Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Bertahan Bukan Karena Cinta
Pintu diketuk dari luar.
"Masuk ..." Rayi menoleh ke pintu yang didorong dari luar.
Berdiri bik Suti di ambang pintu, "Maaf permisi, Non ..." ujarnya menganggukkan kepala pertanda dia menghormati istri dari majikan mudanya.
Rayi berdiri, "Masuklah, Bik "
Bik Suti melangkah masuk di kedua tangannya membawa kotak yang dihias indah, kotak yang saat ijab kabul berada di atas meja. Kotak yang berisi seperangkat alat sholat serta uang tunai sebesar lima ratus juta rupiah.
"Saya Bik Suti asisten rumah tangga Ndoro mengantarkan ini pada Non," ujar perempuan parah bayah yang sudah bekerja pada kakek Brata sejak Rio masih dalam kandungan ibunya.
"Ya terima kasih, Bik " angguk Rayi menerima kotak berisi mas kawin dari Rio yang sesungguhnya dipersiapkan oleh kakek Brata, mana mungkin Rio mau ingat dan perduli pada mas kawinnya, menikah saja dengan drama pengancaman segala.
"Non ada pesan dari Ndoro sudah tersedia pakaian untuk Non pakai, tapi jika Non kurang berkenan akan diganti yang lain," ujar bik Suti sambil menunjuk lemari pakaian dengan jempolnya.
Rayi terkejut, "Kakek Brata menyiapkan baju untukku, Bi?"
"Ya silahkan Non periksa dulu, pakaian untuk Non digantung dan diletakkan di sebelah kiri," ujar bik Suti melayangkan pandangannya pada lemari berukuran besar dan mewah dimana satu setel dengan meja rias.
Rayi meletakkan kartu ATM pemberian Rio di dalam kotak mas kawinnya, lalu melangkah ke depan lemari.
Bik Suti mengikuti dari belakang.
Rayi membuka lemari.
Kedua matanya agak melebar saat melihat beberapa pakaian wanita wanita digantung, serta banyak juga yang dilipat rapih di bagian lain masih di lemari itu juga.
Bahkan di samping lemari terdapat sebuah sandal serta dua pasang sepatu, yang terdiri dari sepatu kets warna putih serta sepasang sepatu wanita.
Rayi mengangkat satu persatu sandal dan sepatu yang disediakan untuk dirinya. "Kok nomernya persis dengan ukuran kaki aku, ya,"
"Bik ..."
"Ya, Non ..."
Mulanya Rayi ingin memastikan kalau sederet baju yang tampak mewah itu disediakan oleh kakek Brata. Tapi dia mengurungkannya.
Ah, biar saja jangan terlihat aku kepo ingin tahu semuanya tentang tak keperdulian lelaki yang telah menjadi suamiku. Walau tanpa bertanya pun sudah tahu jawabannya pastinya kakek Brata yang menyediakan semua pakaian untuk dirinya.
Rayi tersenyum, "Aku suka," ujarnya semuanya, Bik,"
"Kalau begitu saya permisi Non," pamit bik Suti dengan hati senang karena non majikan barunya terlihat bahagia dan tak sia-sia ndoro majikannya menyediakan semua pakaian fan sepatu di lemari.
"Ya, Bik,"
Setelah bik Suti meninggalkan kamar Rayi mulai melepaskan gulungan sanggul di kepalanya, lalu membersihkan mike up di wajahnya.
"Hem aku kan nggak bawa baju salin dan ganti kudu mengambil satu baju baru di lemari," lalu memilih baju yang cocok dikenakan sore hari.
Dipilihnya dari salah satu baju yang dilipat dan tersusun rapih.
Rayi tersenyum memandang sebuah baju terusan bercorak bunga kecil yang panjangnya sebetis dan memiliki potongan krah mirip shanghai, serta memiliki potongan panjang lengan hingga siku.
Rayi tersenyum karena merasa kakek Brata pintar dalam memilih baju untuk anak seusianya. Terlihat tak menjadikannya ketuaan jika mengenakannya, juga tak terlihat seperti bocil.
Matanya terbelalak saat meligat lebel baju yang melekat di bagian belakang leher baju. "Wah kakek Brata gak kaleng-kaleng ngasih baju ke aku," gumam batinnya demi melihatan deretan huruf yang menampilkan nama desainer pakaian tanah air yang kondang namanya, tentu saja harganya tak murah.
"Wah kakek Brata boleh juga seleranya," gumam Rayi tak perlu lagi memeriksa satu persatu deretan baju di lemari, sudah percaya jika semua pakaian di sana pasti tak jauh dari seleranya.
Tiba-tiba dadanya berdebar saat teringat beberapa kalimat yang dikatakan Rio dengan dingin. Jika mengikuti kata hatinya dia sepakat dengan keinginan Rio untuk tak melanjutkan pernikahan itu.
Tapi senyum tulus kakek Brata membuat hatinya teduh, dan mendadak teringat pada kakeknya sendiri, sehingga membuatnya murung dan menunduk.
"Rayi cucu menantuku, ada apa?" Kakek Brata heran melihat sikap Rayi yang terlihat mendadak murung dan sinar matanya bagai orang dalam kabut sedih.
Rayi menggeleng, "Rayi hanya teringat kakek Satya ..."
Kakek Brata langsung merentangkan kedua lengannya dengan tatap memberi isyarat supaya Rayi menerima pelukannya.
Rayi yang tengah berkabut kedua matanya mendadak tersenyum saat dalam sepersekian detik raut muka serta sosok kakek Barata terlihat bagai kakek Satya.
"Kek ..." tanpa ragu karena dorongan rasa rindu yang dalam terhadap kakeknya, maka Rayi dengan senyum langsung masuk ke dalam rentang kedua lengan kakeknya Rio.
Kakek Brata yang cukup paham jika kebersamaan yang hanya tak lebih satu jam lebih antara cucu kandungnya dengan gadis pilihannya itu, pasti tak seperti pasangan pengantin baru yang saling berbagi kasih. Namun justru sebaliknya.
Namun setidaknya Rio yang sepanjang penyelidikannya belum punya kekasih itu, sudah terikat dalam ikatan suci pernikahan dengan cucu sahabat karibnya.
"Apa suamimu tadi sempat menyinggung perasaanmu?" Kakek Brata harus bertanggung jawab untuk minta maaf dan membujuk serta menghibur hati cucu menantunya.
Rayi yang sempat terlupa sesaat jika pelukan hangat bukan dari kakeknya, tersentak dan langsung keluar dari pelukan yang dirasanya hampir sama dengan pelukan kakeknya, menatap kakek Brata.
Lalu terngiang lagi ucapan Rio yang tak punya perasaan itu.
"Dan aku juga berharap kamu sepakat dengan aku untuk menyelesaikan pernikahan ini setelah aku pulang dari Jepang. Satu lagi rahasiakan pernikahan ini dari teman-temanmu,"
Kakek Brata tersenyum.
Senyum tulus penuh kasih sayang.
Rayi menggeleng, "Nggak, Kek," serunya langsung menyajikan senyum manisnya. Aku tak boleh membuat kakek Brata kesayangan kakekku sedih. Membuatnya bahagia sama saja membahagiakan kakekku.
"Rayi nggak bohong pada Kakekmu ini?" Kakek Brata mencoba membujuk.
Rayi tertawa kecil, "Kata Mas Rio aku diminta untuk bersabar dan jangan tersinggung jika dia belum bisa langsung memberinya kasih sayang, ya katanya sepulang dia dari Jepang akan memulainya ..."
"Benarkah?" Kakek Brata tertawa, dasar anak nakal pintar sekali pura-pura menolak, bisik hatinya tentang sang cucu, rupanya lelaki tua itu percaya kalau Rayi gadis yang jujur dan polos.
Setelah selesai mandi serta mengeringkan rambut segera dikenakannya baju yang berwarna hijau pupus yang cerah di sore jelang menjemput malam.
Di bandara jelang menaiki pesawat Rio membuka pesan dari kakek Brata.
Ada foto terkirim. Tapi dia sengaja enggan melihatnya, tapi fokus pada ketikan yang dikirim sang kakek.
(Kakek kirim foto pernikahan kalian pergunakan untuk wall paper handphonemu)
Mengirim pesan balasan pada kakek Brata.
(Kakek selama Rio nggak ada jaga kesehatan ya, Kek. Love sepenuh jiwa)
Pesan langsung dikirim.
Setelah mengirim pesan Rio langsung mematikan handphonenya tanpa ingin melihat foto pernikahannya dengan Rayi.
Kakek segitunya pada gadis yang boleh dikatakan bocil, pikirnya dan Rio tak tertarik untuk menatap pengantinnya. Bahkan tadi saat duduk berjejer dengan Rayi saat akad nikah dirinya pun enggan untuk menoleh pada pengantinnya.
Maaf, Kek aku sudah memberinya peringatan pada cucu menantu remaja pilihanmu, batin Rio sudah puas melontarkan kalimat yang bisa membuat gadis itu tersinggung.
Bibirnya tersenyum penuh kemenangan saat teringat kalimat yang sengaja diluncurkan dari mulutnya untuk Rayi.
"Dan aku juga berharap kamu sepakat dengan aku untuk menyelesaikan pernikahan ini setelah aku pulang dari Jepang. Satu lagi rahasiakan pernikahan ini dari teman-temanmu,"
Pasti malam ini tuh anak tidur di kamarku, huh!
Mana boleh dia menguasai kamarku. Tidur bebas di atas kasurku yang selama ini tak pernah ternoda oleh gadis mana pun.
Puaskan kamu malam ini di kamarku. Besok kamu harus pergi dari kamarku jangan seenaknya ngerem di tempat pribadiku!
Aku harus mengusirnya tapi tak punya nomernya, apa tanya sama bibik?
Ah nanti saja kalau sudah sampai di Jepang aku minta bibik menanyakan nomernya pada Rayi.
Di rumah kakek Brata.
Lelaki itu memandang Rayi dengan senyum bahagia. Istri cucu kesayangannya ini memang masih terlihat sangat muda sesuai umurnya delapan belas tahun. Wajah meremaja, cantik dan memiliki sepasang mata yang membuat teduh bagi yang menatapnya.
"Kakek terima kasih baju-bajunya dan Rayi suka,"
"Untuk cucu menantu kesayangan ini boleh minta apa saja ..." ujar kakek Brata.
Rayi menatap kakek Brata dengan tatapan sedih karena tiba-tiba saja teringat kakeknya. Kalau saja Kakek Satya masih ada pasti kebahagiaan kakek Brata akan ditandinginya, batinnya. Dan tiba-tiba saja sepasang wajahnya menjadi sendu.
Lalu kakek Brata mengembangkan kedua lengannya dengan senyum tulus.
Rayi yang masih hanyut perasaannya akan sosok kakeknya tiba-tiba saja membayangkan jika kakek Brata adalah kakek Satya.
"Kakek ..." ujar Rayi maju dan masuk ke dalam pelukan hangat kakek Brata.
"Maafkan cucuku jika belum bisa membahagiakanmu, Nak," batin kakek Brata yang sudah mengerti jika cucunya belum bisa memberikan bahagia pada gadis cucu sahabatnya ini. Namun berharap sepulang Rio dari Jepang pengantin baru ini akan menjadi dekat satu dan lainnya.
Rayi keluar dari pelukan kakek Brata.
"Ceritakan pada Kakek apa tadi Rio mengatakan sesuatu yang membuatmu tak nyaman, Nak?" Hati-hati kakek Brata bertanya sesuatu yang sudah ditahannya. Rupanya dia ingin memastikan saja.
Rayi terkejut.
suka banget alurnya