*"Di dalam kedalaman tanah yang menyelimuti kota Manado, ada sebuah ruang bawah tanah yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang telah 'dipanggil'. Lima belas wanita berjubah hitam berdiri melingkari lingkaran cahaya emas yang bersinar seperti darah yang baru saja mengering. Setiap malam, mereka menyanyikan doa yang tak dikenal manusia, memanggil sesuatu yang seharusnya tetap tertidur di dalam kegelapan.
Sevira, seorang dokter muda yang baru saja pindah ke Manado untuk mengobati warga miskin, tidak menyadari bahwa rumah yang dia sewa dulunya adalah bagian dari kompleks gereja kuno itu. Saat dia mulai menemukan jejak-jejak aneh – kain hitam yang tersangkut di pagar, suara nyanyian yang terdengar di malam hari, dan wajah-wajah menyakitkan yang muncul di cermin saat malam hujan – dia terjerumus ke dalam rahasia yang telah menyiksa keluarga keluarganya selama berabad-abad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEMUAN DI LANTAI BAWAH
Saat aku sampai di rumah, sudah jam lima sore. Awan gelap mulai menyelimuti langit, dan angin sepoi-sepoi membawa bau tanah basah dan sesuatu yang lain bau lilin yang sudah padam dan kayu bakar yang masih hangat. Pintu utama rumah terbuka lebar padahal aku yakin sudah mengunciinya pagi ini.
Dari dalam rumah terdengar suara musik kuno seperti biola yang dimainkan dengan cara yang salah, nada-nadanya menyakitkan telinga tapi tidak bisa aku tinggalkan. Aku memasuki rumah dengan hati-hati, tangan terus menyentuh liontin di leherku yang sekarang terasa lebih hangat dari biasanya.
Di ruangan tamu, semua kursi telah dipindahkan dan disusun melingkar di tengah lantai. Di tengah lingkaran kursi itu, ada lubang besar yang sama seperti yang kudengar di kamar paling dalam tapi kali ini lubangnya ada di ruangan tamu dan sudah tidak ditutupi sama sekali. Cahaya emas yang terang menyala dari dalamnya, menerangi seluruh ruangan dengan warna yang menyilaukan.
Suara biola semakin keras, dan aku bisa melihat bayangan wanita yang sedang memainkannya berdiri di tepi lubang dengan jubah hitam yang bergoyang mengikuti irama musiknya. Saat aku mendekat, dia berhenti memainkan biola dan memalingkan wajahnya ke arahku. Wajahnya cantik tapi penuh dengan kesedihan yang dalam, dan di dahinya ada tanda lingkaran yang sama seperti yang lain.
“Saya adalah Ratu nenekmu,” katanya dengan suara yang lembut tapi penuh dengan kekuatan. “Aku sudah menunggu kamu lama sekali, Sevira.”
Aku merasa tidak bisa bergerak, tapi tidak merasa takut seperti yang seharusnya. Sebaliknya, aku merasakan rasa akrab yang dalam dan rasa rindu pada seseorang yang tidak pernah aku kenal. “Mengapa kamu membawa aku ke sini? Mengapa ibu dan ayah terlibat dalam semua ini?”
Nenekku menggelengkan kepalanya dan mulai berjalan mengelilingi lubang. “Kita tidak memilih untuk terlibat, cucu. Kita dipilih. Seribu tahun yang lalu, aku adalah penyembuh di desa ini. Saat wabah datang dan membunuh banyak orang, aku menemukan cara untuk menghentikannya dengan berbicara dengan yang ada di bawah tanah.”
Dia menjelaskan bahwa yang ada di bawah tanah adalah roh-roh orang yang telah mengorbankan diri untuk melindungi desa dari bahaya besar. Mereka membuat perjanjian: jika setiap generasi ada seseorang yang bersedia menjaga pintu agar tetap tertutup dengan ritual dan pengorbanan, mereka akan melindungi desa dari bencana.
“Namun perjanjian itu memiliki harga yang mahal,” lanjutnya dengan suara yang meratap. “Setiap penjaga harus mengorbankan orang yang paling mereka cintai agar kekuatan ritual tetap kuat. Aku harus mengorbankan anak perempuan ku ibumu yang pertama, yang memiliki nama sama dengan ibumu sekarang.”
Aku merasa dada terasa sesak dan mata mulai berkaca-kaca. Aku mengambil surat dari ibu yang kudapatkan dan menunjukkan kepadanya. “Mengapa ibu meninggalkan surat ini untukku?”
“Karena dia tidak ingin kamu mengalami apa yang kami alami,” jawab nenekku menyentuh wajahku dengan tangan yang dingin tapi lembut. “Ibumu adalah penjaga sebelum kamu. Dia mencoba melarikan diri dari tugasnya, tapi tidak bisa. Dia memilih untuk meninggal sendiri daripada harus mengorbankan kamu.”
Saat dia berbicara, Kapten Hasan masuk ke rumah dengan senapan yang sudah dia siapkan. Dia melihat nenekku dengan hati-hati, tapi tidak menarik pelatuknya. “Aku sudah mendengar cerita ini dari kakekku,” katanya. “Keluargaku juga terlibat mereka adalah penjaga pintu dari sisi pria.”
Aku melihat ke arah lubang yang semakin bersinar terang. Dari dalamnya terdengar suara orang berteriak dan merayakan, seperti sedang menunggu sesuatu yang sudah lama dinanti. Bau darah dan bunga kamboja semakin kuat sampai membuatku merasa ingin muntah.
Nenekku mengambil tanganku dan menunjuk ke dalam lubang. “Di bawah sana ada lorong yang mengarah ke tempat mereka tinggal. Kamu harus melihatnya sendiri agar kamu mengerti mengapa kita harus melakukan semua ini. Tapi ingat sekali kamu turun ke sana, kamu tidak akan bisa kembali lagi dengan cara yang sama.”
Aku melihat ke arah Kapten Hasan yang sedang menatapku dengan mata penuh kekhawatiran. “Aku akan ikut kamu turun,” katanya tanpa ragu. “Kamu tidak sendirian dalam ini.”
Kita turun ke dalam lubang melalui tangga kayu yang sudah tua dan berkarat. Setiap langkah membuat tangga berderak dan bergetar, seolah akan roboh kapan saja. Cahaya emas dari dalam menerangi jalan kita, dan semakin ke bawah, suara rayuan dari roh-roh itu semakin jelas.
“Datanglah padaku, Sevira,” suara-suara itu berkata dengan nada yang menawan. “Kamu adalah satu-satunya yang bisa membuka pintu dan melepaskan kita semua. Kamu akan menjadi pahlawan desa ini…”
Di dasar lubang, ada lorong yang panjang dan sempit dengan dinding yang terbuat dari batu bata tua. Di dinding itu ada lukisan-lukisan yang menggambarkan peristiwa masa lalu nenekku yang sedang melakukan ritual, ibu ku yang sedang menangis sambil menjahit kain hitam, dan wajah-wajah orang yang sudah hilang dengan ekspresi bahagia di wajahnya.
Kita sampai di pintu besar yang terbuat dari kayu hitam dengan pola lingkaran yang sama seperti yang kita lihat sebelumnya. Saat aku mendekati pintu itu, kain yang kubawa mulai bersinar dengan sangat terang dan menempel pada pintu dengan sendirinya. Pintu mulai terbuka perlahan, dan dari dalamnya terdengar suara musik dan nyanyian yang meriah.
Namun saat pintu sedikit terbuka, aku melihat sesuatu yang membuatku membeku. Di balik rayuan dan musik itu, ada wajah-wajah yang penuh dengan rasa sakit dan kesedihan roh-roh itu bukanlah orang yang bahagia, melainkan orang yang terkurung dan menderita selama berabad-abad. Mereka tidak ingin melepaskan kita mereka ingin menggantikan kita.
“Kita harus menutup pintunya sekarang!” teriak aku kepada Kapten Hasan. Tapi sudah terlambat. Pintu terbuka lebar dan dari dalamnya keluar bayangan besar yang menyerupai wanita dengan rambut panjang dan mata yang terbuka lebar. Dia mengangkat tangannya dan meraih aku dengan cepat.
Saat tangannya hampir menyentuh wajahku, aku melihat ibu ku berdiri di antara bayangan itu. Dia menangis sambil menggelengkan kepalanya. “Jangan biarkan dia menyentuhmu, Sevira!” teriaknya dengan suara yang keras. “Gunakan kain itu itu satu-satunya yang bisa menghentikannya!”
Aku meraih kain yang sudah menyatu menjadi satu dan membentangkannya di hadapan ku. Cahaya emas yang keluar dari kain itu sangat terang sampai membuatku tidak bisa melihat apa-apa. Saat cahaya itu mulai mereda, aku menemukan diriku berada di lorong yang kosong. Pintu sudah tertutup kembali, tapi ada suara yang terdengar dari baliknya suara ibu ku yang sedang menangis dan menyanyikan lagu pengantar tidur yang pernah dia bawakan padaku saat aku masih kecil.
Kapten Hasan menurunkan senapannya dan melihat ke arahku dengan wajah yang penuh kekaguman. “Kamu berhasil menutupinya,” katanya dengan lembut. “Tapi ini hanya sementara. Besok malam adalah malam purnama saat pintu akan terbuka lebar dan tidak ada yang bisa menghentikannya kecuali kamu.”
Kita mulai berjalan naik ke atas, tapi aku bisa merasakan bahwa sesuatu telah berubah. Tubuh ku terasa lebih hangat, dan di bagian dalam diriku, aku bisa merasakan mereka yang ada di bawah tanah sedang memanggil namaku dengan lebih kuat dari sebelumnya.
Saat kita keluar dari lubang dan sampai di ruangan tamu, aku melihat sesuatu yang membuatku terkejut. Di atas meja tua yang penuh debu, ada kotak kayu kecil yang baru saja terbuka. Di dalamnya ada foto kecil aku bersama ibu dan ayah ku yang masih muda dan di belakang foto itu tertulis dengan darah merah: “Besok malam kamu harus membuat pilihan, Sevira. Pilih antara keluarga mu atau seluruh desa.”