Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.
Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.
Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.
Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.
Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.
Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 2
Jay masuk ke dalam kamarnya dan bersiap mandi. Ia memutar keran bathtub terlebih dahulu, membiarkan air mengalir untuk membersihkan lukanya. Perlahan, ia melepaskan pakaiannya dan membasuh darah yang melekat di tubuhnya dengan handuk kecil. Air yang mengalir dari keran berubah merah ketika Jay meremas handuk yang telah basah oleh darahnya sendiri.
Pandangan Jay tertuju pada kakinya yang dipenuhi lebam. Ia terdiam sejenak. Jay tahu, kondisi itu tidak akan baik-baik saja.
Langkahnya terlihat pincang, kaki kirinya sedikit terseret. Ia mengambil perban dan mulai mengobati lukanya secara mandiri, menahan perih tanpa suara. Kran yang terus mengucur menimbulkan bunyi khas, memecah kesunyian kamar mandi.
Tak lama kemudian, pintu diketuk. Seorang pengawal berdiri di ambang pintu kamar mandi dan berbicara dari balik daun pintu.
“Tuan Muda Kedua, Ketua sudah tiba dan menunggu Anda di ruang baca.”
“Ya,” jawab Jay singkat, suaranya rendah.
Pengawal itu pun undur diri. Jay berdiri, membuka pintu lemari, dan meraih kemeja hitam. Dengan langkah tertatih, ia keluar dari kamar dan menuruni tangga dengan hati-hati menuju ruang baca, tempat sang ayah telah menunggunya.
Di sana, sang ibu sudah duduk di sofa bersama Zavier.
Jay melihat Jackman duduk di kursi kebesarannya. Wajah pria itu tak terlihat jelas—ruangan hanya diterangi satu lampu kecil yang memancarkan cahaya remang. Atas permintaan Jackman, hanya lampu itu yang dinyalakan.
Ruang baca yang didominasi kayu cokelat mengilap dengan lapisan pelitur mewah justru memancarkan nuansa dingin dan mencekam.
Jackman, dengan mantel besar tersampir di bahunya, memutar kursinya menghadap jendela, membelakangi mereka semua.
“Zavier. Pergilah ke Jerman selama satu tahun.”
Suara itu rendah, tenang—namun terdengar seperti gemuruh yang mengancam.
Zavier hendak membuka mulut, tetapi sang ibu buru-buru menahan tangannya dan menggeleng pelan. Zavier membuang muka dengan kesal.
“Kau pikir aku tidak tahu apa yang sudah kau lakukan selama ini pada adikmu?”
Kedua mata Zavier bergetar. Wajahnya seketika pucat. Sang ibu berusaha menenangkan putranya, namun tubuh Zavier keburu menegang. Hanya dengan nada suara seperti itu, ayahnya telah memancarkan aura membunuh.
Jay masih berdiri di hadapan meja Jackman. Sementara Zavier duduk dengan kepala tertunduk, tubuhnya tampak lemah.
“Hanya karena ibumu selalu melindungimu, bukan berarti aku akan memaafkanmu,” lanjut Jackman dingin. “Jangan ganggu adikmu. Pergilah ke Jerman.”
Keheningan menyelimuti ruang baca itu—dingin, panjang, dan menekan.
“Kalian boleh pergi,” kata Jackman akhirnya. “Kecuali Jay.”
Setelah Helena dan Zavier meninggalkan ruang baca, Jackman memutar kursinya perlahan, kini menghadap ke arah putranya—putra yang wajah dan sorot matanya begitu menyerupai dirinya.
Tak ada celah perbedaan.
Rahang, postur tubuh, bahkan ketenangan dingin di balik ekspresi Jay—semuanya mencerminkan Jackman.
Hanya satu hal yang membuat Jackman resah.
Jay memiliki kesenangan yang berbeda.
Sesuatu yang tidak normal.
“Apa kau masih suka bermain-main menjadi orang miskin?” tanya Jackman.
“Tidak.”
“Kau masih sering bermain kartu dengan ibu-ibu lansia di panti jompo?”
“Sudah tidak.”
Jackman terdiam sejenak.
“Lalu apa yang kau sukai sekarang?”
“Tidak ada,” jawab Jay datar. “Aku fokus menjalankan anak perusahaan. Seperti perintah Anda.”
Jackman memainkan cincin di kelingking kirinya. Diputar perlahan, berulang, sebelum akhirnya ia kembali bicara. Wajahnya tetap samar tertutup cahaya redup.
“Pindahlah ke apartemen yang sudah kusiapkan. Aku akan mengirimkan pengawal untukmu,” ucap Jackman.
“Selama aku pergi ke Rusia memeriksa perusahaan bahan baku, sesekali kau harus ke pelabuhan. Pastikan pengiriman kontainer rakitan senapan kita berjalan lancar.”
“Aku mengerti.”
“Dan selama kepergianku,” lanjut Jackman dengan suara rendah, “jangan lakukan hal-hal aneh yang membuatku tidak senang.”
“Aku paham.” Kata Jay tenang.
“Pergilah.”
Jay berbalik meninggalkan ruang baca. Kakinya terseret, langkahnya pincang. Selangkah demi selangkah ia menaiki tangga, lalu masuk ke kamarnya.
Sedang Jackman sudah pergi meninggalkan Mansion dengan iring-iringan mobil mewah serba hitam.
Di lain tempat. Baru beberapa menit Jay merebahkan diri, pintu kamar terbuka dengan kasar hingga terpental.
Helena berdiri di sana.
Setengahnya Jay tahu apa yang membuat Helena marah, tidak ada seorang ibu yang tahan jika berpisah dengan sang anak. Apalagi titah Jackman bukan hanya sekedar omong kosong.
Wanita cantik bertubuh ramping itu menatap Jay tanpa senyum. Jay segera bangkit dan berdiri di hadapannya.
“Ibu—”
PLAK!
Tamparan keras mendarat di wajah Jay.
“Siapa yang kau panggil ibu?” bentak Helena.
“Aku bukan ibumu!”
Jay menunduk. Tak membalas tatapannya.
Telapak tangan Helena terasa perih. Jay jauh lebih tinggi dan besar darinya—namun ia tetap menampar tanpa ragu.
“Selama ini kau hidup nyaman di rumah ini, apa aku pernah menyiksamu?” lanjut Helena penuh emosi.
“Apa aku pernah mengusirmu? Membiarkanmu kelaparan? Sejak ayahmu membawamu ke sini, apa aku pernah memperlakukanmu buruk?”
Jay diam.
“Seharusnya kau membela kakakmu!” suara Helena meninggi.
“Saat ayahmu menyuruhnya ke Jerman, kau diam saja! Apa kau tidak punya rasa malu? Dasar parasit!”
“Tapi Anda tahu apa yang selalu Zavier lakukan padaku—”
PLAK!
Tamparan kedua mendarat sebelum Jay sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Kau pikir hidupmu sekarang ini gratis?” hardik Helena.
“Kau tidak bisa sedikit saja membuatnya bersenang-senang?”
Jay menahan amarah yang bergulung di dadanya. Rahangnya mengeras, tapi ia tetap diam.
Saat itu Jay mengerti.
Helena tahu.
Dia selalu tahu apa yang Zavier lakukan—dan memilih menutup mata.
“Jadi Anda memang sengaja?” suara Jay akhirnya terdengar pelan.
“Setiap kali aku ingin membalas perbuatannya, Anda selalu datang tepat waktu.”
“Setiap ibu tidak akan rela anaknya terluka,” jawab Helena dingin.
“Baik,” kata Jay singkat. “Aku mengerti.”
“Aku dengar kau akan pindah ke apartemen,” lanjut Helena.
“Tidak perlu menunggu lama. Ayahmu sudah berangkat ke Rusia. Sebaiknya kau juga pergi… sebelum aku melampiaskan amarahku lebih banyak lagi.”
Helena berbalik dan melangkah pergi.
Pintu ditutup dengan kasar.
Di tengah koridor mansion, Helena berhenti. Tangannya gemetar hebat—antara sakit dan takut.
Tatapan Jay selalu menghantuinya.
Ia tak pernah berani menyiksa Jay secara terang-terangan.
Karena di wajah Jay…
ia selalu melihat Jackman.
“Dia benar-benar mirip ayahnya,” gumam Helena sambil menatap telapak tangannya.
“Tatapan matanya… bahkan seperti ayahnya. Kenapa wanita jalang itu justru melahirkan sosok yang mewarisi seluruh sifat Jackman?”
Helena melanjutkan langkahnya.
Sementara itu, Jay menyambar jaketnya dan keluar kamar.
Dengan langkah pincang, ia meninggalkan mansion dan masuk ke mobil sport hitamnya. Mesin menggerung keras di dalam garasi, membuat para pengawal langsung sigap dan mengikuti dari belakang.
Jalanan malam yang lengang membuat Jay menekan gas lebih dalam.
Mobil melaju semakin cepat, membelah gelap—seolah ingin melarikan diri dari rumah yang tak pernah benar-benar menjadi miliknya.
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....