbal, tadi malam sehabis makan malam Ikbal memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Ia memang tidak mau ikut campur urusan keluarga angkatnya itu.
“Pagi sayang, ayo kita sarapan dulu,” seru Mama Nirmala.
“Ma, Rio mohon jangan ungkit-ungkit masalah anak lagi, Ashika selalu sedih kalau Mama dan Melisa ngomongin masalah anak,” seru Rio.
“Memangnya kenapa? Ucapan Mama benar kan, kalian itu sudah menikah lumayan lama tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda hamil dari anak pelacur itu,” sinis Mama Nirmala.
“Mama, cukup! Sekali lagi Mama sebut Ashika seperti itu, Rio akan pergi dari rumah ini,” ancam Rio.
“Tidak, tidak ada yang boleh pergi dari rumah ini. Pokoknya kamu dan Melisa tidak boleh pergi dari rumah ini, karena Mama tidak mau anak-anak Mama pergi meninggalkan Mama.”
“Kalau Mama tidak mau Rio pergi, tolong hentikan jangan menghina Ashika terus. Bagaimana pun sekarang Ashika adalah istri Rio dan Rio sangat mencintai Ashika.”
Lagi-lagi Ikbal hanya diam saja, Ikbal merasa tidak punya hak untuk ikut bicara. Tidak lama kemudian, Melisa dan Anton datang membuat Rio dan Nirmala menghentikan perseteruan mereka.
“Ashika, mana?” tanya Papa Anton.
“Masih di atas, Pa. Mungkin sebentar lagi dia juga turun,” sahut Rio.
Benar saja, terdengar suara langkah kaki dan ternyata Ashika sudah siap dengan baju kantor yang seksi seperti biasanya. Ashika terlihat menyunggingkan senyumannya, seperti tidak terjadi apa-apa.
“Selamat pagi, semuanya!” sapa Ashika.
“Pagi sayang, ayo sarapan dulu,” sahut Papa Anton.
Nirmala dan Melisa menatap jijik ke arah Ashika, mereka memang sama sekali tidak menyukai Ashika.
“Sayang, kamu makan yang banyak ya, soalnya hari ini pekerjaan kita banyak,” seru Rio.
“Iya, Mas.”
Setelah selesai sarapan, Rio dan Ashika pun segera berangkat ke kantor. Selama perjalanan, Ashika terlihat diam saja tidak bawel seperti biasanya.
“Sayang, maafkan aku ya karena aku tidak bisa membuatmu bahagia,” seru Rio.
“Mas tidak salah kok, jadi Mas tidak perlu minta maaf.”
Rio menggenggam tangan Ashika. “Sayang, aku harap kamu jangan terlalu masukin ke hati ucapan Mama dan Melisa. Pernikahan kita baru 1 tahun dan itu masih sangat baru, banyak kok di luaran sana yang sudah menikah belasan tahun tapi belum mendapatkan momongan. Aku akan selalu mencintaimu Ashika, aku yakin ke depannya kamu akan segera hamil dan walaupun kita belum dipercaya kamu jangan sedih karena aku akan selalu ada di samping kamu.”
Ashika menoleh ke arah suaminya itu. “Benar ya, kamu tidak akan pernah ninggalin aku hanya karena aku belum hamil?” seru Ashika.
Rio menciumi punggung tangan Ashika. “Aku janji sayang, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu apa pun yang terjadi.”
“Terima kasih, Mas.”
“Jangan banyak pikiran Ashika, kamu fokus saja mengurus rumah tangga kalian,” seru Ikbal.
“Iya, Mas Ikbal.”
Ashika kembali ceria dan beberapa saat kemudian, mobil Rio pun sampai di kantor miliknya sendiri. Seperti biasa, setiap Ashika masuk ke dalam kantor semua mata karyawan tertuju kepada Ashika sosok wanita yang selalu dijadikan fantasi oleh para pria itu. Meja kerja Ashika berada di dalam ruangan Rio, saking posesifnya Rio kepada istrinya dia tidak mau jauh-jauh dari Ashika.
Asika, Rio, dan Ikbal masuk ke dalam ruangan Rio tapi Ashika terkejut saat di meja kerjanya sudah ada buket bunga. “Bunga dari siapa ini?” gumam Ashika.
Rio langsung merebut buket bunga itu dari tangan Ashika dan melihat kartu ucapan yang terselip di dalamnya. “Untuk wanita paling cantik yang saya kagumi, semoga kamu suka.”
“Firza Fuad. Bal, bukanya ini pemilik perusahaan properti yang kemarin meminta kerja sama dengan perusahaan ini?” tanya Rio.
“Iya, Pak.”
“Kurang ajar, jangan kamu terima dan nanti siang batalkan pertemuan aku dengannya,” geram Rio dengan meremas kartu ucapan itu.
“Baik, Pak.”
Rio melangkahkan kakinya dan membuang buket bunga itu ke tong sampah, hatinya benar-benar panas melihat ada seorang pria yang memberikan bunga kepada istrinya.
“Pak, kalau begitu saya pamit dulu,” seru Ikbal.
Di perusahaan, Ikbal memang harus bersikap profesional. Rio duduk di kursi kebesarannya dan langsung mengerjakan pekerjaannya dengan raut wajah yang tidak bersahabat. Ashika tahu kalau saat ini suaminya itu sedang cemburu dan Ashika memutuskan untuk tidak mengganggunya dulu karena percuma karena pada akhirnya Rio akan marah kepadanya.
“Lebih baik aku diamkan saja dulu,” batin Ashika.
Selama mengerjakan pekerjaan, Rio dan Ashika sama-sama diam. Padahal biasanya, Rio paling bawel dan sering menggoda Ashika tapi kali ini Rio terlihat fokus dengan pekerjaannya dan sama sekali tidak memperdulikan Ashika.
“Ih Mas Rio memang menyebalkan, dia selalu seperti ini kalau cemburu mendiamkan aku,” batin Ashika dengan kesalnya.
Ashika lalu menghampiri Rio, kemudian tangan Ashika mengelus paha Rio dengan centilnya. Rio menghentikan pekerjaannya dan menoleh sebentar ke arah Ashika.
“Jangan mencoba merayuku, sudah sana selesaikan pekerjaanmu,” ketus Rio.
“Mas, jangan marah dong itu kan bukan kesalahanku tapi salahkan saja para pria itu yang suka sekali menggodaku,” sahut Ashika.
“Pakaian kamu terlalu seksi jadi para pria di luaran sana menginginkan kamu,” ketus Rio.
“Lah, perasaan pakaianku dari dulu seperti ini kenapa Mas baru sekarang mempermasalahkannya?” kesal Ashika.
“Mulai sekarang aku minta kamu rubah cara berpakaianmu, aku tidak suka semua pria menginginkanmu.”
Ashika tersenyum kecut dan menatap Rio dengan tajam. “Cara berpakaian ku memang seperti ini dan aku nyaman, bahkan sebelum menikah Mas juga sudah berjanji kalau Mas tidak akan mempermasalahkannya. Terus kenapa sekarang Mas seperti ini?” geram Ashika.
Rio terlihat marah dan bangkit dari duduknya, lalu menatap Ashika dengan mata yang memerah. “Kamu adalah istriku, jadi aku tidak mau semua pria terus saja menggoda dan menginginkanmu.”
“Kalau Mas tidak mau semua pria menggodaku, Mas umumkan kepada semua orang kalau aku adalah istrimu supaya mereka tidak terus-terusan menggodaku!” sentak Ashika.
Sesaat Rio terdiam dan menatap Ashika dengan sangat dalam. “Maaf, untuk saat ini aku belum bisa melakukannya," sahut Rio dengan memalingkan wajahnya.
“Kenapa? Mas sama Mama Mas sama saja, terus kalau Mas malu dengan pernikahan kita, kenapa Mas masih mempertahankan pernikahan ini?” sentak Ashika.
Ashika yang marah langsung meninggalkan ruangan Rio.
“Ashika, tunggu! kamu salah paham!” teriak Rio.
Ashika tidak mendengarkan teriakan Rio, dia terus saja berlari dengan deraian air matanya.
“Ashika kenapa?” batin Ikbal.
Ikbal baru saja keluar dari ruangannya untuk memberikan berkas kepada Rio, tapi Ikbal justru melihat Ashika berlari sembari menangis.
.lili kyk nya kecintaan sm boy deh..
.ayo lili sadar lah . tunjukan km kuat.. jg nangisan