Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.
Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah
Setelah Brian pergi dengan ancamannya yang dingin, Arumi tidak langsung masuk ke kamar. Langkahnya terhenti di depan sebuah potret besar yang tergantung di dinding lorong. Itu adalah foto Adrian. Di sana, Adrian tersenyum hangat, sangat berbeda dengan wajah tajam dan penuh amarah milik Brian.
Arumi menyentuh permukaan kaca bingkai itu dengan jemari yang gemetar.
"Kenapa kau meninggalkanku dengan cara seperti ini, Adrian?" bisik Arumi parau. "Kau tahu dia membenciku. Kau tahu dia akan menyiksaku dengan tatapannya itu."
Arumi teringat janji Adrian di malam terakhir mereka. “Apapun yang terjadi, tetaplah di sini, Arumi. Jangan pernah tinggalkan rumah ini, karena hanya di sini kau aman.”
Kini Arumi sadar, "keamanan" yang dimaksud Adrian memiliki harga yang sangat mahal. Ia harus menyerahkan kebebasannya pada seorang pria yang menganggapnya sebagai musuh.
Arumi menarik napas panjang, dan menatap lurus ke arah pintu kamar Brian yang tertutup rapat. Jika menjadi istri Brian adalah satu-satunya cara untuk menjalankan wasiat Adrian, maka ia akan melakukannya. Ia akan menghadapi aktor angkuh itu yang selalu menghakiminya, dengan kepala tegak.
...***...
Lusa pun tiba secepat kedipan mata.
Tidak ada gaun putih mewah dengan ekor panjang, tidak ada ribuan tamu undangan atau lampu kamera yang berkilau. Pernikahan itu dilakukan di ruang tengah kediaman Aditama, hanya dihadiri oleh penghulu, pelayan, pengacara, pengawal dan Widia Aditama.
Arumi mengenakan kebaya putih sederhana, namun kecantikannya justru terlihat semakin murni dan menyakitkan di mata siapa pun yang melihatnya. Di sampingnya, Brian duduk dengan setelan jas putih yang sempurna. Ia tidak menatap Arumi sama sekali saat mengucapkan kalimat ijab kabul. Suaranya terdengar berat, mantap, namun sangat dingin seolah ia sedang menandatangani kontrak film, bukan janji sehidup semati.
"Sah."
Kata itu bagaikan palu hakim yang menjatuhkan vonis bagi Arumi.
Setelah prosesi selesai, Brian langsung berdiri dan melonggarkan dasinya, bahkan sebelum Arumi sempat mencium punggung tangannya sebagai tanda bakti kepada suami.
"Tante, aku ada urusan mendadak di luar. Wanita itu bisa mengurus barang-barangnya sendiri ke kamarku," ucap Brian ketus pada tantenya.
Ia kemudian menoleh pada Arumi, menatapnya dengan tajam. "Selamat datang kembali di istanamu, Istriku. Pengawal akan menunggumu di depan kamar. Jangan coba-coba keluar tanpa izinku."
Brian melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum yang kuat dan keheningan yang menyesakkan. Arumi kini resmi menjadi Nyonya Brian Aditama, sebuah gelar yang ia tahu tidak akan memberinya kebahagiaan, melainkan rantai emas yang akan mengikatnya selamanya.
Namun alih-alih menangis. Arumi justru berdiri dengan tenang. Ia memanggil salah satu pelayan yang berdiri tak jauh darinya. "Bantu saya memindahkan pakaian ke kamar atas sekarang," perintahnya singkat. Ia tidak ingin membuang waktu untuk meratapi kepergian suaminya.
Malamnya, di sebuah klub malam eksklusif, dentum musik memekakkan telinga. Brian duduk di sofa, dikelilingi oleh teman-temannya yang tidak tahu bahwa ia baru saja resmi menikahi kakak iparnya sendiri. Seorang wanita penghibur dengan pakaian minim sudah menunggu di pangkuannya, mencoba menggoda sang aktor.
"Kau terlihat tegang malam ini, Tuan Brian. Ada apa?" bisik wanita itu manja.
Brian mencoba menikmati suasana, mencoba melupakan fakta bahwa di rumahnya kini ada seorang wanita yang ia benci sekaligus ia miliki. Saat ia mencondongkan tubuh untuk mencium wanita di depannya, bayangan wajah Arumi dalam balutan kebaya putih tiba-tiba muncul di benaknya. Mata Arumi yang tenang namun menantang terus membayanginya.
"Sial," umpat Brian pelan. Ia tiba-tiba merasa muak dengan kebisingan di sana.
Reno memperhatikan Brian yang tampak tidak fokus sejak tadi. Ia menyeringai, lalu memberi isyarat pada wanita disampingnya untuk memberikan ruang.
"Kau terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan naskah film penting, Brian," celetuk Rano sambil terkekeh. Suaranya hampir tenggelam di balik dentum musik, tapi cukup tajam untuk telinga Brian.
Brian menoleh, rahangnya mengeras. "Jangan mulai, Ren. Aku hanya sedang tidak mood."
Reno mencondongkan tubuh, matanya yang lihai menatap Brian dengan penuh selidik. "Benarkah? Padahal biasanya kau yang paling semangat jika kita merayakan penutupan proyek besar. Kenapa? Apa aktor papan atas kita ini sedang memikirkan 'tahanan' barunya di rumah?"
Brian tertegun sejenak, namun segera menutupi ekspresinya. "Tahanan apa maksudmu?" Aku hanya bosan dengan suasana di sini."
"Oh, ayolah. Aku tahu soal wasiat Adrian. Sebelum meninggal dia bahkan meminta saranku. Tenang saja rahasia keluargamu aman di tanganku. Jadi, sudah kau 'jinakkan' dia?" tanya Reno tanpa beban, diikuti tawa kecil yang terdengar meremehkan. "Wanita seperti dia biasanya hanya butuh sedikit perhatian atau mungkin sedikit tekanan agar patuh. Kalau kau tidak sanggup menghadapinya, berikan saja padaku. Aku tahu cara menangani wanita yang keras kepala."
Mendengar kata-kata Reno, entah kenapa ada rasa panas yang menjalar di dada Brian. Ia merasa tidak suka Arumi dijadikan bahan taruhan atau lelucon oleh Reno, meskipun ia sendiri membenci wanita itu.
"Dia bukan urusanmu, Reno. Jaga mulutmu," balas Brian ketus.
Reno mengangkat kedua tangannya, pura-pura menyerah. "Wow, tenang kawan. Aku hanya bercanda. Tapi serius, Brian... kau terlihat berbeda malam ini. Ada apa? Kau terpesona padanya?"
Pertanyaan Reno itu bagaikan tamparan bagi Brian. Tepat saat itu, wanita penghibur disampingnya mencoba mencium Brian kembali, namun bayangan Arumi justru melintas kuat. Kata-kata Reno tadi malah membuat Brian merasa ingin segera memastikan bahwa Arumi masih berada di bawah kendalinya bukan karena terpesona, melainkan karena ia tak ingin wanita itu lepas begitu saja.
"Sial, umpat Brian pelan. " Aku pergi dulu," ucap Brian sambil berdiri mendadak dan menyambar kunci mobilnya, meninggalkan Reno yang tertawa penuh teka-teki.
"Hey! Malam baru saja dimulai!" seru Reno, namun Brian sudah melangkah pergi tanpa menoleh lagi meninggalkan Reno yang menertawakannya.
Reno ia adalah, sahabat Brian sejak SMA sekaligus pengusaha properti yang sukses, namun namanya lebih sering menghiasi kolom gosip karena petualangan cintanya yang bar-bar.