Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Jalan Pagi Paling Canggung di Istana
Song An bangun sebelum Mei membangunkannya.
Itu sendiri sudah keajaiban.
Ia menatap langit-langit sambil mengingat satu hal penting.
“Jalan pagi.” keluhnya, "apa gunanya... Dasar kaisar kurang kerjaan" Ia mengerang pelan.
“Kenapa dari semua aktivitas, harus jalan pagi?”
Pintu diketuk.
Tok tok.
“Selir,” suara Mei terdengar. “Apakah Selir sudah bangun?”
“Sudah,” jawab Song An lemas. “Aku bahkan belum sempat pura-pura tidur.”
Mei masuk sambil membawa pakaian. “Selir harus bersiap. Yang Mulia tidak suka menunggu.”
“Berapa menit lagi?” tanya Song An
“Sekarang.” jawab Mei
Song An duduk. “Baik. Kita langsung ke poin penting.”
Mei mendekat. “Iya?”
“Aku harus berdandan berapa niat?” keluh Song An
Mei berpikir. “Cukup rapi.”
“Rapi versi istana atau rapi versi manusia?” tanya Song An
“…versi istana.” jawab Mei
Song An menghela napas. “Aku sudah berusaha hidup sederhana.”
Ia berdiri dan membiarkan Mei membantunya mengganti pakaian. Rambutnya diikat rapi, tapi sederhana.
“Mei.”
“Iya?”
“Kalau aku salah jalan nanti, pura-pura saja aku paham.”
Mei tersenyum gugup. “Baik, Selir.”
—
Taman istana pagi itu sepi dan luas.
Udara segar. Embun masih menempel di daun.
Song An datang bersama Mei dan berhenti begitu melihat satu sosok berdiri membelakangi mereka.
“Kaisar,” bisik Song An
“Yang Mulia sudah menunggu,” kata Mei pelan.
--
Song An melangkah maju. “Yang Mulia.”
Kaisar Shen menoleh.“Kau tepat waktu.”
“Keajaiban pagi.” jawab Song An asal
“Apa?” tanya Kaisar Shen
“Tidak apa-apa.”
Kaisar Shen melirik Mei. “Kau boleh pergi.”
Mei menunduk dalam-dalam sebelum pergi.
Dan dalam satu detik itu, Song An sadar sesuatu yang mengerikan.
Ia sendirian dengan Kaisar Shen.
“Jadi,” kata Song An pelan, “kita jalan?”
“Ya.”
“Berapa lama?” tanya Song An
“Tergantung.” jawab Kaisar Shen
“Kalau aku capek?”tanya Song An lagi
“Berhenti.”
“Oh. Fleksibel juga.”
Mereka mulai berjalan.
Hening.
Song An melirik ke samping.
Kaisar Shen berjalan dengan tangan di belakang punggung, postur lurus, wajah tenang.
Song An berusaha mencari topik.
“Yang Mulia sering jalan pagi?”
“Jarang.”
“Kenapa hari ini?”
“Kau.”
Song An tersedak.
“Oh.”
Mereka berjalan lagi.
“Kau kelihatan tidak nyaman,” kata Kaisar Shen.
“Karena ini bukan aktivitas normal.”
“Apa yang normal bagimu?”
“Makan. Duduk. Tidur dan bebas.”
“Kau tidak suka jalan?”
“Suka. Tapi tidak dengan kaisar.” jawab Song An jujur
Kaisar Shen menoleh. “Kenapa?”
“Takut salah langkah dan banyak yang memantau.”
“Kau sudah sering salah.”
“Justru itu. Aku tidak mau salah terus”
Kaisar Shen mendengus kecil. “Kau konsisten.”
Mereka melewati kolam ikan.
Song An berhenti sebentar. “Ikannya banyak.”
“Dipilih.”
“Untuk apa?”
“Untuk dimakan.”
Song An menatap ikan-ikan itu. “Kasihan.”
“Itu tugas mereka.”
Song An mengangguk. “Masuk akal. Tapi tetap kasihan.”
Kaisar Shen menatapnya. “Kau sering memikirkan hal-hal kecil.”
“Karena hal besar bikin stres.”
—
Beberapa pelayan dari kejauhan melihat mereka berjalan berdampingan.
“Apakah aku salah lihat?”
“Itu Selir Song?”
“Yang selir bayangan?”
“Kenapa dia jalan bersama Yang Mulia?”
Bisik-bisik itu tidak terdengar oleh Song An, tapi Kaisar Shen tahu.
“Apakah kau sadar?” tanya Kaisar Shen.
“Sadar apa?”
“Orang-orang melihat.”
“Oh.”
“Kau tidak terganggu?”
“Sedikit.”
“Kenapa?”
“Aku malas jelasin nanti.”
“Kau tidak peduli gosip?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena besok juga ada gosip baru.”
Kaisar Shen tertawa kecil.
“Kau aneh.”
“Terima kasih.”
—
Setelah beberapa saat, Song An mulai memperlambat langkah.
“Kau capek?” tanya Kaisar Shen.
“Iya.”
“Berhenti.”
Mereka duduk di bangku taman.
Song An menghela napas panjang. “Akhirnya.”
“Kau benar-benar tidak suka aktivitas fisik.”
“Salah.”
“Lalu?”
“Aku suka kalau ada tujuan.”
“Jalan pagi bukan tujuan?” tanya Kaisar Shen
“Kalau tujuannya cuma muter-muter, tidak.”
Kaisar Shen menatap kolam di depan mereka.
“Kau selalu bicara jujur.”
“Capek kalau bohong.”
“Kau tidak takut kejujuranmu menyakiti orang?”
“Takut.”
“Lalu kenapa tetap jujur?”
“Karena menyimpan itu lebih melelahkan.”
Kaisar Shen terdiam.
“Kau berbeda,” katanya akhirnya.
“Sudah sering dengar.”
“Kau tidak seperti siapa pun di istana.”
“Itu karena aku tidak ingin seperti mereka.”
“Kau tidak ingin kekuasaan?”
“Tidak.”
“Kau tidak ingin perlindungan?”
Song An berpikir. “Sedikit.”
“Dari siapa?”
“Dari hidup yang ribet.”
Kaisar Shen menatapnya. “Kau tahu, perlindungan terbaik di istana adalah kedekatan denganku.”
Song An langsung menoleh. “Itu justru ribet.”
Kaisar Shen tertawa. “Banyak yang ingin itu.”
“Banyak juga yang stres karenanya.”
—
Setelah duduk cukup lama, mereka berdiri lagi.
“Kita balik?” tanya Song An.
“Kau sudah capek lagi?”
“Iya.”
“Baik.”
Dalam perjalanan kembali, Song An melihat Selir Li dan Selir Zhao berdiri di kejauhan.
Mereka membungkuk.
Song An ikut membungkuk, tapi canggung.
“Kau kenal mereka?” tanya Kaisar Shen.
“Kenal nama.”
“Kau tidak dekat?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Takut
”Banyak intrik tidak penting, merebutkan sesuatu yang belum tentu mau menerima kita, bukanya itu bodoh" jawab Song An santai
Kaisar yang mendengar nya terdiam cukup lama lalu menatap Song An, "Apa kau sama sekali tidak tertarik merebutkan aku?" tanya kaisar
"Tidak" jawab Song An cepat
"Kenapa?" tanya Kaisar Shen
"untuk apa dan tidak ada alasan untuk aku merebutkan anda, kaisar juga manusia bukan sang pencipta" jawab Song An
Kaisar Shen tersenyum kecil. Tapi hatinya mencelos mendengar jawaban Song An yang jujur seakan akan dirinya tidak penting.
—
Sesampainya di depan kamar Song An, Kaisar Shen berhenti.
“Apa kau tidak mau pindah dari sini?" tanya Kaisar Shen
“Tidak.” jawab Song An
“Apakah kau nyaman?” tanya Kaisar Shen
“Cukup.”
“Kau konsisten.”
Song An mengangguk. “Aku orangnya setia pada keputusan malas.”
Kaisar Shen menatapnya lama.
“Aku akan sering memanggilmu.”
Song An refleks menjawab, “Jika bisa jangan”
"Kenapa?"
"Aku tidak nyaman, jadi bisa tidak tidak usah bertemu jika tidak penting?"
“Tidak.” jawab Kaisar Shen
Song An menghela nafas pasrah, “Baik.”
Kaisar Shen berbalik pergi.
Song An menatap punggungnya.
“…aneh.”
—
Di dalam kamar, Mei langsung masuk.
Mei hampir melompat. “Selir! Seluruh taman melihat!”
"lalu?" tanya Song An malas
“Selir bicara apa saja?” tanya Mei
“Macam-macam.” jawab Song An
“Yang Mulia marah?”
“Tidak.”
“Yang Mulia senang?”
“Entahlah.”
Mei menarik napas panjang. “Selir… Selir benar-benar berbeda.”
Song An duduk. “Aku cuma ingin hidup pelan.”
—
Sore hari, Mei datang membawa undangan kecil.
“Selir… jamuan teh kecil besok.”
Song An menatapnya. “Siapa yang mengundang?”
“Selir Li.”
“Oh.”
“Selir harus datang.”
“Kenapa?”
“Karena Selir sekarang… diperhatikan.”
Song An menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku cuma jalan pagi.”
—
Malamnya, Song An sulit tidur.
Bukan karena takut. Tapi karena pikirannya ramai.
“Kaisar Shen aneh.”
Ia membalik badan.
“Kenapa dia repot-repot denganku?”
Ia menutup mata.
“Ah. Jangan mikir.”
Di sisi lain istana, Kaisar Shen berdiri di depan jendela.
“Dia tidak seperti siapa pun.”
Ia tersenyum tipis.
Dan tanpa disadari keduanya, jalan pagi sederhana itu menjadi awal kebiasaan baru—yang perlahan, sangat perlahan, mengubah jarak antara kaisar dingin dan selir bayangan yang malas.
Bersambung