Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. Jamila Manjat Pohon
Jamila orangnya sebenernya kalem, tapi kalo udah urusan hati, kalemnya bisa langsung ambyar. Sore itu kampung Betawi di pinggir kali lagi rame sama suara jangkrik, bau tanah habis hujan, sama teriakan bocah-bocah main layangan.
Jamila lagi duduk di bangku kayu depan rumah Nyai Yati, mukanya kusut kaya baju habis diremes. Pikirannya ke mana-mana, ujung-ujungnya balik lagi ke satu nama mantannya, Arjuna.
Tunangan yang dulu janji mau ngelamar habis Lebaran itu sekarang malah direbut sepupunya sendiri, Salina. Janda, anak dua, lidahnya manis, senyumnya bisa bikin orang lupa dosa. Jamila kalo mengingat itu, dadanya sesak, napasnya Teresa pendek. Mau nangis, tapi gengsi. Mau marah, tapi sama siapa?
“Mil, lo jangan bengong mulu dah. Muka lo kaya tembok retak,” kata Kayla,
temennya yang paling cerewet sedunia. Kayla udah siap sama HP di tangan, tripod kecil diselipkan di tas. Di sampingnya ada Cintya yang dari tadi senyum-senyum sambil ngunyah cilok.
“Gue mau ngilangin emosi,” jawab Jamila pelan.
“Ngilangin emosi apaan?” Cintya nyeletuk.
Jamila berdiri, matanya ngelirik ke pohon mangga gede di samping rumah. Pohon tua, batangnya gede, dahannya tinggi-tinggi. Dari kecil Jamila sering manjat itu pohon, tapi udah lama banget nggak naik lagi.
“Gue mau manjat pohon itu ,” kata Jamila mantap.
Kayla langsung kegirangan.
“Wah, pas! Konten nih. Live TikTok aje, Mil!”
Belom sempet Jamila nolak, Kayla udah pencet live. Kamera nyala, muka Jamila masuk frame, rambutnya dikuncir asal, mata sembab tapi masih cakep.
“Guys, ini Jamila mau manjat pohon mangga! Dukung dia ya!” teriak Kayla ke kamera.
Penonton mulai masuk. Seratus. Dua ratus. komentar ngalir,
"Hati-hati kak"
"Semangat kak"
"Busyet tinggi amat pohonnya"
Jamila mulai manjat. Tangannya megang batang, kakinya nyari pijakan. Begitu naik satu dahan, deg-degan langsung kerasa. Angin sore nyentuh muka, bikin adem tapi juga bikin takut. Adrenalinnya naik pelan-pelan.
“Mil, jangan cepet-cepet!” Cintya teriak.
Kayla malah sibuk baca komentar.
“Eh ada yang bilang lo keren, Mil. Eh ada yang kirim mawar!”
Jamila naik lagi. Semakin tinggi, rumah-rumah di bawah keliatan kecil. Orang lewat kaya semut. Suara kampung jadi samar.
Di atas sana, Jamila ngerasa kaya dunia terlihat kecil sementara masalahnya pelan-pelan menjauh.
Penonton udah tembus seribu lebih. 1,3K. Setiap Jamila naik satu dahan, komentar rame. Ada yang takut dia jatuh, ada yang euforia ngeliat dia berhasil naik.
“Gila, Mil! Gift-nya jalan terus!” Kayla kegirangan. Matanya lebih fokus ke layar daripada ke Jamila.
Jamila berhenti di satu dahan gede. Duduk. Napasnya berat tapi hatinya aneh, agak lega.
Dia ngelirik ke bawah, ngeliat Kayla sama Cintya. Tadinya mereka nyemangatin, sekarang dua-duanya sibuk baca komentar, ketawa-ketawa sendiri.
Jamila ngerasa sendirian. Lagi-lagi.
Di saat itu, dari kejauhan, terdengar suara motor. Jamila nengok ke arah jalan besar. Jantungnya langsung lemas. Arjuna. Boncengan sama Salina. Salina meluk pinggang Arjuna, ketawa lepas. Rana Rini, anak-anak Salina nggak keliatan, entah ditinggal di mana.
Pandangan Jamila kabur. Dadanya kaya ditonjok. Dari atas pohon, dia ngeliat jelas cowok yang dulu janji setia, sekarang senyum buat orang lain.
“Mil, lo kenapa?” teriak Aisyah.
Jamila nggak jawab. Air matanya jatuh satu-satu ke daun mangga. Penonton live nggak tau apa-apa, tapi komentarnya makin rame
Jamila ngusap muka pake punggung tangan. Air mata jangan sampe jatuh banyak, pikirnya. Bukan karena malu sama penonton, tapi karena capek ngerasa lemah belum bisa menghilangkan wajah Arjuna dari kepalanya.
Dari atas pohon mangga itu, dia tarik napas dalem-dalem. Daun-daun mangga bergoyang pelan, kaya lagi bisik-bisik sama hatinya.
Komentar makin rame.
“Kak kok diem?”
“Jangan jatuh kak!”
“Semangat kak, lo kuat!”
Ada juga yang cuma ngirim emoji api, emoji kaget, emoji nangis. Mereka semua nonton, tapi nggak satu pun tau apa yang lagi pecah di dada Jamila.
Kayla akhirnya nengok ke atas.
“Mil? Lo gapapa kan?”
Tanyanya sambil senyum, tapi matanya masih nempel ke layar HP.
Jamila cuma angguk kecil. Dalam hatinya dia ketawa pahit.
Di zaman sekarang, perhatian kebagi dua, setengah ke manusia, setengah ke kamera.
Di jalanan, motor Arjuna makin jauh. Suaranya hilang ketelan suara riuh jalanan, tapi bayangan Salina yang meluk pinggang Arjuna masih nempel di kepala Jamila. Lengket. Perih. Kaya luka lama yang kebuka lagi.
Jamila ngerasa kosong. Marah ada. Sedih ada. Tapi yang paling kerasa capek.
Capek berharap.
Capek nunggu.
Capek jadi orang baik tapi ujung-ujungnya disingkirin.
Pelan-pelan Jamila berdiri dari dahan. Kakinya gemetar. Entah karena capek, entah karena hati yang lagi amburadul. Dia mutusin buat turun.
“Guys, Jamila mau turun ya,” kata Kayla ke kamera, nadanya ceria kaya nggak ada apa-apa.
Komentar langsung berubah.
“Hati-hati kak!”
“Pelan-pelan!”
“Jangan buru-buru!”
Jamila mulai nurunin kaki. Nyari dahan di bawah. Setiap geser dikit, jantungnya dag-dig-dug. Tapi anehnya, rasa takut jatuh kalah sama rasa takut kehilangan yang barusan dia rasain.
Di tengah-tengah turun, kenangan lama nyelonong masuk.
Dulu… dulu banget… Arjuna sering berdiri di bawah pohon ini.
“Mil, jangan tinggi-tinggi. Ntar jatuh,” katanya sambil panik.
Jamila senyum getir.
Sekarang Arjuna nggak ada.
Dan yang bikin dia jatuh bukan pohon, tapi janji Arjuna yang tidak ditepati.
“Mil, pelan aje,” teriak Aisyah. Kali ini suaranya beneran khawatir.
Akhirnya kaki Jamila nyentuh tanah. Lututnya langsung lemes. Dia jongkok sebentar, megang batang pohon mangga itu, kaya lagi pegangan sama satu-satunya hal yang masih setia.
Penonton di live bersorak di komentar.
Ada gift terakhir masuk.
“Alhamdulillah aman!” kata Kayla.
Live dimatiin.
Begitu layar mati, suasana langsung beda.
Sunyi.
Kayla sibuk ngecek gift, senyumnya lebar.
Aisyah berdiri kikuk, bingung mau ngomong apa.
“Mil…” Aisyah akhirnya buka suara.
“Lo kenapa sih?”
Jamila berdiri pelan. Mukanya pucat, tapi matanya lebih tenang.
“Gue liat Arjuna,” jawabnya pendek.
Kayla langsung diem. “Sama Salina?”
Jamila angguk
Hening.
Cuma suara jangkrik sama daun mangga yang kegeser angin.
“Maaf ya, Mil,” kata Kayla akhirnya, suaranya turun.
“Gue keasyikan live.”
Jamila nengok ke dia.
“Gue tau. Ini bukan salah lo.”
Dia narik napas.
“Gue aja yang mesti belajar… nggak semua orang bisa ngerti sakitnya gue.”
Jamila balik duduk di bangku kayu. Air mata jatuh lagi, kali ini dia nggak nahan. Nangisnya bukan meledak, tapi nangis capek. Nangis orang yang baru sadar, perjuangannya sendirian.
“Gue kira kalo gue naik tinggi, masalah gue jadi kecil,” katanya lirih.
“Ternyata nggak. Masalahnya tetap ada. Cuma gue aja yang harus lebih kuat.”
Cintya duduk di sampingnya.
“Lo kuat, Mil. dari dulu juga.”
Jamila senyum tipis. Dia nengok ke pohon mangga itu sekali lagi.
Pohon yang jadi saksi tawa masa kecil, cinta pertama, sampe patah hati paling dalem.
Langit mulai gelap. Lampu rumah nyala satu-satu. Kampung balik ke rutinitasnya.
Jamila ngelap air mata, berdiri.
“Yuk pulang. Gue harus kuat jalanin.hidup.. "
Dia berhenti sebentar, lalu nambah pelan,
“Tanpa Arjuna.”
Dan anehnya…
kata-kata itu nggak bikin dadanya sesek lagi.
Justru bikin dia ngerasa… bebas.
Bersambung